19 May 2017

I call it "Love" ❤

Sejak awal berumahtangga, rasanya ingin membagi semua pengalamanku. Membagi penggalan-penggalan kehidupan baruku. Tapi setelah menjalaninya langsung, benar kata mereka kebanyakan, kalau kehidupan rumahtangga membuat kita (aku-istri) memiliki kewajiban baru, memiliki tanggung jawab lebih hingga akherat kelak. Bukan suatu kesepelean yang bisa disambil sambil goler-goler ngetik satu dua cerita untuk dipost di blog.
Ih. Alesan ajasih ya. Haha.

Tapi masih tetap menjadi keinginan kalau sedikit-sedikit aku akan berbagi sedikit kebahagiaanku dengan harapan bisa menularkan kepada pembaca.

Hari ini tidak seperti biasanya. Aku merasa harus segera berbagi kisahku. Kisah yang bagi orang lain menjadi sangat biasa. Tapi bagiku ini berbeda. Aku merasakan apa yang selama ini belum aku rasakan. Maksudku, sedalam ini.

Setelah 9 bulan aku dan Mas Hasrul berumahtangga, aku mulai merasakan apa yang kata orang jatuh cinta setiap hari. Hari ini aku jatuh begitu dalam *caelah*. Bukan, bukan aku terlena. Bukan aku menomorsekiankan Tuhanku setelah suamiku. Bukan itu.


Hari ini kalau dihitung-hitung kehamilanku sudah bulan ke-8. Worry dan excited makin membuncah di dalam hati. Mungkin ini kenapa fisik dan batinku tidak karuan. Dua minggu lalu aku mengalami sedikit gangguan di kehamilanku. Bohong kalau psikisku baik-baik saja setelah mengetahuinya. Dan hari ini sepertinya puncaknya. Walaupun kata Suami, ini hanya masuk angin biasa, tapi aku merasa ini puncak stressku. Aku tidak bisa mengelola stressku dengan baik.

Bangun pagi seperti biasanya, tidak ada yang berbeda. Aktivitas dapur pun berlanjut. Semua berjalan normal. Sampai akhirnya aku menghampiri suamiku di kamar dan mengeluhkan sakit di perutku. Mendadak keringat dingin terasa mengalir di punggungku. Tanganku terasa dingin. Semua terjadi dengan cepat saat itu. Setelah mencoba berbaring, ternyata tetap tidak bisa membuat tubuhku membaik. Sampai akhirnya aku mual dan muntah. Saat itu suami menolongku, membalurkan minyak kayu putih di tengkukku, dan memijat pelan sampai aku bisa lega mengeluarkan semuanya, bahkan sampai pada saat aku tidak bisa mengendalikannya dan semua tertumpahkan di lantai. Setelah bagian mulutku dibersihkan dengan tisu, aku dibawa kembali berbaring. Aku memaksakan diri untuk tidur. Pak suami berada di sisiku untuk mengipas-ngipasi sampai aku bisa tertidur.

Aku terbangun setelah sekitar 1.5 jam tertidur. Jam menunjukkan sekitar pukul 8 pagi. Pak suami masih menjaga di sisiku. Beliau tidak masuk kerja, sementara hari ini seharusnya beliau masuk jam 7 pagi. Beliau memakai jatah cutinya hari ini. Aku merasa tubuhku membaik. Kakak bayi dalam perutku juga aktif bergerak seakan mengajakku bersemangat untuk tetap sehat dan melawan sakit dan stressku. Sedikit demi sedikit aku coba sarapan, dan ternyata aku salah. Tubuhku belum bisa menerima. Keluar lagi apa-apa yang barusan aku makan. Pak suami masih terus membantuku.

Akhirnya aku menghentikan aktivitasku dan aku mencoba tidur kembali. Belajar dari kejadian pertama, tidur bisa menjadi obat terbaik dalam kasusku hari ini. Aku dan pak suami sudah khawatir kalau-kalau ini kontraksi dan sudah waktunya bersalin. Tidak, in syaa Allah kakak bayi akan lahir di waktu yang tepat nanti. Aamiin.

Aku kembali terbangun sekitar pukul 11. Aku merasakan lebih segar, jauh lebih enak. Aku lihat pak suami tertidur di sampingku :") Lelah pasti. Aku paksakan makan dan benar Alhamdulillah tubuhku sudah menerima makanan dengan baik. Semua bisa masuk dengan normal. Aku menuju dapur untuk berniat membersihkan semua hasil mual dan keluaranku tadi pagi. Tapi masyaa Allah. Dapur rumah kami bersih. Pak suami sudah membersihkannya. Ya, siapa lagi? Kami hanya berdua di rumah ini. Aku terdiam. Bagaimana mungkin sosok laki-laki dengan tingkat gengsi diatas rata-rata mau membersihkan kotoran yang bagi mayoritas orang merupakan hal yang sangat menjijikkan. And he did it. My husband did it well.

Hal ini membuat aku terenyuh seharian. Hari itu aku sangat jatuh hati. Kadang, hal kecil bisa membuat kita sangat merasa tinggi. Sangat merasa dijunjung, disayang. Hal sesepele ini. Bagi aku -yang mengetahui bagaimana tingkat gengsi pak suami dan bagaimana aku yang selalu mengingatkan pak suami jika tidak sebersih aku- , hari ini aku merasa ditampar. Aku merasa sangat dicintai. Semoga Allah mengizinkan suasana harmonis ini selalu hadir dalam keluarga kecil kami. Aamiin.

Dear Amas, ana uhibbuka fillah. Jazakallaahu khayran :""") Love!

0 comments:

Post a Comment