30 May 2016

Belajar di Kereta Api Senja Utama Solo

Kereta Api Senja Utama Solo, Wonosari, 30 May 2016.

Mampir ke gerbong restorasi membuat aku meneteskan air mata penuh kedamaian. Sambil memesan nasi goreng untuk makan malam, aku duduk menunggu di sebuah kursi gerbong restorasi. Memperhatikan sekeliling memang kebiasaanku ketika berada di lingkungan baru, di tempat baru. Aku mengamati satu demi satu sisi ruangan tempat aku berada.
Mataku terhenti pada satu ruangan di sebelah ruang masak, ruang kecil berisikan tumpukan bantal yang sudah hampir lepas semua sarungnya. Ya, di kereta bisnis ini, penumpang harus menyewa jika ingin menggunakan bantal. Di ruangan sangat sempit itu, ada Bapak dengan usia cukup sepuh -menurut penerawanganku-, duduk dengan beralaskan sepatu yang sebelumnya beliau kenakan. Berselonjor kaki, kemudian membuka bungkus nasi. Nasi dengan sayur tempe orek itu sangat lahap dimakan dalam waktu cukup singkat.
Kemudian lewat beberapa anak muda, dengan seragam sama seperti pakaian yang Bapak itu kenakan. Aku mencoba membaca tulisan di pakaian itu. Dari tulisan itu, aku bisa memastikan bahwa mereka merupakan pegawai yang luarbiasa keren membersihkan sisi gerbong demi gerbong.
.
-Ndak sadar tau-tau air mata udah netes aja-
.
Bukan, bukan mengasiani Bapak itu dengan pekerjaannya.
Tapi justru sangat menampar betapa diri ini jauh dari bersyukur. Betapa jiwa ini masih haus duniawi ini dan itu. Betapa hati ini sering tidak menghargai apapun. Malu rasanya.

Terimakasih mengajariku hari ini, Pak.
:')