28 August 2014

Sejumput surga dunia kecil di selatan Jawa.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa aku bukan perekomendasi tempat yang baik haha.
Kata mereka, aku berlebihan dalam rekomen sesuatu. Tempat, makanan, dan orang untuk dijodohkan. Eh haha.

Oke. Kalau dihadapkan gunung atau pantai aku tetap akan memilih gunung. Tapi kalau dihadapkan sebuah pantai cantik didepanku. Aku bisa apaaaaaa.
Kyaaaaa *goler-goler gelinding di pasir*

Namanya Pantai Pok Tunggal.

Pantai Pok Tunggal merupakan satu dari deretan pantai cantik di deretan kawasan Gunung Kidul.
Sekitar 10 hari yang lalu aku berkesempatan didolani kesana oleh teman-teman IlmuBerbagi wilayah Yogyakarta. Akses menuju kesana cukup jauh dari pusat kota. Kilometer mendekati Pantai Pok Tunggal pun dirasa ekstrem dengan jalanan bebatuan. Tak berhenti bahu kami saling mengadu ketika berada di dalam mobil dengan jalanan yang jelek. Menurutku, biarkan saja terus begini. Akses sulit menurutku adalah nilai positif untuk sebuah tempat wisata. Orang di luar sana jadi malas untuk datang bukan? Jadi ndak banyak orang-orang yang ndak bertanggungjawab dateng ke tempat-tempat wisata kemudian meninggalkan gunungan sampah. Dan bukankah, kata orang jaman dulu, bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. Akses jalanan sulit, kemudian lupa seketika karena terbalas dengan hamparan pasir putih, bukit hijau, dan pantai biru jernih didepan mata yang ndak ada ujungnya :")


Hamparan Pantai Pok Tunggal



Apan. Anak Pante.


ApanSuTo. Anak Pante Suka Poto.

Pantai ini termasuk sepi. Bisa diliat dari foto-foto yang ada, isinya ya aku dan temen-temen, ndak ada yang lain di sekitar. Ndak banyak yang lalu lalang. Apalagi kalo udah naik ke bukitnya. 


Bukit Panjung tampak depan

Namanya Bukit Panjung. Waktu itu yang penasaran main diatas juga ya cuma aku dan teman-teman. Selebihnya ndak ada siapa-siapa. Ini yang bikin asik. Ndak rame, sama temen-temen kesayangan, liat biru biru ijo ijo. auum :3 Dan katanya, tebing bukit disini suka didaki oleh wisatawan. Hmmm :3



Icip-icip naik keatas bukit





Pantai Pok Tunggal tampak atas

Pada gambar paling bawah, tampak pohon miring di sebelah kanan. Pohon itu adalah ciri khasnya Pok Tunggal. Kayak pohon selamat datang karena berdiri sendiri di hamparan pasir pesisir pantai. Pohonnya cantik :3


Terus ada ayunannya diatas bukit haha. 

Di foto ini terlihat gazebo utk santai di belakang, itu kalo duduk, otomatis bayar sewa Rp 20.000 hahaha lucu ya sayang lupa difoto. Orang di belakangku itu Adit, salah satu temen Ilmuberbagi Jogjakarta. Dia pernah ndak sengaja duduk situ hehehe. Tapi yaaa ndakpapa, buat ekonomi masyarakat sini kan :)) 


Mohon maaf atas ketidakbakatan saya dalam hal memotret dan mereview suatu tempat. Haha. Tapi ini pantai recommended untuk dinikmati sambil boboan di pasir putihnya :))


Kamu seperti Yogyakarta, Istimewa :)

Bukan.
Ini bukan tentang Bali.
Ini bukan tentang Lombok.
Ini bukan tentang pulau-pulau kecil yang luarbiasa menyejukkan mata.

Ini hanya sebuah daerah yang istimewa.
Yogyakarta.

Suatu anugerah terdapat darah Yogyakarta mengalir di tubuhku. Apa yang tidak ada di Yogyakarta? Rasanya apapun yang aku inginkan semua tersaji disini. Yogyakarta cantik dengan segala wisata alamnya. Yogyakarta cerdas dengan pelajarnya. Yogyakarta tentram dengan segala paguyubannya. Yogyakarta nyentrik dengan segala wisata budayanya. Pantas, dijuluki Daerah Istimewa.

Daerah yang mungkin tidak istimewa untuk sebagian besar masyarakat. Namun Daerah Istimewa untuk-ku. Rasanya tak sabar menghabiskan waktu hidup di Yogyakarta. Langsung aku mengangguk setuju saat orangtua 'mengajak' hijrah ke Yogyakarta setelah ayah pensiun dan adik selesai SMA.

