23 May 2015

Pantai Greweng, pantai pribadi di Gunung Kidul

"Ke Pantai Greweng aja! Bagus banget! Kayak private beach banget! Pas aku kesana, cuma aku sendirian, padahal aku dari pagi sampe siang" kata adik sepupuku mengiming-imingi.

"Serius?? Mau!!" *anaknya gampangan banget, apa-apa mauk* :))

Demi mencapai wisata-wisata alam di Yogyakarta, aku banyak ambil rekomendasi dari postingan-postingan cantik di Instagram. Dan untuk pantai yang satu ini, hmm ndak ada kayaknya. Sepertinya memang benar-benar akan private beach. Ini seru!

Pantai Greweng letaknya di Gunung Kidul. Entah apakah Greweng termasuk ke jejeran 17 pantai cantik di Gunung Kidul, karena memang belum banyak orang yang tau. Di kebanyakan pantai Gunung Kidul, kita dapat mencapainya dengan kendaraan pribadi yang kita parkir di pinggir pantai. Kemudian hanya melangkahkan kaki dari tidak jauh dari kendaraan, kita sudah bisa menikmati pasir pantai yang lembut. Nah, Pantai Greweng ini berbeda dengan yang lain. Medan yang ditempuh lumayan menantang dibanding pantai lainnya.

Menikmati pesona Pantai Greweng, kita dapat memarkirkan kendaraan di Pantai Wediombo. Pantai yang satu ini tidak asing pasti di telinga wisatawan. Pantai Wediombo letaknya lumayan jauh. Sepertinya memang paling kidulnya daerah Gunung Kidul. Haha. Setelah menitipkan kendaraan di rumah sebuah keluarga petani yang memanfaatkan halaman luasnya sebagai lahan parkir, maka keluarga itu akan bertanya, hendak ke pantai mana. Jika kita jawab Pantai Greweng, maka warga sana akan bertanya apakah kita tau rutenya. Ya, rute kesana memang dikenal cukup sulit dan jauh bagi warga sekitar. Mereka akan menawarkan salah satu dr keluarga untuk mengantar wisatawan yang tidak tau lokasinya.



Perjalanan pematang sawah menuju pantai
Sumber: dok.pri

Jalan menuju Pantai Greweng dicapai setelah melalui 2 kilometer perjalanan menanjak dan menurun, tangga-tangga perbukitan, sesekali bonus berupa jalanan lurus di pematang sawah dan perkebunan. Pemandangan indah ijo royo-royo yang sangat jarang ditemui di ibu kota; perkebunan bayam, kacang, pisang, pepaya, dan lain-lain. Selain itu kita juga akan dimanjakan dengan suara-suara alam seperti jangkrik, kera, dan sapi milik para peternak disana. Jalan yang dilalui merupakan jalan kecil dengan lebar jalan yang hanya cukup untuk satu orang saja, kanan kirinya merupakan bukit dan goa. Di beberapa titik kita akan bertemu dengan batu-batuan hitam dengan ukuran sangat besar atau yang biasa disebut dengan batu karst. Saking banyaknya populasi batuan disana, warga biasa menyebutnya dengan hutan batu. Mirip seperti medan menuju Gunung Api Purba, Yogyakarta.


Perjalanan melewati hutan batu menuju pantai
Sumber: dok.pri

Medan yang cukup melelahkan bagi orang tua yang ingin turut serta kesana. Memang demi mencapai sesuatu yang diinginkan, harus ada perjuangan. Stamina dan logistik berupa air minum harus dipersiapkan dengan matang. Layaknya mendaki gunung, tidak usah terburu-buru. Safety first. Jika lelah, istirahatlah :) Waktu tempuh perjalanan untuk mencapai Pantai Greweng sekitar 40-60 menit.

Hampir tiba di Pantai Greweng, kita akan disambut oleh pohon-pohon jati yang mengumpul seakan membentuk sebuah pintu gerbang masuk pantai. Setelah melewati hutan jati itu, kita akan melihat sungai kecil yang jernih, mengalir halus melewati batu-batuan kecil. Air di sungai itu merupakan air tawar. Menengok ke kanan sedikit, kita akan sangat bersyukur akan ciptaan Allah. Pantai Greweng sudah nampak di depan kita. Rasanya langsung lupa dengan perjuangan medan yang dilewati.
Worth it! 



Bukit pengapit Pantai Greweng
Sumber: dok.pri

Pantai ini memang layak dicapai dengan bersusah-susah! Baru kali itu aku melihat pantai di Gunung Kidul yang memiliki pasir putih sangat lembut dengan warna air yang bergradasi hijau dan biru toska. Ah, masih ada yang secantik ini di Yogyakarta! Kali itu aku tersadar, Yogya luas, ga cuma Malioboro! Indonesia cantik, jangan di rumah aja! :)

