29 May 2017

Catatan Ayah ASI

Ini buku terbitan @ID_ayahasi di www.AyahASI.org . Monggo meluncur ke webnya. Webnya menarik! Berbagai pengetahuan untuk para ayah yang (wajib) turut serta membantu Ibuk-ibuk dalam mengASIhi bayinya -syukur2- hingga 2tahun :) 

Ilmu tentang ASI itu bukan hanya si ibuk yang harus paham, tapi juga si ayah. Belajar mengASIhi itu bukan hanya tugas si ibuk tapi sangat amat butuh dukungan peran serta sang ayah di dalamnya.
MengASIhi itu tidak mudah. Tapi juga tidak sulit. Sekali lagi, asal ibuk dan ayah bekerjasama.

Buku ini memberi sudut pandang lain tentang peran ayah dalam urusan menyusui. Selama proses pemberian ASI untuk buah hati, ayah dapat dan sangat bisa berperan bagi keberhasilan proses tersebut. Tidak sedikit istri yang dilanda baby blues, saat itu ia tak percaya diri karena kualitas dan kuantitas ASInya diragukan. Ayahlah sosok yang tepat menjadi tempat sandaran. Seiring perjalanan, ayah akan paham apa saja yang dibutuhkan dan bisa dilakukan agar produksi, pemberian ASI, dan manajemen ASI lancar.

Buku Catatan Ayah ASI
Sumber: Tokobaca



Recommended book!
Aku membeli di suatu toko online nama penjualnya tokobaca dengan harga Ro 47.500. Bisa juga didapatkan di akun instagram @tokobaca atau di toko-toko online lainnya.
Saya pribadi memberi nilai 10/10 karena memang butuh untuk dimiliki (calon) ayah ASI dan ayah ASI :3

27 May 2017

NHW 2 : Dan Menjadi Kebanggaan Keluarga Adalah Target

Memasuki pekan kedua belajar di kelas Institut Ibu Profesional (IIP) ini tantangannya makin membuatku tertantang (!) Bahwa menjadi ibu profesional kebanggaan keluarga itu tidak mudah. Bahwa menjadi ibu profesional kebanggaan keluarga itu membutuhkan indikator tertentu -yang bisa kita buat sendiri- hingga mencapai target tertentu -yang bisa kita tentukan sendiri-. Menjadi yang dibanggakan oleh keluarga tentu bukan perjuangan seorang diri. Membutuhkan dukungan dan kerjasama dari peran lain di keluarga, yakni suami dan anak. Dan aku senang melibatkan mereka dalam membantu aku untuk bisa menjadi yang mereka banggakan. 

Indikator ini aku buat atas dasar pemikiran sendiri dan hasil diskusi dengan suami. Hehe, iya calon anak alhamdulillah in syaa Allah masih di dalam kandungan. Semoga tidak sampai dua bulan lagi kita bisa ketemu ya Nduk aamiin *elus-elus perut*. Aku, sebagai pribadi, tentu memiliki target sendiri dalam peranku sebagai hamba Allah, sebagai makhluk bersosial, dan sebagai pribadi yang ingin terus mengembangkan diri. Sementara aku, sebagai istri, tentu tidak bisa berdiri sendirian. Adalah suami yang membantuku menentukan indikator dan target capaian sesuai dengan apa yang diinginkan suami dan dalam koridor Allah. Perihal poin-poin sebagai (calon) ibu, aku dan suami sementara ini masih (hanya) membayangkan, mendiskusikan, apa-apa yang ingin kami bentuk pada diri anak kami kelak.

Indikator checklist dalam bentuk xls file dapat dilihat disini. Semua tulisan harapan-harapan ini, tentu tidak akan tercapai tanpa izin dan pertolongan Allaah. Semoga Allaah memudahkan.

Sebagai Individu

Sebagai Istri

Sebagai Ibu





19 May 2017

I call it "Love" ❤

Sejak awal berumahtangga, rasanya ingin membagi semua pengalamanku. Membagi penggalan-penggalan kehidupan baruku. Tapi setelah menjalaninya langsung, benar kata mereka kebanyakan, kalau kehidupan rumahtangga membuat kita (aku-istri) memiliki kewajiban baru, memiliki tanggung jawab lebih hingga akherat kelak. Bukan suatu kesepelean yang bisa disambil sambil goler-goler ngetik satu dua cerita untuk dipost di blog.
Ih. Alesan ajasih ya. Haha.

Tapi masih tetap menjadi keinginan kalau sedikit-sedikit aku akan berbagi sedikit kebahagiaanku dengan harapan bisa menularkan kepada pembaca.

