31 October 2014

Buah utuh VS Jus buah

Pemandangan menarik menurutku saat di hadapkan pada sebuah jalan besar di sudut kota di Jawa Timur. Kedua sisi jalan dipenuhi pedagang buah di belakang standnya masing-masing. Stand mereka saling bersebelahan, menjajakan dagangan yang sama. Tanpa rasa cemburu melihat stand sebelahnya ramai pembeli, pedagang lain tetap guyub seolah tak peduli. Ah tapi bukan itu fokusku saat itu. Fenomena yang mungkin bagi sebagian besar masyarakat adalah biasa, Justru menjadi pusat perhatianku Saat itu. Melihat pola hidup masyarakat yang mulai membaik. Jus buah sepertinya menjadi minuman sehari-hari jika melihat menjamurnya bisnis kuliner yang satu ini. Yaa paling tidak di daerah tempatku menetap saat itu.

Kemudian, yang menjadi pertanyaan, kenapa harus jus buah? Kenapa tidak buah segarnya saja sekalian? Menarik. Semua tahu bahwa jus buah minuman yang menyegarkan lagi menyehatkan.  Namun penting diketahui bahwa ada yang lebih baik dari segelas jus buah yakni buah utuh segar. Memang bukan berarti jus buah itu buruk. Hanya saja kita perlu mencermati kandungan kalori yang ada di dalam jus dan memastikan bahwa asupan kalori tersebut secara keseluruhan menyehatkan tubuh.

Nah, menyehatkan yang bagaimana? Jus buah akan 'berkhasiat' jika disajikan dengan cara yang tepat. Apabila tidak menyertakan serat dalam penyajiannya, maka akan banyak nutrisi hilang sehingga yang tersisa hanya sumber gula. Padahal, serat penting dalam membantu sistem pencernaan dan metabolisme. Sangat disayangkan, dalam pembuatan jus, banyaj sekali serat hilang selama proses blender. Sebagai contoh, dalam pembuatan segelas jus apel, dibutuhkan empat buah apel yang total mengandung 12-15 gram serat. Hasilnya, hampir 15 gram serat semua hilang begitu saja dalam proses. 

Sebagai contoh lain jus jeruk misalnya, bagian serat putih dari jus jeruk merupakan sumber penting flavonoid, dan bagian daging yang berwarna kuning mengandung vitamin C. Di dalam tubuh, flavonoid dan vitamin C bekerjasama untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Jika serat putih dibuang selama proses pembuangan jus, maka flavonoid yang diharapkan tidak dapat diperoleh dari buah tersebut. 

Jus buah tidak memiliki serat yang membantu pencernaan dan penyerapan gula alami yang ditemukan dalam buah utuh. Selain itu, jus buah dapat lebih cepat meningkatkan kadar gula darah karena tingkat gula yang dihasilkan dari jus buah lebih tinggi dibandingkan pada buah utuh segar, apalagi jika dibandingkan dengan minuman jus siap minum yang disajikan dalam kemasan. Selain pada umumnya minuman ini menggunakan pemanis tambahan, dan bahkan menggunakan perisa buah dalam komposisinya. Akibatnya kita Hanya mengonsumsi sejumlah besar kalori tanpa menikmati nutrisi penuh yang terkandung di dalam buah. 

Banyak sekali masyarakat yang tidak tercukupi kebutuhan buah dan sayur, sehingga mereka beranggapan bahwa minuman jus dapat menggantikan perannya. Sejatinya, peran serat dalam buah segar utuh sangat penting, juga dalam membantu memberikan efek kenyang lebih lama. Sedangkan minuman jus justru akan membuat lebih mudah lapar. Namun sekali lagi, jus buah tidak buruk. Terlebih bagi mereka yang kurang gemar konsumsi buah dan sayur, tentu kebiasaan ini bisa menjadI pilihan alternatif yang baik. Tentu saja tetap dengan proses penyajian yang tepat yaa! ;)

20 October 2014

Indonesia TIDAK dibodohkan dengan air mineral

Beberapa waktu lalu, aku membaca postingan di salah satu media sosial temanku. Judulnya membuat aku tertarik untuk segera membacanya.

"Indonesia dibodohkan dengan air mineral"

Begitu headline nya. Detil artikel dapat dilihat di: http://klinikpengobatanalami.wordpress.com/2013/09/07/indonesia-dibodohkan-dengan-air-mineral/

"Penulisan bias apa lagi ini?"
"Bisa dihasut dengan apa lagi masyarakat Indonesia?"
"Isu pangan apalagi yang mau dilebih-lebihkan?"
Berentetan pertanyaan muncul di benakku. Sambil kesal pastinya. Ya, padahal saat itu aku belum membaca artikelnya. Baru membaca judulnya.

Pada artikel jelas disebutkan satu merek dagang air mineral yang diikuti dengan sejumlah hal-hal menakutkan berujung kematian di belakangnya. Pada artikel, dituliskan satu jenis zat yang terkandung di dalam air mineral tersebut yang terdengar menjadi sangat berbahaya setelah membacanya. Fluorida namanya. Aku tidak mengatakan bahwa segala efek negatif yang ditimbulkan oleh zat sebagaimana tertulis di artikel tersebut adalah salah, tidak. Aku juga bukan penulis bayaran yang dikirim oleh suatu perusahaan utk membersihkan nama. Aku bukan seorang karyawan yang bekerja di perusahaan terkait. Hanya saja memang perlu pengetahuan lebih lanjut menyingkapi hal-hal sebias ini.

Fluorida adalah salah satu jenis mineral alami, yang sejatinya memang merupakan salah satu zat gizi mikro yang dibutuhkan oleh tubuh. Fluorida jika dikonsumsi dalam jumlah cukup, bermanfaat dalam kesehatan gigi dan mulut. Sekali lagi, dalam jumlah yang CUKUP.

Perlu diketahui bahwa peredaran produk pangan khususnya di Indonesia, tidak sembarangan. Cukup panjang proses suatu produk pangan dapat dijual bebas di pasar. Registrasi, keamanan pangan, label, kandungan, kehalalan, dan lain-lain. Dan terlebih untuk produk di bawah naungan perusahaan pangan ternama yang sudah beredar bahkan sampai mancanegara, bukan suatu hal yang mudah untuk dapat dikonsumsi khalayak. Berbagai kandungan di dalam pangan harus tercatat, harus diteliti, harus aman! Setiap bahan pangan memiliki peraturan-peraturan yang mengaturnya agar tidak akan membahayakan khalayak. Mengenai fluorida, melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, pemerintah telah menetapkan batasan kandungan fluorida dalam air minum yakni tidak lebih dari 1.5 mg/l (ppm). Nilai batasan yang sama juga ditetapkan oleh World Health Organization (WHO, 2011) yakni 1.5 mg/l (ppm). Bahkan, di Indonesia, terdapat SNI (Standar Nasional Indonesia) No. 01-3553-2006 mengenai Air Minum dalam Kemasan (AMDK) yang menyebutkan batasan kandungan fluorida lebih ketat lagi, yakni maksimal 1 mg/l (ppm). Terkait batasan penggunaan fluorida dalam air minum ini, tercatat dalam produk air minum merek ter'sangka' mengandung fluorida yang tidak lebih dari 0.5 mg/l (ppm). Angka ini dapat terbilang jauh di bawah batas yang ditetapkan SNI, bahkan Menteri Kesehatan dan WHO. Penting utk diketahui bahwa dalam suatu industri pangan, terdapat bagian quality assurance dan quality control yang senantiasa melakukan pengecekan dan pemantauan kualitas secara berkala demi konsistensi kualitas produk pangan yang dihasilkan. Selain itu produk air minum ini tercatat telah memiliki sertifikat SNI yang artinya produk ini dipantau berkala oleh Lembaga Sertifikasi Produk.

