17 June 2017

NHW 5 : Belajar Bagaimana Caranya Belajar -ala saya-

NHW 5 Kelas Matrikulasi IIP kali ini aku ditantang untuk membuat apa-apa yang sudah tertuang dan terencana dengan baik pada NHW 1 - NHW 4 untuk di utak atik menjadi sejenis diagram belajar. Lebih mantapnya, "desain pembelajaran" namanya. Sebagaimana pada NHW 1 aku memilih ilmu ikhlas untuk bisa ku praktikkan dalam universitas kehidupanku, dan seiring berjalannya minggu aku menambahkan rencanaku untuk memperdalam dan menguasai ilmu pangan dan ilmu parenting islami. Dari kesemua inilah aku coba coret-coret menjadi kurikulum ala aku. Hehe.


Tabel Jurusan Keilmuan Universitas Kehidupan Sagita Nindyasari


Diagram Desain Pembelajaran Sagita Nindyasari

Semoga Allah izinkan aku mempraktikkan apa yang aku rencanakan. Karena aku bukan apa-apa tanpa Allah. Dan karena Allah Sebaik-baik Perencana.
Bismillaah.




10 June 2017

NHW 4 : Mendidik Dengan Fitrah, kenapa tidak (?)

Seperti pada NHW 1, aku (masih) tetap ingin memilih, mempelajari, hingga menguasai ilmu ikhlas di Universitas Kehidupan-ku. Sebagai tambahan dari pemikiranku beberapa minggu ini, aku ingin memperdalam ilmu pangan dan ilmu parenting secara Islami. Aku ingin mampu mendidik anak dalam koridor Islam. In syaa Allah. Demi dapat menjalaninya dengan baik, checklist yang sudah ku buat di NHW 2 harus dapat ku jalankan dengan istiqamah. Sejauh ini aku hampir 80% poin-poin di dalamnya sudah dapat ku jalankan dalam peranku secara pribadi, istri, calon ibu, dan lingkungan sekitar, walaupun masih harus terus dicapai konsistensinya.

Pada NHW 3 sebelumnya, aku perlahan memahami maksud Allah menciptakanku di muka bumi ini. Menjadikan aku, seorang Sagita Nindyasari, seorang istri untuk suami pilihanku yang in syaa Allah atas ridho Allah, in syaa Allah kelak memilih aku menjadi ibu untuk anak-anak (kami), dan menempatkan aku di lingkunganku yang sekarang. Tidak ada satu hal kecilpun luput dari maksud dan tujuan indah dari Maha Menentukan. 

Sebagai seorang yang selalu tertarik pada bidang pendidikan anak dan bidang pangan, aku ingin menjadi ibu yang berpendidikan baik dan ingin menjadi agen pangan yang bijak untuk lingkungan pada umumnya dan untuk anak-anak kami pada khususnya. Visi misi sebagai seorang Gita ingin bisa memberikan inspirasi dan manfaat untuk khalayak. Aku ingin berperan sebagai agen. Agen Islam, agen pangan, dan agen pendidikan yang baik. Dalam keluarga, aku (dan suami) pun memiliki tujuan hidup. Ah bukankah tujuan itu adalah tahap akhir? Apa ada yang namanya tujuan hidup? Saat masih dalam kehidupan? Rasanya tidak. Tujuan kami hanya ingin berkumpul bersama keluarga kelak di Syurga. Semoga kami bisa mendidik anak-anak kami dengan ikhlas atas izin Allah dalam koridor Islam. Walaupun kami tahu sekali lagi, ikhlas bukanlah ilmu yang mudah. Apalagi disandingkan dengan ilmu parenting di sisinya. Rasanya mimpi mustahil yang tidak mungkin mustahil atas izin Allah :)

Bidang ilmu parenting Islami dan bidang pangan memang banyak mengambil ruang di otakku. Untuk bisa menguasainya tentu aku harus memiliki tahapan ilmu seperti:
1. Bunda Sayang: ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan: ilmu seputar manajemen diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif: ilmu seputar pangan dan gizi, ilmu seputar bisnis online, manajemen finansial
4. Bunda Saleha: ilmu berbagi

Jika aku menetapkan KM 0 pada usiaku saat ini, 26 tahun, kemudian komitmen tinggi akan mencapai 10.000 jam terbang di bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Artinya, sejak saat inilah aku mendedikasikan 8 jam waktuku untuk mencari ilmu, mempraktikkan, menuliskan bersama suami, dan in syaa Allah menuliskan bersama anak kelak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun sudah dapat terlihat hasilnya in syaa Allah.