Pantai Greweng
Sumber: dok.pri

Pasir disana belum banyak jejak kakinya. Tampak sekali lembut dan bersihnya pasir disana. Pantai ini berukuran tidak begitu besar. Diapit oleh dua bukit kecil di sebelah kanan dan kiri pantai. Air pantai yang posisinya paling dekat dengan pasir saja nampak jernihnya hingga bisa terlihat pemandangan berupa karang-karang cantik di dasarnya. Ah, rasanya enggan beranjak pulang dari sini. Tidur diatas pasir merasakan semilir angin dan semua euphoria pantai. Aku sempat berpikir, pantai yang sangat cantik ini, bukan tidak mungkin sebulan duabulan lagi akan menjadi tempat yang sangat ramai oleh orang-orang tidak bertanggungjawab dengan aneka sampah di semua sudut. Semoga saja pantai perawan ini dijauhkan dari mereka perusak alam. Silahkan di explore sendiri bagi teman-teman yang ingin mencapai kesana. Rute yang aku berikan pun sudah sangat memudahkan kok. Silahkan ditafakuri ciptaan Allah yang tersembunyi itu :)) Syukuri nikmatNya, bawa pulang sampahnya :)

22 May 2015

Keliling Banyuwangi bersama Kemunir Tours

Sudah lama sekali aku menginginkan berkunjung ke kota yang dijuluki sunrise of Java. Yes, Banyuwangi (Bwi) merupakan titik ujung paling timur Pulau Jawa. Kerasa banget jauhnya perjalanan menuju sana. Kesempatan pertama main-main disana aku lewati dengan cukup menyesal, maka seketika ngepas banget tawaran info dari abang-abang di Kemunir Tours masuk ke handphone ku, aku langsung meleleh sigap pikir-pikir travelpartner, cuti, dan tiket PP. Kyaaaaa!

Aku sempat lupa bagaimana cerita awalnya aku save kontak Kemunir. Sepertinya memang aku pernah save beberapa kontak yang muncul di web pencarian online ku saat mencari rekomendasi trip ke Bwi. Trip bersama Kemunir dieksekusi tanggal 2-3 Mei 2015 dengan destinasi Ijen Crater, Baluran, Tabuhan Island, dan Menjangan Island. Aku cukup kritis perihal jalan-jalan seperti ini. Sembari cari tahu dari teman yang domisili Bwi mengenai biaya yang ditawarkan Kemunir, googling-googling medan dan spot-spot destinasi, makanan khas Bwi, dan lain-lain. Ah aku lumayan excited menuju norak gitu! :3

Kemunir menentukan meeting point di Surabaya (Sby) dengan tiga pilihan lokasi penjemputan, yakni Stasiun Gubeng, Bandara Juanda, dan Terminal Bus Bungur Asih. Aku yang merupakan penumpang setia moda transportasi kereta api, lebih memilih lokasi penjemputan di Stasiun Gubeng. Berdasarkan info, waktu penjemputan adalah tanggal 1 Mei 2015 tengah malam sekitar pukul 23.30 dan waktu keberangkatan dari Sby menuju Bwi adalah tanggal 2 Mei 2015 dini hari pukul 00.30. Sempat tektok mengenai waktu yang ditentukan ini dengan jadwal kereta api yang ada. Meminimalisir kekhawatiran keterlambatan kereta dan 'ditinggal' oleh Kemunir, akhirnya aku memutuskan cuti tanggal 30 April 2015 dan berangkat dari Stasiun Pasar Senen Jakarta hari itu di siang hari, dan tiba pukul 00.15 dini hari di Stasiun Gubeng. Masih ada waktu satu hari aku menikmati kota Sby ini. Keliling singkatku di Sby dapat dilihat disini.

Tanggal 2 Mei dini hari aku berkumpul di Stasiun Gubeng, dan ternyata semua teman serombongan memang merencanakan pertemuan disini. Aku berkenalan dengan Mas Aner, perwakilan Kemunir yang selama ini aku berkomunikasi dan ternyata memang menemani rombongan melakukan perjalanan menuju Bwi dengan minibus yang telah disediakan. Rencana trip kami dalam satu rombongan berjumlah sekitar 15an orang. Saat itu aku mendengar kabar bahwa ada rombongan dari Jakarta yang mengalami delay perjalanan kereta api hingga 4 jam. Karena tidak mungkin menunggu dengan waktu yang sangat lama, Kemunir langsung memutar otak dan berkeputusan cepat untuk mengalihkan trip mereka yang tertinggal. Destinasi mereka diganti menjadi Pulau Merah, salah satu spot kekinian juga di Bwi hehe. Salut, pikirku. Keputusan sulit pasti bagi Kemunir mengubah destinasi awal rombongan yang notabene -jauh-jauh dari Jakarta ngarep ke Menjangan dan lainlain-, tapi ya, setiap apapun pasti ada resikonya :(

Rombongan tiba pukul 04.30 dini hari di kota Sidoarjo dan berhenti di sebuah Rumah Makan (klien Kemunir) untuk sholat Subuh, having earlier breakfast, dan kesempatan bagi mereka yang ingin bebersih. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Bwi, sekitar 2 jam-an kami tiba di lokasi pelabuhan tempat keberangkatan menuju destinasi pertama, Pulau Menjangan. Kami diberi kesempatan untuk berganti pakaian snorkling karena di Pulau tujuan nanti tidak ada kamar mandi. Disitu juga kami berkenalan dengan abang tim Kemunir lainnya, Gilang namanya. Mas Aner dan Mas Gilang yang akan menemani kami selama trip dua hari ini. Sekitar pukul 10an kami berangkat dengan perahu menuju Pulau Menjangan. Sekitar 30 menit kami menuju Pulau Menjangan dengan mulai berkenalan dan ngobrol sedikit-sedikit dengan teman-teman baru. Aku memanfaatkan waktu untuk mencari tahu informasi mengenai travel Kemunir. Haha. Kenapa namanya Kemunir? Kata Mas Gilang, "Kemunir" itu bahasa dari suku Osing, suku asli Banyuwangi. Nama "Kemunir" memiliki arti warna merah keoranye-oranyean. Persis warna pepaya hampir matang. Dinamakan Kemunir karena ingin menunjukkan identitas asli lokal milik Banyuwangi. Hmm, nice phylosophy :3