Kalau dipikir-pikir, kalau air mineral saja berbahaya, kita harus minum apa lagi? Hahah x)
Well, semoga kita semua bisa tetap waspada terhadap berita bias sejenis yang beredar.

28 September 2014

#20factsaboutme

  No comments    
categories: 
Well, Instagram lagi rame sama games kekinian, dan karena aku pun ngarep jadi anak jaman sekarang, alhasil aku ikutan beginian, pun karena kena tag satu adik tingkatku jaman kuliah.
Oke, #20factsaboutme :)

1. Halal concern.
Salah satu doa ndak dikabulkan dan shalat ndak diterima itu sebab makanan haram masuk ke tubuh kan yah. Selama masih buanyak yang halal kenapa harus yang non halal.

2. Ndak punya alis. Sampe pernah dikomen sama dedek2 di angkot Kampus Dalam, Bogor.

Dedek: "Mah kakak itu bisa liat setan ya? Alisnya ga ada gitu"
Mamanya: "Hus! Gaboleh gitu dek sama kakak.." "Maaf ya Mba, anak saya bercanda.. Dia ga ngerti.."
Gita: .... *Bang kiri Bang!*

3. Bisa 4x lebih dalam sehari sikat gigi.

4. Anak pisang to the maks!
Buah pisang. Pisang bakar. Pisang goreng. Pisang rebus. Pisang kukus. Es krim pisang. Pisang Ijo. Jus pisang. Susu rasa pisang. Kulit pisang!

5. Pernah minum air aki.
Well ini epic. Ada botol air di kulkas, memang sih ndak ada labelnya, Tapi siapa sangka itu air aki T.T
Setelah aku minum, hampir segelas, aku ngerasa sih itu agak nyess gitu pas di tenggorokan, tapi yaudahajagitu ._.
Ndak lama, pas buka kulkas lagi, udah ada labelnya: "AIR AKI. JANGAN DIMINUM"
*glek* Semua gara-gara Bapak.

6. Ndak bisa keju.
Pun hanya dengan baunya saja. Maklum lidah tempe orek.

7. Kalo udah respect sama satu orang (temen) bisa suayang buanget buanget buanget.
Bisa jadi lebih protect bahkan mungkin dibanding kakak adek emak babehnya.

8. Byebye meong!
Pernah gamasuk beberapa hari pas SMP karena Akbar (ga akan pernah lupa) becanda dari belakang naroh kucing di bahu. Ga lucu. Iya aku tau kucing hewan kesayangan Rasulullaah, tapi... iya ini juga lagi nyoba untuk ga takut kok pelan-pelan :|

9. Peringatan hari kartini pas TK, dicepak rambut sama mamah. Dibeliin sepatu kets item, berat, sangar gitu. Dan pas hari H, ternyata pagi2 dipakein baju ABRI. Lengkap dengan topi, pistol dan peluit digantung di lengan. Dan pas jalan ke TK, semua bisik-bisik. Gimana nggak, temen-temen semua sanggulan cantik dengan makeup menor dan kebaya kiyut!

10. Tidur kapanpun dimanapun.
Jagoan deh kalo ini. Hobi kebablasan naik apa-apa karena ketiduran pules x)

11. Hygiene freak sih.
Jaga kebersihan lingkungan dengan buang sampah di tempat sampah! Jaga kebersihan diri dengan cuci tangan pake sabun & bawa hand sanitizer kemanamana wajib!

12. Gemes liat yang lelet.
Selalu berusaha dateng on time, bahkan in time. Waktu milik orang lain terlalu berharga untuk dipakai habis menunggu aku. Pun dengan waktu ku terlalu berharga untuk menunggu yang tidak layak ditunggu.

13. Sering wasap nyapa orang terus ditinggal semenit, lupa mau bahas apa. Ngilang.

14. Dulu kalo makan toprak bisa cabenya sembilan, kemudian hospitalized, kapok, dan sekarang malah ndak kuat pedes sedikitpun.

15. Disorientasi arah
Gatau arah angin. Gabisa baca peta. Kesasar mulu. Makanya butuh ada yang ngarahin. Emaap.

16. Ndak gampang jatuh cinta.
Alhamdulillah :')

17. Masih nabung di celengan.
Uehehe

18. Lebih girang diajak motoran daripada mobilan.
Lebih girang diajak jalan kaki daripada motoran.
Yang kena angin itu lebih joss asiknya hahah.

19. Lebih girang dilepas di alam daripada dilepas di mall.
Jangan ajak aku main di mall. Bisa setengah jem udah ngajak pulang.
Ajak aku main di alam. Sampe inep berhari-hari yah. Hihi.

20. Pengen punya wadah pendidikan.
Apapun bentuknya. Rumah singgah. Panti asuhan. Tempat les. Sekolah. Dan lain-lain. Aamiin :))

Aamiin Alhamdulillaah hidupku bahagia hihi

28 August 2014

Sejumput surga dunia kecil di selatan Jawa.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa aku bukan perekomendasi tempat yang baik haha.
Kata mereka, aku berlebihan dalam rekomen sesuatu. Tempat, makanan, dan orang untuk dijodohkan. Eh haha.

Oke. Kalau dihadapkan gunung atau pantai aku tetap akan memilih gunung. Tapi kalau dihadapkan sebuah pantai cantik didepanku. Aku bisa apaaaaaa.
Kyaaaaa *goler-goler gelinding di pasir*

Namanya Pantai Pok Tunggal.

