16 May 2017

NHW 1 : Jurusan Ilmu Ikhlas di Universitas Kehidupan

Memutuskan bergabung menjadi murid di kelas Institut Ibu Profesional memang butuh keyakinan yang serius. Ditambah, mengikutinya di saat kondisiku sedang hamil 8 bulan. Tapi ya ku pikir, kapan lagi? Kelak jika memiliki anak, belum tentu aku bisa istiqamah menuntut ilmu yang memang seharusnya menjadi kewajibanku dan menjadi hak anak-anakku memiliki ibu yang cerdas. berilmu.

Begitu masuk? Kaget bukan main. Penuh dengan tantangan. Ya, di dalamnya berbagai tantangan harus dikerjakan. Lagi-lagi, karena menjadi ibu biasa itu mudah, menjadi ibu profesional itu langka. Dan menjadi profesional itu butuh ilmu. Aku percaya~

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: 
الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ
"Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka
HR. Abu Daud, dishahihkan Syaikh Albani rahimahullah dalam Shahihul Jaami’ no. 67

Semua ada aturannya. Semua ada adabnya. Termasuk dalam Thalabul 'Ilmi. Masuk ke dalam kelas ini, artinya akupun harus siap dengan segala tantangan yang diberikan. Iya, tantangan. Bukan tugas. Ah toh tantangannya semua terdengar menarik. Hihi.
*****

Mengawali kelas IIP ini, kami diarahkan untuk menuliskan apa jurusan yang kami ingin tekuni di Universitas Kehidupan ini. Mau nangis geru-geru deh pas dapet tugas ini huhu. Karena ini aku banget. Aku adalah tipe orang yang gampang kepengenan dan tidak fokus. Kini aku 'dipaksa' fokus pada pilihan jurusanku di Universitas Kehidupanku. Coret sana coret sini menjatuhkan aku pada keyakinan untuk fokus pada sebuah ilmu yang memiliki derajat tertinggi dan tersulit di dunia dan di antariksa ini.

Ilmu ikhlas.

Ikhlas (katanya) artinya memurnikan tujuan. Atau dalam Islam, menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan atau mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berorientasi hanya kepada Allah.

Aku adalah pribadi yang sangat jauh dari ilmu ikhlas. Hal ini yang menjadikan akupun jauh dari ilmu syukur dan segala ilmu-ilmu baik lainnya. Aku wajib mampu mengamalkan ilmu ikhlas karena ini adalah ibuknya ilmu. Ilmu segala ilmu. Puncak ilmu dari segala cabang ilmu. Ah, aku masih sangat jauh. Jangankan mengamalkan, memilikinya saja aku belum punya rasanya.
*****

Strategi yang harus perlahan aku coba untuk memasuki jurusan ilmu ikhlas di Universitas Kehidupan-ku ini antara lain:

✔ Percaya pada Allah
Semua sudah digariskan sendiri oleh Allah. Tantangannya adalah apakah aku bisa menerima semua kehendakNya. Tidak pilih-pilih hanya mau menerima yang enak-enak buat aku aja. Nanti aku jadi ndak belajar dong kalau maunya enak melulu (?) 
:(

✔ Meluruskan niat
Meluruskan niat, untukku, adalah sesulit-sulitnya pekerjaan. Bukan hanya pada satu poin, tapi pada banyak poin. Habluminallah dan habluminannas. Semua urusankan dengan Allah hendaklah semata-mata diharuskan dengan mengharap hanya pada ridho Allah. Harapannya, tubuhku bisa lebih ringan beribadah, hatiku bisa lebih bahagia di bawah segala ridho-Nya. Hubunganku dengan keluarga juga bukan hal yang tidak akan dipertanggungjawabkan kelak di akherat. Bagaimana aku harus meluruskan niatku berumahtangga. Bagaimana tujuan yang aku capai dalam rumah mungil ini. Selain itu, urusan lingkungan diluar domestik rumahtangga pun tidak bisa diabaikan. Bagaimana aku harus meluruskan niat dalam bisnis online yang sedang aku jalani. Semua kembali pada tanda tanya besar: Apasih tujuanku (?)

✔ Ringan dalam bersyukur
Sungguh ini mudah dalam teori tapi lumayan sulit dalam praktik. Padahal kalau saja aku sadar bahwa syukur adalah sumber kehidupan ini. ah!
Ada, bersyukur.
Tidak ada, bersyukur.
Suka, bersyukur.
Sedih, bersyukur.

✔ Siap kecewa
Mungkin lebih halusnya: Belajar memaknai kekecewaan. Caranya? Melapangkan dada selebar-lebarnya dunia deh. Nyetok sabar yang banyak hehe. Sedikit demi sedikit segala standar ketinggian memang harus aku turunkan. Segala ekspektasi maksimum memang harus aku rendahkan. Karena kekecewaan sangat mungkin menyenggol aku. Ketika Allah izinkan aku mencicipi rasanya kecewa, ketika itu pula aku merasa lebih dewasa. Ca'elah uhuy gaya ya :3 Aku hanya tidak boleh menolak kekecewaan itu. Karena jika aku menolak, bukan tidak mungkin kekecewaanku justru akan semakin besar.

✔ Rajin ngaca
*terus sisiran deh* hehe gak ding.
Maksudnya bukan bersolek sih. Ini lebih ke aku emang harus rajin-rajin ngaca. Rajin-rajin sadar diri. Rajin-rajin evaluasi diri. Jadi kelak aku tidak lagi seperti sekarang, cenderung membela diri sendiri daripada menyadarkan diri ini ketika salah.

✔ Mendoakan orang lain
Ini salah satu cara untuk menurundrastiskan egoku. Ego yang udah sedemikian sukses membuat aku enggan melihat orang sekitarku bahagia. Ego yang telah membuat aku iri dengan yang orang lain punya dengan mudah tapi aku ndak (atau belum) punya. Padahal, jika aku mau mendoakan orang lain dengan baik, tentu aku akan menemukan ketenangan. Tenang melihat orang lain berpunya. Tentram melihat orang lain bahagia. Puncaknya? Jauh dari rasa dengki.

✔ Berteman dengan lingkungan yang baik
Ini wajib sih. Kan kata orang jaman dulu, temenan sama pedagang minyak wangi, kena wanginya hehe. Jadi aku harus berteman dengan mereka yang ikhlas untuk mengambil ilmu yang buanyak dari mereka.
*****

Demi sukses di Jurusan Ilmu Ikhlas ini, tentu ada banyaaaak hal negatif padaku yang harus ku perbaiki, dua diantaranya (iya dua aja, malu kalo banyak, ya namanya juga manusia, gamau keliatan banyak jeleknya :p) yaitu:

✔ Prasangka buruk
Mengutip kata sahabatku: Lebih baik berprasangka baik tapi salah, daripada berprasangka buruk tapi benar.

✔ Merasa sudah ikhlas
Merasa sudah segalanya deh. Merasa sudah ikhlas. Merasa sudah tau. Merasa sudah baik. Merasa sudah pinter. Bahaya banget pokoknya. Ini bisa menggerogoti darah banget. Padahal aku mah apa kalau aibku ndak ditutup oleh Allahu Rabbi *nangis*. Justru sikap ku yang -merasa segalanya- ini bisa menjatuhkan kadar ikhlasku di hadapan Allah.

Bismillah. Semoga perlahan-lahan aku bisa terus belajar dengan baik di Jurusan Ikhlas, Fakultas Susah, Universitas Kehidupan ini. Dan kelak lulus bertoga dengan predikat summa cumlaude :"))

2 comments: