7 January 2014

  No comments    
categories: 
Mungkin lingkunganku mulai risih dengan linimasa media sosialku. Satu dua mereka mulai bertanya: “ilmuberbagi apasih Git?” dan sejujurnya aku selalu deg-degan menjawab pertanyaan ini, aku takut menimbulkan kesalahan dalam kalimatku yang akhirnya membuat mereka yang awalnya tertarik menjadi tidak lagi tertarik. Maka itu aku lebih suka merekomendasikan blog ilmuberbagi untuk mereka intip. Memutuskan atau tidak menjadi volunteer, semua kembali lagi pada pribadi masing-masing, bukan? :)

Sudah satu minggu yang lalu kira-kira aku kopdar dengan kakak-kakak -sobat IB- begitu kami menyebutnya. Di sebuah Resto di bilangan Jakarta Pusat kami berkumpul bermodalkan alamat resto dan hati terbuka untuk silaturahim. Kegiatan Ilmuberbagi sebelumnya sudah memperkenalkan aku dengan beberapa sobat IB yang luarbiasa dan hari ini akan semakin bertambah temanku dari kalangan hebat ini. Tanpa perlu mengetahui latar belakang sosial dan pendidikan mereka, bagiku mereka sudah sangat hebat. Beberapa gelintir pemuda pemudi ibukota dan sekitarnya yang mau-maunya meluangkan hari liburnya untuk bertemu dan membahas mengenai komunitas ini kedepannya. Jika tidak karena kami semua memiliki satu tujuan yang sama, amat tidak mungkin Andin -koor pusat- bisa menyatukan kami mengelilingi meja panjang resto tersebut. Kakak yang mau-maunya dateng awal sendirian demi acara ini bisa disaksikan kakak-kakak yang jauh lokasinya, dan juga ada satu kakak yang bahkan rela meninggalkan satu hari kerja nya demi pertemuan ini. Bukan tabungan gaji yang esok bisa ditinggal mati yang ada di pikirannya, tapi justru tabungan akherat inilah yang kelak akan dia bawa mati. 

Satu persatu kami memperkenalkan diri. Dan aku, tidak berhenti berdecak kagum akan CV kilat yang mereka utarakan. Semua yang duduk bersamaku disitu, aku yakin nggak satupun yang nggak kagum akan pribadi masing-masing. Dari sisi pendidikan, mereka tidak diragukan lagi. Bahkan tidak hanya satu dari mereka yang memiliki ijazah sekolah negeri seberang. Ini yang membuat aku semakin kagum. Orang-orang ini hebatnya dobel. Mereka yang justru bisa mendapatkan karung uang dengan menjual title mereka, bahkan di hari liburpun, justru ada di meja yang sama denganku saat itu. Mereka yang seharusnya bisa menghabiskan hari liburnya jalan-jalan, berbelanja, dan kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan anak ibukota pada umumnya, justru hadir berdikusi mengenai nasib satu dua tiga adik-adik binaan kami. Bukan hanya dari pendidikan, dari latar belakang kehidupan keagamaan mereka yang berliku pun membuat aku mengkerut. Kakak yang memutuskan masuk Islam, kakak yang hijrah, kakak kepala sekolah adik-adik kurang beruntung, kakak yang berhijad, kakak yang bela-belain datang dari kota tetangga, kakak yang bekerja di lembaga sosial, kakak yang memiliki keinginan kuat utk terus belajar memperdalam agama, dan kakak-kakak mengagumkan lainnya, Subhanallah. Malu rasanya, bahkan aku yang memeluk islam sejak aku dilahirkan, masih jauh dari amalan-amalan soleh.

Selama acara berlangsung, bukan hanya satu orang yang menghampiriku bercerita bahwa dia rendah diri setelah mendengar latar belakang kakak-kakak lain. Mereka pikir, aku tidak rendah diri? Hehe memang tidak sih :p Aku hanya iri. Aku iri pada hal-hal positif. Mereka semua spesial di mataku. Spesial di kepribadiannya, spesial di bidangnya, spesial di sisi mereka masing-masing. Aku mengambil semua yang baik dari kakak-kakak yang sulit aku temui celanya ini. Mereka semua yang berbaur. Kesombongan pun jauh dari tubuh-tubuh orang ini. Justru mereka secara tidak langsung memotivasi aku untuk terus bergerak, terus berjuang, terus mencapai sukses. Sukses untuk akherat tentunya. Jika tujuan kita akherat, bukankah dunia akan mengikuti? In Syaa’ Allah.

Tidak satupun kejadian di muka bumi ini tanpa rencanaNya, tidak satupun kejadian di muka bumi tanpa tujuan dan maksud dari-Nya. Pun dengan yang terjadi hari itu. Aku tau apa yang Allah ingin tunjukkan kepadaku. Nikmat Tuhan manakah yang aku dustakan. Alhamdulillah memiliki kesempatan mengenal mereka semua. Aku kembali ke rumah tidak dengan hati kosong dan pikiran kosong, tapi dengan otak penuh ilmu dan hati bergejolak. Pertemuan 4 jam yang mengajarkanku banyak hal. Aku yang fakir ilmu ini banyak dibagi ilmu dari mereka semua. Semoga akupun kelak bisa berbagi ilmu, seperti mereka. Ya, hidup hanya 63 tahun bukan paling tidak? Mau untuk apa kalau tidak untuk bermanfaat bagi org lain? :)) Aku seakan baru saja mencharge penuh semangat hidupku. Aku yakin, bersama mereka, kami bisa mengeksekusi apa-apa yang dicita-citakan kakak-kakak founder Ilmuberbagi. 

Jadi, masih mikir-mikir jadi sobat Ilmuberbagi? ;)

0 comments:

Post a Comment