Setibanya kami di Pulau Menjangan, kami diberi kesempatan sekitar 20 menit untuk explore Pulau Menjangan dan berfoto di daratan Pulau. Setelah itu kami kembali ke perahu menuju spot lebih tengah untuk menikmati snorkeling. Berdasarkan info mereka yang bersnorkeling, kehidupan bawah laut di Pulau Menjangan sangat indah. Berbagai macam pesona flora dan fauna laut tersaji di dalam. Kemunir mengajak rombongan untuk snorkeling di dua lokasi berbeda. Menuju lokasi yang kedua, kami melewati Pura Menjangan yang terdapat patung Ganesha. Lokasi yang kedua merupakan perairan yang lebih biru dengan pemandangan dasar laut yang lebih ramai dan cantik. Akan tetapi, lokasi kedua sedikit lebih berbahaya karena arus yang lebih deras dan dasar laut yang lebih dalam.

Dermaga Pulau Menjangan; Sumber: Kemunir
Selamat datang di Pulau Menjangan; Sumber: dok.pri
Underwater experience; Sumber: Kemunir
Pura Menjangan dengan Patung Ganesha; Sumber: dok.pri

Setelah puas snorkeling di Pulau Menjangan, rombongan kembali ke kapal kemudian menikmati santap siang yang sudah disediakan. Perjalanan selama di kapal tidak terasa karena dihabiskan dengan bersendagurau. Teman-teman rombongan yang menghibur juga ditambah bonus guide dari Kemunir yang ramah dan membaur dengan semua diantara kami. Rombongan kemudian mengikuti perjalanan menuju ke lokasi trip kedua yakni Pulau Tabuhan. Review mengenai Pulau Tabuhan dapat dilihat disini. Di Pulau Tabuhan, kami diberi kesempatan untuk explore pulau, berkeliling menikmati hamparan pulau dengan luas sekitar 5 hektar, dan mengabadikan momen-momen manis selama disana. 

Suasana perjalanan di kapal; Sumber: Kemunir
Salah dua travelpartner satu rombongan; Sumber: dok.pri

Pemandangan gunung dari Pulau Tabuhan; Sumber: dok.pri
Keriaan rombongan di Pulau Tabuhan; Sumber: Kemunir

Kami kembali ke kapal untuk pulang ke penginapan ketika hari mulai senja. Terdapat pengalaman yang tidak dapat kami (khususnya aku) lupakan di perjalanan pulang kembali ke daratan ini. Kapal karam karena memang kondisi air laut yang sedang pasang surut. Kapal tidak dapat melanjutkan perjalanan. Tidak memiliki pilihan lain, maka kami turun ke lautan untuk kemudian berjalan kaki membelah lautan. Puji syukur saat itu ketinggian air hanya setinggi lutut orang dewasa dan daratan terlihat tidak jauh dari mata kami memandang. Dengan membawa barang bawaan kami bersama-sama menyusuri laut mencoba mencapai daratan. Rombongan kapal lain pun ikut melakukan perjalanan membelah lautan sama seperti kami. Menyusuri lautan dengan berjalan kaki bukanlah hal yang mudah karena terbukti beberapa rekan dari rombongan termasuk aku mengalami sentuhan-sentuhan lucu dari flora dan fauna laut. Ada yang terkena bulu babi, serangga laut, dan lain-lain. Sementara aku hanya tersandung karang yang cukup mengeluarkan banyak darah (hingga hari ini tulisan diterbitkan, bekasnya masih cukup jelas di kaki, jadi bikin makin ingat dengan pengalaman tidak terlupakan yang satu itu hihi). Alhamdulillah kami tidak terlalu lama melakukan perjalanan seperti itu karena ada perahu mesin lain yang datang menjemput. Sayangnya, momen ini luput dari dokumentasi hehe.

Setelah bersih-bersih dan menikmati sedikit santapan senja yakni bakso Banyuwangi (well, bihunnya lucu, warnanya biru hehe), kami langsung kembali ke mobil untuk melakukan istirahat malam di homestay. Malam itu kami menginap di Hotel Tanjung Asri, Banyuwangi. Hotel ini memiliki fasilitas berupa AC, shower air panas, pemanas air untuk minum, dan ruangan yang sangat nyaman dan bersih. Kami diberi waktu berisitirahat guna persiapan pendakian nanti malam. Kami berencana berangkat dari homestay menuju Kawah Ijen pukul 23.00.

