4 September 2017

Berburu New Born Stuff - Part 1

Hi mom to be! Pasti ndak sabar banget yaa nungguin si calon shalih shalihah hadir di dunia :)) Saat itu sebagai mom to be, aku adalah calon emak yang super detail.

Ini tahapan yang aku lakukan di sepanjang perburuan baby stuff ku:
1. Menghubungi teman-teman yang sudah lebih dahulu menjadi Ibu untuk dimintai info, pendaat, ilmu, dan pengalaman barang-barang apa yang dibutuhkan
2. Buat daftar panjang nya barang-barang berikut jumlahnya hehe
3. Kelompokkan mana barang yang harus punya (beli), yang bisa pinjam, yang bisa rental, dan yang nggak punya pun nggakpapa
4. Setelah tersortir barang-barang yang masuk kelompok "BELI", kelompokkan lagi menjadi lokasi pembeliannya. Apakah di supermarket, apakah di toko bayi, apakah di online.
5. Cuss beli!

TIPS:
1. Baby stuff itu lumayan menguras kantong Buk jadi jangan kalap yaaa. Eh pasti kalap ding, yaa kalap dikit gakpapa deh wkwkwk
2. Untuk ibu-ibu yang pengen dapet harga miring dengan kualitas baik, jangan males searching cari tahu, dan bandingkan antara pembelian offline dan online. Kalau offline, toko mana yang paling murah, kalau online juga tetap bandingkan lagi harga tokonya x)) xp Memang ribet dan 'segitunya' tapi serious it works! Dapat baby stuff lengkap dengan harga hemat :)

31 July 2017

NHW 9 : Ide Sosial untuk Sosial

Setelah sempet skip NHW 8 hiks, mencoba menyelesaikan NHW terakhir di IIP ini. NHW di IIP ini diakhiri dengan tema. Sedih-sedih gembira rasanya. Sedih karena aku rindu waktu-waktu dimana aku habiskan di ranah sosial. Turun memeluk mereka yang (bahkan mungkin sebetulnya hanya) butuh pelukan. Semoga kelak aku bisa kembali ke dunia sosial. Bersama keluargaku. Aamiin.
Empathy + Passion = Social Venture
 Minat Hobi Ketertarikan: Dunia Pendidikan
 Skill Hard Soft: Komunikasi, Public Speaking, Beberapa mata pelajaran sekolah, Bersosialisasi, Dekat dengan anak-anak
 Isu Sosial: Banyak anak-anak putus sekolah karena biaya dan karena hal lain
 Masyarakat: Anak usia sekolah
 Ide sosial: Membuat rumah singgah. Untuk adik-adik yang putus sekolah belajar, bermain, berkarya ^^
Ini merupakan salah satu keinginan terbesarku sejak di bangku kuliah. Aku ingin mereka semua mencicipi bangku sekolah. Mencicipi berbagai ilmu yang bahkan mereka tidak pernah bayangkan akan mereka peroleh.
********
 Minat Hobi Ketertarikan: Dunia Pangan
 Skill Hard Soft: Ilmu Pangan, Komunikasi, Public Speaking, Agama Islam seputar Halal
 Isu Sosial: Kurang peduli dengan isu pangan halal
 Masyarakat: Semua kalangan
 Ide sosial: Memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kewajiban memilih makanan halal
Isu pangan halal ini mulai aku tekuni sejak kuliah dan bekerja di bidang pangan. Dan aku merasa wajib menularkan kepedulianku mengenai pangan halal kepada sekitarku. In syaa Allah.
Bismillah.

19 July 2017

NHW 7 : Menuju Bunda Produktif

Memasuki NHW 7 di tantangan IIP, para peserta diarahkan untuk mengunjungi situs temubakat.com guna menggali karakter dan minat bakat peserta. Sangat menarik. Aku yang selama ini hanya meraba-raba apa minat bakatku, diarahkan ke tes sejenis ini sangat tertarik. Rasanya terlambat di usia 26 tahun ini. Ah, daripada tidak sama sekali.

Berikut hasil tesku di situs tersebut:


Gambar 1. Potensi kekuatan dan kelemahan Sagita Nindyasari

Kuadran aktivitas Sagita Nindyasari:

Kuadran 1: Aktivitas yang suka dan bisa
Kuadran 2: Aktivitas yang suka tetapi tidak bisa
Kuadran 3: Aktivitas yang tidak suka tetapi bisa
Kuadran 4: Aktivitas yang tidak suka dan tidak bisa

Gambar 2. Kuadran aktivitas Sagita Nindyasari

10 July 2017

NHW 6 : Belajar Menjadi Manajer Keluarga

 3 aktivitas yang paling penting:
- Ibadah sebagai bentuk hubungan dengan Allah SWT seperti shalat, puasa, mengaji
- Menjalani peran sebagai istri dan ibu
- Memenuhi kebutuhan pribadi jasmani dan rohani
 3 aktivitas tidak (kurang) penting:
- Melihat-lihat postingan orang di medsos
- Ngobrol ngalur ngidul tanpa bahasan penting dan jelas dengan orang lain
- Menonton TV acara yang tidak bermanfaat dan dalam waktu lama
 Kandang Waktu
- Waktu untuk anak dan suami :
weekdays kurleb 13 jam (untuk anak, jika suami krrja) weekend kurleb 18 jam
- Waktu untuk ibadah :
kurleb 2 jam
- Waktu untuk pribadi :
weekdays kurleb 4 jam, weekend kurleb 3 jam
- Waktu untuk istirahat :
Kurleb 6 jam
 Jadwal harian pribadi (weekdays):
04.30 Bangun tidur, shalat Subuh
05.15 Mencuci pakaian
05.30 Memasak sarapan
06.15 Menjemur pakaian
06.25 Menyiapkan pakaian kerja suami
06.30 Menemani suami sarapan
06.45 Menyiapkan suami berangkat kerja
06.50 Bersih-bersih rumah
07.15 Memandikan anak
07.25 Menjemur anak
08.00 Membaca buku
09.00 Mandi dan istirahat
11.00 Mempersiapkan makan siang
12.00 Shalat dzuhur
12.10 Mengaji
12.30 Makan siang
13.00 Memantau bisnis online @kadounikkita
13.30 Pengepakan dan pengiriman @kadounikkita
14.30 Menonton TV
15.30 Shalat Ashar
15.40 Mandi dan persiapan suami pulang kerja
16.00 Suami pulang kerja
16.40 Ngobrol dengan suami seputar hari ini
17.00 Memandikan anak
17.15 Jalan-jalan sore
18.00 Shalat Maghrib
18.20 Mengaji dengan suami
19.00 Mempersiapkan makan malam
19.15 Shalat Isya
19.30 Makan malam
20.00 Menonton TV
21.00 Quality time dengan suami anak
22.00 Tidur
Catatan: Sejak memiliki bayi, kurleb per 2 jam menyusui bayi.

