25 June 2019

Game level 3 - Hari 4

Masih belajar untuk memanajemen emosi dengan sibling.

Baru ini kami lihat naura merebut dan mempertahankan apa yang dipunya. Kami tidak banyak intervensi. Kami merasa sudah sounding bagaimana nau harus bersikap kepada sibling di luar kondisi yang sdg berlangsung. Sekarang, jika sedang berhadapan dengan kondisi ini, kami tidak ikut campur. Kami tidak intervensi. Kami biarkan nau berkenalan dengan egonya. Berteman dengan emosinya. Berpikir dengan otaknya. Kemudian menemukan sendiri solusinya. Toh selama tidak ada kekerasan, kami rasa semua dalam tahap baik untuk perkembangan anak-anak.

Sejauh ini kami bisa mengambil simpulan sementara bahwa nau masih bisa mengontrol emosinya. Dia masih dalam posisi anak-anak yang super egois, tidak mau berbagi, berusaha mempertahankan apa yang dipunya, tapi jika tetap direbut, dia tidak menangis.

Proud, nak :')

22 June 2019

Game level 3 hari 3 - Sibling emotion

Sungguh sangat menguras emosi ya ternyataaaa membersamai anak balita yang sedang dalam ego yang setinggi-tingginya dan bermain sama saudara seusia. Duh. Rebutan, berantem, nangis, bener-bener gak ada berentinya :")

Hari ini kami diuji dan ditantang untuk tetap membersamai nau dalam belajar mengelola emosi. Bagaimana nau bisa bersosialisasi di dalam rumah sehari-hari dalam waktu cukup lama dengan saudara yang usianya setahun dua tahun lebih tua dari dia.

Awalnya ini tantangan untuk kami. Ya, bagaimana bapak dan ibuknya mengajarkan mendidik dan membentuk karakter dia ketika bersosialisasi dengan saudara seusia. Karena aku paham, dia adalah bagaimana kami membentuknya atas izin Allah.

Nau sejauh ini hanya sebatas tau ini naura dan itu kakak hasna. Dia juga tau ini mainan naura dan itu mainan kakak hasna. Yang dia belum tau adalah "mainan naura boleh dipinjam kakak hasna" dan "naura tidak boleh merebut memaksa pinjam mainannya kakak hasna" :(

besok belajar lagi ya nak :"")

Game level 3 hari 2

Hari-hari pertama nau di rumah mbahkung Jember bukanlah hal yang mudah untuk nau (juga ayah dan mama) karena nau lagi-lagi tetap hrs beradaptasi walaupun ini sudah kali ketiga nau pulang kampung.

Nggak mau sama siapa-siapa kecuali sama ayah dan mama, bakalan jadi drama setiap hari udah pasti wkwk. Tapi mudik kali ini alhamdulillahnya nau lagi nemploook terus sama ayahnya. Wkwk masya allah nau paham bgt mama mau goler2 delosor nikmatin mudik wkwkwk.

Mencoba sounding ke nau kalau ini lagi dimana, kalau orang-orang di rumah ini siapa aja, dan lain sebagainya. Alhamdulillah(-nya lagi) mudik kali ini tidak sesulit mudik yang lalu karena kakak sepupu nau sudah datang lebih dulu. Jadi nau ada temen main dan langsung hepi. Walaupun sama yangti mbahkong dan tante masih belum nempel.

Nau mengamati satu demi satu anggota keluarga di rumah ini sambil aku kenalkan sambil aku ceritakan sambil aku ajak nau untuk salim. Aku ajak nau berkeliling rumah berharap dia bisa menyatu dengan lingkungan baru ini. Aku ajarkan nau untuk mengenal istilah baru: yangti tante mbahkung yang selama ini di rumah Jakarta tidak ada.

Ya, kosa kata baru yang bisa dia ucapkan lagi masya Allah tabarakallah dan otaknya yang kembali merekam orang baru dan hatinya yang sedang merasakan kasih sayang dari orang yang dia anggap baru :)))

Game level 3 hari 1

Melatih kecerdasan anak.

