19 October 2015

Kereta Keraton di Museum Kareta Karaton

Museum Kareta Karaton. Tapi kebanyakan orang (termasuk aku) menyebutnya dengan Museum Kereta Keraton. Museum ini adalah salah satu daftar tempat yang layak dikunjungi ketika berlibur di Yogyakarta.  Museum yang mulai buka pukul 08.30 sampai dengan pukul 16.00. ini berada di sebelah barat Alun-alun utara atau tepatnya di Jl. Rotowijayaan. Untuk dapat berkeliling di dalam museum kareta keraton ini pengunjung dikenai biaya tiket masuk Rp 3.000. Guide lokal disediakan jika ingin lebih mengetahui lagi tentang informasi koleksi kereta yang ada di museum ini dengan biaya seikhlasnya dari pengunjung. 

Pintu masuk museum
Sumber: http://mahakam24.blogspot.co.id/2013/12/mengintip-koleksi-museum-kereta-di.html

Tempat yang kental dengan adat dan hawa keraton ini memang membuat decak kagum pengunjung saat mendengarkan guide bercerita tentang kisah masing-masing koleksi kereta di dalamnya. Ada tiga jenis kereta keraton yang berada disini yaitu kereta dengan atap terbuka dan beroda dua, kereta atap terbuka dan beroda empat, dan kereta atap tertutup dengan roda empat. Koleksi kereta di museum ini terawat dengan sangat baik, tanpa perbaikan dan masih dalam wujud serta cat yang sama sejak pembuatan. Beberapa diantaranya masih sering digunakan untuk acara tertentu di Keraton Yogyakarta.

Semua koleksi kereta di dalam museum ini memang sangat dijaga kelestariannya. Masing-masing kereta memiliki nama nya sendiri sesuai dengan peruntukan peruntukannya. Mereka diberi nama dengan kata "Kyai" atau "Kanjeng" di depannya sebagai bentuk penghormatan. Selain memiliki nama agung, koleksi kereta keraton ini juga selal mendapat penghormatan berupa ritual yang diberi nama jamasan. Jamasan ini meliputi kegiatan memandikan, memberi 'makan' dengan sajen, dan mendoakan. Berdasarkan kepercayaan keraton, ritual jamasan ini diadakan pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon pertama setiap bulan Suro berdasarkan kalender Jawa.


Berikut latar belakang cerita masing-masing kereta yang didapatkan dari guide lokal museum:

Kereta Kanjeng Nyai Jimat : koleksi museum kereta keraton jogja ini Kereta hadiah Gubernur Jenderal Jacob Mossel dari Spanyol ini dahulunya sebgai alat transportasi sehari hari oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I-III, ditarik 8 ekor kuda, ini merupakan produksi Belanda tahun 1750. Kondisi saat ini masih asli antara lain pegasnya yang terbuat dari kulit kerbau. Merupakan Kereta Pusaka yang tiap tahun dilakukan Jamasan.

Bentuk kereta ini sangat indah dan mirip dengan kereta cinderela yang ada di dongeng-dongeng dengan bagian depan seperti ada sebuah patung wanita yang menyangga kereta tersebut dan diberi untaian bunga. Ketika memasuki ruangan di mana kereta ini diletakkan dan juga saat akan memotret kereta ini di pemandu selalu memberikan semacam salam sungkem guna meminta izin kepada penunggu kereta ini. Konon katanya kereta ini hanya digunakan oleh Sultan dan Kanjeng Ratu Kidul. Hingga saat ini setipa bulan suro kereta ini masih dijamasi/dibersihkan. Kata pemandu juga tiap memotret kereta ini, berebeda orang akan berbeda pula hasilnya.


Koleksi kereta
Sumber: http://andikaawan.blogspot.co.id/2011/04/museum-kereta-keraton-yang-menyimpan.html


Kereta Mondro Juwolo : Koleksi museum kereta keraton jogja ini di produksi Belanda tahun 1800 merupakan kereta bagi Pangeran Diponegoro yang ditarik 6 ekor kuda. Kondisi saat ini sudah dicat ulang untuk keperluan Festival Keraton Nusantara

Kereta Kyai Manik Retno : Koleksi museum kereta keraton jogja ini di Produksi Belanda dibeli tahun 1815 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IV, digunakan sebagai kerete pesiar bagi Sultan bersama Permaisuri yang ditarik 4 ekor kuda.

Kereta Kyai Jolodoro : Koleksi museum kereta keraton jogja ini diproduksi Belanda tahun 1815 merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono IV. Sais berdiri dibelakang dan ditarik 4 ekor kuda.