Semua rombongan ikut berangkat menuju Kawah Ijen. Setelah mengurus pendakian, rombongan mulai trekking santai dari pos Paltuding. Rombongan naik sekitar pukul 01.00 dan tiba di Kawah Ijen sekitar pukul 04.30. Sepanjang trekking menuju Kawah Ijen, kita akan banyak berpapasan dengan para penambang belerang. Para penambang dengan pakaian tebal, sepatu boot, dan kupluk khasnya, membawa tumpukan beleran di atas pundak-punggung mereka. Menyusuri trek yang cukup berbahaya sepanjang harinya. Belum lagi, gas belerang yang sangat berbahaya. Kawah Ijen ini memang merupakan daerah pertambangan belerang. Hal ini mengindikasikan bahwa Gunung Ijen ini masih tergolong gunung aktif. Di Kawah Ijen, kita bisa menyaksikan fenomena alam yang luar biasa. Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya. Kawah Ijen merupakan danau kawah terluas di dunia. Kawah ini menghasilkan api berwarna biru, yang notabene hanya ada dua di dunia yaitu Islandia dan di Banyuwangi ini. Itulah mengapa Kawah Ijen diberi julukan blue fire. Fenomena api biru ini melengkapi cantiknya Kawah Ijen setelah sunrise nya. Selepas Subuh, jika api biru sudah tidak terlihat, maka wisatawan disajikan dengan pemandangan yang tidak kalah cantiknya, yakni danau belerang yang berwarna hijau toska. Untuk dapat mencapai Kawah Ijen dalam jarak dekat, tidaklah mudah. Wisatawan harus turun bersama guide atau penambang belerang sekitar. Medan yang dilalui pun tidak mudah. 

Selfie dini hari di Kawah Ijen; Sumber: dok.pri

Blue Fire; Sumber: Kemunir
Danau belerang; Sumber: Kemunir



Aku pribadi memiliki kesan tersendiri dengan Ijen ini. Bapak-bapak penambang yang awalnya ku pikir galak-galak itu ternyata salah besar. Di perjalanan turun aku mengajak satu dua Bapak untuk ngobrol dan mendengar cerita Beliau. Banyak pelajaran yang bisa aku petik. Mereka dengan hebatnya mampu memikul 70-80 kg belerang diatas tubuhnya yang bisa dikatakan bukan tubuh muda lagi. Perjalanan berbahaya yang ditempuh pun mencapai 7 km. Bapak-bapak penambang belerang disana sangat ramah dan nampak tulus. Ini terlihat ketika kakiku sempat kram, ada dua Bapak penambang yang sontak berhenti ketika melihat aku duduk selonjor kaki. Nampaknya beliau terbiasa dengan pemandangan seperti ini. 
"Nduk, dilurusin kakinya" (dengan logat jawanya.) Aku yang memang berdarah Jawa merasa mudah memahami bahasanya.
"Balsem ada ndak? Bapak ada balsem kalau mau" kata Bapak yang satunya.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng "Matur suwun Pak, sudah bawa."
"Saking pundi tho Mbak?"
Aku yakin Bapak ini kaget aku bisa menjawab dengan Bahasa Jawa.
"Rombongan saking Jakarta Pak. Tapi memang asli Jawa"
Aku pikir kedua Bapak itu pergi setelah bercakap denganku, tapi ternyata tidak. Mereka menunggu sampai aku sehat dan bisa melanjutkan perjalanan lagi. Ah, aku jatuh cinta dengan keramahan warga disana!

Penambang belerang di Kawah Ijen; Sumber: dok.pri
Setelah puas menikmati dan mentafakuri keindahan alam milik Sang Pencipta, kami mulai perjalanan turun yang menghabiskan waktu lebih cepat dari saat penanjakan. Kami kembali dengan kendaraan menuju ke homestay untuk menikmati sarapan dan bersiap checkout lalu menuju ke destinasi akhir, yaitu Taman Nasional Baluran. Perjalanan ke Taman Nasional Baluran dimulai sekitar pukul 12 siang. Billboard bergambar satwa bertuliskan Baluran yang berada di gerbang Taman Nasional ternyata tidak mengindikasikan bahwa lokasi sudah di depan mata, haha. Perjalanan ala-ala off road di jalan yang cukup rusak dan jeplok harus dilalui sekitar 7 km jika ingin mencapai ke Pantai Bama dan 5 km jika ingin mencapai Sabana Bekol. Di Taman Nasional Baluran ini, kita akan dimanjakan dengan dua destinasi wisata yakni salah satunya dalah Pantai Bama yang selain memiliki pantai indah, juga memiliki taman mangrove yang eksotis. Sebagai informasi, mangrove di Pantai Bama ini merupakan jenis mangrove terbesar se-Asia. Selain itu terdapat inti lokasi dari Baluran ini yakni padang rumput sabana yang sangat luas sejauh mata memandang dengan satwa-satwa berkeliaran. Persis seperti di Afrika. Karenanya, tempat ini dijuluki Africa van Java. 

