22 May 2015

Keliling Banyuwangi bersama Kemunir Tours

Sudah lama sekali aku menginginkan berkunjung ke kota yang dijuluki sunrise of Java. Yes, Banyuwangi (Bwi) merupakan titik ujung paling timur Pulau Jawa. Kerasa banget jauhnya perjalanan menuju sana. Kesempatan pertama main-main disana aku lewati dengan cukup menyesal, maka seketika ngepas banget tawaran info dari abang-abang di Kemunir Tours masuk ke handphone ku, aku langsung meleleh sigap pikir-pikir travelpartner, cuti, dan tiket PP. Kyaaaaa!

Aku sempat lupa bagaimana cerita awalnya aku save kontak Kemunir. Sepertinya memang aku pernah save beberapa kontak yang muncul di web pencarian online ku saat mencari rekomendasi trip ke Bwi. Trip bersama Kemunir dieksekusi tanggal 2-3 Mei 2015 dengan destinasi Ijen Crater, Baluran, Tabuhan Island, dan Menjangan Island. Aku cukup kritis perihal jalan-jalan seperti ini. Sembari cari tahu dari teman yang domisili Bwi mengenai biaya yang ditawarkan Kemunir, googling-googling medan dan spot-spot destinasi, makanan khas Bwi, dan lain-lain. Ah aku lumayan excited menuju norak gitu! :3

Kemunir menentukan meeting point di Surabaya (Sby) dengan tiga pilihan lokasi penjemputan, yakni Stasiun Gubeng, Bandara Juanda, dan Terminal Bus Bungur Asih. Aku yang merupakan penumpang setia moda transportasi kereta api, lebih memilih lokasi penjemputan di Stasiun Gubeng. Berdasarkan info, waktu penjemputan adalah tanggal 1 Mei 2015 tengah malam sekitar pukul 23.30 dan waktu keberangkatan dari Sby menuju Bwi adalah tanggal 2 Mei 2015 dini hari pukul 00.30. Sempat tektok mengenai waktu yang ditentukan ini dengan jadwal kereta api yang ada. Meminimalisir kekhawatiran keterlambatan kereta dan 'ditinggal' oleh Kemunir, akhirnya aku memutuskan cuti tanggal 30 April 2015 dan berangkat dari Stasiun Pasar Senen Jakarta hari itu di siang hari, dan tiba pukul 00.15 dini hari di Stasiun Gubeng. Masih ada waktu satu hari aku menikmati kota Sby ini. Keliling singkatku di Sby dapat dilihat disini.

Tanggal 2 Mei dini hari aku berkumpul di Stasiun Gubeng, dan ternyata semua teman serombongan memang merencanakan pertemuan disini. Aku berkenalan dengan Mas Aner, perwakilan Kemunir yang selama ini aku berkomunikasi dan ternyata memang menemani rombongan melakukan perjalanan menuju Bwi dengan minibus yang telah disediakan. Rencana trip kami dalam satu rombongan berjumlah sekitar 15an orang. Saat itu aku mendengar kabar bahwa ada rombongan dari Jakarta yang mengalami delay perjalanan kereta api hingga 4 jam. Karena tidak mungkin menunggu dengan waktu yang sangat lama, Kemunir langsung memutar otak dan berkeputusan cepat untuk mengalihkan trip mereka yang tertinggal. Destinasi mereka diganti menjadi Pulau Merah, salah satu spot kekinian juga di Bwi hehe. Salut, pikirku. Keputusan sulit pasti bagi Kemunir mengubah destinasi awal rombongan yang notabene -jauh-jauh dari Jakarta ngarep ke Menjangan dan lainlain-, tapi ya, setiap apapun pasti ada resikonya :(

Rombongan tiba pukul 04.30 dini hari di kota Sidoarjo dan berhenti di sebuah Rumah Makan (klien Kemunir) untuk sholat Subuh, having earlier breakfast, dan kesempatan bagi mereka yang ingin bebersih. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Bwi, sekitar 2 jam-an kami tiba di lokasi pelabuhan tempat keberangkatan menuju destinasi pertama, Pulau Menjangan. Kami diberi kesempatan untuk berganti pakaian snorkling karena di Pulau tujuan nanti tidak ada kamar mandi. Disitu juga kami berkenalan dengan abang tim Kemunir lainnya, Gilang namanya. Mas Aner dan Mas Gilang yang akan menemani kami selama trip dua hari ini. Sekitar pukul 10an kami berangkat dengan perahu menuju Pulau Menjangan. Sekitar 30 menit kami menuju Pulau Menjangan dengan mulai berkenalan dan ngobrol sedikit-sedikit dengan teman-teman baru. Aku memanfaatkan waktu untuk mencari tahu informasi mengenai travel Kemunir. Haha. Kenapa namanya Kemunir? Kata Mas Gilang, "Kemunir" itu bahasa dari suku Osing, suku asli Banyuwangi. Nama "Kemunir" memiliki arti warna merah keoranye-oranyean. Persis warna pepaya hampir matang. Dinamakan Kemunir karena ingin menunjukkan identitas asli lokal milik Banyuwangi. Hmm, nice phylosophy :3