Kereta Kyai Wimono Putro : Koleksi museum kereta keraton jogja dibeli tahun 1860 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, digunakan pada saat pengangkatan Putera Mahkota dan ditarik oleh 6 ekor kuda. Kondisi saat ini masih asli.

Kereta Garuda Yeksa : Koleksi museum kereta keraton jogja ini di produksi Belanda tahun 1861pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI, dipergunkan pada saat penobatan Sultan dan disebur juga sebagai Kereta Kencana, ditarik delapan ekor kuda yang warna dan jenis kelaminnya sama. Kondisi masih asli termasuk lambing burung garuda yang terbuat dari emas 18 karat seberat 20 kg dan merupakan desain dari Sri Sultan Hamengku Buwono I

Kereta Kyai Harsanuba : Koleksi museum kereta keraton jogja ini dibeli tahun 1870, digunakan sebagai transportasi sehari hari Sri Sultan Hamengku Buwono VI – VIII dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Kyai Jogwiyat : Koleksi museum kereta keraton jogja ini produksi Den Haag Belandatahun 1880 merupakan peninggalan Sri Sultan Hamenghku Buwono VII digunakan oleh Manggala Yudha atau semacam panglima perang. Pada saat Sri sultan Hamengku Buwono X menikahkan putrinya kereta ini digunakan, namun sudah mengalami renovasi antara lain catnya.

Kereta Roto Biru :  Koleksi museum kereta keraton jogja ini produksi Belanda tahun 1901, dipergunakan untuk manggala yudha pada waktu itu dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Kus Sepuluh : Koleksi museum kereta keraton jogja ini  produksi Belanda tahun 1901 pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, aslinnya adalah kereta landowerdan bisa dipergunakan untuk pengantin. Kondisi sudah dirubah catnya.

Kereta Kus Gading : Koleksi museum kereta keraton jogja ini produksi Belanda tahun 1901, dibeli pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan ditarik 4 ekor kuda.

Kyai Rejo Pawoko : Koleksi museum kereta keraton jogja ini produksi tahun 1901, pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, diperuntukkan bagi adik-adik Sultan dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Landower Wisman : Koleksi museum kereta keraton jogja ini dibebli dari Belanda tahun 1901 dan direnovasi tahun 2003, digunakan sebagai transportasi Sultan dalam memberikan penyuluhan pertanian dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Landower : Koleksi museum kereta keraton jogja ini dibeli tahun 1901 dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Premili : Koleksi museum kereta keraton jogja dirakit di Semarang tahun 1925 dengan sukucadang dikirim dari Belanda, dipergunakan untuk menjemput penari-penari keraton dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Kyai Kutha Raharjo : Koleksi museum kereta keraton jogja diproduksi berlin dan dibeli tahun 1927 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, digunakan untuk mengiringi acara-acara yang diadakan keraton dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Roto Praloyo : Koleksi museum kereta keraton jogja dibeli tahun 1938 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII merupakan Kereta Jenasah dan pernah dipakai untuk pemakaman Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan ditarik 8 ekor kuda.

Kereta Kyai Jetayu :  Koleksi museum kereta keraton jogja dibeli tahun 1931 diperuntukkan bagi puteri=putrid sultan yang masih remaja, ditarik 4 ekor kuda dengan pengendali langsung diatas kudanya.

Kereta Kapulitin : Koleksi museum kereta keraton jogja dibeli pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, sebagai kereta pacuan sehingga hanya ditarik 1 ekor kuda

Kereta Kyai Pustoko Manik : Koleksi museum kereta keraton jogja diproduksi di Amsterdam Belanda, dipergunakan un tuk mengiringi acara keraton termasuk mengiringi pengantin dan ditarik 4 ekor kuda

Kereta Landower Surabaya : Koleksi museum kereta keraton jogja ini diproduksi di Swiss dipergunakan untuk penyuluhan petani di Surabaya

Kereta Kyai Noto Puro : Koleksi museum kereta keraton jogja diproduksi di Belanda pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, dipergunakan untuk aktivitas perang. Dan ditarik 4 ekor kuda, kondisi sudah mengalami renovasi


Sumber:
http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/menengok-sejarah-kereta-kuda-di-museum-kereta-keraton-yogyakarta
http://mahakam24.blogspot.co.id/2013/12/mengintip-koleksi-museum-kereta-di.html
http://www.wisatajogja.co.id/museum-kereta-keraton-jogja/
http://andikaawan.blogspot.co.id/2011/04/museum-kereta-keraton-yang-menyimpan.html

0 comments:

Post a Comment