17 June 2017

NHW 5 : Belajar Bagaimana Caranya Belajar -ala saya-

NHW 5 Kelas Matrikulasi IIP kali ini aku ditantang untuk membuat apa-apa yang sudah tertuang dan terencana dengan baik pada NHW 1 - NHW 4 untuk di utak atik menjadi sejenis diagram belajar. Lebih mantapnya, "desain pembelajaran" namanya. Sebagaimana pada NHW 1 aku memilih ilmu ikhlas untuk bisa ku praktikkan dalam universitas kehidupanku, dan seiring berjalannya minggu aku menambahkan rencanaku untuk memperdalam dan menguasai ilmu pangan dan ilmu parenting islami. Dari kesemua inilah aku coba coret-coret menjadi kurikulum ala aku. Hehe.


Tabel Jurusan Keilmuan Universitas Kehidupan Sagita Nindyasari


Diagram Desain Pembelajaran Sagita Nindyasari

Semoga Allah izinkan aku mempraktikkan apa yang aku rencanakan. Karena aku bukan apa-apa tanpa Allah. Dan karena Allah Sebaik-baik Perencana.
Bismillaah.




10 June 2017

NHW 4 : Mendidik Dengan Fitrah, kenapa tidak (?)

Seperti pada NHW 1, aku (masih) tetap ingin memilih, mempelajari, hingga menguasai ilmu ikhlas di Universitas Kehidupan-ku. Sebagai tambahan dari pemikiranku beberapa minggu ini, aku ingin memperdalam ilmu pangan dan ilmu parenting secara Islami. Aku ingin mampu mendidik anak dalam koridor Islam. In syaa Allah. Demi dapat menjalaninya dengan baik, checklist yang sudah ku buat di NHW 2 harus dapat ku jalankan dengan istiqamah. Sejauh ini aku hampir 80% poin-poin di dalamnya sudah dapat ku jalankan dalam peranku secara pribadi, istri, calon ibu, dan lingkungan sekitar, walaupun masih harus terus dicapai konsistensinya.

Pada NHW 3 sebelumnya, aku perlahan memahami maksud Allah menciptakanku di muka bumi ini. Menjadikan aku, seorang Sagita Nindyasari, seorang istri untuk suami pilihanku yang in syaa Allah atas ridho Allah, in syaa Allah kelak memilih aku menjadi ibu untuk anak-anak (kami), dan menempatkan aku di lingkunganku yang sekarang. Tidak ada satu hal kecilpun luput dari maksud dan tujuan indah dari Maha Menentukan. 

Sebagai seorang yang selalu tertarik pada bidang pendidikan anak dan bidang pangan, aku ingin menjadi ibu yang berpendidikan baik dan ingin menjadi agen pangan yang bijak untuk lingkungan pada umumnya dan untuk anak-anak kami pada khususnya. Visi misi sebagai seorang Gita ingin bisa memberikan inspirasi dan manfaat untuk khalayak. Aku ingin berperan sebagai agen. Agen Islam, agen pangan, dan agen pendidikan yang baik. Dalam keluarga, aku (dan suami) pun memiliki tujuan hidup. Ah bukankah tujuan itu adalah tahap akhir? Apa ada yang namanya tujuan hidup? Saat masih dalam kehidupan? Rasanya tidak. Tujuan kami hanya ingin berkumpul bersama keluarga kelak di Syurga. Semoga kami bisa mendidik anak-anak kami dengan ikhlas atas izin Allah dalam koridor Islam. Walaupun kami tahu sekali lagi, ikhlas bukanlah ilmu yang mudah. Apalagi disandingkan dengan ilmu parenting di sisinya. Rasanya mimpi mustahil yang tidak mungkin mustahil atas izin Allah :)

Bidang ilmu parenting Islami dan bidang pangan memang banyak mengambil ruang di otakku. Untuk bisa menguasainya tentu aku harus memiliki tahapan ilmu seperti:
1. Bunda Sayang: ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan: ilmu seputar manajemen diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif: ilmu seputar pangan dan gizi, ilmu seputar bisnis online, manajemen finansial
4. Bunda Saleha: ilmu berbagi

Jika aku menetapkan KM 0 pada usiaku saat ini, 26 tahun, kemudian komitmen tinggi akan mencapai 10.000 jam terbang di bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Artinya, sejak saat inilah aku mendedikasikan 8 jam waktuku untuk mencari ilmu, mempraktikkan, menuliskan bersama suami, dan in syaa Allah menuliskan bersama anak kelak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun sudah dapat terlihat hasilnya in syaa Allah.