Pantai Bama; Sumber: dok.pri
Rombongan di Pantai Bama; Sumber: Kemunir
Inong di kawasan Mangrove terbesar se-Asia; Sumber: dok.pri
Padang Sabana Bekol
Satwa di Sabana Baluran; Sumber: Kemunir

Africa van Java; Sumber: dok.pri
Rombongan di Taman Nasional Baluran; Sumber: Kemunir
Setelah selesai berfoto-foto menikmati padang rumput yang sangat mengagumkan ini, artinya selesai pula trip Bwi bersama Kemunir selama dua hari ini. Ada rombongan yang harus berpisah karena akan tetap melanjutkan perjalanan di Bwi tapi ada juga yang tetap bersama tim Kemunir. Kemunir mengantarkan kami kembali menuju meeting point awal, yaitu Stasiun Gubeng Surabaya. Perjalanan darat malam hari yang terasa sangat panjang lagi, pikirku, haha. Saat tiba di Stasiun Gubeng, waktu menujukkan pukul 23.30. Dan saatnya kami kembali ke Ibukota untuk menjalani rutinitas sehari-hari \o/ 

Terimakasih Mas Aner, Mas Gilang, Travelpartner serombongan, dan semua pihak yang membantu, sampai jumpa lagi di lain kesempatan!


*) Contoh Itinerarry Tim Kemunir

ITINERARRY OPEN TRIP 2 – 3 MEI 2015

Day 1, 1 MEI 2015
23.30 Penjemputan peserta di meetpoint

Day 2, 2 MEI 2015
00.30 Perjalanan menuju Banyuwangi
04.30 Sarapan di pagi buta
07.30 Pengurusan ijin masuk, cek perlengkapan snorkeling
08.00 Berangkat menuju Pulau Menjangan
09.00 Eksplor Pulau Menjangan (trekking keliling pulau, Pura Ganesa, berlanjut snorkeling ceria)
12.00 Istirahat, makan siang
13.00 Berlanjut ke Pulau Tabuhan
13.30 Eksplore Pulau Tabuhan, bersantai dan berfoto
15.00 Kembali ke Banyuwangi, bersih badan
17.00 Check in hotel
18.30 Makan malam, istirahat persiapan trekking Kawah Ijen

Day 3, 3 MEI 2015
00.00 Berangkat menuju Paltuding
02.00 Treking santai menuju Kawah Ijen
04.30 Melihat bluefire, sunrise, dan view sekitar Kawah Ijen
06.00 Kembali ke Paltuding, istirahat sejenak
07.00 Kembali ke hotel, sarapan
10.00 Check out hotel, melanjutkan perjalanan menuju TN Baluran
11.00 Pengurusan ijin masuk
11.10 Lanjut menuju Bekol
12.00 Eksplore Bekol (Menara Pengamatan dan Savana)
12.30 Berlanjut ke Pantai Bama, makan siang
13.30 Eksplore pantai Bama, mangrove trail
15.00 Melihat satwa di Bekol, perjalanan kembali ke Surabaya
24.00 Perkiraan sudah sampai di Surabaya (Sayonara)

*) Kemunir Tours dapat dihubungi di:
Website: www.kemunir.com
Email: info.kemunir@gmail.com
Twitter & Instagram: @kemunir
Facebook: Kemunir Banyuwangi

21 May 2015

Sajian Indah Pulau Tabuhan

Disebut the hidden paradise, Pulau Tabuhan ini memang sangat layak disinggahi. Pulau Tabuhan merupakan pulau tidak berpenghuni yang terletak sekitar 20 km dari pusat kota Banyuwangi. Posisinya berada di tengah selat Bali yakni selat yang memisahkan antara Pulau Jawa dan Pulau Bali. Pulau ini dapat dicapai dengan waktu tempuh sekitar 40 menit menggunakan kapal penyebrangan yang berangkat dari Pantai Bangsring. Sepanjang perjalanan menuju pulau ini, mata akan sangat dimanjakan dengan pemandangan cantik berupa laut gradasi warna hijau biru seakan tanpa batas. Jika kita coba lirik ke bagian bawah air laut, maka nampak pemandangan yang lebih memukau. Warna laut yang bening menjadikan kehidupan di bawahnya dapat diintip, mulai dari terumbu karang, tanaman laut, dan berbagai macam spesies ikan lainnya. Sajian indah ini tentu merupakan santapan lezat bagi para pecandu snorkling. 

Pulau yang memiliki luas sekitar lima hektar ini dinamakan Tabuhan lantaran angin di pulau ini cukup kencang hingga terdengar sepergi tabuhan musik. Dengan mengelilingi pulau ini, kita akan menemukan spot-spot tanaman rawa dan reruntuhan bangunan tua yang katanya merupakan bangunan mercusuar yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda.


Sumber: Bunder_Tabuhan
Sumber: dok.pri
Tanaman cantik di rawa sekitar Tabuhan




20 May 2015

Tarif Hemat Keliling Jawa Timur

Sekarang, jalan-jalan ke beberapa kota di Jawa Timur jangan takut nguras dompet! Hihi. Di Jawa Timur terdapat moda transportasi kereta api lokal, namanya KA Lokal Dhoho-Penataran. Kereta ini manis, ekonomis, dan praktis! Haha. Dalam satu hari, KA lokal ini beroperasi 4-5 kali. Kenapa manis? Karena aku sangat terkesan di kali pertamaku mencicipi kereta ini. Kereta ini sangat memudahkan karena berhenti hampir di setiap stasiun yang dilewati sepanjang jalur Surabaya - Malang atau Surabaya - Blitar. Kenapa ekonomis? Karena kereta ini murmer, maklum terbiasa dengan commuterline di Jabodetabek. Dibandingkan dengan moda transportasi bus antar kota, budget yang dikeluarkan bisa sampai 50K. Tapi dengan KA lokal Dhoho ini, berikut rincian harganya:
Jarak 0-47 km = Rp 10.000
Jarak 48-95 km = Rp 12.000
Jarak 96-170 km = Rp 15.000

