4 September 2017

Berburu New Born Stuff - Part 1

Hi mom to be! Pasti ndak sabar banget yaa nungguin si calon shalih shalihah hadir di dunia :)) Saat itu sebagai mom to be, aku adalah calon emak yang super detail.

Ini tahapan yang aku lakukan di sepanjang perburuan baby stuff ku:
1. Menghubungi teman-teman yang sudah lebih dahulu menjadi Ibu untuk dimintai info, pendaat, ilmu, dan pengalaman barang-barang apa yang dibutuhkan
2. Buat daftar panjang nya barang-barang berikut jumlahnya hehe
3. Kelompokkan mana barang yang harus punya (beli), yang bisa pinjam, yang bisa rental, dan yang nggak punya pun nggakpapa
4. Setelah tersortir barang-barang yang masuk kelompok "BELI", kelompokkan lagi menjadi lokasi pembeliannya. Apakah di supermarket, apakah di toko bayi, apakah di online.
5. Cuss beli!

TIPS:
1. Baby stuff itu lumayan menguras kantong Buk jadi jangan kalap yaaa. Eh pasti kalap ding, yaa kalap dikit gakpapa deh wkwkwk
2. Untuk ibu-ibu yang pengen dapet harga miring dengan kualitas baik, jangan males searching cari tahu, dan bandingkan antara pembelian offline dan online. Kalau offline, toko mana yang paling murah, kalau online juga tetap bandingkan lagi harga tokonya x)) xp Memang ribet dan 'segitunya' tapi serious it works! Dapat baby stuff lengkap dengan harga hemat :)

31 July 2017

NHW 9 : Ide Sosial untuk Sosial

Setelah sempet skip NHW 8 hiks, mencoba menyelesaikan NHW terakhir di IIP ini. NHW di IIP ini diakhiri dengan tema. Sedih-sedih gembira rasanya. Sedih karena aku rindu waktu-waktu dimana aku habiskan di ranah sosial. Turun memeluk mereka yang (bahkan mungkin sebetulnya hanya) butuh pelukan. Semoga kelak aku bisa kembali ke dunia sosial. Bersama keluargaku. Aamiin.
Empathy + Passion = Social Venture
 Minat Hobi Ketertarikan: Dunia Pendidikan
 Skill Hard Soft: Komunikasi, Public Speaking, Beberapa mata pelajaran sekolah, Bersosialisasi, Dekat dengan anak-anak
 Isu Sosial: Banyak anak-anak putus sekolah karena biaya dan karena hal lain
 Masyarakat: Anak usia sekolah
 Ide sosial: Membuat rumah singgah. Untuk adik-adik yang putus sekolah belajar, bermain, berkarya ^^
Ini merupakan salah satu keinginan terbesarku sejak di bangku kuliah. Aku ingin mereka semua mencicipi bangku sekolah. Mencicipi berbagai ilmu yang bahkan mereka tidak pernah bayangkan akan mereka peroleh.
********
 Minat Hobi Ketertarikan: Dunia Pangan
 Skill Hard Soft: Ilmu Pangan, Komunikasi, Public Speaking, Agama Islam seputar Halal
 Isu Sosial: Kurang peduli dengan isu pangan halal
 Masyarakat: Semua kalangan
 Ide sosial: Memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kewajiban memilih makanan halal
Isu pangan halal ini mulai aku tekuni sejak kuliah dan bekerja di bidang pangan. Dan aku merasa wajib menularkan kepedulianku mengenai pangan halal kepada sekitarku. In syaa Allah.
Bismillah.

19 July 2017

NHW 7 : Menuju Bunda Produktif

Memasuki NHW 7 di tantangan IIP, para peserta diarahkan untuk mengunjungi situs temubakat.com guna menggali karakter dan minat bakat peserta. Sangat menarik. Aku yang selama ini hanya meraba-raba apa minat bakatku, diarahkan ke tes sejenis ini sangat tertarik. Rasanya terlambat di usia 26 tahun ini. Ah, daripada tidak sama sekali.

Berikut hasil tesku di situs tersebut:


Gambar 1. Potensi kekuatan dan kelemahan Sagita Nindyasari

Kuadran aktivitas Sagita Nindyasari:

Kuadran 1: Aktivitas yang suka dan bisa
Kuadran 2: Aktivitas yang suka tetapi tidak bisa
Kuadran 3: Aktivitas yang tidak suka tetapi bisa
Kuadran 4: Aktivitas yang tidak suka dan tidak bisa