Milestone yang direncanakan:
KM 0 - KM 1 (tahun 1; usia 26-27 tahun) : Menguasai ilmu Bunda Sayang
KM 1 - KM 2 (tahun 2; usia 27-28 tahun) : Menguasai ilmu Bunda Cekatan
KM 2 - KM 3 (tahun 3; usia 28-29 tahun) : Menguasai ilmu Bunda Produktif
KM 3 - KM 4 (tahun 4; usia 29 - 30 tahun) : Menguasai ilmu Bunda Saleha

Catatan waktu ini akan menyesuaikan dengan checklist yang sudah dibuat pada NHW 2.

Kedepannya, semoga Allah mudahkan aku belajar menjadi istri dan ibu kebanggaan keluarga. Harapannya semoga apa-apa yang aku tulis bisa perlahan tapi pasti untuk diwujudkan. Tulisan ini bersifat fleksibel dan bisa aku ubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi dan situasi yang mungkin tidak terduga kelak.

Mendidik Dengan Fitrah, kenapa tidak (?) :)




3 June 2017

NHW 3 : Peradaban Dimulai dari Rumah


* Peradaban dimulai dari rumah *

Katanya, peradaban yang berkualitas dimulai dari rumah. Dan berhasilnya sebuah rumahtangga adalah peran kompak dari si istri dan si suami di bawah kuasa dan ridho Allah. Salah satu biar kompak dan menggemaskan, si istri bisa kali ya sesekali bikin surat cinta hehe. Ini kali pertama aku bikin surat cinta untuk laki-laki selama 26 tahun usiaku. Ah harusnya dikasih nih bukan ngasih :p Gantian ya Pak kapan-kapan aku dikasih yaaa hahaha. Surat cintaku yang tidak romantis bisa dilihat disini.


* Seputar potensi pada diri anak *

Saat ini anak kami belum lahir ke dunia, semoga Allah izinkan aku kelak melanjutkan tulisan bagian ini ketika anak kami sudah lahir dengan sehat dan berkembang dengan baik, Aamiin :)
Sedikit yang bisa aku bagi saat ini, salah satu potensi besar yang aku doakan ada pada anak-anak kami kelak adalah mau berbagi sehingga kelak bermanfaat untuk orang banyak. Aamiin :)


* Seputar potensi pada diri sendiri *

  • Aku suka memasak tapi ndak suka cuci piring x) -catatan: walaupun masih ndak enak suka aneh rasa masakannya haha yang penting nyobaa!~
  • Aku suka sekali membuat barang-barang handmade. DIY crafting gitu. Sejauh ini aku masih idealis dengan berpikiran -selama masih bisa bikin, kenapa beli- untuk barang-barang unyu seperti dekorasi rumah. Rencananya (dan semoga Allah mudahkan) kelak untuk mainan anak pun aku berencana bikin-bikin ketimbang beli-beli hehe aamiin.
  • Aku suka beberes rumah~~ Hehe aku super rewel dan marah-marah ga karuan kalo rumah berantakan dan kotor walaupun dikiit aja. Suami sampai membuat perjanjian "Kalo udah sampe rumah nanti jangan marah2 ya kalo berantakan" hahaha. Pun perihal binatang-binatang kayak pasukan semut di dalam rumah aja aku bisa rewel. Duh.
  • Aku suka mencatat. Apa-apa aku catat. Walaupun cuma sekedar belanja ke warung sayur. Entah ini potensi diri atau bukan, haha sepertinya lebih ke sadar diri karena termasuk pribadi pelupa.
  • Aku suka menulis dan membaca. Mengutip kalimat anonim yang pernah ku baca "Kalau kamu ingin mengenal dunia, membacalah. Kalau kamu ingin dunia mengenalmu, menulislah." :)
Setelah menulis potensi-potensi sederhana ini, terlintas pikiran "Ah iya bener juga ya. Ternyata aku begini dan suami begitu. Ya memang super beda tapi semoga memang bertujuan untuk saling melengkapi. Ini maksud Allah mempertemukan kami. Alhamdulillaah in syaa Allaah" :)


* Seputar lingkungan tempat tinggal *

Aku yang empat tahun diizinkan Allah mendapatkan banyak Ilmu Teknologi Pangan di kampusku dulu, sangat antusias untuk menjadi agen pangan yang baik. Hehe. Dan aku menjalankannya di keluarga dan lingkungan media sosialku. Kerap sekali perihal pangan (dan kesehatan) menjadi sasaran empuk penyebar hoax di media sosial. Aku, setiap menerima pesan masuk berbau hoax seputar pangan, sebisa mungkin memberikan klarifikasi dengan ilmu kuliahku. Entah itu mengenai kandungan berbahaya, isu non halal, dan lain sebagainya. Aku sadar dengan aku memilih menjadi Ibu Rumah Tangga (yang produktif), aku sudah tidak bisa lagi terjun di dunia industri pangan. Untuk itulah, aku berniat berjuang menjadi agen pangan untuk keluarga dan lingkunganku dengan ilmu yang pernah aku dapatkan.

Setelah menikah, aku dan suami menetap di suatu perumahan di Cileungsi, Bogor. Perumahan ini memiliki banyak warga 'senior' di dalamnya. Aku yang merupakan anak kemarin sore lumayan belum klik dengan mereka hehe terlebih perihal ber-adat kebiasaan berlingkungan disana. Semoga tidak lama lagi aku bisa 'masuk' dengan lingkungan ini. Perumahan ini termasuk perumahan yang sudah ramai, karena memang merupakan perumahan yang tergolong lama. Hampir semua warga disini memiliki usaha sendiri di rumahnya, terlebih lagi mereka yang memiliki rumah di pinggiran jalan. Walaupun jalan masuk perumahan dapat dibilang cukup jauh, tapi aku sangat mudah menemukan apapun di sekitar rumah kami. Dari berbagai jenis kuliner, toko sembako, toko pakaian, warung sayur, toko klontong, dan beberapa minimarket juga dengan mudah ditemukan. Aku termasuk yang sangat tergiur mengikuti jejak mereka untuk membuka usaha jual beli di rumah hehe. Sejauh ini bisnisku masih sebatas online, belum sampai tahap toko offline. Melihat ramainya peluang jual beli di perumahan ini, semoga kelak aku bisa membuka lapak offline untuk bisnisku.

