4 August 2015

Ridho ayah untuk gadis kecilnya

Keutamaan muslimah harus -berwali- saat menikah pasti banyak hikmahnya. Betapa Allah sangat melindungi kaum hawa. Setiap orang memiliki perjuangan dengan jalan dan rintangannya sendiri demi menuju hubungan yang halal. Nah, jika salah satu rintangan justru berada di wali kita (re: Ayah), harus gimana selanjutnya?

 Sumber: http://surya-uya.tumblr.com/


Well, menurutku, jawabannya hanya satu, nurut selama itu baik.

Menikah memang harus disegerakan ketika mampu. Mampu dari berbagai sudut pandang. Tidak baik jika kita menunda hal baik, termasuk pernikahan. Tapi, sekali lagi wali adalah beliau yang 'bertanggungjawab' pada kita (wanita) dalam sebuah pernikahan hingga berlangsungnya kehidupan berumahtangga. Dalam hal ini aku akan mengambil contoh, ayah (kandung) sebagai wali kaum hawa di suatu pernikahan. 

Ayah adalah laki-laki pertama yang mencintai kita dan kita cintai. Beliau orang yang paling mengenal kita luar dan dalam. Beliau paham bagaimana anak-anaknya tumbuh. Sudah sampai mana fase anak ini beliau didik dan akan dibawa ke arah mana kehidupannya. Sebagai orang yang paling memegang andil bertanggungjawab terhadap gadis kecilnya, sangat manusiawi jika Ayah ingin gadisnya mendapat yang terbaik untuk hidupnya. Ayah ingin gadisnya dapat mendidik keturunannya kelak menjadi generasi yang shalih dan shalihah. Demi mewujudkan itu semua tentu tidaklah mudah, gadis ini harus menjadi pribadi yang kuat. Ayah lah yang paham apakah putrinya sudah mampu atau belum, sudah siap atau belum, walaupun keinginan kuat muncul dari diri si gadis. 

Jika dirasa gadis kecilnya belum cukup kuat dalam memegang segala amanah rumahtangga nanti, pasti ayah hanya ingin dia terus belajar. Ayah hanya memberi waktu sembari terus melihat bagaimana gadis kecilnya belajar. Ayah terus memerhatikan perjuangan gadisnya menghadiri kajian kesana kemari memupuk ilmu agama guna persiapan menjadi madrasah pertama utk keturunannya kelak. Ayah terus memerhatikan gelak tawa anak gadisnya saat salah menyebutkan satu nama bumbu dapur yang diberikan Ibundanya di dapur. Ayah terus memerhatikan gadisnya yang mulai cakap melakukan perhitungan dan manajemen uang hasil jerih payahnya sendiri. Ya, satu demi satu syarat perkembangan gadisnya ini mulai terpenuhi. Daftar di tangannya makin penuh dengan tanda centang. Dan ayah mulai yakin untuk melepas gadis cantiknya untuk dibimbing oleh suaminya kelak.

Berpikirlah positif. Berprasangkalah baik. Ridho Allah ridho orangtua. Kapan lagi seorang gadis bisa mematuhi dan mentaati semua perintah orangtua? Hanya sampai ayah  menjabat tangan calon suaminya saat ijab qabul. Setelah itu hilang semua kewajiban gadis utk mematuhi perintah ayah ibu setelah Allah dan RasulNya. Ya, karena setelah itu suaminya lebih berhak dibanding kedua orangtua, dibanding ayah yang notabene cinta pertama si gadis. Ayah mana yang cuma-cuma rela lahir bathin menyerahkan anak gadis kesayangannya kepada laki-laki asing yang baru dikenalnya. Jika tidak karena ibadah kepada Allah dan bagian dari sunnah Rasul, yakinlah mungkin tidak ada ayah yang bersedia 'menukarkan' gadisnya dengan mahar apapun itu. Percayalah, ayah ingin putri manisnya bisa menjadi istri shalihah untuk laki-laki terbaik.