Hari ini tidak seperti biasanya. Aku merasa harus segera berbagi kisahku. Kisah yang bagi orang lain menjadi sangat biasa. Tapi bagiku ini berbeda. Aku merasakan apa yang selama ini belum aku rasakan. Maksudku, sedalam ini.

Setelah 9 bulan aku dan Mas Hasrul berumahtangga, aku mulai merasakan apa yang kata orang jatuh cinta setiap hari. Hari ini aku jatuh begitu dalam *caelah*. Bukan, bukan aku terlena. Bukan aku menomorsekiankan Tuhanku setelah suamiku. Bukan itu.


Hari ini kalau dihitung-hitung kehamilanku sudah bulan ke-8. Worry dan excited makin membuncah di dalam hati. Mungkin ini kenapa fisik dan batinku tidak karuan. Dua minggu lalu aku mengalami sedikit gangguan di kehamilanku. Bohong kalau psikisku baik-baik saja setelah mengetahuinya. Dan hari ini sepertinya puncaknya. Walaupun kata Suami, ini hanya masuk angin biasa, tapi aku merasa ini puncak stressku. Aku tidak bisa mengelola stressku dengan baik.

Bangun pagi seperti biasanya, tidak ada yang berbeda. Aktivitas dapur pun berlanjut. Semua berjalan normal. Sampai akhirnya aku menghampiri suamiku di kamar dan mengeluhkan sakit di perutku. Mendadak keringat dingin terasa mengalir di punggungku. Tanganku terasa dingin. Semua terjadi dengan cepat saat itu. Setelah mencoba berbaring, ternyata tetap tidak bisa membuat tubuhku membaik. Sampai akhirnya aku mual dan muntah. Saat itu suami menolongku, membalurkan minyak kayu putih di tengkukku, dan memijat pelan sampai aku bisa lega mengeluarkan semuanya, bahkan sampai pada saat aku tidak bisa mengendalikannya dan semua tertumpahkan di lantai. Setelah bagian mulutku dibersihkan dengan tisu, aku dibawa kembali berbaring. Aku memaksakan diri untuk tidur. Pak suami berada di sisiku untuk mengipas-ngipasi sampai aku bisa tertidur.

Aku terbangun setelah sekitar 1.5 jam tertidur. Jam menunjukkan sekitar pukul 8 pagi. Pak suami masih menjaga di sisiku. Beliau tidak masuk kerja, sementara hari ini seharusnya beliau masuk jam 7 pagi. Beliau memakai jatah cutinya hari ini. Aku merasa tubuhku membaik. Kakak bayi dalam perutku juga aktif bergerak seakan mengajakku bersemangat untuk tetap sehat dan melawan sakit dan stressku. Sedikit demi sedikit aku coba sarapan, dan ternyata aku salah. Tubuhku belum bisa menerima. Keluar lagi apa-apa yang barusan aku makan. Pak suami masih terus membantuku.

Akhirnya aku menghentikan aktivitasku dan aku mencoba tidur kembali. Belajar dari kejadian pertama, tidur bisa menjadi obat terbaik dalam kasusku hari ini. Aku dan pak suami sudah khawatir kalau-kalau ini kontraksi dan sudah waktunya bersalin. Tidak, in syaa Allah kakak bayi akan lahir di waktu yang tepat nanti. Aamiin.

Aku kembali terbangun sekitar pukul 11. Aku merasakan lebih segar, jauh lebih enak. Aku lihat pak suami tertidur di sampingku :") Lelah pasti. Aku paksakan makan dan benar Alhamdulillah tubuhku sudah menerima makanan dengan baik. Semua bisa masuk dengan normal. Aku menuju dapur untuk berniat membersihkan semua hasil mual dan keluaranku tadi pagi. Tapi masyaa Allah. Dapur rumah kami bersih. Pak suami sudah membersihkannya. Ya, siapa lagi? Kami hanya berdua di rumah ini. Aku terdiam. Bagaimana mungkin sosok laki-laki dengan tingkat gengsi diatas rata-rata mau membersihkan kotoran yang bagi mayoritas orang merupakan hal yang sangat menjijikkan. And he did it. My husband did it well.

Hal ini membuat aku terenyuh seharian. Hari itu aku sangat jatuh hati. Kadang, hal kecil bisa membuat kita sangat merasa tinggi. Sangat merasa dijunjung, disayang. Hal sesepele ini. Bagi aku -yang mengetahui bagaimana tingkat gengsi pak suami dan bagaimana aku yang selalu mengingatkan pak suami jika tidak sebersih aku- , hari ini aku merasa ditampar. Aku merasa sangat dicintai. Semoga Allah mengizinkan suasana harmonis ini selalu hadir dalam keluarga kecil kami. Aamiin.