Sebuah cita-cita lain yang sangat ingin aku wujudkan dari sebelum aku menikah: memiliki rumah singgah. Aku ingin bermanfaat untuk sekitarku, untuk lingkunganku, dengan membantu adik-adik prasejahtera bisa mendapatkan sosok seorang kakak, ibu, guru, dan sahabat bagi mereka. Paling tidak, aku yakin dengan ilmu dan pengalamanku pernah terjun di dalam komunitas Ilmu Berbagi, aku bisa merangkul mereka. Tapi sedih, seiring berjalannya waktu, aku merasa jauh dengan cita-citaku itu. Sejak menikah, seperti hilang waktuku untuk sosiopendidikan, untuk adik-adik itu. Manajemen waktuku yang sangat buruk adalah penyebab semuanya. Aku merasa menjadi istri paling -sok- sibuk sedunia sejak menikah. Ah, mau sampai kapan Git?! Bagaimanapun, hal buruk ini harus ku perbaiki demi terwujudnya impianku memeluk adik-adik yang membutuhkan pelukan.

Ceritanya Surat Cinta.

Assalamu'alaykum~ 👋

Dear Amas Tak Uk Uk,

Uhuy cie banget ndak sih aku bikin beginian~ Pasti Amas gembira deh senyum-senyum. Aku kapan-kapan mau ya dibikiniin *duh kok aku kasian minta* wkwk. Deg-degan ndak mau baca suratku? Deg-degan yhaa plis~

Amas luvv, seru yaa tau-tau udah bulan Juni. Perasaan baru akad kemarin. Haha gak sih, aku lebay~ Tapi iya ya tau-tau udah 10 bulan gini bareng-bareng. Seneng ndak? Wkwk pasti Amas seneng banget yakan bisa bareng aku terusss setelah Amas pontang-panting penuh peluh dan dahaga mengejar aku XD

Amas luvv, kalau diinget-inget lucu gitu dulu liat Amas senyum-seyum malu kalo ketemu aku yakan haha pede x). Gimana dulu Amas pas sidang digodain temen-temen dikasih cokelat atas nama aku padahal aku ndak pernah ngasih cokelat tsb dan bahkan aku ndak hadir di sidang Amas haha. Gimana dulu Amas nanya ke aku apakah aku available dan aku justru memilih menjauh kesel karena aku merasa kita sahabat ala-ala. Yah emang ndak bisa sahabatan murni kali ya perempuan dan laki-laki. Dan setelah aku menjauh untuk hijrahpun, eh bisa baliknya ke Amas lagi Amas lagi :') Dengan masih bertahannya, 2 tahun kemudian Amas dateng ke aku lagi "Git kamu udah ada yang khitbah belum?" itu kalimat terduar yang pernah aku denger selama itu. Rasanya mau masukin kepala ke dalem tempurung kayak kura-kura saking saltingnyaa masyaa Allaah. Dan keberanian Amas main ke rumah Bapak dan ketemu Bapak untuk bilang "Pak orangtua saya mau kesini bulan depan in syaa Allah" adalah kalimat tergemes yang pernah aku denger selama itu. Terakhir, "Saya terima nikah dan kawinnya Sagita Nindyasari binti Sudaryono" adalah kalimat termeleleeeeh sampek mau nangis geru-geru rasanya, selama hidup aku sampai saat itu.

Amas luvv, bener sih kata orang, nikah itu ena! Ehe. Aku sangat menikmati setiap harinya kita, setiap prosesnya kita belajar. Dan, bener juga kata orang, nikah itu penuh kejutan! Yang tadinya gatau jadi tau, yang tadinya ndak kenal jadi kenal, yang tadinya bukan masalah bisa jadi masalah besar penghancur mood satu minggu kedepan haha. Kebayang banget banyak kagetnya aku pas hidup di bawah atap yang sama dengan Amas. Pun dengan Amas, kebayang banget syoknya kan pas tiap hari yang ditemuin aku lagi-aku lagi. Tapi semoga asik-asik aja ya bisa dapet banyak kejutan setelah menikah. Jadi tau ternyata kalau aku itu begini dan Amas begitu. Jadi engeh kalo ternyata kita beda banget. Tapi Maha Besar Allah dengan kuasaNya menyatukan kita, membuat semuanya seimbang, saling isi, saling lengkap melengkapi.

Amas luvv, aku yang ribet gini kok ya ketemunya sama Amas yang ndak pernah ambil pusing. Aku yang vokal gini ketemunya sama Amas yang kalo ndak diajak ngomong ya ndak ngomong. Aku si anak metropolitan gini ketemunya sama Amas yang masa kecilnya main di kali wkwkwk. Aku yang perfeksionis gini ketemunya sama Amas yang spontan. Aku yang rapi-an dan bersih-an gini ketemunya Amas yang lumayan harus dijutekin dulu buat beberes. Uehehe.