Pantai Pok Tunggal merupakan satu dari deretan pantai cantik di deretan kawasan Gunung Kidul.
Sekitar 10 hari yang lalu aku berkesempatan didolani kesana oleh teman-teman IlmuBerbagi wilayah Yogyakarta. Akses menuju kesana cukup jauh dari pusat kota. Kilometer mendekati Pantai Pok Tunggal pun dirasa ekstrem dengan jalanan bebatuan. Tak berhenti bahu kami saling mengadu ketika berada di dalam mobil dengan jalanan yang jelek. Menurutku, biarkan saja terus begini. Akses sulit menurutku adalah nilai positif untuk sebuah tempat wisata. Orang di luar sana jadi malas untuk datang bukan? Jadi ndak banyak orang-orang yang ndak bertanggungjawab dateng ke tempat-tempat wisata kemudian meninggalkan gunungan sampah. Dan bukankah, kata orang jaman dulu, bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. Akses jalanan sulit, kemudian lupa seketika karena terbalas dengan hamparan pasir putih, bukit hijau, dan pantai biru jernih didepan mata yang ndak ada ujungnya :")


Hamparan Pantai Pok Tunggal



Apan. Anak Pante.


ApanSuTo. Anak Pante Suka Poto.

Pantai ini termasuk sepi. Bisa diliat dari foto-foto yang ada, isinya ya aku dan temen-temen, ndak ada yang lain di sekitar. Ndak banyak yang lalu lalang. Apalagi kalo udah naik ke bukitnya. 


Bukit Panjung tampak depan

Namanya Bukit Panjung. Waktu itu yang penasaran main diatas juga ya cuma aku dan teman-teman. Selebihnya ndak ada siapa-siapa. Ini yang bikin asik. Ndak rame, sama temen-temen kesayangan, liat biru biru ijo ijo. auum :3 Dan katanya, tebing bukit disini suka didaki oleh wisatawan. Hmmm :3



Icip-icip naik keatas bukit





Pantai Pok Tunggal tampak atas

Pada gambar paling bawah, tampak pohon miring di sebelah kanan. Pohon itu adalah ciri khasnya Pok Tunggal. Kayak pohon selamat datang karena berdiri sendiri di hamparan pasir pesisir pantai. Pohonnya cantik :3


Terus ada ayunannya diatas bukit haha. 

Di foto ini terlihat gazebo utk santai di belakang, itu kalo duduk, otomatis bayar sewa Rp 20.000 hahaha lucu ya sayang lupa difoto. Orang di belakangku itu Adit, salah satu temen Ilmuberbagi Jogjakarta. Dia pernah ndak sengaja duduk situ hehehe. Tapi yaaa ndakpapa, buat ekonomi masyarakat sini kan :)) 


Mohon maaf atas ketidakbakatan saya dalam hal memotret dan mereview suatu tempat. Haha. Tapi ini pantai recommended untuk dinikmati sambil boboan di pasir putihnya :))


Kamu seperti Yogyakarta, Istimewa :)

Bukan.
Ini bukan tentang Bali.
Ini bukan tentang Lombok.
Ini bukan tentang pulau-pulau kecil yang luarbiasa menyejukkan mata.

Ini hanya sebuah daerah yang istimewa.
Yogyakarta.

Suatu anugerah terdapat darah Yogyakarta mengalir di tubuhku. Apa yang tidak ada di Yogyakarta? Rasanya apapun yang aku inginkan semua tersaji disini. Yogyakarta cantik dengan segala wisata alamnya. Yogyakarta cerdas dengan pelajarnya. Yogyakarta tentram dengan segala paguyubannya. Yogyakarta nyentrik dengan segala wisata budayanya. Pantas, dijuluki Daerah Istimewa.

Daerah yang mungkin tidak istimewa untuk sebagian besar masyarakat. Namun Daerah Istimewa untuk-ku. Rasanya tak sabar menghabiskan waktu hidup di Yogyakarta. Langsung aku mengangguk setuju saat orangtua 'mengajak' hijrah ke Yogyakarta setelah ayah pensiun dan adik selesai SMA.

Bukan hanya karena makanan murah dan lezatnya yang melimpah. Bukan hanya karena lampu-lampu malam jalanan yang hangat. Bukan hanya karena alamnya yang memesona. Bukan. Rasanya semua itu tidak ada yang mewakili rasa cintaku.

Kata mereka, jangan jatuh cinta di Yogyakarta.
Haha aku tidak jatuh cinta di Yogyakarta.
Aku jatuh cinta pada Yogyakarta.
Dan aku pikir, tidak ada alasan untuk tidak jatuh cinta pada Yogyakarta.




6 August 2014

Ramadhan, Aku Pura-pura Rindu

  2 comments    
categories: ,
Ramadhan, ternyata selama ini kami cuma pura-pura merindukanmu.
Sejak dua bulan lalu ketika kami panjatkan doa kepada Allah untuk disampaikan kepadamu, kami selalu bilang kami begitu merindukanmu. Ketika itu pula, kami selalu bilang kami tak sabar lagi untuk berjumpa denganmu—takut rasanya, bila ternyata umur ini membuat kami tak punya kesempatan untuk kita saling menyapa, saling mengisi, saling menyemangati. Akhirnya sampai juga hari ini, bahkan sudah separuh Ramadhan kami jalani.
Benar sekali, sukacita kami menyambut kehadiranmu. Apa lagi yang kami tunggu? Maka petasan meledak dan berisik di sana-sini, masjid-masjid kembali hidup, kitab-kitab dibersihkan dari debu yang menyelimutinya entah sejak kapan—Ramadhan lalu barangkali, berbondong-bondong kami berangkat shalat taraweh meski berat sebab perut kami masih dalam keadaan kenyang keterlaluan, pukul tiga acara televisi sudah ramai dengan lawakan-lawakan yang tidak lucu, dan seperti biasa: lagu-lagu religi diperdengarkan di mana-mana.
Inikah juga yang kau harapkan wahai Ramadhan?
Tiap hari kami menghitung lembar-lembar kitab yang telah kami baca, kami tersenyum: sudah banyak, insyaallah targetan kami tercapai. Kami tak terlalu peduli apakah kitab yang bolak-balik kami baca itu kami mengerti atau tidak, apalagi mengamalkannya—kejauhan. Kami sudah sangat puas bila ada yang bertanya ‘sudah berapa lembar yang telah dibaca’ kami bisa menjawab: sudah khatam dua kali. Lalu mereka kagum. Bukankah itu surga?
Tapi itukah sambutan yang sungguh kau harapkan wahai Ramadhan?
Kami melihat agenda harian kami: Senin buka bersama dengan X, Selasa buka bersama dengan Y, Rabu buka bersama dengan Z sekaligus Sahur on The Road, Kamis.. Jumat.. begitu seterusnya. Begitulah cara kami merayakan kedatanganmu. Tarawih bisa dilewat karena sunnah, Shalat malam jangan ditanya, mana sanggup kami menunaikannya. Malam-malam kami habiskan dengan tidur dengan lelap karena lelah, jangan sampai kami kesiangan sahur apalagi ketinggalan acara sahur favorit. Nanti kami dibilang tidak gaul.
Shalat shubuh di Bulan Ramadhan bagi kami adalah ritual penting menuju alam mimpi. Ya, kami tidur lagi karena tidur di Bulan Ramadhan adalah ibadah.
Puasa kami tak pernah bolong barang sehari, sebagaimana lisan kami yang tak pernah lupa jadwal amalan gibahnya. Kami begitu kuat menahan lapar, dahaga, berahi, sebagaimana kami begitu kuat menahan harta yang ada di dompet kami—tak ada yang boleh menyentuhnya sebab akan kami gunakan untuk lebaran mahameriah kami. Sesekali kami ingat ucapan penyair itu: ‘kau akan menjadi milik hartamu jika kau menahannya, dan jika kau menafkahkannya maka harta itu menjadi milikmu.’ Tapi siapa peduli. Lebaran tetaplah lebaran, merayakannya dengan kesederhanaan tak boleh jadi pilihan.
Seperti itukah perlakuan yang ingin kau dapatkan wahai Ramadhan?
Kelak ketika Ramadhan berakhir, kami—dengan mengendarai mobil pribadi kami—akan berkeliling mengunjungi saudara dan kerabat, bermaaf-maafan atau sekadar mencicip kue. Kami tentu senang, bahagia, karena katanya kami menang.
Ah, Ramadhan.
Entahlah, kami tak mengerti: barangkali kami memang cuma pura-pura merindukanmu. 