Biaya ini menurutku sangat terjangkau, mengingat jarak antar kota di Jawa Timur memang jauh, tidak seperti jarak antar stasiun yang dilewati commuterline Jakarta-Bogor. Kereta ini juga sangat bermanfaat bagi mereka yang buru-buru dan ndak peduli kehabisan tempat duduk. Kereta ini menyediakan tiket bagi mereka yang ingin naik kereta dengan berdiri di dalamnya. Persis dengan commuterline Jabodetabek. Bedanya, jaraknya lebih jauh jadi lumayan buat yang naik dari ujung ke ujung kalau belum dapet tempat duduk sampai akhir hehe. Rasa-rasanya kereta ini seperti commuterline Jabodetabek yang full saat rush hour oleh mereka yang bekerja antar kota di JawaTimur. Mengenai jadwal keberangkatan, dapat dilihat disini

Jangan kebingungan untuk plesiran antar kota di Jawa Timur!
KA Lokal Rapih Dhoho Penataran wajib banget dicicipi \o/

Surabaya Kota Pahlawan

Baru sekali aku menginjakkan kaki di stasiun Gubeng. Saat itu pukul 00.15. Sepi sekali pikirku. Bagaimana tidak, ini sudah tengah malam. Baru kali itu aku melewati wilayah kampus Unair, sekitar kostan temanku tempat aku menumpang bermalam. Keesokan harinya, aku berencana mengitari sudut kota Surabaya. Katanya, disini banyak tempat wisata dan aneka kuliner yang tidak boleh dilewatkan. Aku mencaritahu info-info mengenai kota ini. Aku mulai berkeliling dengan memberdayakan angkutan umum yang ada. Berbekal info dari internet dan dari teman. 

Angkutan umum di Surabaya lucu bukan main. Modelnya di dalamnya ada kaca dorong yang memisahkan antara ruang pengemudi dan penumpang. Kemudian, jika ingin turun berhenti, penumpang harus menekan tombol yang letaknya di langit-langit kendaraan. Sayangnya, aku tidak sempat memotret dan tidak menemukan gambarnya di internet. Bagi aku yang baru kali pertama ke Surabaya, kendaraan model ini cukup merepotkan. Aku tidak bisa asal berteriak ke pak supir untuk menanyakan rute sebagaimana di Jakarta. Aku harus mengetuk kaca, membuka, kemudian bertanya ke pak supir mengenai rute tujuanku. Angkot di Surabaya juga jarang, lewatnya bisa setengah jam sekali. Dan angkutan umum disana hanya beroperasi sampai sekitar waktu menjelang Maghrib, setelah itu tidak ada. Memang, warga Surabaya mayoritas memiliki kendaraan pribadi.

Surabaya sepertinya memang mulai berkembang menjadi kota metropolitan. Ramai. Di titik pusat kota, Surabaya dipenuhi dengan bangunan tinggi, baik hotel, apartemen, maupun mall. Surabaya kini memiliki banyak mall dengan jarak yang tidak begitu jauh. Cantik dengan gemerlapan lampu disana sini. Apalagi jika melewati kawasan museum kapal selam Surabaya di malam hari hehe. Kesanku mengenai Surabaya saat itu: Panas puol. Rasanya Surabaya merupakan kota terpanas dari sudut Indonesia pernah aku kunjungi. Hehe.

Hari itu aku berencana ke daerah pasar turi untuk menjajaki kuliner khas Surabaya.

1. Bubur Campur

Sumber: dok.pri

2. Soto Surabaya

Sumber: dok.pri

3. Rujak Cingur

Sumber: dok.pri

4. Lontong Balap

Sumber: dok.pri

5. Sate Kerang

Sumber: dok.pri

Menyusuri setapak demi setapak jalan di daerah Pasar Turi, membawa aku sampai di tugu yang tidak asing bagiku. Setelah mencari tahu letak pintu masuk, aku bergegas masuk ke Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November itu.

Gerbang masuk Monumen Tugu Pahlawan


Patung Bung Karno Bung Hatta


Aku tersenyum di bawah patung Bung Karno dan Bung Hatta. Aku teringat dengan salah satu janji kemerdekaan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Aku akan berusaha ikut andil dalam hal itu.
Aku, dalam hati.


Sumber dokumentasi pribadi

Traveler cantik ndak boleh ribet ;)

Untuk urusan traveling, memang kaum wanita bisa jadi orang yang luar biasa deh. Karena kemampuannya sangat detail dalam berkemas, membuat apa-apa barang di rumah rasanya mau dibawa ya hehe. Aku mau share sedikit poin-poin tips untuk traveling supaya cewek-cewek ndak dibilang ribet waktu "light traveling" hehe ;)

Sumber: www.hijapedia.com

1. Gunakan daypack yang enak.
Enak disini dalam artian muat banyak, punya kantung botol minum di kanan kiri tas, punya penahan beban pundak (daypack yang baik adalah yang berat saat dijinjing namun ringan saat digendong), punya banyak kantung dengan retsleting yang artinya akan punya lebih banyak ruang untuk perkakas non pakaian, dan bisa ditutup dengan cover bag supaya ndak kena hujan. Dari kesemuanya, yang terpenting adalah cek selalu jahitannya, harus kuat, jangan jalan-jalan dengan tas yang mau jebol jahitannyaa yaaa!

