20 May 2015

Surabaya Kota Pahlawan

Baru sekali aku menginjakkan kaki di stasiun Gubeng. Saat itu pukul 00.15. Sepi sekali pikirku. Bagaimana tidak, ini sudah tengah malam. Baru kali itu aku melewati wilayah kampus Unair, sekitar kostan temanku tempat aku menumpang bermalam. Keesokan harinya, aku berencana mengitari sudut kota Surabaya. Katanya, disini banyak tempat wisata dan aneka kuliner yang tidak boleh dilewatkan. Aku mencaritahu info-info mengenai kota ini. Aku mulai berkeliling dengan memberdayakan angkutan umum yang ada. Berbekal info dari internet dan dari teman. 

Angkutan umum di Surabaya lucu bukan main. Modelnya di dalamnya ada kaca dorong yang memisahkan antara ruang pengemudi dan penumpang. Kemudian, jika ingin turun berhenti, penumpang harus menekan tombol yang letaknya di langit-langit kendaraan. Sayangnya, aku tidak sempat memotret dan tidak menemukan gambarnya di internet. Bagi aku yang baru kali pertama ke Surabaya, kendaraan model ini cukup merepotkan. Aku tidak bisa asal berteriak ke pak supir untuk menanyakan rute sebagaimana di Jakarta. Aku harus mengetuk kaca, membuka, kemudian bertanya ke pak supir mengenai rute tujuanku. Angkot di Surabaya juga jarang, lewatnya bisa setengah jam sekali. Dan angkutan umum disana hanya beroperasi sampai sekitar waktu menjelang Maghrib, setelah itu tidak ada. Memang, warga Surabaya mayoritas memiliki kendaraan pribadi.

Surabaya sepertinya memang mulai berkembang menjadi kota metropolitan. Ramai. Di titik pusat kota, Surabaya dipenuhi dengan bangunan tinggi, baik hotel, apartemen, maupun mall. Surabaya kini memiliki banyak mall dengan jarak yang tidak begitu jauh. Cantik dengan gemerlapan lampu disana sini. Apalagi jika melewati kawasan museum kapal selam Surabaya di malam hari hehe. Kesanku mengenai Surabaya saat itu: Panas puol. Rasanya Surabaya merupakan kota terpanas dari sudut Indonesia pernah aku kunjungi. Hehe.

Hari itu aku berencana ke daerah pasar turi untuk menjajaki kuliner khas Surabaya.

1. Bubur Campur

Sumber: dok.pri

2. Soto Surabaya

Sumber: dok.pri

3. Rujak Cingur

Sumber: dok.pri

4. Lontong Balap

Sumber: dok.pri

5. Sate Kerang

Sumber: dok.pri

Menyusuri setapak demi setapak jalan di daerah Pasar Turi, membawa aku sampai di tugu yang tidak asing bagiku. Setelah mencari tahu letak pintu masuk, aku bergegas masuk ke Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November itu.

Gerbang masuk Monumen Tugu Pahlawan


Patung Bung Karno Bung Hatta


Aku tersenyum di bawah patung Bung Karno dan Bung Hatta. Aku teringat dengan salah satu janji kemerdekaan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Aku akan berusaha ikut andil dalam hal itu.
Aku, dalam hati.


Sumber dokumentasi pribadi

0 comments:

Post a Comment