Milestone yang direncanakan:
KM 0 - KM 1 (tahun 1; usia 26-27 tahun) : Menguasai ilmu Bunda Sayang
KM 1 - KM 2 (tahun 2; usia 27-28 tahun) : Menguasai ilmu Bunda Cekatan
KM 2 - KM 3 (tahun 3; usia 28-29 tahun) : Menguasai ilmu Bunda Produktif
KM 3 - KM 4 (tahun 4; usia 29 - 30 tahun) : Menguasai ilmu Bunda Saleha

Catatan waktu ini akan menyesuaikan dengan checklist yang sudah dibuat pada NHW 2.

Kedepannya, semoga Allah mudahkan aku belajar menjadi istri dan ibu kebanggaan keluarga. Harapannya semoga apa-apa yang aku tulis bisa perlahan tapi pasti untuk diwujudkan. Tulisan ini bersifat fleksibel dan bisa aku ubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi dan situasi yang mungkin tidak terduga kelak.

Mendidik Dengan Fitrah, kenapa tidak (?) :)




3 June 2017

NHW 3 : Peradaban Dimulai dari Rumah


* Peradaban dimulai dari rumah *

Katanya, peradaban yang berkualitas dimulai dari rumah. Dan berhasilnya sebuah rumahtangga adalah peran kompak dari si istri dan si suami di bawah kuasa dan ridho Allah. Salah satu biar kompak dan menggemaskan, si istri bisa kali ya sesekali bikin surat cinta hehe. Ini kali pertama aku bikin surat cinta untuk laki-laki selama 26 tahun usiaku. Ah harusnya dikasih nih bukan ngasih :p Gantian ya Pak kapan-kapan aku dikasih yaaa hahaha. Surat cintaku yang tidak romantis bisa dilihat disini.


* Seputar potensi pada diri anak *

Saat ini anak kami belum lahir ke dunia, semoga Allah izinkan aku kelak melanjutkan tulisan bagian ini ketika anak kami sudah lahir dengan sehat dan berkembang dengan baik, Aamiin :)
Sedikit yang bisa aku bagi saat ini, salah satu potensi besar yang aku doakan ada pada anak-anak kami kelak adalah mau berbagi sehingga kelak bermanfaat untuk orang banyak. Aamiin :)


* Seputar potensi pada diri sendiri *

  • Aku suka memasak tapi ndak suka cuci piring x) -catatan: walaupun masih ndak enak suka aneh rasa masakannya haha yang penting nyobaa!~
  • Aku suka sekali membuat barang-barang handmade. DIY crafting gitu. Sejauh ini aku masih idealis dengan berpikiran -selama masih bisa bikin, kenapa beli- untuk barang-barang unyu seperti dekorasi rumah. Rencananya (dan semoga Allah mudahkan) kelak untuk mainan anak pun aku berencana bikin-bikin ketimbang beli-beli hehe aamiin.
  • Aku suka beberes rumah~~ Hehe aku super rewel dan marah-marah ga karuan kalo rumah berantakan dan kotor walaupun dikiit aja. Suami sampai membuat perjanjian "Kalo udah sampe rumah nanti jangan marah2 ya kalo berantakan" hahaha. Pun perihal binatang-binatang kayak pasukan semut di dalam rumah aja aku bisa rewel. Duh.
  • Aku suka mencatat. Apa-apa aku catat. Walaupun cuma sekedar belanja ke warung sayur. Entah ini potensi diri atau bukan, haha sepertinya lebih ke sadar diri karena termasuk pribadi pelupa.
  • Aku suka menulis dan membaca. Mengutip kalimat anonim yang pernah ku baca "Kalau kamu ingin mengenal dunia, membacalah. Kalau kamu ingin dunia mengenalmu, menulislah." :)
Setelah menulis potensi-potensi sederhana ini, terlintas pikiran "Ah iya bener juga ya. Ternyata aku begini dan suami begitu. Ya memang super beda tapi semoga memang bertujuan untuk saling melengkapi. Ini maksud Allah mempertemukan kami. Alhamdulillaah in syaa Allaah" :)