by Azhar Nurun Ala

6 April 2014

Berkunjunglah ke taman syurga-mu.

  No comments    
categories: 
Adalah Fatimah binti Asad. Fatimah binti Asad merupakan istri Abu Thalib, bibi Nabi. Ketika Rasulullah SAW mendengar kematian Fatimah binti Asad, maka Rasul pulang dan masuk ke rumahnya, kemudian Rasul duduk di sisi kepalanya. Itulah cara Rasulullah SAW menghadapi mayit, begitupun di makam. Dan Nabi berkata kepada Fatimah binti Asad yang sudah meninggal,boleh jadi ia terbujur kaku tak sanggup berkata-kata lagi tetapi telinganya masih mendengar apa-apa yang diucapkan mereka yang masih hidup. Terbukti Rasul berkata pada Fatimah binti Asad yang sudah wafat: "Semoga Allah merahmatimu wahai Fatimah karena sesungguhnya engkau adalah berkedudukan ibu setelah ibuku". Hadits mengatakan, barangsiapa mencium kedua mata ibunya dalam keadaan masih hidup, maka diharamkan baginya dijilat api neraka. 
Nabi memanggil sahabat-sahabatnya dan membawa Fatimah untuk dimakamkan. Rasulullah SAW menggali sendiri kubur Fatimah. Beliau turun ke makam seorang diri dan kerabatnya semua disuruh naik. Begitu di dalam kubur, Rasulullah mengorek sendiri dengan tangannya liang lahat dan Beliau masuk tiduran memanjang di dalamnya hingga keluar keringatnya. Rasulullah SAW berharap agar peluh yang keluar dari tubuhnya itu bisa melindungi Fatimah dari siksa kubur, dari penggencetan selama di kuburan. Beliau berharap agar tetesan keringat itu menjadi benteng untuk seseorang yang berkedudukan ibu setelah ibuku. Kemudian Rasulullah berdoa panjang yang salah satunya: "Ya Allah ampuni dosa ibu saya, bimbing lidahnya untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan malaikat kubur". Rasulullah SAW mohon supaya Allah membimbing jenazah tsb. Baru setelah itu diturunkan mayit Fatimah binti Asad, dan dikuburkan.
Cerita ini diangkat dengan maksud mengingatkan kita semua bahwa Nabi Muhammad SAW begitu mengapresiasi seorang Ibu, bahkan orang yang dianggap Ibu selayaknya Ibu kandung meski bukan Ibu kandung yang sebenarnya. Percayalah bahwa dalam Agama Islam, ada satu kebaikan, yang dengan satu kebaikan itu bisa menghapus seribu bala. Satu diantaranya adalah berada di taman surga. 
Alkisah terdapat seorang yang tidak berpunya, bekerja seadanya menjadi ojek sepeda. Dengan penghasilan dan belum tentu ada setiap harinya, Penghasilan yang tidak seberapa. Setiap ia mendapatkan uang, ia kumpulkan kemudian ia belikan makanan sekedar untuk makan, bukan untuk kenyang, baginya yang penting bisa mempertahankan hidup. Sebagian pendapatannya lagi, ia kirimkan untuk Ibunya di kampung halaman dan ia lakukan itu selama 9 bulan. Saat ditanya alasannya, ia mengatakan, walaupun ia tak akan bisa membalas apa yang telah dilakukan ibunya untuknya, tapi ia ingin menunjukkan, persis seperti apa yang ibunya lakukan kepadanya, selama 9 bulan di rahim ibunya. Dan di bulan kesembilan ia bertemu pengusaha yang dikirim Allah sebagai jembatan ia memiliki rezeki harta yang luarbiasa hingga saat ini. Inilah yang tidak terpikirkan oleh orang banyak. Padahal Rasulullah SAW menunjukkan jelas-jelas apresiasi terhadap seorang Ibu. Jika telah turun keridhoan Ibu, maka akan turun keridhoan Allah, dan jika Allah sudah ridho, beres semua urusan! Kita semua kebanyakan takaran teori dan dalil, tapi seorang pengusaha baru ini? takaran implementasi dan action! Kalah kita :)
-Ketika ada anak yang makan makanan yang nikmat dan lezat, tapi Ibu Bapaknya belum pernah menikmati nikmatnya makanan itu, maka haram bagi anak itu nikmatnya makanan syurga!- hadits Rasulullah SAW. Apakah pernah terfikirkan untuk membungkus makanan enak tersebut untuk orangtuanya setelah kalian makan enak? walaupun pada kenyataannya mereka tidak pernah minta :"> Beruntunglah kalian yang masih memiliki Ibu, berarti kalian memiliki taman syurga! Berkunjunglah ke taman syurgamu.

Sedikit ilmu yang dibagi oleh seorang ustadz di pertemuan keluarga besar ayah. Semoga bermanfaat.

25 March 2014

Waspada Status Halal Teh Perisa

  No comments    
categories: ,
Segi kehalalan produk teh tidak diragukan jika teh tersebut merupakan teh alami. Teh alami adalah teh yang hanya mengandung daun teh atau campuran daun teh dan bunga melati. Akan tetapi pada saat ini, makin marak produk minuman teh yang dibuat dengan menambahkan perisa (flavor, bahan yang digunakan agar teh memiliki aroma dan cita rasa tertentu yang diinginkan) seperti perisa melati. Titik kritis teh yang dibuat dengan menambahkan perisa (flavor) ini ada pada perisa yang digunakan. 

