22 July 2015

Travel Partner yang cocok = Backpack yang nyaman


Teman-teman yang hobi traveling pasti akan concern banget dengan hal yang satu ini. Ibarat memilih backpack yang fit, perihal pemilihan travelpartner juga akan sama sulitnya. Harus klop, karena bukan tidak mungkin teman ini justru akan menghancurkan ekspektasi tinggi kita akan sebuah rencana perjalanan. Sejatinya kita memang ndak boleh pilih-pilih untuk berteman, tapi untuk urusan perjalanan yang notabene beberapa hari kedepan kita akan kuliner, belanja, ngobrol, bahkan tidur dengan orang yang sama, maka karakter teman perjalanan sebaiknya menjadi pertimbangan.

Beberapa kali melakukan perjalanan dengan orang yang berbeda-beda, dengan karakter yang berbeda-beda, membuat aku banyak belajar. Memilih travel partner perlu dipertimbangkan berdasarkan tujuan lokasi perjalanan kita. Misalnya, jika kita akan pergi dengan tujuan mau explore suatu tempat, akan lebih baik jika kita mengajak mereka yang sudah biasa. Jika memang ingin senang-senang, aku cenderung mengajak teman-teman dekat yang paling tidak sudah aku ketahui karakternya. Pun dengan medan lokasi trip, jika kita akan ke pantai, ya kita lebih baik mengajak mereka yang senang dan atau bisa snorkeling, paling tidak berenang.


Berikut sedikit masukan untuk mengajak teman untuk melakukan perjalanan bersama:

1. Fleksibel
Maksudnya adalah tidak ribet. Bukan tipikal perfeksionis, paling tidak bukan perfeksionis untuk urusan liburan. Tujuannya mendaki gunung, tapi bawaannya ribet, bukan bawaan untuk ke gunung. Alhasil harus kembali lagi karena alat yang ketinggalan, atau harus nurutin satu dua hal yang harus sesuai keinginannya. Tragedi ketinggalan kereta, membuat kita memutar otak menggunakan angkutan bus, tapi ternyata dia bukan orang yang nyaman berkendara jalur darat dalam waktu yang lama. Ini harus banget jadi pertimbangan :) Bagaimanapun juga, traveling adalah kegiatan yang akan memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman hidup kita. Tahan diri untuk tidak menuntut ini itu dan menganggap seperti keadaan yang kita biasa rasakan sehari-hari.


2. Satu visi misi
Ini lebih spesifik kayaknya yah. Bisa satu visi misi dalam tujuan liburan, satu visi misi dalam itinerary, atau satu visi misi dalam budget. Ini penting banget karena masalah uang adalah masalah sensitif. Ini berhubungan dengan tujuan perjalanan kita. Apakah traveling ala backpacker atau traveling yang 'niat'. Karena jelas akan berbeda jauh hitungan keuangannya. Jangan sampai antar teman perjalanan tidak sejalan mengenai hal ini. Yang satu mau tidur di hotel, yang satu tidur di rumah singgahnya backpacker :)))


3. Antusias
Ini juga termasuk yang cukup bikin mood kita drop. Disaat lagi hepi-hepinya snorkeling misal, temen kita terlihat 'merengut' dan ngajak kembali ke ppenginapan. Mungkin memang lagi not in the mood atau ada masalah, tapi ya namanya juga liburan, ya ayuk refresh otak sejenak \o/ Belum lagi kalo teman kita adalah orang yang bosenan, jadi kita belum puas di suatu lokasi, dia udah langsung ngajak pindah lagi, pindah lagi, dan atau dia mudah lelah/ngantuk, jadi cenderung menghabiskan waktu untuk tidur. Duh, padahal, tidur bisa di rumah aja :(((
 


4. Hindari si "Apa-apa sendirian"
Ini lebih sering aku dengar dari teman yang suka mendaki gunung. Biasanya ada saja terselip satu orang diantara rombongan yang ngeloyor aja jalan paling depan duluan tanpa babibu, tanpe memperdulikan teman di belakangnya. Ini biasanya dilakukan karena ybs cenderung sudah senior dalam traveling atau sudah pernah melakukan perjalanan serupa sebelumnya, jadi sudah merasa kenal medan. Alhasil, teman-teman di belakangnya memilih mengikuti dia karena tidak mau terpisah. Padahal belum tentu semua kuatnya sama, akan ada teman yang cukup kesulitan mengikuti ritme langkah gerakan teman di depannya. Disinilah toleransi kita diuji. Yah sebagaimana hadits yang sering aku dengar, kurang lebih begini:
"Jika ingin tau bagaimana karakter seseorang, ajaklah ia bersafar"
Ya, karena safar dapat menjadikan kita saling mengenal karakter orang lain.

Setiap orang memiliki karakter dan kebiasaan hidup di keluarga yang berbeda-beda. Di dalam traveling, kita dituntut harus memahami satu sama lain untuk mencegah konflik terjadi. Sangat tidak menyenangkan jika hari-hari traveling kita yang bahkan mungkin jauh dari orangtua, justru kita habiskan dengan berselisih paham dengan teman seperjalanan. Bukan foto bersama mengabadikan momen, tapi justru diem-dieman. Bahaya banget :))

Selamat jalan-jalan bersama travel partner kesayangan!



Sumber:
http://www.pegipegi.com/travel/ini-pedoman-mencari-teman-traveling/
https://tyosukma.wordpress.com/2014/03/15/tips-memilih-teman-perjalanan/