Amas luvv, duh walaupun baru 10 bulan, tapi aku sudah banyak belajar dari Amas dan dari rumahtangga kita, dan akan terus belajar in syaa Allah. Harapan aku semoga Amas ndak pernah nyesel memilih aku untuk menjadi ibu dari anak-anak Amas kelak, seperti aku yang in syaa Allah mempercayai Amas mengimami aku dan anak-anak kelak dengan ilmu Islam yang terus kita asah setiap harinya. Terimakasih ya Amas luvv sudah bertanggungjawab padaku sampai hari ini dan semoga sampai akhir hayat kelak aamiin. Mohon maaf lahir bathin ya Amas kalo aku menyebelin, suka maksa-maksa Amas untuk bangun tidur misalnya. Doain ya aku masih punya stok sabar dan setrong buat sepanjang hidupku bangunin Amas tidur yang merupakan pekerjaan paling sulit sedunia T.T 

Amas luvv, Semoga walaupun aku begini amat kelakuannya tapi Allaah mudahkan aku menjadi istri shalihah. Semoga Allaah mengizinkan aku menjadi Ibu shalihah untuk anak-anak kita (kelak) sampai kita semua bisa berkumpul di Syurga Allaah kelak. Aamiin. Doain ya si calon kakak sehat-sehat sampai kita bertiga berjuang bersalin bulan depan in syaa Allaah :") Mari melanjutkan petualangan ini! Bantuin aku yaa.

Ana Uhibbuka fillah, zauji.
Jazakallaahu khayran ❤

Note: 4 x4 = 16. Sempat tidak sempat harus dibalas.

Love,
Bantal kirimu.

29 May 2017

Catatan Ayah ASI

Ini buku terbitan @ID_ayahasi di www.AyahASI.org . Monggo meluncur ke webnya. Webnya menarik! Berbagai pengetahuan untuk para ayah yang (wajib) turut serta membantu Ibuk-ibuk dalam mengASIhi bayinya -syukur2- hingga 2tahun :) 

Ilmu tentang ASI itu bukan hanya si ibuk yang harus paham, tapi juga si ayah. Belajar mengASIhi itu bukan hanya tugas si ibuk tapi sangat amat butuh dukungan peran serta sang ayah di dalamnya.
MengASIhi itu tidak mudah. Tapi juga tidak sulit. Sekali lagi, asal ibuk dan ayah bekerjasama.

Buku ini memberi sudut pandang lain tentang peran ayah dalam urusan menyusui. Selama proses pemberian ASI untuk buah hati, ayah dapat dan sangat bisa berperan bagi keberhasilan proses tersebut. Tidak sedikit istri yang dilanda baby blues, saat itu ia tak percaya diri karena kualitas dan kuantitas ASInya diragukan. Ayahlah sosok yang tepat menjadi tempat sandaran. Seiring perjalanan, ayah akan paham apa saja yang dibutuhkan dan bisa dilakukan agar produksi, pemberian ASI, dan manajemen ASI lancar.

Buku Catatan Ayah ASI
Sumber: Tokobaca



Recommended book!
Aku membeli di suatu toko online nama penjualnya tokobaca dengan harga Ro 47.500. Bisa juga didapatkan di akun instagram @tokobaca atau di toko-toko online lainnya.
Saya pribadi memberi nilai 10/10 karena memang butuh untuk dimiliki (calon) ayah ASI dan ayah ASI :3

27 May 2017

NHW 2 : Dan Menjadi Kebanggaan Keluarga Adalah Target

Memasuki pekan kedua belajar di kelas Institut Ibu Profesional (IIP) ini tantangannya makin membuatku tertantang (!) Bahwa menjadi ibu profesional kebanggaan keluarga itu tidak mudah. Bahwa menjadi ibu profesional kebanggaan keluarga itu membutuhkan indikator tertentu -yang bisa kita buat sendiri- hingga mencapai target tertentu -yang bisa kita tentukan sendiri-. Menjadi yang dibanggakan oleh keluarga tentu bukan perjuangan seorang diri. Membutuhkan dukungan dan kerjasama dari peran lain di keluarga, yakni suami dan anak. Dan aku senang melibatkan mereka dalam membantu aku untuk bisa menjadi yang mereka banggakan. 

Indikator ini aku buat atas dasar pemikiran sendiri dan hasil diskusi dengan suami. Hehe, iya calon anak alhamdulillah in syaa Allah masih di dalam kandungan. Semoga tidak sampai dua bulan lagi kita bisa ketemu ya Nduk aamiin *elus-elus perut*. Aku, sebagai pribadi, tentu memiliki target sendiri dalam peranku sebagai hamba Allah, sebagai makhluk bersosial, dan sebagai pribadi yang ingin terus mengembangkan diri. Sementara aku, sebagai istri, tentu tidak bisa berdiri sendirian. Adalah suami yang membantuku menentukan indikator dan target capaian sesuai dengan apa yang diinginkan suami dan dalam koridor Allah. Perihal poin-poin sebagai (calon) ibu, aku dan suami sementara ini masih (hanya) membayangkan, mendiskusikan, apa-apa yang ingin kami bentuk pada diri anak kami kelak.

Indikator checklist dalam bentuk xls file dapat dilihat disini. Semua tulisan harapan-harapan ini, tentu tidak akan tercapai tanpa izin dan pertolongan Allaah. Semoga Allaah memudahkan.

Sebagai Individu

Sebagai Istri

Sebagai Ibu





19 May 2017

I call it "Love" ❤

Sejak awal berumahtangga, rasanya ingin membagi semua pengalamanku. Membagi penggalan-penggalan kehidupan baruku. Tapi setelah menjalaninya langsung, benar kata mereka kebanyakan, kalau kehidupan rumahtangga membuat kita (aku-istri) memiliki kewajiban baru, memiliki tanggung jawab lebih hingga akherat kelak. Bukan suatu kesepelean yang bisa disambil sambil goler-goler ngetik satu dua cerita untuk dipost di blog.
Ih. Alesan ajasih ya. Haha.

Tapi masih tetap menjadi keinginan kalau sedikit-sedikit aku akan berbagi sedikit kebahagiaanku dengan harapan bisa menularkan kepada pembaca.

Hari ini tidak seperti biasanya. Aku merasa harus segera berbagi kisahku. Kisah yang bagi orang lain menjadi sangat biasa. Tapi bagiku ini berbeda. Aku merasakan apa yang selama ini belum aku rasakan. Maksudku, sedalam ini.