Setibanya kami di Pulau Menjangan, kami diberi kesempatan sekitar 20 menit untuk explore Pulau Menjangan dan berfoto di daratan Pulau. Setelah itu kami kembali ke perahu menuju spot lebih tengah untuk menikmati snorkeling. Berdasarkan info mereka yang bersnorkeling, kehidupan bawah laut di Pulau Menjangan sangat indah. Berbagai macam pesona flora dan fauna laut tersaji di dalam. Kemunir mengajak rombongan untuk snorkeling di dua lokasi berbeda. Menuju lokasi yang kedua, kami melewati Pura Menjangan yang terdapat patung Ganesha. Lokasi yang kedua merupakan perairan yang lebih biru dengan pemandangan dasar laut yang lebih ramai dan cantik. Akan tetapi, lokasi kedua sedikit lebih berbahaya karena arus yang lebih deras dan dasar laut yang lebih dalam.

Dermaga Pulau Menjangan; Sumber: Kemunir
Selamat datang di Pulau Menjangan; Sumber: dok.pri
Underwater experience; Sumber: Kemunir
Pura Menjangan dengan Patung Ganesha; Sumber: dok.pri

Setelah puas snorkeling di Pulau Menjangan, rombongan kembali ke kapal kemudian menikmati santap siang yang sudah disediakan. Perjalanan selama di kapal tidak terasa karena dihabiskan dengan bersendagurau. Teman-teman rombongan yang menghibur juga ditambah bonus guide dari Kemunir yang ramah dan membaur dengan semua diantara kami. Rombongan kemudian mengikuti perjalanan menuju ke lokasi trip kedua yakni Pulau Tabuhan. Review mengenai Pulau Tabuhan dapat dilihat disini. Di Pulau Tabuhan, kami diberi kesempatan untuk explore pulau, berkeliling menikmati hamparan pulau dengan luas sekitar 5 hektar, dan mengabadikan momen-momen manis selama disana. 

Suasana perjalanan di kapal; Sumber: Kemunir
Salah dua travelpartner satu rombongan; Sumber: dok.pri

Pemandangan gunung dari Pulau Tabuhan; Sumber: dok.pri
Keriaan rombongan di Pulau Tabuhan; Sumber: Kemunir

Kami kembali ke kapal untuk pulang ke penginapan ketika hari mulai senja. Terdapat pengalaman yang tidak dapat kami (khususnya aku) lupakan di perjalanan pulang kembali ke daratan ini. Kapal karam karena memang kondisi air laut yang sedang pasang surut. Kapal tidak dapat melanjutkan perjalanan. Tidak memiliki pilihan lain, maka kami turun ke lautan untuk kemudian berjalan kaki membelah lautan. Puji syukur saat itu ketinggian air hanya setinggi lutut orang dewasa dan daratan terlihat tidak jauh dari mata kami memandang. Dengan membawa barang bawaan kami bersama-sama menyusuri laut mencoba mencapai daratan. Rombongan kapal lain pun ikut melakukan perjalanan membelah lautan sama seperti kami. Menyusuri lautan dengan berjalan kaki bukanlah hal yang mudah karena terbukti beberapa rekan dari rombongan termasuk aku mengalami sentuhan-sentuhan lucu dari flora dan fauna laut. Ada yang terkena bulu babi, serangga laut, dan lain-lain. Sementara aku hanya tersandung karang yang cukup mengeluarkan banyak darah (hingga hari ini tulisan diterbitkan, bekasnya masih cukup jelas di kaki, jadi bikin makin ingat dengan pengalaman tidak terlupakan yang satu itu hihi). Alhamdulillah kami tidak terlalu lama melakukan perjalanan seperti itu karena ada perahu mesin lain yang datang menjemput. Sayangnya, momen ini luput dari dokumentasi hehe.