Gambar 2. Kuadran aktivitas Sagita Nindyasari

10 July 2017

NHW 6 : Belajar Menjadi Manajer Keluarga

 3 aktivitas yang paling penting:
- Ibadah sebagai bentuk hubungan dengan Allah SWT seperti shalat, puasa, mengaji
- Menjalani peran sebagai istri dan ibu
- Memenuhi kebutuhan pribadi jasmani dan rohani
 3 aktivitas tidak (kurang) penting:
- Melihat-lihat postingan orang di medsos
- Ngobrol ngalur ngidul tanpa bahasan penting dan jelas dengan orang lain
- Menonton TV acara yang tidak bermanfaat dan dalam waktu lama
 Kandang Waktu
- Waktu untuk anak dan suami :
weekdays kurleb 13 jam (untuk anak, jika suami krrja) weekend kurleb 18 jam
- Waktu untuk ibadah :
kurleb 2 jam
- Waktu untuk pribadi :
weekdays kurleb 4 jam, weekend kurleb 3 jam
- Waktu untuk istirahat :
Kurleb 6 jam
 Jadwal harian pribadi (weekdays):
04.30 Bangun tidur, shalat Subuh
05.15 Mencuci pakaian
05.30 Memasak sarapan
06.15 Menjemur pakaian
06.25 Menyiapkan pakaian kerja suami
06.30 Menemani suami sarapan
06.45 Menyiapkan suami berangkat kerja
06.50 Bersih-bersih rumah
07.15 Memandikan anak
07.25 Menjemur anak
08.00 Membaca buku
09.00 Mandi dan istirahat
11.00 Mempersiapkan makan siang
12.00 Shalat dzuhur
12.10 Mengaji
12.30 Makan siang
13.00 Memantau bisnis online @kadounikkita
13.30 Pengepakan dan pengiriman @kadounikkita
14.30 Menonton TV
15.30 Shalat Ashar
15.40 Mandi dan persiapan suami pulang kerja
16.00 Suami pulang kerja
16.40 Ngobrol dengan suami seputar hari ini
17.00 Memandikan anak
17.15 Jalan-jalan sore
18.00 Shalat Maghrib
18.20 Mengaji dengan suami
19.00 Mempersiapkan makan malam
19.15 Shalat Isya
19.30 Makan malam
20.00 Menonton TV
21.00 Quality time dengan suami anak
22.00 Tidur
Catatan: Sejak memiliki bayi, kurleb per 2 jam menyusui bayi.

17 June 2017

NHW 5 : Belajar Bagaimana Caranya Belajar -ala saya-

NHW 5 Kelas Matrikulasi IIP kali ini aku ditantang untuk membuat apa-apa yang sudah tertuang dan terencana dengan baik pada NHW 1 - NHW 4 untuk di utak atik menjadi sejenis diagram belajar. Lebih mantapnya, "desain pembelajaran" namanya. Sebagaimana pada NHW 1 aku memilih ilmu ikhlas untuk bisa ku praktikkan dalam universitas kehidupanku, dan seiring berjalannya minggu aku menambahkan rencanaku untuk memperdalam dan menguasai ilmu pangan dan ilmu parenting islami. Dari kesemua inilah aku coba coret-coret menjadi kurikulum ala aku. Hehe.


Tabel Jurusan Keilmuan Universitas Kehidupan Sagita Nindyasari


Diagram Desain Pembelajaran Sagita Nindyasari

Semoga Allah izinkan aku mempraktikkan apa yang aku rencanakan. Karena aku bukan apa-apa tanpa Allah. Dan karena Allah Sebaik-baik Perencana.
Bismillaah.




10 June 2017

NHW 4 : Mendidik Dengan Fitrah, kenapa tidak (?)

Seperti pada NHW 1, aku (masih) tetap ingin memilih, mempelajari, hingga menguasai ilmu ikhlas di Universitas Kehidupan-ku. Sebagai tambahan dari pemikiranku beberapa minggu ini, aku ingin memperdalam ilmu pangan dan ilmu parenting secara Islami. Aku ingin mampu mendidik anak dalam koridor Islam. In syaa Allah. Demi dapat menjalaninya dengan baik, checklist yang sudah ku buat di NHW 2 harus dapat ku jalankan dengan istiqamah. Sejauh ini aku hampir 80% poin-poin di dalamnya sudah dapat ku jalankan dalam peranku secara pribadi, istri, calon ibu, dan lingkungan sekitar, walaupun masih harus terus dicapai konsistensinya.

Pada NHW 3 sebelumnya, aku perlahan memahami maksud Allah menciptakanku di muka bumi ini. Menjadikan aku, seorang Sagita Nindyasari, seorang istri untuk suami pilihanku yang in syaa Allah atas ridho Allah, in syaa Allah kelak memilih aku menjadi ibu untuk anak-anak (kami), dan menempatkan aku di lingkunganku yang sekarang. Tidak ada satu hal kecilpun luput dari maksud dan tujuan indah dari Maha Menentukan. 