Kekhawatiran ketidakhalalan perisa dapat disebabkan karena beberapa hal, yaitu: pelarut yang digunakan, diantaranya etanol dan gliserol, bahan dasar pembuatannya, serta asal bahan dasar yang digunakan. Etanol (alkohol) tidak diperkenankan digunakan sebagai pelarut akhir komponen-komponen flavor. Sebagai gantinya,  dapat digunakan pelarut berupa propilen glikol. Gliserol yang digunakan sebagai pelarut tidak boleh berasal dari hasil hidrolisis lemak hewani. Untungnya secara komersial kebanyakan gliserol merupakan hasil sintesis organik dengan menggunakan bahan dasar yang berasal dari minyak bumi.


Mi instan tidak sama dengan nasi

Proses pengolahan mi instan yang mudah dan cepat saji, menjadikan masyarakat tidak jarang mengganti menu sarapan, makan siang, dan atau makan malam mereka dengan mi instan. Aktivitas yang satu ini diharapkan jangan dijadikan kebiasaan. Walaupun mi instan dan nasi merupakan bahan pangan berkarbohidrat, tetapi sifat karbohidrat diantara keduanya jelas berbeda.

Ahli teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor Dr. Nuri Andarwulan mengatakan meski nasi dan mi instan sama-sama terdiri dari karbohidrat tapi sifat keduanya berbeda. Sifat karbohidrat mi instan adalah sederhana, sedangkan karbohidrat nasi kompleks. Karbohidrat sederhana memang lebih mudah diserap tubuh, tapi orang tersebut akan lebih cepat merasa lapar. Sedangkan karbohidrat kompleks memberi efek kenyang lebih lama dibandingkan karbohidrat sederhana. 

Sifat mi yang cepat menimbulkan rasa lapar ini bisa membuat orang terus makan untuk menuntaskan rasa laparnya. Akibatnya, orang tersebut bisa menjerumuskan diri pada jurang obesitas. Alasan lain, jika dilihat dari bahan pembuatnya maka kandungan utama dari mi instan adalah karbohidrat dan lemak.

Kalau hanya untuk pengganjal perut, satu bungkus mi instan mungkin bisa dibilang cukup. Tapi tetap tak bisa memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan tubuh. Maka itu, jangan lupa menyantap mi dengan dilengkapi sayuran, telur, atau lauk lain ya! :)

Benarkah mie instan menyebabkan usus bocor?

Beberapa kali ini saya dapat info mengenai seorang anak di Garut yang dikabarkan ususnya bocor dan lengket akibat mengkonsumsi mie instant setiap hari. Pemberitaan semacam ini sering ditemukan di media massa dan sudah menjadi “rahasia umum” bahwa mengkonsumsi mie instant berlebihan dapat mengganggu kesehatan.

Ada tanggapan terhadap pemberitaan tersebut dari Prof. Winarno, Mantan Presiden Codex Dunia yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar PIPIMM (Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman):

Menanggapi isu mie instan dan penyebab kanker serta bocornya usus (oleh F.G. Winarno, Mantan Presiden Codex Dunia)

Menanggapi permintaan konfirmasi beberapa pihak yang ditujukan pada saya terkait beredarnya rumor melalui email mengenai keamanan pangan mi instan, dalam posisi saya sebagai Ketua Dewan Pakar PIPIMM (Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman) dan mantan President Codex sedunia (Chairman of Codex Alumentarius Commision FAO/WHO) mendorong saya untuk memberikan tanggapan terhadap beberapa rumor tersebut sebagai berikut:

* Rumor memasak mi instan tidak boleh dengan bumbunya karena pemanasan di atas 120 C akan berpotensi menjadi karsinogen pembawa kanker .

Mie instan kering, merupakan produk setengah matang. Disebut instan karena sangat cepat disajikan setelah dipanaskan pada suhu air mendidih (±100°C biasanya sekitar 85°C) dalam waktu kurang dari lima menit. Jadi suhunya bukan 120°C seperti yang disampaikan penulis di milis, dimana suhu tersebut baru dapat dicapai bila menggunakan pressure cooker atau retort (strerilisator) untuk sterilisasi dalam proses pengalengan pangan. Jadi penggunaan suhu 120°C seperti yang tertulis sangat tidak akurat. Pada sisi lain, proses terjadinya karsinogen dan timbulnya kanker merupakan suatu isu besar dibidang kedokteran. Isu tersebut merupakan suatu hal yang sangat kompleks untuk diteliti artinya diperlukan keahlian khusus serta memerlukan hasil analisa dan bukti ilmiah yang sangat mendetail dan kompleks.

* Rumor bahwa makan mi instan menyebabkan usus lengket dan bocor.

Untuk menentukan penyebab suatu penyakit seseorang bukan suatu hal sederhana tetapi diperlukan kajian yang ilmiah dan mendalam. Dalam hal ini tentu saja tidak cukup orang awam yang menyimpulkan. Bahkan sering diperlukan beberapa orang ahli dan masih harus didukung analisis laboratorium yang cukup kompleks dan canggih. Tidak tepat rasanya bila mi instan dijadikan alasan penyebab suatu penyakit tanpa didukung oleh suatu data ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan.

* Hal penting yang perlu saya kemukakan guna menghindari kesalahan persepsi di masyarakat akibat berbagai rumor tersebut yaitu bahwa untuk suatu jenis pangan yang diperdagangkan secara nasional maupun internasional diperlukan suatu persyaratan, yaitu harus memenuhi Standard Pangan. Indonesia telah memiliki SNI (Standard Nasional Indonesia) yang proses penyusunannya mengacu pada Standard Pangan International yang disebut Codex Standard. Standard tersebut terutama menekankan persyaratan keamanan, bukan saja pada produk akhirnya, tetapi setiap komponen yang digunakan dalam proses produksi harus aman dan tidak boleh melebihi dosis maksimum yang disyaratkan. Untuk itu diperlukan lembaga dunia yang netral yang disebut JECFA (Joint Experts Committee on Food Additive and Contammint). Jadi seluruh jenis bumbu dan ingredent serta dosisnya, sudah diteliti dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi manusia. Kalau ada resiko kanker atau penyakit lainnya, sejak awal pasti sudah ditolak.

Demikian tanggapan saya, semoga berguna serta dapat menjawab pertanyaan dan keraguan masyarakat.

Terimakasih

F.G. Winarno

29 January 2014

mi instan berbahaya, hanya mitos.

Kira-kira seminggu lalu di Pare, saya duduk bersama rekan saya yang membahas topik mengenai keamanan pangan dan salah satunya mi instan. Dari situ saya mulai menyadari begitu banyak masyarakat yang terbebani berita ini itu yang menghakimi suatu industri pangan dan akhirnya mereka sendiri khawatir mengonsumsi produk tersebut. Ya, mi instan misalnya. Berikut saya share sedikit pengetahuan mengenai mi instan. Bismillah.