Setelah 9 bulan aku dan Mas Hasrul berumahtangga, aku mulai merasakan apa yang kata orang jatuh cinta setiap hari. Hari ini aku jatuh begitu dalam *caelah*. Bukan, bukan aku terlena. Bukan aku menomorsekiankan Tuhanku setelah suamiku. Bukan itu.


Hari ini kalau dihitung-hitung kehamilanku sudah bulan ke-8. Worry dan excited makin membuncah di dalam hati. Mungkin ini kenapa fisik dan batinku tidak karuan. Dua minggu lalu aku mengalami sedikit gangguan di kehamilanku. Bohong kalau psikisku baik-baik saja setelah mengetahuinya. Dan hari ini sepertinya puncaknya. Walaupun kata Suami, ini hanya masuk angin biasa, tapi aku merasa ini puncak stressku. Aku tidak bisa mengelola stressku dengan baik.

Bangun pagi seperti biasanya, tidak ada yang berbeda. Aktivitas dapur pun berlanjut. Semua berjalan normal. Sampai akhirnya aku menghampiri suamiku di kamar dan mengeluhkan sakit di perutku. Mendadak keringat dingin terasa mengalir di punggungku. Tanganku terasa dingin. Semua terjadi dengan cepat saat itu. Setelah mencoba berbaring, ternyata tetap tidak bisa membuat tubuhku membaik. Sampai akhirnya aku mual dan muntah. Saat itu suami menolongku, membalurkan minyak kayu putih di tengkukku, dan memijat pelan sampai aku bisa lega mengeluarkan semuanya, bahkan sampai pada saat aku tidak bisa mengendalikannya dan semua tertumpahkan di lantai. Setelah bagian mulutku dibersihkan dengan tisu, aku dibawa kembali berbaring. Aku memaksakan diri untuk tidur. Pak suami berada di sisiku untuk mengipas-ngipasi sampai aku bisa tertidur.

Aku terbangun setelah sekitar 1.5 jam tertidur. Jam menunjukkan sekitar pukul 8 pagi. Pak suami masih menjaga di sisiku. Beliau tidak masuk kerja, sementara hari ini seharusnya beliau masuk jam 7 pagi. Beliau memakai jatah cutinya hari ini. Aku merasa tubuhku membaik. Kakak bayi dalam perutku juga aktif bergerak seakan mengajakku bersemangat untuk tetap sehat dan melawan sakit dan stressku. Sedikit demi sedikit aku coba sarapan, dan ternyata aku salah. Tubuhku belum bisa menerima. Keluar lagi apa-apa yang barusan aku makan. Pak suami masih terus membantuku.

Akhirnya aku menghentikan aktivitasku dan aku mencoba tidur kembali. Belajar dari kejadian pertama, tidur bisa menjadi obat terbaik dalam kasusku hari ini. Aku dan pak suami sudah khawatir kalau-kalau ini kontraksi dan sudah waktunya bersalin. Tidak, in syaa Allah kakak bayi akan lahir di waktu yang tepat nanti. Aamiin.

Aku kembali terbangun sekitar pukul 11. Aku merasakan lebih segar, jauh lebih enak. Aku lihat pak suami tertidur di sampingku :") Lelah pasti. Aku paksakan makan dan benar Alhamdulillah tubuhku sudah menerima makanan dengan baik. Semua bisa masuk dengan normal. Aku menuju dapur untuk berniat membersihkan semua hasil mual dan keluaranku tadi pagi. Tapi masyaa Allah. Dapur rumah kami bersih. Pak suami sudah membersihkannya. Ya, siapa lagi? Kami hanya berdua di rumah ini. Aku terdiam. Bagaimana mungkin sosok laki-laki dengan tingkat gengsi diatas rata-rata mau membersihkan kotoran yang bagi mayoritas orang merupakan hal yang sangat menjijikkan. And he did it. My husband did it well.

Hal ini membuat aku terenyuh seharian. Hari itu aku sangat jatuh hati. Kadang, hal kecil bisa membuat kita sangat merasa tinggi. Sangat merasa dijunjung, disayang. Hal sesepele ini. Bagi aku -yang mengetahui bagaimana tingkat gengsi pak suami dan bagaimana aku yang selalu mengingatkan pak suami jika tidak sebersih aku- , hari ini aku merasa ditampar. Aku merasa sangat dicintai. Semoga Allah mengizinkan suasana harmonis ini selalu hadir dalam keluarga kecil kami. Aamiin.

Dear Amas, ana uhibbuka fillah. Jazakallaahu khayran :""") Love!

16 May 2017

NHW 1 : Jurusan Ilmu Ikhlas di Universitas Kehidupan

Memutuskan bergabung menjadi murid di kelas Institut Ibu Profesional memang butuh keyakinan yang serius. Ditambah, mengikutinya di saat kondisiku sedang hamil 8 bulan. Tapi ya ku pikir, kapan lagi? Kelak jika memiliki anak, belum tentu aku bisa istiqamah menuntut ilmu yang memang seharusnya menjadi kewajibanku dan menjadi hak anak-anakku memiliki ibu yang cerdas. berilmu.

