25 March 2014

Waspada Status Halal Teh Perisa

  No comments    
categories: ,
Segi kehalalan produk teh tidak diragukan jika teh tersebut merupakan teh alami. Teh alami adalah teh yang hanya mengandung daun teh atau campuran daun teh dan bunga melati. Akan tetapi pada saat ini, makin marak produk minuman teh yang dibuat dengan menambahkan perisa (flavor, bahan yang digunakan agar teh memiliki aroma dan cita rasa tertentu yang diinginkan) seperti perisa melati. Titik kritis teh yang dibuat dengan menambahkan perisa (flavor) ini ada pada perisa yang digunakan. 

Kekhawatiran ketidakhalalan perisa dapat disebabkan karena beberapa hal, yaitu: pelarut yang digunakan, diantaranya etanol dan gliserol, bahan dasar pembuatannya, serta asal bahan dasar yang digunakan. Etanol (alkohol) tidak diperkenankan digunakan sebagai pelarut akhir komponen-komponen flavor. Sebagai gantinya,  dapat digunakan pelarut berupa propilen glikol. Gliserol yang digunakan sebagai pelarut tidak boleh berasal dari hasil hidrolisis lemak hewani. Untungnya secara komersial kebanyakan gliserol merupakan hasil sintesis organik dengan menggunakan bahan dasar yang berasal dari minyak bumi.


Mi instan tidak sama dengan nasi

Proses pengolahan mi instan yang mudah dan cepat saji, menjadikan masyarakat tidak jarang mengganti menu sarapan, makan siang, dan atau makan malam mereka dengan mi instan. Aktivitas yang satu ini diharapkan jangan dijadikan kebiasaan. Walaupun mi instan dan nasi merupakan bahan pangan berkarbohidrat, tetapi sifat karbohidrat diantara keduanya jelas berbeda.

Ahli teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor Dr. Nuri Andarwulan mengatakan meski nasi dan mi instan sama-sama terdiri dari karbohidrat tapi sifat keduanya berbeda. Sifat karbohidrat mi instan adalah sederhana, sedangkan karbohidrat nasi kompleks. Karbohidrat sederhana memang lebih mudah diserap tubuh, tapi orang tersebut akan lebih cepat merasa lapar. Sedangkan karbohidrat kompleks memberi efek kenyang lebih lama dibandingkan karbohidrat sederhana. 

Sifat mi yang cepat menimbulkan rasa lapar ini bisa membuat orang terus makan untuk menuntaskan rasa laparnya. Akibatnya, orang tersebut bisa menjerumuskan diri pada jurang obesitas. Alasan lain, jika dilihat dari bahan pembuatnya maka kandungan utama dari mi instan adalah karbohidrat dan lemak.

Kalau hanya untuk pengganjal perut, satu bungkus mi instan mungkin bisa dibilang cukup. Tapi tetap tak bisa memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan tubuh. Maka itu, jangan lupa menyantap mi dengan dilengkapi sayuran, telur, atau lauk lain ya! :)

Benarkah mie instan menyebabkan usus bocor?

Beberapa kali ini saya dapat info mengenai seorang anak di Garut yang dikabarkan ususnya bocor dan lengket akibat mengkonsumsi mie instant setiap hari. Pemberitaan semacam ini sering ditemukan di media massa dan sudah menjadi “rahasia umum” bahwa mengkonsumsi mie instant berlebihan dapat mengganggu kesehatan.

Ada tanggapan terhadap pemberitaan tersebut dari Prof. Winarno, Mantan Presiden Codex Dunia yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar PIPIMM (Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman):

Menanggapi isu mie instan dan penyebab kanker serta bocornya usus (oleh F.G. Winarno, Mantan Presiden Codex Dunia)

Menanggapi permintaan konfirmasi beberapa pihak yang ditujukan pada saya terkait beredarnya rumor melalui email mengenai keamanan pangan mi instan, dalam posisi saya sebagai Ketua Dewan Pakar PIPIMM (Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman) dan mantan President Codex sedunia (Chairman of Codex Alumentarius Commision FAO/WHO) mendorong saya untuk memberikan tanggapan terhadap beberapa rumor tersebut sebagai berikut:

* Rumor memasak mi instan tidak boleh dengan bumbunya karena pemanasan di atas 120 C akan berpotensi menjadi karsinogen pembawa kanker .

Mie instan kering, merupakan produk setengah matang. Disebut instan karena sangat cepat disajikan setelah dipanaskan pada suhu air mendidih (±100°C biasanya sekitar 85°C) dalam waktu kurang dari lima menit. Jadi suhunya bukan 120°C seperti yang disampaikan penulis di milis, dimana suhu tersebut baru dapat dicapai bila menggunakan pressure cooker atau retort (strerilisator) untuk sterilisasi dalam proses pengalengan pangan. Jadi penggunaan suhu 120°C seperti yang tertulis sangat tidak akurat. Pada sisi lain, proses terjadinya karsinogen dan timbulnya kanker merupakan suatu isu besar dibidang kedokteran. Isu tersebut merupakan suatu hal yang sangat kompleks untuk diteliti artinya diperlukan keahlian khusus serta memerlukan hasil analisa dan bukti ilmiah yang sangat mendetail dan kompleks.

* Rumor bahwa makan mi instan menyebabkan usus lengket dan bocor.

Untuk menentukan penyebab suatu penyakit seseorang bukan suatu hal sederhana tetapi diperlukan kajian yang ilmiah dan mendalam. Dalam hal ini tentu saja tidak cukup orang awam yang menyimpulkan. Bahkan sering diperlukan beberapa orang ahli dan masih harus didukung analisis laboratorium yang cukup kompleks dan canggih. Tidak tepat rasanya bila mi instan dijadikan alasan penyebab suatu penyakit tanpa didukung oleh suatu data ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan.

* Hal penting yang perlu saya kemukakan guna menghindari kesalahan persepsi di masyarakat akibat berbagai rumor tersebut yaitu bahwa untuk suatu jenis pangan yang diperdagangkan secara nasional maupun internasional diperlukan suatu persyaratan, yaitu harus memenuhi Standard Pangan. Indonesia telah memiliki SNI (Standard Nasional Indonesia) yang proses penyusunannya mengacu pada Standard Pangan International yang disebut Codex Standard. Standard tersebut terutama menekankan persyaratan keamanan, bukan saja pada produk akhirnya, tetapi setiap komponen yang digunakan dalam proses produksi harus aman dan tidak boleh melebihi dosis maksimum yang disyaratkan. Untuk itu diperlukan lembaga dunia yang netral yang disebut JECFA (Joint Experts Committee on Food Additive and Contammint). Jadi seluruh jenis bumbu dan ingredent serta dosisnya, sudah diteliti dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi manusia. Kalau ada resiko kanker atau penyakit lainnya, sejak awal pasti sudah ditolak.

Demikian tanggapan saya, semoga berguna serta dapat menjawab pertanyaan dan keraguan masyarakat.

Terimakasih

F.G. Winarno