Mi instan mengandung lilin? Melihat perkembangan teknologi di era saat ini, sudah hampir tidak ada rasanya produsen nakal yang menggunakan lilin untuk produk mi instan. Lilin adalah senyawa inert untuk melindungi makanan agar tidak basah dan cepat membusuk. Sebenarnya, lilin ini secara alami banyak terdapat di beberapa jenis makanan seperti apel dan kubis. Kemudian bagaimana dengan warna air rebusan yang mengeruh setelah mi dipanaskan? Air keruh dan kental itu bukan hasil dari lilin, tapi merupakan amilosa pati (mi merupakan bahan berkarbohidrat berasal dari terigu) yang lepas saat pemasakan mi. Awamnya, ada padatan mi yang lepas saat perebusan. Dan itu merupakan kondisi normal, bukan lilin. Amilosa pati yang keluar dari granul memang wajar adanya akibat pemanasan suatu bahan pangan.

Dalam proses pembuatannya, mi instan menggunakan metode agar lebih awet namun tidak berbahaya. Salah satu cara pengawetan mi instan adalah dengan metode deep fat frying (penggorengan dalam minyak jumlah banyak/posisi mi tenggelam) yang bisa menekan rendah kadar air hingga mencapai 5%. Metode lain adalah air hot drying (pengeringan dengan udara panas). Inilah yang membuat mi instan bisa awet hingga 6 bulan asalkan kemasannya terlindungi sempurna. Sekali lagi, dengan metode pengawetan yang baik, bukan dengan bahan pengawet yang berbahaya. Kadar air yang sangat minim ini, tidak memungkinkan bakteri pembusuk hidup apalagi berkembang biak.  

Air rebusan mi yang pertama justru baik untuk kesehatan. Semua vitamin baik dari minyak dan bumbu yang terdapat pada mi larut dalam air terdapat dalam air rebusan pertama. 
 
Air rebusan mi

Pada air rebusan mi yang pertama terdapat larutan kandungan betakaroten dan tokoferol yang tinggi.  Apabila air rebusan diganti dengan air matang baru, justru vitaminnya besar kemungkinan sudah hilang. Mengenai bumbu dan minyak yang dikemas terpisah pada produk mi instan, menimbulkan pandangan bahaya karena bahannya yang mudah gumpal. Hal tersebut bukanlah suatu bahaya dan disebabkan oleh proses pengolahan produk. Akan tetapi kembali pada konsumen selama proses penyimpanan produk mi instan. Bisa dilihat pada komposisi di kemasan mi instan, anti gumpal yang digunakan di bumbu adalah Silicon Dioxide. Silicon Dioxide termasuk jenis anti gumpal yang aman ditambahkan pada produk pangan dan untuk penggunaannya mengikuti standar yang sudah ditetapkan FDA (Food and Drug Administration) dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). 

Melirik kepada produk mi instan kemasan cup, akan menimbulkan anggapan bahan pengemasnya berbahaya. Styrofoam kemasan mi instan cup terbukti aman digunakan karena telah melewati standar BPOM. Cup yang dipakai mi instan adalah styrofoam bahan khusus pangan (food grade) yang telah melalui penelitian Japan Environment Agency sehingga memenuhi syarat sebagai pengemas produk pangan. Styrofoam ini memang menyerap panas, terbukti setelah diseduh dengan air panas, tangan tidak terasa panas saat memegang styrofoam. Akan tetapi, karena proses pressing bahan yang baik dan memebuhi standar, maka bahan styrofoam tidak larut bersama dengan air panas. Jadi, tidak perlu khawatir dengan mi instan yang akan terkena larutan styrofoam setelah air panas diseduh.   

Mendengar isu "makan mi nggak bergizi" sebenarnya merupakan kesalahan konsumen itu sendiri. Jika diperhatikan, hampir semua produsen mi instan membuat kemasan dengan menarik lengkap dengan saran penyajian berupa gambar. Ya, gambar pada kemasan mi instan bukanlah hiasan belaka melainkan sebagai saran penyajian konsumsi mi instan yang sempurna dengan bahan lain seperti telur dan sayur-sayuran.

 
Sajikan mi instan lengkap dengan telur, ayam, dan sayur-sayuran

Segala sesuatu yang berlebihan jelas tidak baik, jadi selama masih dalam tahap konsumsi yang sewajarnya, jangan takut makan mi instan :)

Ilmuberbagi Goes To Kampung Inggris, Pare

Salah satu program tahunan terbaru kami untuk para adik binaan Ilmu Berbagi, telah sukses kami eksekusi atas kerjasama dengan Global English Pare pada periode 10-25 Januari 2014, Ilmu Berbagi goes to Kampung Inggris Pare. Hadiah kesempatan belajar ke Pare rasanya pantas diberikan kepada mereka, adik-adik binaan Ilmu Berbagi yang berhasil menjadi juara kelas. Pemberian hadiah ini bukan hanya sekedar untuk liburan ataupun bersenang-senang, tapi juga menambah wawasan keilmuan dan pengalaman mereka. Pada akhirnya, tiket menuju Kampung Inggris Pare, Kediri, ada di tangan mereka. Mereka yang terpilih mengikuti program pembinaan Bahasa Inggris di Pare adalah: Reza Pratama, Milang Novita Sari, Alfiatun Ni’mah (dari Sekolah Binaan IB : SMK ITACO-Bekasi), Haniful Sakti (dari SMK Sakti Gemolong-Sragen), dan Hardina Fitri Amalia (dari SMAN 1 Pracimantoro-Wonogiri).
Tanggal 8 Januari 2014 pukul 18.00 adik-adik SMK ITACO berangkat dari Stasiun Gambir dan tiba pada tanggal 9 Januari 2014 pukul 06.00 di Stasiun Jombang. Adik-adik langsung menuju lokasi kantor Global English (GE) di Pare, Kediri untuk bertemu Mas Agus (Manager GE Pare). Setelah bercerita sedikit mengenai perjalanan, mengurus administrasi, kemudian adik-adik Ilmuberbagi diwawancara sebagai tes penempatan program kursus Bahasa Inggris mereka. Reza, Milang, dan Alfi memperoleh program pembinaan Bahasa Inggris berupa kelas pre-speaking, pronunciation 1, dan vocabulary 1. Salah satu kakak officer mengantar kami menuju camp kami. Adik-adik putri menetap di camp female 2 yang lokasinya tepat di depan kantor, sedangkan Reza adik binaan putra kami, menetap di camp male 7 yang berlokasi di Jalan Anyelir, tidak begitu jauh dari kantor GE. Pukul 16.00 adik-adik binaan dari Sragen (Haniful) dan Wonogiri (Hardina) tiba, dan mereka masuk di program pembinaan yang sama dengan adik-adik yang lain.
Head Office Global English Pare, Kediri
Head Office Global English Pare, Kediri

GE Pare 2
Suasana tes wawancara adik binaan IB saat penempatan kelas program binaan