Begitu masuk? Kaget bukan main. Penuh dengan tantangan. Ya, di dalamnya berbagai tantangan harus dikerjakan. Lagi-lagi, karena menjadi ibu biasa itu mudah, menjadi ibu profesional itu langka. Dan menjadi profesional itu butuh ilmu. Aku percaya~

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: 
الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ
"Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka
HR. Abu Daud, dishahihkan Syaikh Albani rahimahullah dalam Shahihul Jaami’ no. 67

Semua ada aturannya. Semua ada adabnya. Termasuk dalam Thalabul 'Ilmi. Masuk ke dalam kelas ini, artinya akupun harus siap dengan segala tantangan yang diberikan. Iya, tantangan. Bukan tugas. Ah toh tantangannya semua terdengar menarik. Hihi.
*****

Mengawali kelas IIP ini, kami diarahkan untuk menuliskan apa jurusan yang kami ingin tekuni di Universitas Kehidupan ini. Mau nangis geru-geru deh pas dapet tugas ini huhu. Karena ini aku banget. Aku adalah tipe orang yang gampang kepengenan dan tidak fokus. Kini aku 'dipaksa' fokus pada pilihan jurusanku di Universitas Kehidupanku. Coret sana coret sini menjatuhkan aku pada keyakinan untuk fokus pada sebuah ilmu yang memiliki derajat tertinggi dan tersulit di dunia dan di antariksa ini.

Ilmu ikhlas.

Ikhlas (katanya) artinya memurnikan tujuan. Atau dalam Islam, menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan atau mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berorientasi hanya kepada Allah.

Aku adalah pribadi yang sangat jauh dari ilmu ikhlas. Hal ini yang menjadikan akupun jauh dari ilmu syukur dan segala ilmu-ilmu baik lainnya. Aku wajib mampu mengamalkan ilmu ikhlas karena ini adalah ibuknya ilmu. Ilmu segala ilmu. Puncak ilmu dari segala cabang ilmu. Ah, aku masih sangat jauh. Jangankan mengamalkan, memilikinya saja aku belum punya rasanya.
*****

Strategi yang harus perlahan aku coba untuk memasuki jurusan ilmu ikhlas di Universitas Kehidupan-ku ini antara lain:

✔ Percaya pada Allah
Semua sudah digariskan sendiri oleh Allah. Tantangannya adalah apakah aku bisa menerima semua kehendakNya. Tidak pilih-pilih hanya mau menerima yang enak-enak buat aku aja. Nanti aku jadi ndak belajar dong kalau maunya enak melulu (?) 
:(

✔ Meluruskan niat
Meluruskan niat, untukku, adalah sesulit-sulitnya pekerjaan. Bukan hanya pada satu poin, tapi pada banyak poin. Habluminallah dan habluminannas. Semua urusankan dengan Allah hendaklah semata-mata diharuskan dengan mengharap hanya pada ridho Allah. Harapannya, tubuhku bisa lebih ringan beribadah, hatiku bisa lebih bahagia di bawah segala ridho-Nya. Hubunganku dengan keluarga juga bukan hal yang tidak akan dipertanggungjawabkan kelak di akherat. Bagaimana aku harus meluruskan niatku berumahtangga. Bagaimana tujuan yang aku capai dalam rumah mungil ini. Selain itu, urusan lingkungan diluar domestik rumahtangga pun tidak bisa diabaikan. Bagaimana aku harus meluruskan niat dalam bisnis online yang sedang aku jalani. Semua kembali pada tanda tanya besar: Apasih tujuanku (?)

✔ Ringan dalam bersyukur
Sungguh ini mudah dalam teori tapi lumayan sulit dalam praktik. Padahal kalau saja aku sadar bahwa syukur adalah sumber kehidupan ini. ah!
Ada, bersyukur.
Tidak ada, bersyukur.
Suka, bersyukur.
Sedih, bersyukur.

✔ Siap kecewa
Mungkin lebih halusnya: Belajar memaknai kekecewaan. Caranya? Melapangkan dada selebar-lebarnya dunia deh. Nyetok sabar yang banyak hehe. Sedikit demi sedikit segala standar ketinggian memang harus aku turunkan. Segala ekspektasi maksimum memang harus aku rendahkan. Karena kekecewaan sangat mungkin menyenggol aku. Ketika Allah izinkan aku mencicipi rasanya kecewa, ketika itu pula aku merasa lebih dewasa. Ca'elah uhuy gaya ya :3 Aku hanya tidak boleh menolak kekecewaan itu. Karena jika aku menolak, bukan tidak mungkin kekecewaanku justru akan semakin besar.

✔ Rajin ngaca
*terus sisiran deh* hehe gak ding.
Maksudnya bukan bersolek sih. Ini lebih ke aku emang harus rajin-rajin ngaca. Rajin-rajin sadar diri. Rajin-rajin evaluasi diri. Jadi kelak aku tidak lagi seperti sekarang, cenderung membela diri sendiri daripada menyadarkan diri ini ketika salah.

✔ Mendoakan orang lain
Ini salah satu cara untuk menurundrastiskan egoku. Ego yang udah sedemikian sukses membuat aku enggan melihat orang sekitarku bahagia. Ego yang telah membuat aku iri dengan yang orang lain punya dengan mudah tapi aku ndak (atau belum) punya. Padahal, jika aku mau mendoakan orang lain dengan baik, tentu aku akan menemukan ketenangan. Tenang melihat orang lain berpunya. Tentram melihat orang lain bahagia. Puncaknya? Jauh dari rasa dengki.

✔ Berteman dengan lingkungan yang baik
Ini wajib sih. Kan kata orang jaman dulu, temenan sama pedagang minyak wangi, kena wanginya hehe. Jadi aku harus berteman dengan mereka yang ikhlas untuk mengambil ilmu yang buanyak dari mereka.
*****

Demi sukses di Jurusan Ilmu Ikhlas ini, tentu ada banyaaaak hal negatif padaku yang harus ku perbaiki, dua diantaranya (iya dua aja, malu kalo banyak, ya namanya juga manusia, gamau keliatan banyak jeleknya :p) yaitu:

✔ Prasangka buruk
Mengutip kata sahabatku: Lebih baik berprasangka baik tapi salah, daripada berprasangka buruk tapi benar.