* Seputar lingkungan tempat tinggal *

Aku yang empat tahun diizinkan Allah mendapatkan banyak Ilmu Teknologi Pangan di kampusku dulu, sangat antusias untuk menjadi agen pangan yang baik. Hehe. Dan aku menjalankannya di keluarga dan lingkungan media sosialku. Kerap sekali perihal pangan (dan kesehatan) menjadi sasaran empuk penyebar hoax di media sosial. Aku, setiap menerima pesan masuk berbau hoax seputar pangan, sebisa mungkin memberikan klarifikasi dengan ilmu kuliahku. Entah itu mengenai kandungan berbahaya, isu non halal, dan lain sebagainya. Aku sadar dengan aku memilih menjadi Ibu Rumah Tangga (yang produktif), aku sudah tidak bisa lagi terjun di dunia industri pangan. Untuk itulah, aku berniat berjuang menjadi agen pangan untuk keluarga dan lingkunganku dengan ilmu yang pernah aku dapatkan.

Setelah menikah, aku dan suami menetap di suatu perumahan di Cileungsi, Bogor. Perumahan ini memiliki banyak warga 'senior' di dalamnya. Aku yang merupakan anak kemarin sore lumayan belum klik dengan mereka hehe terlebih perihal ber-adat kebiasaan berlingkungan disana. Semoga tidak lama lagi aku bisa 'masuk' dengan lingkungan ini. Perumahan ini termasuk perumahan yang sudah ramai, karena memang merupakan perumahan yang tergolong lama. Hampir semua warga disini memiliki usaha sendiri di rumahnya, terlebih lagi mereka yang memiliki rumah di pinggiran jalan. Walaupun jalan masuk perumahan dapat dibilang cukup jauh, tapi aku sangat mudah menemukan apapun di sekitar rumah kami. Dari berbagai jenis kuliner, toko sembako, toko pakaian, warung sayur, toko klontong, dan beberapa minimarket juga dengan mudah ditemukan. Aku termasuk yang sangat tergiur mengikuti jejak mereka untuk membuka usaha jual beli di rumah hehe. Sejauh ini bisnisku masih sebatas online, belum sampai tahap toko offline. Melihat ramainya peluang jual beli di perumahan ini, semoga kelak aku bisa membuka lapak offline untuk bisnisku.

Sebuah cita-cita lain yang sangat ingin aku wujudkan dari sebelum aku menikah: memiliki rumah singgah. Aku ingin bermanfaat untuk sekitarku, untuk lingkunganku, dengan membantu adik-adik prasejahtera bisa mendapatkan sosok seorang kakak, ibu, guru, dan sahabat bagi mereka. Paling tidak, aku yakin dengan ilmu dan pengalamanku pernah terjun di dalam komunitas Ilmu Berbagi, aku bisa merangkul mereka. Tapi sedih, seiring berjalannya waktu, aku merasa jauh dengan cita-citaku itu. Sejak menikah, seperti hilang waktuku untuk sosiopendidikan, untuk adik-adik itu. Manajemen waktuku yang sangat buruk adalah penyebab semuanya. Aku merasa menjadi istri paling -sok- sibuk sedunia sejak menikah. Ah, mau sampai kapan Git?! Bagaimanapun, hal buruk ini harus ku perbaiki demi terwujudnya impianku memeluk adik-adik yang membutuhkan pelukan.

Ceritanya Surat Cinta.

Assalamu'alaykum~ 👋

Dear Amas Tak Uk Uk,

Uhuy cie banget ndak sih aku bikin beginian~ Pasti Amas gembira deh senyum-senyum. Aku kapan-kapan mau ya dibikiniin *duh kok aku kasian minta* wkwk. Deg-degan ndak mau baca suratku? Deg-degan yhaa plis~

Amas luvv, seru yaa tau-tau udah bulan Juni. Perasaan baru akad kemarin. Haha gak sih, aku lebay~ Tapi iya ya tau-tau udah 10 bulan gini bareng-bareng. Seneng ndak? Wkwk pasti Amas seneng banget yakan bisa bareng aku terusss setelah Amas pontang-panting penuh peluh dan dahaga mengejar aku XD