Sebagai seorang yang selalu tertarik pada bidang pendidikan anak dan bidang pangan, aku ingin menjadi ibu yang berpendidikan baik dan ingin menjadi agen pangan yang bijak untuk lingkungan pada umumnya dan untuk anak-anak kami pada khususnya. Visi misi sebagai seorang Gita ingin bisa memberikan inspirasi dan manfaat untuk khalayak. Aku ingin berperan sebagai agen. Agen Islam, agen pangan, dan agen pendidikan yang baik. Dalam keluarga, aku (dan suami) pun memiliki tujuan hidup. Ah bukankah tujuan itu adalah tahap akhir? Apa ada yang namanya tujuan hidup? Saat masih dalam kehidupan? Rasanya tidak. Tujuan kami hanya ingin berkumpul bersama keluarga kelak di Syurga. Semoga kami bisa mendidik anak-anak kami dengan ikhlas atas izin Allah dalam koridor Islam. Walaupun kami tahu sekali lagi, ikhlas bukanlah ilmu yang mudah. Apalagi disandingkan dengan ilmu parenting di sisinya. Rasanya mimpi mustahil yang tidak mungkin mustahil atas izin Allah :)

Bidang ilmu parenting Islami dan bidang pangan memang banyak mengambil ruang di otakku. Untuk bisa menguasainya tentu aku harus memiliki tahapan ilmu seperti:
1. Bunda Sayang: ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan: ilmu seputar manajemen diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif: ilmu seputar pangan dan gizi, ilmu seputar bisnis online, manajemen finansial
4. Bunda Saleha: ilmu berbagi

Jika aku menetapkan KM 0 pada usiaku saat ini, 26 tahun, kemudian komitmen tinggi akan mencapai 10.000 jam terbang di bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Artinya, sejak saat inilah aku mendedikasikan 8 jam waktuku untuk mencari ilmu, mempraktikkan, menuliskan bersama suami, dan in syaa Allah menuliskan bersama anak kelak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun sudah dapat terlihat hasilnya in syaa Allah.

Milestone yang direncanakan:
KM 0 - KM 1 (tahun 1; usia 26-27 tahun) : Menguasai ilmu Bunda Sayang
KM 1 - KM 2 (tahun 2; usia 27-28 tahun) : Menguasai ilmu Bunda Cekatan
KM 2 - KM 3 (tahun 3; usia 28-29 tahun) : Menguasai ilmu Bunda Produktif
KM 3 - KM 4 (tahun 4; usia 29 - 30 tahun) : Menguasai ilmu Bunda Saleha

Catatan waktu ini akan menyesuaikan dengan checklist yang sudah dibuat pada NHW 2.

Kedepannya, semoga Allah mudahkan aku belajar menjadi istri dan ibu kebanggaan keluarga. Harapannya semoga apa-apa yang aku tulis bisa perlahan tapi pasti untuk diwujudkan. Tulisan ini bersifat fleksibel dan bisa aku ubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi dan situasi yang mungkin tidak terduga kelak.

Mendidik Dengan Fitrah, kenapa tidak (?) :)




3 June 2017

NHW 3 : Peradaban Dimulai dari Rumah


* Peradaban dimulai dari rumah *

Katanya, peradaban yang berkualitas dimulai dari rumah. Dan berhasilnya sebuah rumahtangga adalah peran kompak dari si istri dan si suami di bawah kuasa dan ridho Allah. Salah satu biar kompak dan menggemaskan, si istri bisa kali ya sesekali bikin surat cinta hehe. Ini kali pertama aku bikin surat cinta untuk laki-laki selama 26 tahun usiaku. Ah harusnya dikasih nih bukan ngasih :p Gantian ya Pak kapan-kapan aku dikasih yaaa hahaha. Surat cintaku yang tidak romantis bisa dilihat disini.


* Seputar potensi pada diri anak *

Saat ini anak kami belum lahir ke dunia, semoga Allah izinkan aku kelak melanjutkan tulisan bagian ini ketika anak kami sudah lahir dengan sehat dan berkembang dengan baik, Aamiin :)
Sedikit yang bisa aku bagi saat ini, salah satu potensi besar yang aku doakan ada pada anak-anak kami kelak adalah mau berbagi sehingga kelak bermanfaat untuk orang banyak. Aamiin :)