Setelah bersih-bersih dan menikmati sedikit santapan senja yakni bakso Banyuwangi (well, bihunnya lucu, warnanya biru hehe), kami langsung kembali ke mobil untuk melakukan istirahat malam di homestay. Malam itu kami menginap di Hotel Tanjung Asri, Banyuwangi. Hotel ini memiliki fasilitas berupa AC, shower air panas, pemanas air untuk minum, dan ruangan yang sangat nyaman dan bersih. Kami diberi waktu berisitirahat guna persiapan pendakian nanti malam. Kami berencana berangkat dari homestay menuju Kawah Ijen pukul 23.00.

Semua rombongan ikut berangkat menuju Kawah Ijen. Setelah mengurus pendakian, rombongan mulai trekking santai dari pos Paltuding. Rombongan naik sekitar pukul 01.00 dan tiba di Kawah Ijen sekitar pukul 04.30. Sepanjang trekking menuju Kawah Ijen, kita akan banyak berpapasan dengan para penambang belerang. Para penambang dengan pakaian tebal, sepatu boot, dan kupluk khasnya, membawa tumpukan beleran di atas pundak-punggung mereka. Menyusuri trek yang cukup berbahaya sepanjang harinya. Belum lagi, gas belerang yang sangat berbahaya. Kawah Ijen ini memang merupakan daerah pertambangan belerang. Hal ini mengindikasikan bahwa Gunung Ijen ini masih tergolong gunung aktif. Di Kawah Ijen, kita bisa menyaksikan fenomena alam yang luar biasa. Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya. Kawah Ijen merupakan danau kawah terluas di dunia. Kawah ini menghasilkan api berwarna biru, yang notabene hanya ada dua di dunia yaitu Islandia dan di Banyuwangi ini. Itulah mengapa Kawah Ijen diberi julukan blue fire. Fenomena api biru ini melengkapi cantiknya Kawah Ijen setelah sunrise nya. Selepas Subuh, jika api biru sudah tidak terlihat, maka wisatawan disajikan dengan pemandangan yang tidak kalah cantiknya, yakni danau belerang yang berwarna hijau toska. Untuk dapat mencapai Kawah Ijen dalam jarak dekat, tidaklah mudah. Wisatawan harus turun bersama guide atau penambang belerang sekitar. Medan yang dilalui pun tidak mudah. 

Selfie dini hari di Kawah Ijen; Sumber: dok.pri

Blue Fire; Sumber: Kemunir
Danau belerang; Sumber: Kemunir



Aku pribadi memiliki kesan tersendiri dengan Ijen ini. Bapak-bapak penambang yang awalnya ku pikir galak-galak itu ternyata salah besar. Di perjalanan turun aku mengajak satu dua Bapak untuk ngobrol dan mendengar cerita Beliau. Banyak pelajaran yang bisa aku petik. Mereka dengan hebatnya mampu memikul 70-80 kg belerang diatas tubuhnya yang bisa dikatakan bukan tubuh muda lagi. Perjalanan berbahaya yang ditempuh pun mencapai 7 km. Bapak-bapak penambang belerang disana sangat ramah dan nampak tulus. Ini terlihat ketika kakiku sempat kram, ada dua Bapak penambang yang sontak berhenti ketika melihat aku duduk selonjor kaki. Nampaknya beliau terbiasa dengan pemandangan seperti ini. 
"Nduk, dilurusin kakinya" (dengan logat jawanya.) Aku yang memang berdarah Jawa merasa mudah memahami bahasanya.
"Balsem ada ndak? Bapak ada balsem kalau mau" kata Bapak yang satunya.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng "Matur suwun Pak, sudah bawa."
"Saking pundi tho Mbak?"
Aku yakin Bapak ini kaget aku bisa menjawab dengan Bahasa Jawa.
"Rombongan saking Jakarta Pak. Tapi memang asli Jawa"
Aku pikir kedua Bapak itu pergi setelah bercakap denganku, tapi ternyata tidak. Mereka menunggu sampai aku sehat dan bisa melanjutkan perjalanan lagi. Ah, aku jatuh cinta dengan keramahan warga disana!