Dear Amas, ana uhibbuka fillah. Jazakallaahu khayran :""") Love!

16 May 2017

NHW 1 : Jurusan Ilmu Ikhlas di Universitas Kehidupan

Memutuskan bergabung menjadi murid di kelas Institut Ibu Profesional memang butuh keyakinan yang serius. Ditambah, mengikutinya di saat kondisiku sedang hamil 8 bulan. Tapi ya ku pikir, kapan lagi? Kelak jika memiliki anak, belum tentu aku bisa istiqamah menuntut ilmu yang memang seharusnya menjadi kewajibanku dan menjadi hak anak-anakku memiliki ibu yang cerdas. berilmu.

Begitu masuk? Kaget bukan main. Penuh dengan tantangan. Ya, di dalamnya berbagai tantangan harus dikerjakan. Lagi-lagi, karena menjadi ibu biasa itu mudah, menjadi ibu profesional itu langka. Dan menjadi profesional itu butuh ilmu. Aku percaya~

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: 
الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ
"Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka
HR. Abu Daud, dishahihkan Syaikh Albani rahimahullah dalam Shahihul Jaami’ no. 67

Semua ada aturannya. Semua ada adabnya. Termasuk dalam Thalabul 'Ilmi. Masuk ke dalam kelas ini, artinya akupun harus siap dengan segala tantangan yang diberikan. Iya, tantangan. Bukan tugas. Ah toh tantangannya semua terdengar menarik. Hihi.
*****

Mengawali kelas IIP ini, kami diarahkan untuk menuliskan apa jurusan yang kami ingin tekuni di Universitas Kehidupan ini. Mau nangis geru-geru deh pas dapet tugas ini huhu. Karena ini aku banget. Aku adalah tipe orang yang gampang kepengenan dan tidak fokus. Kini aku 'dipaksa' fokus pada pilihan jurusanku di Universitas Kehidupanku. Coret sana coret sini menjatuhkan aku pada keyakinan untuk fokus pada sebuah ilmu yang memiliki derajat tertinggi dan tersulit di dunia dan di antariksa ini.

Ilmu ikhlas.

Ikhlas (katanya) artinya memurnikan tujuan. Atau dalam Islam, menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan atau mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berorientasi hanya kepada Allah.

Aku adalah pribadi yang sangat jauh dari ilmu ikhlas. Hal ini yang menjadikan akupun jauh dari ilmu syukur dan segala ilmu-ilmu baik lainnya. Aku wajib mampu mengamalkan ilmu ikhlas karena ini adalah ibuknya ilmu. Ilmu segala ilmu. Puncak ilmu dari segala cabang ilmu. Ah, aku masih sangat jauh. Jangankan mengamalkan, memilikinya saja aku belum punya rasanya.
*****

Strategi yang harus perlahan aku coba untuk memasuki jurusan ilmu ikhlas di Universitas Kehidupan-ku ini antara lain:

✔ Percaya pada Allah
Semua sudah digariskan sendiri oleh Allah. Tantangannya adalah apakah aku bisa menerima semua kehendakNya. Tidak pilih-pilih hanya mau menerima yang enak-enak buat aku aja. Nanti aku jadi ndak belajar dong kalau maunya enak melulu (?) 
:(

✔ Meluruskan niat
Meluruskan niat, untukku, adalah sesulit-sulitnya pekerjaan. Bukan hanya pada satu poin, tapi pada banyak poin. Habluminallah dan habluminannas. Semua urusankan dengan Allah hendaklah semata-mata diharuskan dengan mengharap hanya pada ridho Allah. Harapannya, tubuhku bisa lebih ringan beribadah, hatiku bisa lebih bahagia di bawah segala ridho-Nya. Hubunganku dengan keluarga juga bukan hal yang tidak akan dipertanggungjawabkan kelak di akherat. Bagaimana aku harus meluruskan niatku berumahtangga. Bagaimana tujuan yang aku capai dalam rumah mungil ini. Selain itu, urusan lingkungan diluar domestik rumahtangga pun tidak bisa diabaikan. Bagaimana aku harus meluruskan niat dalam bisnis online yang sedang aku jalani. Semua kembali pada tanda tanya besar: Apasih tujuanku (?)

✔ Ringan dalam bersyukur
Sungguh ini mudah dalam teori tapi lumayan sulit dalam praktik. Padahal kalau saja aku sadar bahwa syukur adalah sumber kehidupan ini. ah!
Ada, bersyukur.
Tidak ada, bersyukur.
Suka, bersyukur.
Sedih, bersyukur.