Amas luvv, kalau diinget-inget lucu gitu dulu liat Amas senyum-seyum malu kalo ketemu aku yakan haha pede x). Gimana dulu Amas pas sidang digodain temen-temen dikasih cokelat atas nama aku padahal aku ndak pernah ngasih cokelat tsb dan bahkan aku ndak hadir di sidang Amas haha. Gimana dulu Amas nanya ke aku apakah aku available dan aku justru memilih menjauh kesel karena aku merasa kita sahabat ala-ala. Yah emang ndak bisa sahabatan murni kali ya perempuan dan laki-laki. Dan setelah aku menjauh untuk hijrahpun, eh bisa baliknya ke Amas lagi Amas lagi :') Dengan masih bertahannya, 2 tahun kemudian Amas dateng ke aku lagi "Git kamu udah ada yang khitbah belum?" itu kalimat terduar yang pernah aku denger selama itu. Rasanya mau masukin kepala ke dalem tempurung kayak kura-kura saking saltingnyaa masyaa Allaah. Dan keberanian Amas main ke rumah Bapak dan ketemu Bapak untuk bilang "Pak orangtua saya mau kesini bulan depan in syaa Allah" adalah kalimat tergemes yang pernah aku denger selama itu. Terakhir, "Saya terima nikah dan kawinnya Sagita Nindyasari binti Sudaryono" adalah kalimat termeleleeeeh sampek mau nangis geru-geru rasanya, selama hidup aku sampai saat itu.

Amas luvv, bener sih kata orang, nikah itu ena! Ehe. Aku sangat menikmati setiap harinya kita, setiap prosesnya kita belajar. Dan, bener juga kata orang, nikah itu penuh kejutan! Yang tadinya gatau jadi tau, yang tadinya ndak kenal jadi kenal, yang tadinya bukan masalah bisa jadi masalah besar penghancur mood satu minggu kedepan haha. Kebayang banget banyak kagetnya aku pas hidup di bawah atap yang sama dengan Amas. Pun dengan Amas, kebayang banget syoknya kan pas tiap hari yang ditemuin aku lagi-aku lagi. Tapi semoga asik-asik aja ya bisa dapet banyak kejutan setelah menikah. Jadi tau ternyata kalau aku itu begini dan Amas begitu. Jadi engeh kalo ternyata kita beda banget. Tapi Maha Besar Allah dengan kuasaNya menyatukan kita, membuat semuanya seimbang, saling isi, saling lengkap melengkapi.

Amas luvv, aku yang ribet gini kok ya ketemunya sama Amas yang ndak pernah ambil pusing. Aku yang vokal gini ketemunya sama Amas yang kalo ndak diajak ngomong ya ndak ngomong. Aku si anak metropolitan gini ketemunya sama Amas yang masa kecilnya main di kali wkwkwk. Aku yang perfeksionis gini ketemunya sama Amas yang spontan. Aku yang rapi-an dan bersih-an gini ketemunya Amas yang lumayan harus dijutekin dulu buat beberes. Uehehe.

Amas luvv, duh walaupun baru 10 bulan, tapi aku sudah banyak belajar dari Amas dan dari rumahtangga kita, dan akan terus belajar in syaa Allah. Harapan aku semoga Amas ndak pernah nyesel memilih aku untuk menjadi ibu dari anak-anak Amas kelak, seperti aku yang in syaa Allah mempercayai Amas mengimami aku dan anak-anak kelak dengan ilmu Islam yang terus kita asah setiap harinya. Terimakasih ya Amas luvv sudah bertanggungjawab padaku sampai hari ini dan semoga sampai akhir hayat kelak aamiin. Mohon maaf lahir bathin ya Amas kalo aku menyebelin, suka maksa-maksa Amas untuk bangun tidur misalnya. Doain ya aku masih punya stok sabar dan setrong buat sepanjang hidupku bangunin Amas tidur yang merupakan pekerjaan paling sulit sedunia T.T 

Amas luvv, Semoga walaupun aku begini amat kelakuannya tapi Allaah mudahkan aku menjadi istri shalihah. Semoga Allaah mengizinkan aku menjadi Ibu shalihah untuk anak-anak kita (kelak) sampai kita semua bisa berkumpul di Syurga Allaah kelak. Aamiin. Doain ya si calon kakak sehat-sehat sampai kita bertiga berjuang bersalin bulan depan in syaa Allaah :") Mari melanjutkan petualangan ini! Bantuin aku yaa.

Ana Uhibbuka fillah, zauji.
Jazakallaahu khayran ❤

Note: 4 x4 = 16. Sempat tidak sempat harus dibalas.

Love,
Bantal kirimu.