15 March 2015

Berbagi, lalu kaya. Bukan kaya, lalu berbagi.

  No comments    
categories: ,
Boleh ndak sih kita kasih ke adek-adek yang minta-minta itu? Boleh ndak sih kita kasih ke orang yang bawa amplop map minta sumbangan atas nama pembangunan masjid, sekolah, yayasan, gitu-gitu?

Menurutku,
Coba kasihtau aku apa ada agama yang ngelarang untuk memberi? Ndak ada satupun agaknya ya. Memberi itu wajib. Memberi itu bentuk syukur kita atas semua nikmat yang diberikan Allah hingga saat ini. Memberilah sebanyak-banyaknya. Maka kamu akan mendapatkan lebih banyak lagi. Entah langsung ataupun tidak. Entah sekarang ataupun nanti. Entah di dunia maupun di akherat.

Memberi itu ndak perlu nunggu kaya. Rasanya, jika itu teori dalam memberi, maka ndak seorangpun mau memberi. Ya, bukankah ukuran "kaya" setiap kita berbeda-beda? Lalu mau sampai kapan (?) Aku rasa, tidak ada yang ingin dilahirkan dalam keadaan fakir secara ekonomi. Allah Maha Adil dan Allah Maha Sebaik-baiknya Pemberi Rizki. Jika semua orang adalah kaya secara materi, maka bagaimana cara kita memperoleh balasan Allah dari amal memberi? Jika kita dan mereka semua bisa memilih, pasti akan memilih untuk tidak meminta-minta. Bagaimanapun juga, harga diri itu harga mati :")

Untukku pribadi, aku lebih senang memberikan makanan ke mereka yang membutuhkan, bukan uang. Selain aku suka menyimpan beberapa cemilan di dalam tas, aku senang berkontribusi sedikit dalam perut kenyang dan sehat - nya mereka. Aku senang karena makanan itu bisa menjadi amal jariyah selama daging dan darah hasil makanan yang masuk ke tubuhnya, selama masuh adadan mengalir di seumur hidupnya, kita masih 'kecipratan' amal baik yang ia lakukan. Bukan berarti dengan uang kita tidak dapatkan kesempatan emas ini. Bukan. Tapi mungkin cara ini terlihat 'aman' bagi kalian yang sering takut jika uang yang diberikan akan digunakan untuk yang 'aneh-aneh'. Padahal, kita ndak boleh banget kan mikir gitu.

Jangan takut akan uang yang kita diberikan salah sasaran, salah alamat. Jangan. Kita mungkin memberikan ke mereka yang mengatasnamakan pembangunan masjid yang tidak ada wujudnya. Kita mungkin tidak melihat fisik masjidnya. Tapi, kita sudah mendapatkan pahala beramal untuk masjid. In syaa Allah kita mendapatkan masjid tersebut di surga kelak. Kita mungkin memberikan uang ke anak-anak yang justru mereka setor ke preman, atau bahkan anak tersebut gunakan untuk membeli minuman keras, rokok, dsb. Kita tidak dapat menangkal apa yang dilakukan orang terhadap uang pemberian kita. Tapi tenang, uangnya memang digunakan untuk hal buruk. Tapi kita sudah mendapatkan pahala amal kebaikan memberi, bersedekah. Urusan kita adalah melakukan karena Allah. Urusan kita dengan Allah. Bukan dengan dia. Perkara mereka mungkin berbohong pun sama. Urusan mereka dengan Tuhannya. Bukan kita yang menghakimi. Berbuat baik saja-lah. Tebarkan benihnya dimanapun. Maka hujan akan membantu menumbuhkembangkan. Alam semesta akan membalas dengan kebaikan.

Apa yang kita keluarkan mungkin salah sasaran. Tapi balasan dari Allah jelas tidak salah sasaran.
 

0 comments:

Post a Comment