Asrama GE adalah daerah wajib berbahasa Inggris yang memiliki program lepas  Subuh dan program lepas Maghrib. English area ditetapkan lengkap dengan punishment yang berlaku. Bentuk hukuman merupakan kebijakan masing-masing asrama yang dibuat dari hasil musyawarah penghuni asrama. Setiap asrama memiliki dua tutor asrama yang setia mendampingi member untuk pembinaan di luar kelas. Program lepas Subuh diisi dengan materi berbahasa Inggris berupa expression class, sedangkan program lepas Maghrib memiliki kegiatan berbeda setiap harinya. Hari Senin diisi dengan kelas art yang menuntut member untuk unjuk gigi didepan member lain. Hari Selasa merupakan kelas speech yang menuntut member untuk percaya diri berbicara berbahasa Inggris didepan orang banyak. Hari Rabu merupakan kelas debate yang menuntut member untuk berani mengemukakan pendapat dan mempertahankannya, dengan Bahasa Inggris tentunya. Hari Kamis merupakan kegiatan keagamaan yang biasanya diisi dengan yasinan untuk mereka yang muslim. Hari Jumat merupakan program evaluasi asrama, seperti evaluasi hukuman, fasilitas, dan lain-lain.
Hari pertama masuk kelas cukup melelahkan untuk adik-adik binaan. Mencaritahu waktu dan lokasi belajar mereka sendiri. Bersepeda dari satu lokasi ke lokasi belajar yang lain. Membentuk mereka menjadi pribadi yang jauh lebih mandiri. Di hari-hari berikutnya adik-adik binaan sudah mampu beradaptasi dan merasa nyaman dengan lingkungan Kampung Inggris. Saling menceritakan pengalaman satu sama lain setiap harinya di kamar asrama. Setiap hari berlatih cara pengucapan kata-kata dalam Bahasa Inggris, menghafal arti kata dalam Bahasa Inggris, dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh tutor kelas mereka masing-masing.
Jadwal program adik-adik binaan IB
Jadwal program adik-adik binaan IB

Suasana belajar outdoor di GE Pare
Suasana belajar outdoor di GE Pare

GE Pare 6
Suasana belajar indoor di GE Pare

Selain mengasah kemampuan berbahasa Inggris, adik-adik juga meluangkan waktu untuk berkunjung ke tempat wisata di Pare. Di pekan pertama, mereka menuntaskan keinginan berkunjung ke Candi Surowono dan monumen Simpang Lima Gumul. Monumen SLG merupakan pertemuan dari beberapa persimpangan di pusat kota Kediri. Monumen ini dijadikan icon kota Kediri dan mendapat julukan sebagai Paris-nya Indonesia. Di pekan kedua, setelah selesai ujian akhir, adik-adik bersepeda ke Garuda Park dan menyusuri Goa Surowono. Ujian akhir adik-adik binaan berlangsung tanggal 21-22 Januari 2014.
Adik-adik binaan IB di Candi Surowono
Adik-adik binaan IB di Candi Surowono

Monumen Simpang Lima Gumul (SLG)
Monumen Simpang Lima Gumul (SLG)

Waktu yang hanya dua minggu tidak menyurutkan niat dan semangat adik-adik untuk bersahabat dengan Bahasa Inggris. Mereka memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk terus melatih kemampuan Bahasa Inggris. “Sebelum kesini, pelajaran yang aku benci Bahasa Inggris, sekarang pelajaran yang aku suka adalah Bahasa Inggris” kata Haniful, adik binaan dari SMK Sakti Gemolong. Sebelum kembali ke kota masing-masing, adik-adik binaan Ilmuberbagi membuat waktu pertemuan dengan Mr.Toto (Direktur Global English) dan Mr. Agus (Manager Global English) untuk mendapatkan suntikan motivasi yang berguna untuk kehidupan mereka di kemudian hari sekaligus berpamitan. Adik-adik binaan Ilmuberbagi seakan tidak rela kembali ke kota asal dan melanjutkan pendidikan di sekolah formal masing-masing. Bahkan, mereka semua sudah berjanji satu sama lain untuk akan kembali bersama mengambil pendidikan di Kampung Inggris. Semoga kerjasama antara Ilmuberbagi dan Global English bisa terus terjalin dengan baik. Sesungguhnya, kesempatan yang sama untuk adik-adik binaan Ilmuberbagi yang lain. Besar harapan, sedikit pengalaman ini bisa memotivasi adik-adik binaan Ilmuberbagi lain untuk terus berprestasi.
Adik-adik binaan IB diberi motivasi oleh Mr.Agus (Manager GE Pare)
Adik-adik binaan IB diberi motivasi oleh Mr.Agus (Manager GE)

Adik-adik binaan IB bersama dengan Mr.Toto (Owner GE Pare)
Adik-adik binaan IB bersama dengan Mr.Toto (Owner GE)

Tak lupa, Ilmu Berbagi mengucapkan banyak terima kasih kepada :
-        Mr. Sudarmanto dan Mr. Agus Tri Winarso atas segala bentuk kerjasama dan perhatian kepada adik-adik Ilmuberbagi
-        Para donatur dan sobat Ilmuberbagi atas segala bentuk donasi untuk adik-adik binaan Ilmuberbagi
-        Keluarga dan guru sekolah adik binaan ilmuberbagi atas segala kerjasamanya
-        Mr. Nur yang berkenan mengantar kami dari Stasiun Jombang menuju Global English
-        Mas Hendri Deswiyanto yang berkenan mengantar Haniful dan Hardina dari Solo ke Kampung Inggris, Pare
-        Mr.Fahmi sebagai tutor pronunciation 1, Mr. Run sebagai tutor vocabulary 1, Ms. Siti sebagai tutor pre-speaking, Mr.Fajrin dan Mr. Naldy sebagai tutor camp adik binaan: Reza (SMK ITACO Bekasi)
-        Mr.Fattah sebagai tutor pronunciation 1, Mr. Sukman sebagai tutor vocabulary 1, dan Ms.Ayu sebagai tutor pre-speaking adik binaan: Alfi (SMK ITACO Bekasi)
-        Mr.Ille sebagai tutor pronunciation 1, Mr. Sukman sebagai tutor vocabulary 1, dan Ms.Ayu sebagai tutor pre-speaking adik binaan: Milang (SMK ITACO Bekasi)
-        Mr.Ille sebagai tutor pronunciation 1, Mr. Run sebagai tutor vocabulary 1, dan Ms.Ayu sebagai tutor pre-speaking adik binaan: Hardina (SMAN 1 Pracimantoro)
-        Mr. Fattah sebagai tutor pronunciation, Mr. Sukman sebagai tutor vocabulary 1, dan Ms.Siti sebagai tutor pre-speaking adik binaan: Haniful (SMK Sakti Gemolong)
-        Ms. Ayu dan Ms. Rindu sebagai tutor camp female 2 untuk adik-adik putri
-        Mr. Fajrin yang berkenan mengantar adik-adik binaan ke Stasiun Jombang saat pulang ke kota masing-masing dan segala bentuk bantuan lain untuk adik-adik
-        Kak Citra Pulandi dan Kak Deba Sidiq sebagai roommate kesayangannya adik-adik putri di room 5 female 2
-        Kak Feby, Kak Ariel, Kak Luthfi, dan Kak Taufik sebagai roommate Reza di male 7 yang sangat mengayomi
-        Mr.Temon, Mr. Gesang, dan Mr. Boles bos-bosnya Pare Corner atas jamuannya untuk  adik-adik binaan
-        Pak Totok selaku Bapak Nusantara Camp
-        Seluruh officer dan staff pengajar Global English
-        Dan seluruh pihak yang membantu terselenggaranya program IB goes to Kampung Inggris Pare.
Semoga Allah SWT senantiasa membalas kebaikan Bapak/Ibu/Kakak semua dengan pahala yang berlipat ganda. Semoga kerjasama antara GE Pare dengan Ilmu Berbagi dapat terus terjalin dengan baik.

