25 October 2015

Kuntum Nurseries Farm Field

Salah satu lokasi liburan yang dibutuhkan oleh mereka yang penat dengan polusi dan hingar bingar kota besar adalah lokasi yang mengajak kembali ke alam dengan segala sajian yang memanjakan mata dan otak. Bagi warga di Jabodetabek, tempat ini bisa banget dihampiri, lho! Namanya Kuntum Nurseries Farm Field. 

Kuntum Nurseries ini terletak di pinggir Jalan Raya Tajur, Bogor. Disana kita akan disuguhkan dengan bermacam hal mengenai dunia pertanian. Ya pertanian itu luas, bukan? Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 40.000 di hari libur, kita dapat menemukan kandang-kandang hewan seperti marmut, kelinci, kambing, domba, dan sapi. Disana juga dijual bermacam bentuk pakan, seperti sayur-sayuran dan pelet yang ditempatkan dalam satu bakul anyaman kayu untuk marmut dan kelinci. Juga ada susu untuk sapi yang dikemaas dalam botol dot susu seperti bayi manusia, ukuran kecil untuk si anak sapi, dan ukuran besar untuk si induk sapi. 
Pakan kelinci dan marmut
Sumber: dok.pri

Setelah puas di kandang hewan mamalia ini, kita dapat melanjutkan perjalanan menuju kandang aves! Disana kita akan disambut oleh ayam-ayam, itik-itik, entok-entok, dan angsa-angsa. Di tempat ini, hewan-hewan hidup sebagaimana habitat mestinya. Pakan yang diberikan pun pakan yang baik. Pengunjung tidak diperkenankan membawa dan memberikan pakan selain yang disediakan oleh pihak Kuntum.  

Kandang domba
Sumber: dok.pri
Kandang marmut
Sumber: dok.pri
Kandang kelinci
Sumber: dok.pri
Kandang kambing
Sumber: dok.pri

Memasuki jam makan siang, Kuntum memiliki rumah makan saung yang sangat sejuk dan nyaman untuk bersantai. Makanan yang disediakan pun bisa merupakan ikan hasil pancingan di danau di dalam area Kuntum. Jika budget yang dibawa terbatas, kita juga diperbolehkan untuk piknik lucu dengan duduk-duduk di sekitar danau dan membuka perbekalan kita. Selain pemandangan danau pemancingan, kita juga dapat menikmati suasana perkebunan lengkap dengan trek berkuda yang lebih menjorok ke dalam lagi.

Kandang aves
Sumber: dok.pri
Perlu diingat bahwa tempat ini tidak hanya untuk mengajak anak-anak bermain dan belajar lebih dekat dengan alam yakni hewan dan tumbuhan, tapi juga sangat bermanfaat untuk tetua yang ingin menikmati kesejukan pikiran, mata, dan hati. Ah :')
Area perkebunan dan trek berkuda

De Mata De Arca Yogyakarta

Bagi teman-teman yang ingin mencari hiburan di Kota Yogyakarta namun memiliki keterbatasan waktu, aku merekomendasikan tempat ini. Berawal dari info ibuku yang katanya di Yogya ada museum unik yang memamerkan patung lilin 3D menyerupai tokoh dunia untuk berfoto ria. Seperti Maddame tussoid di negara-negara lain, katanya. Museum ini terletak di kawasan XT Square, Jalan Veteran Padeyan, Yogyakarta.

Namanya Museum De Arca.
Melihat dari namanya, pantas museum ini dinamakan arca yang artinya adalah patung. Menggunakan istilah "arca" pasti supaya kental unsur budaya Indonesia nya. Setelah memasuki pintu masuk museum, kita akan disuguhkan dengan replika pahlawan Indonesia, tokoh-tokoh sejarah lainnya, tokoh kartun, bahkan aktor dan aktris dunia. Demi menjaga kebersihan lokasi, di tempat ini pengunjung juga tidak diperkenankan menggunakan alas kaki ketika berkeliling.


Museum de arca
Sumber: dok. pri

Selain museum ini, ada baiknya kita juga melipir ke museum sebelah. Ya, letaknya hanya bersebelahan. Berbeda dengan De Arca yang hanya ada di Yogyakarta, museum yang satu ini tidak hanya terdapat di Yogyakarta tetapi sudah ada di beberapa kota besar lain di Indonesia seperti Semarang, Surabaya, dan Palembang.


Namanya Museum De Mata.
Museum ini merupakan museum yang menyajikan beberapa trik dalam seni fotografi. Mengusung konsep background 3 dimensi, maka dengan berfoto kita akan seolah dibawa menikmati suasana sebagaimana tergambar disana. Pada setiap spot foto, kita juga diberi arahan posisi obyek foto dan pengambil foto agar menghasilkan foto yang maksimal.