✔ Merasa sudah ikhlas
Merasa sudah segalanya deh. Merasa sudah ikhlas. Merasa sudah tau. Merasa sudah baik. Merasa sudah pinter. Bahaya banget pokoknya. Ini bisa menggerogoti darah banget. Padahal aku mah apa kalau aibku ndak ditutup oleh Allahu Rabbi *nangis*. Justru sikap ku yang -merasa segalanya- ini bisa menjatuhkan kadar ikhlasku di hadapan Allah.

Bismillah. Semoga perlahan-lahan aku bisa terus belajar dengan baik di Jurusan Ikhlas, Fakultas Susah, Universitas Kehidupan ini. Dan kelak lulus bertoga dengan predikat summa cumlaude :"))

Kenapa memutuskan ikut IIP?

IIP (Institut Ibu Profesional) ini bentukan dari Buk Septi Peni bersama tim nya yang luarbiasa. Pertama kali tau infonya dari teman. Begitu mendengar namanya, menarik bukan (?).

Ibu Profesional? Cukup membuat mengernyitkan dahi. Apakah iya menjadi Ibu harus profesional? Bukannya menjadi Ibu itu mudah? Atau memang harus butuh ilmu? Ah, aku sudah masuk ke dunia rumahtangga yang dengan agag ku sesalinya masuknya dengan sedikit ilmu. Padahal, -baru jadi istri saja-. Apalagi jika menambah peran menjadi Ibu? Jelas pasti tidak mudah. Menjadi Ibu yang biasa saja semua bisa. Tapi menjadi Ibu yang profesional, pasti ada tips triknya. Pasti banyak suka dukanya. Pasti banyak tantangannya.

Dan aku? Jelas tidak mau menjadi Ibu yang biasa. Aku ingin menjadi Istri yang luarbiasa. Aku ingin menjadi Ibu yang profesional :)
Institut Ibu Profesional

Semoga ikhtiarku bergabung IIP ini bisa menjadikan masakanku dihabiskan di keluarga kecil ini, ilmuku bermanfaat di keluarga kecil ini, airmataku kelak dihapuskan di keluarga kecil ini, pelukanku diharapkan di keluarga kecil ini, dan waktuku selalu dirindukan di keluarga kecil ini :)

28 March 2017

Menyantap Bakmi Jogja di Kandang Sapi

Hehe kedengerannya menjijikkan ya? Padahal ndaak lhooo. Tempatnya remang-remang seru gimanaaah gitu wkwk. Antik deh super unique karena memang menggunakan bekas kandang sapi! Tapi jangan khawatir tempatnya bersih dan rapi kook kan udah hasil renov wkwk.

Bakmi Jowo Mbah Gito tampak depan
Sumber: http://kesiniaja.com/kuliner/bakmi-jowo-mbah-gito/

Namanya Warung Bakmi Jawa Mbah Gito.
duh kayak namaku versi lanang ae :3

Bakmi Jowo Mbah Gito 1
Sumber: http://www.borukaro.com/bakmi-jowo-mbah-gito-jogjakarta/


Bakmi Jowo Mbah Gito 2
Sumber: http://www.windacarmelita.com/2016/12/bakmi-mbah-gito.html

Hampir semua sudut ruangan penuh dengan kayu-kayu batang pohon gituu, mulai dari tiang, meja, kursi, asbak, dan lain-lain hihi. Pegawainya banyaaak dan berseragam. Kita bisa langsung liat dapurnya puun karena terbuka di area pengunjung.

Menu Bakmi di Bakmi Mbah Gito
Sumber: https://www.tripadvisor.com/LocationPhotoDirectLink-g294230-d7112547-i132375563-Bakmi_Jowo_Mbah_Gito-Yogyakarta_Java.html

Seperti namanya mie Jawa, jelas warung ini menyajikan bakmi2an dari bakmi godog, bakmi goreng, mangelangan. Pengunjung yang ndak mau menyantap mie juga bisa menyantap menu lain yang ndak kalah enyaak kayak nasgor dan ayam rica-rica :3.

Gelato Italia di Pusat Yogyakarta

Namanya Artemy Italian Gelato. Lokasi depot gelato ini berada di samping Hotel Ibis (sebelah Malioboro Mall) Yogyakarta. Dipisahkan oleh sebuah jalan. Artemy Italian Gelato ini termasuk gelato yang awal berdiri di Yogyakarta, menyuguhkan suasana kafe Italia mini yang nyaman untuk beristirahat setelah berkeliling Malioboro. Yogya yang semakin panas membuat depos es banyak dicari, salah satunya Artemy Gelato ini.

Sayang, tempatnya terhitung lumayan kecil, mungkin hanya ada sekitar 3 meja dengan masing-masing 4 kursi di dalamnya. Tapi untuk rasa dan harga, gelato yang satu ini bisa banget bersaing dengan gelato-gelato lain yang mulai menjamur di Yogyakarta :))

Artemy Italian Gelato tampak depan
Sumber: https://afternoonshine.wordpress.com/2011/10/04/artemy-italian-gelato/

Untuk menu gelato, Artemy menyediakan lebih dari 20 macam rasa, di antaranya cookies, oreo, green tea, tiramisu, vanilla, hazelnut, rhum raisin, dark chocolate, snickers, cotton candy, white forest, dan masih banyak lagi. Untuk varian sorbetnya, Anda dapat memilih rasa kiwi, strawberry, apel, lemon, nanas, mangga, blackcurrant, pisang, dan masih banyak lagi. Selain itu tersedia aneka snack yang dapat menemani saat santai Anda, seperti pancake, croissant, cheese stick, sausage brood, chicken pie, french fries, smoked beef risoles, dan masih banyak lagi.

Daftar Menu Artemy Italian Gelato
Sumber: http://anggialfonso.com/eskrim-artemy-italian-gelato-jogja/

Etalase Artemy Italian Gelato
Sumber: http://kuliner.panduanwisata.id/indonesia/pulau-jawa/yogyakarta/artemy-italian-gelato-jogja-rasa-italia-yang-istimewa/