* Seputar potensi pada diri sendiri *

  • Aku suka memasak tapi ndak suka cuci piring x) -catatan: walaupun masih ndak enak suka aneh rasa masakannya haha yang penting nyobaa!~
  • Aku suka sekali membuat barang-barang handmade. DIY crafting gitu. Sejauh ini aku masih idealis dengan berpikiran -selama masih bisa bikin, kenapa beli- untuk barang-barang unyu seperti dekorasi rumah. Rencananya (dan semoga Allah mudahkan) kelak untuk mainan anak pun aku berencana bikin-bikin ketimbang beli-beli hehe aamiin.
  • Aku suka beberes rumah~~ Hehe aku super rewel dan marah-marah ga karuan kalo rumah berantakan dan kotor walaupun dikiit aja. Suami sampai membuat perjanjian "Kalo udah sampe rumah nanti jangan marah2 ya kalo berantakan" hahaha. Pun perihal binatang-binatang kayak pasukan semut di dalam rumah aja aku bisa rewel. Duh.
  • Aku suka mencatat. Apa-apa aku catat. Walaupun cuma sekedar belanja ke warung sayur. Entah ini potensi diri atau bukan, haha sepertinya lebih ke sadar diri karena termasuk pribadi pelupa.
  • Aku suka menulis dan membaca. Mengutip kalimat anonim yang pernah ku baca "Kalau kamu ingin mengenal dunia, membacalah. Kalau kamu ingin dunia mengenalmu, menulislah." :)
Setelah menulis potensi-potensi sederhana ini, terlintas pikiran "Ah iya bener juga ya. Ternyata aku begini dan suami begitu. Ya memang super beda tapi semoga memang bertujuan untuk saling melengkapi. Ini maksud Allah mempertemukan kami. Alhamdulillaah in syaa Allaah" :)


* Seputar lingkungan tempat tinggal *

Aku yang empat tahun diizinkan Allah mendapatkan banyak Ilmu Teknologi Pangan di kampusku dulu, sangat antusias untuk menjadi agen pangan yang baik. Hehe. Dan aku menjalankannya di keluarga dan lingkungan media sosialku. Kerap sekali perihal pangan (dan kesehatan) menjadi sasaran empuk penyebar hoax di media sosial. Aku, setiap menerima pesan masuk berbau hoax seputar pangan, sebisa mungkin memberikan klarifikasi dengan ilmu kuliahku. Entah itu mengenai kandungan berbahaya, isu non halal, dan lain sebagainya. Aku sadar dengan aku memilih menjadi Ibu Rumah Tangga (yang produktif), aku sudah tidak bisa lagi terjun di dunia industri pangan. Untuk itulah, aku berniat berjuang menjadi agen pangan untuk keluarga dan lingkunganku dengan ilmu yang pernah aku dapatkan.

Setelah menikah, aku dan suami menetap di suatu perumahan di Cileungsi, Bogor. Perumahan ini memiliki banyak warga 'senior' di dalamnya. Aku yang merupakan anak kemarin sore lumayan belum klik dengan mereka hehe terlebih perihal ber-adat kebiasaan berlingkungan disana. Semoga tidak lama lagi aku bisa 'masuk' dengan lingkungan ini. Perumahan ini termasuk perumahan yang sudah ramai, karena memang merupakan perumahan yang tergolong lama. Hampir semua warga disini memiliki usaha sendiri di rumahnya, terlebih lagi mereka yang memiliki rumah di pinggiran jalan. Walaupun jalan masuk perumahan dapat dibilang cukup jauh, tapi aku sangat mudah menemukan apapun di sekitar rumah kami. Dari berbagai jenis kuliner, toko sembako, toko pakaian, warung sayur, toko klontong, dan beberapa minimarket juga dengan mudah ditemukan. Aku termasuk yang sangat tergiur mengikuti jejak mereka untuk membuka usaha jual beli di rumah hehe. Sejauh ini bisnisku masih sebatas online, belum sampai tahap toko offline. Melihat ramainya peluang jual beli di perumahan ini, semoga kelak aku bisa membuka lapak offline untuk bisnisku.

Sebuah cita-cita lain yang sangat ingin aku wujudkan dari sebelum aku menikah: memiliki rumah singgah. Aku ingin bermanfaat untuk sekitarku, untuk lingkunganku, dengan membantu adik-adik prasejahtera bisa mendapatkan sosok seorang kakak, ibu, guru, dan sahabat bagi mereka. Paling tidak, aku yakin dengan ilmu dan pengalamanku pernah terjun di dalam komunitas Ilmu Berbagi, aku bisa merangkul mereka. Tapi sedih, seiring berjalannya waktu, aku merasa jauh dengan cita-citaku itu. Sejak menikah, seperti hilang waktuku untuk sosiopendidikan, untuk adik-adik itu. Manajemen waktuku yang sangat buruk adalah penyebab semuanya. Aku merasa menjadi istri paling -sok- sibuk sedunia sejak menikah. Ah, mau sampai kapan Git?! Bagaimanapun, hal buruk ini harus ku perbaiki demi terwujudnya impianku memeluk adik-adik yang membutuhkan pelukan.