Ada berbagai patung mulai dari aktor dan aktris terkenal, pahlawan Indonesia, tokoh-tokoh berpengaruh, dan banyak lainnya. - See more at: http://www.dearcamuseum.com/#sthash.BPpCTlKd.dpuf
Ada berbagai patung mulai dari aktor dan aktris terkenal, pahlawan Indonesia, tokoh-tokoh berpengaruh, dan banyak lainnya. - See more at: http://www.dearcamuseum.com/#sthash.BPpCTlKd.dpuf
Museum de mata
Sumber: dok.pri



Harga tiket masuk terusan kedua museum ini adalah Rp 75.000. Sedangkan jam kunjung museum adalah pukul 10.00-20.00.

Selamat berfoto ria \o/

http://www.dearcamuseum.com/
http://www.dematamuseum.com/ 

19 October 2015

Kereta Keraton di Museum Kareta Karaton

Museum Kareta Karaton. Tapi kebanyakan orang (termasuk aku) menyebutnya dengan Museum Kereta Keraton. Museum ini adalah salah satu daftar tempat yang layak dikunjungi ketika berlibur di Yogyakarta.  Museum yang mulai buka pukul 08.30 sampai dengan pukul 16.00. ini berada di sebelah barat Alun-alun utara atau tepatnya di Jl. Rotowijayaan. Untuk dapat berkeliling di dalam museum kareta keraton ini pengunjung dikenai biaya tiket masuk Rp 3.000. Guide lokal disediakan jika ingin lebih mengetahui lagi tentang informasi koleksi kereta yang ada di museum ini dengan biaya seikhlasnya dari pengunjung. 

Pintu masuk museum
Sumber: http://mahakam24.blogspot.co.id/2013/12/mengintip-koleksi-museum-kereta-di.html

Tempat yang kental dengan adat dan hawa keraton ini memang membuat decak kagum pengunjung saat mendengarkan guide bercerita tentang kisah masing-masing koleksi kereta di dalamnya. Ada tiga jenis kereta keraton yang berada disini yaitu kereta dengan atap terbuka dan beroda dua, kereta atap terbuka dan beroda empat, dan kereta atap tertutup dengan roda empat. Koleksi kereta di museum ini terawat dengan sangat baik, tanpa perbaikan dan masih dalam wujud serta cat yang sama sejak pembuatan. Beberapa diantaranya masih sering digunakan untuk acara tertentu di Keraton Yogyakarta.

Semua koleksi kereta di dalam museum ini memang sangat dijaga kelestariannya. Masing-masing kereta memiliki nama nya sendiri sesuai dengan peruntukan peruntukannya. Mereka diberi nama dengan kata "Kyai" atau "Kanjeng" di depannya sebagai bentuk penghormatan. Selain memiliki nama agung, koleksi kereta keraton ini juga selal mendapat penghormatan berupa ritual yang diberi nama jamasan. Jamasan ini meliputi kegiatan memandikan, memberi 'makan' dengan sajen, dan mendoakan. Berdasarkan kepercayaan keraton, ritual jamasan ini diadakan pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon pertama setiap bulan Suro berdasarkan kalender Jawa.


Berikut latar belakang cerita masing-masing kereta yang didapatkan dari guide lokal museum:

Kereta Kanjeng Nyai Jimat : koleksi museum kereta keraton jogja ini Kereta hadiah Gubernur Jenderal Jacob Mossel dari Spanyol ini dahulunya sebgai alat transportasi sehari hari oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I-III, ditarik 8 ekor kuda, ini merupakan produksi Belanda tahun 1750. Kondisi saat ini masih asli antara lain pegasnya yang terbuat dari kulit kerbau. Merupakan Kereta Pusaka yang tiap tahun dilakukan Jamasan.

Bentuk kereta ini sangat indah dan mirip dengan kereta cinderela yang ada di dongeng-dongeng dengan bagian depan seperti ada sebuah patung wanita yang menyangga kereta tersebut dan diberi untaian bunga. Ketika memasuki ruangan di mana kereta ini diletakkan dan juga saat akan memotret kereta ini di pemandu selalu memberikan semacam salam sungkem guna meminta izin kepada penunggu kereta ini. Konon katanya kereta ini hanya digunakan oleh Sultan dan Kanjeng Ratu Kidul. Hingga saat ini setipa bulan suro kereta ini masih dijamasi/dibersihkan. Kata pemandu juga tiap memotret kereta ini, berebeda orang akan berbeda pula hasilnya.


Koleksi kereta
Sumber: http://andikaawan.blogspot.co.id/2011/04/museum-kereta-keraton-yang-menyimpan.html


Kereta Mondro Juwolo : Koleksi museum kereta keraton jogja ini di produksi Belanda tahun 1800 merupakan kereta bagi Pangeran Diponegoro yang ditarik 6 ekor kuda. Kondisi saat ini sudah dicat ulang untuk keperluan Festival Keraton Nusantara

Kereta Kyai Manik Retno : Koleksi museum kereta keraton jogja ini di Produksi Belanda dibeli tahun 1815 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IV, digunakan sebagai kerete pesiar bagi Sultan bersama Permaisuri yang ditarik 4 ekor kuda.

