6 May 2019

Hasil tidak mengkhianati proses, Mah.

Hari 9 melarih kemandirian anak.

Dan merupakan hari kesekian urusan makan sendiri-naura.

Masyaa Allaah tabarakallaah. Hari ini kami ajak nau makan di luar. Cari suasana baru. Walaupun aku tetep pesimis akan berhasil. Justru kayaknya permasalahan akan semakin besar 🤣 Tapi ndak ada salahnya kita coba. Yuk.

Pesen makanan yang disuka. Minta alas makan yang baby friendly. Minta tisu. Dan minta maaf kalau setelah ini akan terjadi huru hara di restoran. Wkwkwkwk.

Cus pesen kentang. Pesen sup jagung. Kasih sendok. Dihambur-hambur. Baik. Sabar Gita. 5 menit. 10 menit. Sambil ayah dan mama juga makan di hadapan dia. Alhamdulillaah masyaa Allaah dia makan doong. Supnya dituang ke alas makan lalu dia ambilin masukin ke mulut. Sambil meminta dituangkan lagi. Begitu sampai habis. Dan kentang juga masih dilahapnya walaupun hanya habis separo kotak. Alhamdulillaah 😊😍 Semoga seterusnya ya naaak aamiin.

Seterusnya- makan sendiri lahap habis maksudnya- bukan seterusnya- makan di resto yhaaa  🤣

5 May 2019

Masih nau belajar makan sendiri

Masih usaha banget supaya nau (dan saya) makan sendiri tapi masih saja gagal. Tantangan naura makan sendiri ini bener-bener entah rasanya kapan akan sukses huhu pesimis :(

Memberikan semangkuk makanan dengan sedikit mie dengan harapan dia makan dengan bahagia bersama ayah mama yang juga makan di sebelahnya ternyata bukan ide yang langsung sukses haha.

baik, besok coba lagi :(

1 May 2019

Gakmau disuapin, Mah.

Hari ini di waktu sarapan aku pribadi belum mencoba melanjutkan usaha nau makan sendiri.
Kaget, di jam makan siang, kami jajan mi ayam dan sepertinya dia tertariik! Kami sengaja tidak memberikan dia minum susu dalam jumlah yang biasanya. Dengan harapan dia tertarik minta makan dan mau makan sendiri.
Kami coba suapin mi ayam dan dia minta sendok.
Aku langsung ambilkan mangkok dan sendok. Tarraaa, dia mau makan sendiri masyaa Allah tabarakallaah. Belum banyak, tapi kami menghargai proses bergeraknya Nau. in syaa Allaah alhamdulillaah.

Coba coba makan sendiri

Hari 6 ini aku mulai membiasakan nau untuk makan sendiri. Semoga bisa berhasil. Well hari pertama latihan makan ini beluk berbuahkan hasil. Masih disuapin itupun belum banyak. Habis sakit mungkin :(

29 April 2019

Mah, tolongin, please :)

Hari ketiga untuk beres-beres mainan.

Masih mencoba cara dealing with.

Masya Allah tabarakallah hari ini Nau jauh lebih kooperatif.

Mencoba dealing with dengan segala upaya supaya berhasil dengan cara yang baik untuk Nau.

"No, nau ndak boleh mainan puzzle itu, sebelum beresin mainan stiker ini."

Dan ini kami lakukan dengan kondisi puzzle kami letakkan di dalam lemari. Dia tau tapi dia tidak bisa ambil sendiri. Jadi dia butuh kami untuk mengambilnya, dan kami memberi syarat untuk itu.

Selama ini semua mainanannya di depan mata. Di rak tertata rapi  tapi tidak setelahnya. Bukan, bukan kami membenci perilakunya. Kami ingin belajar supaya nau bisa belajar mandiri. Untuk urusan beres-beres ini  memang cukup menyita waktu dan pikiran aku pribadi. Biar ibuk senang ga pake marah-marah, perlaham cara ini cukup ampuh. Dia butuh aku untuk menolongnya mengambil mainan yang lain. Aku butuh dia untuk merapikan mainan yang sebelumnya. Plis. :)

28 April 2019

Deal atau tidak

Hari kedua perihal membereskan mainan.

Masih di tantangan mengenai beres-beres. Hari ini tidak beda jauh. Ketika aku menyuruh membereskan mainannya, nau hanya ngeliatin aku diem aja. Aku ulang kembali perintahku, dan responnya masih sama. Aku tinggikan nadaku, dan dia respon dengan menggeleng.

Kemudian ku coba dealing with. Berharap ada perbedaan respon. Menawarkan opsi, bernegosiasi, lalu patuh dan tepat janji pada keputusan yang disepakati.

Hasilnya? Sama.

😭

Semoga hari ketiga bisa lebih baik 😭🙏


27 April 2019

Melatih Kemandirian Anak

Ini hari kedua tantangan bunsay, tapi hari pertama ku menulisknnya disini. Alhamdulillaah aku anggap kholas tantangan pertama kemandirian menyelesaikan kesulitan (puzzle) tanpa bantuan orangtua.

Aku lanjutkan di tantangan berikutnya. Dulu bagiku tantangan ini bukan hal yang sulit rasanya. Tapi sekarang seiring berjalannya usia, banyak sudah penolakan disana sini. Bukan tantangan untuk anak saja, tapi juga untuk orangtua. Membereskan mainannya sendiri. Iya nau harus mau membereskan mainannya sendiri.

Bagi seorang ibu yang menerapkan montessori di rumah, tentu harapan rak dan perkakas terpampang dengan perfek adalah impian haha. Dan satu risiko bagi ibu yang menerapkan montes seperti ku adalah tidak sedikit bahan/alat main yang banyak printilannya. Beras. Makaroni kering. Tepung. Pasir. Lilin. Bahkan kepingan puzzle. Pusing jangan pernah ditanya. Duh hahahaha!

Mengajak Nau bermain dan sampai membereskan mainannya bersama sudah kami terapkan sejak usia 1.5tahunan. Dan dulu Nau bisa dibilang kooperatif. Entah mungkin karena masih iya-iya saja. Belum mengerti menolak. Dan di usia 22 bukan seperti sekarang, diajak beresin, langsung dibalas dengan "nggak" dengan tegas 🤣 Antara mau marah dan sedih dan merasa gagal menjadi ibu yang tidak bisa mendidik anak dengan seidealis buku parenting haha.

Hari ini pun masih sama. Kami belum berhasil membuat nau mau membereskan mainan. Semoga besok ada kemajuan yang baik dari nau untuk dirinya sendiri. Dan semoga aku, ibunya, tidak keluar emosi-emosi buruk hanya karena rumah yang berantakan. Aamiin.