2. Kemasi pakaian dengan pintar.
Pakaian mungkin akan jadi items yang sangat menghabiskan banyak ruang di dalam daypack / keril mu. Tips mengemasi pakaian dapat dilihat disini . Cara ini cukup ampuh untuk menghemat ruang dalam ransel dan juga tidak membuat pakaian lecek dan berantakan saat dikeluarkan dari ransel.

3. Tidak perlu bawa handuk (besar dan berat).
Aku merupakan orang yang jarang membawa handuk saat bepergian ke luar kota. Bukan karena aku selalu menetap di hotel yang menyediakan handuk, bukan. Tapi aku lebih memilih untuk membawa kain bali. Iya kain pantai yang bermotif itu :3 Selain sangat ringan, mudah dikemas dan tidak menghabiskan banyak ruang, kain bali lebih cepat menyerap air, selain itu kain bali sangat cepat keringnya, tidak seperti handuk tebal yang akan tetap basah saat dibawa perjalanan pulang. Handuk basah selain akan membuat isi tas bau apek, juga akan membuat bawaan lebih berat karena ada air yang terjebak di dalamnya. Hehe kalo bagi teman-teman yang belum biasa, monggo bisa tetap bawa handuk tapi handuk wajah gitu aja sih rekomendasiku. Pokoknya ukurannya yang kecil.

4. Bawa kain yang serbaguna.
Misalnya kain bali yang ku sebutkan tadi. Selain bisa jadi penutup saat destinasimu ke pantai, bisa sebagai handuk, bisa sebagai selimut, penutup mata saat tidur, dan lain-lain. Jika tidak ada kain bali, teman-teman dapat menggunakan sarung sebagai si -kain serbaguna- ini. Hihi.

5. Taruh novel dan buku bacaanmu di rumah.
Percayalah, menikmati liburan di daerah tujuanmu lebih asik jika dihabiskan dengan keluar bercengkrama dengan lingkungan, ketimbang duduk membaca.

6. Bawa satu tas kecil slempang.
Tas ini bisa berisi uang secukupnya, identitas pribadi, obat pribadi yang penting, kamera, handphone, hand sanitizer, tisu, lipbalm, masker, dan sunglasses.

7. Bawa charger untuk gadgetmu dan jangan lupa bawa T.
Charger dan T bisa juga dimasukkan ke tas kecil slempang. T listrik dibawa untuk mengantisipasi keterbatasan jumlah saklar listrik di lokasi traveling. Charger gadget jangan lupa bawa sendiri yaa, termasuk teman-teman yang hobi bawa power bank, dibawa juga. Jangan sampai minjem-minjem untuk urusan pribadi yang satu ini, apalagi kalo kita adalah pribadi yang gadget freak dengan batere gadget cepet abis, jangan minjem yaa :)

8. Berani bilang tidak untuk titipan oleh-oleh yang merepotkan.
Hehe ini terdengar kejam ya. Tapi urusan yang satu ini biasanya cukup mengganggu aktivitas liburan kita. Untuk orang terdekat, keluarga, bahkan mereka yang biasanya ndak minta, justru sudah kita siapkan oleh-oleh. Tapi untuk mereka kaum yang dengan mudahnya minta oleh-oleh ini harus bisa kita hadapi. Sekali lagi, light traveling atau biasa disebut backpackeran, biasanya ya budget minim kan. Biasanya aku memang tidak memprioritaskan urusan oleh-oleh. Sempat ya dicari yang tidak menghabiskan banyak ruang di tas dan yang tidak mahal, kalau tidak sempat ya ndak maksa. Aku pribadi bukan tipe orang yang suka 'nagih' oleh-oleh berbentung barang yang butuh materi dan merepotkan. Aku lebih sering menagih dengan cara "Jangan lupa foto-foto yang banyak yaaa nanti aku liaaat" atau "Jangan lupa nanti cerita-cerita gimana disanaaa" :))

9. Bawa barang penting yang nampak ndak penting.
Misalnya, obat pribadi. Jangan sampai kita menjadi travelpartner yang merepotkan utk teman-teman kita. Kemudian payung. Ini biasanya aku bawa di sisi sebelah daypack. Di sisi satunya biasanya botol air minum.

10. Bawa toiletries minimalis.
Aku suka mengakali kebutuhan ini dengan membaginya bersama travelpartner untuk toiletries yang sifanya tidak pribadi. Misalkan aku bagian membawa odol dan sampo, sementara temanku sabun cair, sabun muka. Hal ini tidak berlaku untuk obat sabun pribadi dan sikat gigi. Toiletries yang dibawa juga harus yang ukurannya mini. Odol mini, sabun mini, dan sampo sachete. Hehe.