Akhirnyaaaa masyaa Allah setelah harian bahkan mingguan gak kedentuh tugas iip ini tapi tetap merasa dikejar-kejar hutang. Alhamdulillaah hari ini berkesempatan pegang hp untuk belajar lagi.

Hari-hari di kampung benar-benar membuat kami bahagia seperti isi ulang energi. Jauh dari hiruk pikuk keramaian ibu kota bahkan tidak mengikuti berita politik yang sedang ramai diperbincangkan. Sementara ketika di Jakarta sungguh sehari-hari kami dijejeli dengan suguhan ini di televisi.

Bukan hanya untuk aku pribadi, tapi nau juga hepi sekali pulang ke kampung mbahkong nya :)) Disini nau bisa lihat angsa bebek peliharaan dan sawah. Sederhana memang tapi paling tidak disini aku bisa menunjuk dan memberitau bahkan mengajak nau terjun langsung ke sungai, sawah, dan kandang bebek yang selama ini hanya lewat cerita.

Di kegiatan main di alam hari 1 ini nau mengasah kecerdasan intelektual. Sisi linguistiknya. Alhamdulillah kosa katanya bertambah. Sungai. Padi. Angsa. Dan dia sudah hapal ketika lewat jembatan, dia langsung menunjuk ke luar bawah dan bilang air. Walaupun itu malam hari. Seolah dia hapal bahwa jembatan itu baawahnya sungai yang mengalir.

6 May 2019

Hasil tidak mengkhianati proses, Mah.

Hari 9 melarih kemandirian anak.

Dan merupakan hari kesekian urusan makan sendiri-naura.

Masyaa Allaah tabarakallaah. Hari ini kami ajak nau makan di luar. Cari suasana baru. Walaupun aku tetep pesimis akan berhasil. Justru kayaknya permasalahan akan semakin besar 🤣 Tapi ndak ada salahnya kita coba. Yuk.

Pesen makanan yang disuka. Minta alas makan yang baby friendly. Minta tisu. Dan minta maaf kalau setelah ini akan terjadi huru hara di restoran. Wkwkwkwk.

Cus pesen kentang. Pesen sup jagung. Kasih sendok. Dihambur-hambur. Baik. Sabar Gita. 5 menit. 10 menit. Sambil ayah dan mama juga makan di hadapan dia. Alhamdulillaah masyaa Allaah dia makan doong. Supnya dituang ke alas makan lalu dia ambilin masukin ke mulut. Sambil meminta dituangkan lagi. Begitu sampai habis. Dan kentang juga masih dilahapnya walaupun hanya habis separo kotak. Alhamdulillaah 😊😍 Semoga seterusnya ya naaak aamiin.

Seterusnya- makan sendiri lahap habis maksudnya- bukan seterusnya- makan di resto yhaaa  🤣

5 May 2019

Masih nau belajar makan sendiri

Masih usaha banget supaya nau (dan saya) makan sendiri tapi masih saja gagal. Tantangan naura makan sendiri ini bener-bener entah rasanya kapan akan sukses huhu pesimis :(

Memberikan semangkuk makanan dengan sedikit mie dengan harapan dia makan dengan bahagia bersama ayah mama yang juga makan di sebelahnya ternyata bukan ide yang langsung sukses haha.

baik, besok coba lagi :(

1 May 2019

Gakmau disuapin, Mah.

Hari ini di waktu sarapan aku pribadi belum mencoba melanjutkan usaha nau makan sendiri.
Kaget, di jam makan siang, kami jajan mi ayam dan sepertinya dia tertariik! Kami sengaja tidak memberikan dia minum susu dalam jumlah yang biasanya. Dengan harapan dia tertarik minta makan dan mau makan sendiri.
Kami coba suapin mi ayam dan dia minta sendok.
Aku langsung ambilkan mangkok dan sendok. Tarraaa, dia mau makan sendiri masyaa Allah tabarakallaah. Belum banyak, tapi kami menghargai proses bergeraknya Nau. in syaa Allaah alhamdulillaah.