Kereta Kyai Jolodoro : Koleksi museum kereta keraton jogja ini diproduksi Belanda tahun 1815 merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono IV. Sais berdiri dibelakang dan ditarik 4 ekor kuda.

Kereta Kyai Wimono Putro : Koleksi museum kereta keraton jogja dibeli tahun 1860 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, digunakan pada saat pengangkatan Putera Mahkota dan ditarik oleh 6 ekor kuda. Kondisi saat ini masih asli.

Kereta Garuda Yeksa : Koleksi museum kereta keraton jogja ini di produksi Belanda tahun 1861pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI, dipergunkan pada saat penobatan Sultan dan disebur juga sebagai Kereta Kencana, ditarik delapan ekor kuda yang warna dan jenis kelaminnya sama. Kondisi masih asli termasuk lambing burung garuda yang terbuat dari emas 18 karat seberat 20 kg dan merupakan desain dari Sri Sultan Hamengku Buwono I

Kereta Kyai Harsanuba : Koleksi museum kereta keraton jogja ini dibeli tahun 1870, digunakan sebagai transportasi sehari hari Sri Sultan Hamengku Buwono VI – VIII dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Kyai Jogwiyat : Koleksi museum kereta keraton jogja ini produksi Den Haag Belandatahun 1880 merupakan peninggalan Sri Sultan Hamenghku Buwono VII digunakan oleh Manggala Yudha atau semacam panglima perang. Pada saat Sri sultan Hamengku Buwono X menikahkan putrinya kereta ini digunakan, namun sudah mengalami renovasi antara lain catnya.

Kereta Roto Biru :  Koleksi museum kereta keraton jogja ini produksi Belanda tahun 1901, dipergunakan untuk manggala yudha pada waktu itu dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Kus Sepuluh : Koleksi museum kereta keraton jogja ini  produksi Belanda tahun 1901 pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, aslinnya adalah kereta landowerdan bisa dipergunakan untuk pengantin. Kondisi sudah dirubah catnya.

Kereta Kus Gading : Koleksi museum kereta keraton jogja ini produksi Belanda tahun 1901, dibeli pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan ditarik 4 ekor kuda.

Kyai Rejo Pawoko : Koleksi museum kereta keraton jogja ini produksi tahun 1901, pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, diperuntukkan bagi adik-adik Sultan dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Landower Wisman : Koleksi museum kereta keraton jogja ini dibebli dari Belanda tahun 1901 dan direnovasi tahun 2003, digunakan sebagai transportasi Sultan dalam memberikan penyuluhan pertanian dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Landower : Koleksi museum kereta keraton jogja ini dibeli tahun 1901 dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Premili : Koleksi museum kereta keraton jogja dirakit di Semarang tahun 1925 dengan sukucadang dikirim dari Belanda, dipergunakan untuk menjemput penari-penari keraton dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Kyai Kutha Raharjo : Koleksi museum kereta keraton jogja diproduksi berlin dan dibeli tahun 1927 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, digunakan untuk mengiringi acara-acara yang diadakan keraton dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Roto Praloyo : Koleksi museum kereta keraton jogja dibeli tahun 1938 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII merupakan Kereta Jenasah dan pernah dipakai untuk pemakaman Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan ditarik 8 ekor kuda.

Kereta Kyai Jetayu :  Koleksi museum kereta keraton jogja dibeli tahun 1931 diperuntukkan bagi puteri=putrid sultan yang masih remaja, ditarik 4 ekor kuda dengan pengendali langsung diatas kudanya.

Kereta Kapulitin : Koleksi museum kereta keraton jogja dibeli pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, sebagai kereta pacuan sehingga hanya ditarik 1 ekor kuda

Kereta Kyai Pustoko Manik : Koleksi museum kereta keraton jogja diproduksi di Amsterdam Belanda, dipergunakan un tuk mengiringi acara keraton termasuk mengiringi pengantin dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Landower Surabaya : Koleksi museum kereta keraton jogja ini diproduksi di Swiss dipergunakan untuk penyuluhan petani di Surabaya

Kereta Kyai Noto Puro : Koleksi museum kereta keraton jogja diproduksi di Belanda pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, dipergunakan untuk aktivitas perang. Dan ditarik 4 ekor kuda, kondisi sudah mengalami renovasi


Sumber:
http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/menengok-sejarah-kereta-kuda-di-museum-kereta-keraton-yogyakarta
http://mahakam24.blogspot.co.id/2013/12/mengintip-koleksi-museum-kereta-di.html
http://www.wisatajogja.co.id/museum-kereta-keraton-jogja/
http://andikaawan.blogspot.co.id/2011/04/museum-kereta-keraton-yang-menyimpan.html