11. Ini penting tapi suka disepelekan. Tidur cukup!
Biasanya karena excited ingin liburan, maka suka ndak bisa tidur sampai hari H tiba. Ini bahaya banget. Selain dari sisi kesehatan, tapi juga bisa berakibat fatal ke liburanmu. Aku pernah merasakannya. Kehidupan sebelum liburan yang luarbiasa capek, membuat aku tertidur lama saat aku berada dalam rangkaian travel liburan. Sayang sekali rasanya. Disaat teman-teman haha-hihi menikmati barbeque di pinggir pantai :'(

Yuk ah! Ambil ranselmu, lekas berkemas! Indonesia indah! *love*

Tips packing baju traveling

Urusan pakaian pasti merupakan faktor utama daypack para wanita menjadi full. Keinginan untuk traveling dengan tetap fashionable -jadi bisa tetep hits untuk post foto di akun medsos wkwk- mungkin menjadi tujuan traveling kaum hawa. Haha. Mencicipi beberapa kali perjalanan (masih dalam negeri) hanya dengan satu daypack membuat aku ingin memberikan sedikit tips and trick mengemasi pakaian ;)

1. Pakaian berangkat = pakaian pulang.
Entah kenapa ini selalu menjadi 'peganganku' sedari dulu. Ini bisa dijadikan trick penghematan jumlah pakaian.

2. Pakaian yang digunakan selama perjalanan keberangkatan (maupun pulang) adalah pakaian dengan bobot terbesar.
Jaket, jins, dan sepatu misalnya. Perkakas ini sangat menghabiskan banyak ruang di dalam tas lho. Sementara mungkin ruang untuk satu jins di tasmu seharusnya bisa diisi dengan 2 pasang pakaian bahan kaos. Walaupun kamu ndak berencana pergi ke daerah dingin, menurutku tetap harus bawa jaket. Untuk meminimalisir alasan 'berat', maka kenakanlah langsung. Sepatu ini sifatnya opsional hanya jika medan liburanmu membutuhkan kamu bersepatu. Jika bentuk liburan adalah liburan yang enjoy dan sangat 'enteng', maka aku lebih cenderung menggunakan sandal jepit. Jins pun opsional. Jika memang ingin membawa jins, satu aja cukup untuk digunakan beberapa kali kok hehehe.

3. Jika tujuan traveling kita adalah tempat dimana kita bisa cuci-cuci (dengan syarat cuacapun mendukung untuk jemur-jemur) atau bahkan tersedia jasa laundry, itusih sangat memudahkan ya. Kita bisa membawa pakaian dengan jumlah sgt sedikit tanpa takut kehabisan stok. Yang jadi masalah adalah bagaimana jika kita akan traveling dan stay di lokasi yang tdk memungkinkan untuk cuci-cuci.? Aku selalu mencermati bagian ini setiap traveling. Disinilah kemampuan diuji. Memadupadankan pakaian dengan stok terbatas. Aku biasa menghitung pakaian pergiku adalah sejumlah dengan hari pergiku. Misalkan aku berada di lokasi traveling (tidak termasuk waktu keberangkatan dan pulang) selama 4 hari, artinya aku akan membawa 4 pakaian atasan. Untuk pakaian bawahan seperti rok/celana, aku hanya akan membawa  2 stok (warna netral). Alasannya karena bawahan tidak akan terlalu kotor, tidak terlalu terkena keringat, dan bawahan sifatnya lebih fleksibel untuk digunakan dengan atasan apapun. Untuk aku pribadi dan kaum hawa yang berhijab, aku lebih menyarankan untuk membawa dua pcs kerudung (paris dengan warna polos, netral) dan satu bergo (ini masih dengan sumsi pergi 4 hari-an). Warna kerudung dapat disesuaikan dengan warna atasan atau bawahan. Aku sendiri lebih senang memadupadankan dengan warna bawahan. Disini aku kurang merekomendasikan kerudung model pasmina (yang ribet), atau kerudung motif ramai. Hal ini mempersulit penghematan pemakaian. Kerudung dengan motif ttt warna dominasi ttt hanya akan cocok dengan pakaian atasan atau bawahan dengan warna ttt pula. Sangat sayang untuk dijadikan stok berhemat hehehe. Untuk pakaian tidur, jika rencana tidur indoor, maka sebaiknya tidak usah banyak-banyak. Satu atau dua pcs cukup sepertinya. Selain tidur tidak akan mengotorkan pakaian, toh 'siapa yang mau lihat juga'. Selain itu pilih pakaian tidur yang simpel, nyaman utk diri sendiri supaya tidurnya enak, siap traveling di hari berikutnya.

4. Jangan lupa kaos kaki :3 Ini penting lho~

5. Aku ada sedikit tips and trick melipat pakaian. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk packing pakaian. Aku lebih senang dengan metode menggulung :))

Alat dan Bahan yang dibutuhkan:
- Karet gelang atau karet sayur atau karet rambut yang warna warni kecil-kecil (terserah adanya apa)
- Tas kain dengan kapasitas yang lumayan (yang bahannya tentu saja enak, bukan kertas, maupun kain tebal. Hmm biasanya goodie bag seminar gitu juga bisa)

Cara packing:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Sumber: dok.pri
                                                                  
Hihi mohon maaf atas ketidakexpertan dalam memotret. Semoga bermanfaat :3