7 January 2014

  No comments    
categories: 
Mungkin lingkunganku mulai risih dengan linimasa media sosialku. Satu dua mereka mulai bertanya: “ilmuberbagi apasih Git?” dan sejujurnya aku selalu deg-degan menjawab pertanyaan ini, aku takut menimbulkan kesalahan dalam kalimatku yang akhirnya membuat mereka yang awalnya tertarik menjadi tidak lagi tertarik. Maka itu aku lebih suka merekomendasikan blog ilmuberbagi untuk mereka intip. Memutuskan atau tidak menjadi volunteer, semua kembali lagi pada pribadi masing-masing, bukan? :)

Sudah satu minggu yang lalu kira-kira aku kopdar dengan kakak-kakak -sobat IB- begitu kami menyebutnya. Di sebuah Resto di bilangan Jakarta Pusat kami berkumpul bermodalkan alamat resto dan hati terbuka untuk silaturahim. Kegiatan Ilmuberbagi sebelumnya sudah memperkenalkan aku dengan beberapa sobat IB yang luarbiasa dan hari ini akan semakin bertambah temanku dari kalangan hebat ini. Tanpa perlu mengetahui latar belakang sosial dan pendidikan mereka, bagiku mereka sudah sangat hebat. Beberapa gelintir pemuda pemudi ibukota dan sekitarnya yang mau-maunya meluangkan hari liburnya untuk bertemu dan membahas mengenai komunitas ini kedepannya. Jika tidak karena kami semua memiliki satu tujuan yang sama, amat tidak mungkin Andin -koor pusat- bisa menyatukan kami mengelilingi meja panjang resto tersebut. Kakak yang mau-maunya dateng awal sendirian demi acara ini bisa disaksikan kakak-kakak yang jauh lokasinya, dan juga ada satu kakak yang bahkan rela meninggalkan satu hari kerja nya demi pertemuan ini. Bukan tabungan gaji yang esok bisa ditinggal mati yang ada di pikirannya, tapi justru tabungan akherat inilah yang kelak akan dia bawa mati. 

Satu persatu kami memperkenalkan diri. Dan aku, tidak berhenti berdecak kagum akan CV kilat yang mereka utarakan. Semua yang duduk bersamaku disitu, aku yakin nggak satupun yang nggak kagum akan pribadi masing-masing. Dari sisi pendidikan, mereka tidak diragukan lagi. Bahkan tidak hanya satu dari mereka yang memiliki ijazah sekolah negeri seberang. Ini yang membuat aku semakin kagum. Orang-orang ini hebatnya dobel. Mereka yang justru bisa mendapatkan karung uang dengan menjual title mereka, bahkan di hari liburpun, justru ada di meja yang sama denganku saat itu. Mereka yang seharusnya bisa menghabiskan hari liburnya jalan-jalan, berbelanja, dan kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan anak ibukota pada umumnya, justru hadir berdikusi mengenai nasib satu dua tiga adik-adik binaan kami. Bukan hanya dari pendidikan, dari latar belakang kehidupan keagamaan mereka yang berliku pun membuat aku mengkerut. Kakak yang memutuskan masuk Islam, kakak yang hijrah, kakak kepala sekolah adik-adik kurang beruntung, kakak yang berhijad, kakak yang bela-belain datang dari kota tetangga, kakak yang bekerja di lembaga sosial, kakak yang memiliki keinginan kuat utk terus belajar memperdalam agama, dan kakak-kakak mengagumkan lainnya, Subhanallah. Malu rasanya, bahkan aku yang memeluk islam sejak aku dilahirkan, masih jauh dari amalan-amalan soleh.

Selama acara berlangsung, bukan hanya satu orang yang menghampiriku bercerita bahwa dia rendah diri setelah mendengar latar belakang kakak-kakak lain. Mereka pikir, aku tidak rendah diri? Hehe memang tidak sih :p Aku hanya iri. Aku iri pada hal-hal positif. Mereka semua spesial di mataku. Spesial di kepribadiannya, spesial di bidangnya, spesial di sisi mereka masing-masing. Aku mengambil semua yang baik dari kakak-kakak yang sulit aku temui celanya ini. Mereka semua yang berbaur. Kesombongan pun jauh dari tubuh-tubuh orang ini. Justru mereka secara tidak langsung memotivasi aku untuk terus bergerak, terus berjuang, terus mencapai sukses. Sukses untuk akherat tentunya. Jika tujuan kita akherat, bukankah dunia akan mengikuti? In Syaa’ Allah.

Tidak satupun kejadian di muka bumi ini tanpa rencanaNya, tidak satupun kejadian di muka bumi tanpa tujuan dan maksud dari-Nya. Pun dengan yang terjadi hari itu. Aku tau apa yang Allah ingin tunjukkan kepadaku. Nikmat Tuhan manakah yang aku dustakan. Alhamdulillah memiliki kesempatan mengenal mereka semua. Aku kembali ke rumah tidak dengan hati kosong dan pikiran kosong, tapi dengan otak penuh ilmu dan hati bergejolak. Pertemuan 4 jam yang mengajarkanku banyak hal. Aku yang fakir ilmu ini banyak dibagi ilmu dari mereka semua. Semoga akupun kelak bisa berbagi ilmu, seperti mereka. Ya, hidup hanya 63 tahun bukan paling tidak? Mau untuk apa kalau tidak untuk bermanfaat bagi org lain? :)) Aku seakan baru saja mencharge penuh semangat hidupku. Aku yakin, bersama mereka, kami bisa mengeksekusi apa-apa yang dicita-citakan kakak-kakak founder Ilmuberbagi. 

Jadi, masih mikir-mikir jadi sobat Ilmuberbagi? ;)