✔ Siap kecewa
Mungkin lebih halusnya: Belajar memaknai kekecewaan. Caranya? Melapangkan dada selebar-lebarnya dunia deh. Nyetok sabar yang banyak hehe. Sedikit demi sedikit segala standar ketinggian memang harus aku turunkan. Segala ekspektasi maksimum memang harus aku rendahkan. Karena kekecewaan sangat mungkin menyenggol aku. Ketika Allah izinkan aku mencicipi rasanya kecewa, ketika itu pula aku merasa lebih dewasa. Ca'elah uhuy gaya ya :3 Aku hanya tidak boleh menolak kekecewaan itu. Karena jika aku menolak, bukan tidak mungkin kekecewaanku justru akan semakin besar.

✔ Rajin ngaca
*terus sisiran deh* hehe gak ding.
Maksudnya bukan bersolek sih. Ini lebih ke aku emang harus rajin-rajin ngaca. Rajin-rajin sadar diri. Rajin-rajin evaluasi diri. Jadi kelak aku tidak lagi seperti sekarang, cenderung membela diri sendiri daripada menyadarkan diri ini ketika salah.

✔ Mendoakan orang lain
Ini salah satu cara untuk menurundrastiskan egoku. Ego yang udah sedemikian sukses membuat aku enggan melihat orang sekitarku bahagia. Ego yang telah membuat aku iri dengan yang orang lain punya dengan mudah tapi aku ndak (atau belum) punya. Padahal, jika aku mau mendoakan orang lain dengan baik, tentu aku akan menemukan ketenangan. Tenang melihat orang lain berpunya. Tentram melihat orang lain bahagia. Puncaknya? Jauh dari rasa dengki.

✔ Berteman dengan lingkungan yang baik
Ini wajib sih. Kan kata orang jaman dulu, temenan sama pedagang minyak wangi, kena wanginya hehe. Jadi aku harus berteman dengan mereka yang ikhlas untuk mengambil ilmu yang buanyak dari mereka.
*****

Demi sukses di Jurusan Ilmu Ikhlas ini, tentu ada banyaaaak hal negatif padaku yang harus ku perbaiki, dua diantaranya (iya dua aja, malu kalo banyak, ya namanya juga manusia, gamau keliatan banyak jeleknya :p) yaitu:

✔ Prasangka buruk
Mengutip kata sahabatku: Lebih baik berprasangka baik tapi salah, daripada berprasangka buruk tapi benar.

✔ Merasa sudah ikhlas
Merasa sudah segalanya deh. Merasa sudah ikhlas. Merasa sudah tau. Merasa sudah baik. Merasa sudah pinter. Bahaya banget pokoknya. Ini bisa menggerogoti darah banget. Padahal aku mah apa kalau aibku ndak ditutup oleh Allahu Rabbi *nangis*. Justru sikap ku yang -merasa segalanya- ini bisa menjatuhkan kadar ikhlasku di hadapan Allah.

Bismillah. Semoga perlahan-lahan aku bisa terus belajar dengan baik di Jurusan Ikhlas, Fakultas Susah, Universitas Kehidupan ini. Dan kelak lulus bertoga dengan predikat summa cumlaude :"))

Kenapa memutuskan ikut IIP?

IIP (Institut Ibu Profesional) ini bentukan dari Buk Septi Peni bersama tim nya yang luarbiasa. Pertama kali tau infonya dari teman. Begitu mendengar namanya, menarik bukan (?).

Ibu Profesional? Cukup membuat mengernyitkan dahi. Apakah iya menjadi Ibu harus profesional? Bukannya menjadi Ibu itu mudah? Atau memang harus butuh ilmu? Ah, aku sudah masuk ke dunia rumahtangga yang dengan agag ku sesalinya masuknya dengan sedikit ilmu. Padahal, -baru jadi istri saja-. Apalagi jika menambah peran menjadi Ibu? Jelas pasti tidak mudah. Menjadi Ibu yang biasa saja semua bisa. Tapi menjadi Ibu yang profesional, pasti ada tips triknya. Pasti banyak suka dukanya. Pasti banyak tantangannya.

Dan aku? Jelas tidak mau menjadi Ibu yang biasa. Aku ingin menjadi Istri yang luarbiasa. Aku ingin menjadi Ibu yang profesional :)
Institut Ibu Profesional

Semoga ikhtiarku bergabung IIP ini bisa menjadikan masakanku dihabiskan di keluarga kecil ini, ilmuku bermanfaat di keluarga kecil ini, airmataku kelak dihapuskan di keluarga kecil ini, pelukanku diharapkan di keluarga kecil ini, dan waktuku selalu dirindukan di keluarga kecil ini :)