Penambang belerang di Kawah Ijen; Sumber: dok.pri
Setelah puas menikmati dan mentafakuri keindahan alam milik Sang Pencipta, kami mulai perjalanan turun yang menghabiskan waktu lebih cepat dari saat penanjakan. Kami kembali dengan kendaraan menuju ke homestay untuk menikmati sarapan dan bersiap checkout lalu menuju ke destinasi akhir, yaitu Taman Nasional Baluran. Perjalanan ke Taman Nasional Baluran dimulai sekitar pukul 12 siang. Billboard bergambar satwa bertuliskan Baluran yang berada di gerbang Taman Nasional ternyata tidak mengindikasikan bahwa lokasi sudah di depan mata, haha. Perjalanan ala-ala off road di jalan yang cukup rusak dan jeplok harus dilalui sekitar 7 km jika ingin mencapai ke Pantai Bama dan 5 km jika ingin mencapai Sabana Bekol. Di Taman Nasional Baluran ini, kita akan dimanjakan dengan dua destinasi wisata yakni salah satunya dalah Pantai Bama yang selain memiliki pantai indah, juga memiliki taman mangrove yang eksotis. Sebagai informasi, mangrove di Pantai Bama ini merupakan jenis mangrove terbesar se-Asia. Selain itu terdapat inti lokasi dari Baluran ini yakni padang rumput sabana yang sangat luas sejauh mata memandang dengan satwa-satwa berkeliaran. Persis seperti di Afrika. Karenanya, tempat ini dijuluki Africa van Java. 

Pantai Bama; Sumber: dok.pri
Rombongan di Pantai Bama; Sumber: Kemunir
Inong di kawasan Mangrove terbesar se-Asia; Sumber: dok.pri
Padang Sabana Bekol
Satwa di Sabana Baluran; Sumber: Kemunir

Africa van Java; Sumber: dok.pri
Rombongan di Taman Nasional Baluran; Sumber: Kemunir
Setelah selesai berfoto-foto menikmati padang rumput yang sangat mengagumkan ini, artinya selesai pula trip Bwi bersama Kemunir selama dua hari ini. Ada rombongan yang harus berpisah karena akan tetap melanjutkan perjalanan di Bwi tapi ada juga yang tetap bersama tim Kemunir. Kemunir mengantarkan kami kembali menuju meeting point awal, yaitu Stasiun Gubeng Surabaya. Perjalanan darat malam hari yang terasa sangat panjang lagi, pikirku, haha. Saat tiba di Stasiun Gubeng, waktu menujukkan pukul 23.30. Dan saatnya kami kembali ke Ibukota untuk menjalani rutinitas sehari-hari \o/ 

Terimakasih Mas Aner, Mas Gilang, Travelpartner serombongan, dan semua pihak yang membantu, sampai jumpa lagi di lain kesempatan!


*) Contoh Itinerarry Tim Kemunir

ITINERARRY OPEN TRIP 2 – 3 MEI 2015

Day 1, 1 MEI 2015
23.30 Penjemputan peserta di meetpoint

Day 2, 2 MEI 2015
00.30 Perjalanan menuju Banyuwangi
04.30 Sarapan di pagi buta
07.30 Pengurusan ijin masuk, cek perlengkapan snorkeling
08.00 Berangkat menuju Pulau Menjangan
09.00 Eksplor Pulau Menjangan (trekking keliling pulau, Pura Ganesa, berlanjut snorkeling ceria)
12.00 Istirahat, makan siang
13.00 Berlanjut ke Pulau Tabuhan
13.30 Eksplore Pulau Tabuhan, bersantai dan berfoto
15.00 Kembali ke Banyuwangi, bersih badan
17.00 Check in hotel
18.30 Makan malam, istirahat persiapan trekking Kawah Ijen

Day 3, 3 MEI 2015
00.00 Berangkat menuju Paltuding
02.00 Treking santai menuju Kawah Ijen
04.30 Melihat bluefire, sunrise, dan view sekitar Kawah Ijen
06.00 Kembali ke Paltuding, istirahat sejenak
07.00 Kembali ke hotel, sarapan
10.00 Check out hotel, melanjutkan perjalanan menuju TN Baluran
11.00 Pengurusan ijin masuk
11.10 Lanjut menuju Bekol
12.00 Eksplore Bekol (Menara Pengamatan dan Savana)
12.30 Berlanjut ke Pantai Bama, makan siang
13.30 Eksplore pantai Bama, mangrove trail
15.00 Melihat satwa di Bekol, perjalanan kembali ke Surabaya
24.00 Perkiraan sudah sampai di Surabaya (Sayonara)

*) Kemunir Tours dapat dihubungi di:
Website: www.kemunir.com
Email: info.kemunir@gmail.com
Twitter & Instagram: @kemunir
Facebook: Kemunir Banyuwangi

0 comments:

Post a Comment