Bukan hanya karena makanan murah dan lezatnya yang melimpah. Bukan hanya karena lampu-lampu malam jalanan yang hangat. Bukan hanya karena alamnya yang memesona. Bukan. Rasanya semua itu tidak ada yang mewakili rasa cintaku.

Kata mereka, jangan jatuh cinta di Yogyakarta.
Haha aku tidak jatuh cinta di Yogyakarta.
Aku jatuh cinta pada Yogyakarta.
Dan aku pikir, tidak ada alasan untuk tidak jatuh cinta pada Yogyakarta.




6 August 2014

Ramadhan, Aku Pura-pura Rindu

  2 comments    
categories: ,
Ramadhan, ternyata selama ini kami cuma pura-pura merindukanmu.
Sejak dua bulan lalu ketika kami panjatkan doa kepada Allah untuk disampaikan kepadamu, kami selalu bilang kami begitu merindukanmu. Ketika itu pula, kami selalu bilang kami tak sabar lagi untuk berjumpa denganmu—takut rasanya, bila ternyata umur ini membuat kami tak punya kesempatan untuk kita saling menyapa, saling mengisi, saling menyemangati. Akhirnya sampai juga hari ini, bahkan sudah separuh Ramadhan kami jalani.
Benar sekali, sukacita kami menyambut kehadiranmu. Apa lagi yang kami tunggu? Maka petasan meledak dan berisik di sana-sini, masjid-masjid kembali hidup, kitab-kitab dibersihkan dari debu yang menyelimutinya entah sejak kapan—Ramadhan lalu barangkali, berbondong-bondong kami berangkat shalat taraweh meski berat sebab perut kami masih dalam keadaan kenyang keterlaluan, pukul tiga acara televisi sudah ramai dengan lawakan-lawakan yang tidak lucu, dan seperti biasa: lagu-lagu religi diperdengarkan di mana-mana.
Inikah juga yang kau harapkan wahai Ramadhan?
Tiap hari kami menghitung lembar-lembar kitab yang telah kami baca, kami tersenyum: sudah banyak, insyaallah targetan kami tercapai. Kami tak terlalu peduli apakah kitab yang bolak-balik kami baca itu kami mengerti atau tidak, apalagi mengamalkannya—kejauhan. Kami sudah sangat puas bila ada yang bertanya ‘sudah berapa lembar yang telah dibaca’ kami bisa menjawab: sudah khatam dua kali. Lalu mereka kagum. Bukankah itu surga?
Tapi itukah sambutan yang sungguh kau harapkan wahai Ramadhan?
Kami melihat agenda harian kami: Senin buka bersama dengan X, Selasa buka bersama dengan Y, Rabu buka bersama dengan Z sekaligus Sahur on The Road, Kamis.. Jumat.. begitu seterusnya. Begitulah cara kami merayakan kedatanganmu. Tarawih bisa dilewat karena sunnah, Shalat malam jangan ditanya, mana sanggup kami menunaikannya. Malam-malam kami habiskan dengan tidur dengan lelap karena lelah, jangan sampai kami kesiangan sahur apalagi ketinggalan acara sahur favorit. Nanti kami dibilang tidak gaul.
Shalat shubuh di Bulan Ramadhan bagi kami adalah ritual penting menuju alam mimpi. Ya, kami tidur lagi karena tidur di Bulan Ramadhan adalah ibadah.
Puasa kami tak pernah bolong barang sehari, sebagaimana lisan kami yang tak pernah lupa jadwal amalan gibahnya. Kami begitu kuat menahan lapar, dahaga, berahi, sebagaimana kami begitu kuat menahan harta yang ada di dompet kami—tak ada yang boleh menyentuhnya sebab akan kami gunakan untuk lebaran mahameriah kami. Sesekali kami ingat ucapan penyair itu: ‘kau akan menjadi milik hartamu jika kau menahannya, dan jika kau menafkahkannya maka harta itu menjadi milikmu.’ Tapi siapa peduli. Lebaran tetaplah lebaran, merayakannya dengan kesederhanaan tak boleh jadi pilihan.
Seperti itukah perlakuan yang ingin kau dapatkan wahai Ramadhan?
Kelak ketika Ramadhan berakhir, kami—dengan mengendarai mobil pribadi kami—akan berkeliling mengunjungi saudara dan kerabat, bermaaf-maafan atau sekadar mencicip kue. Kami tentu senang, bahagia, karena katanya kami menang.
Ah, Ramadhan.
Entahlah, kami tak mengerti: barangkali kami memang cuma pura-pura merindukanmu. 

by Azhar Nurun Ala