3 June 2017

NHW 3 : Peradaban Dimulai dari Rumah


* Peradaban dimulai dari rumah *

Katanya, peradaban yang berkualitas dimulai dari rumah. Dan berhasilnya sebuah rumahtangga adalah peran kompak dari si istri dan si suami di bawah kuasa dan ridho Allah. Salah satu biar kompak dan menggemaskan, si istri bisa kali ya sesekali bikin surat cinta hehe. Ini kali pertama aku bikin surat cinta untuk laki-laki selama 26 tahun usiaku. Ah harusnya dikasih nih bukan ngasih :p Gantian ya Pak kapan-kapan aku dikasih yaaa hahaha. Surat cintaku yang tidak romantis bisa dilihat disini.


* Seputar potensi pada diri anak *

Saat ini anak kami belum lahir ke dunia, semoga Allah izinkan aku kelak melanjutkan tulisan bagian ini ketika anak kami sudah lahir dengan sehat dan berkembang dengan baik, Aamiin :)
Sedikit yang bisa aku bagi saat ini, salah satu potensi besar yang aku doakan ada pada anak-anak kami kelak adalah mau berbagi sehingga kelak bermanfaat untuk orang banyak. Aamiin :)


* Seputar potensi pada diri sendiri *

  • Aku suka memasak tapi ndak suka cuci piring x) -catatan: walaupun masih ndak enak suka aneh rasa masakannya haha yang penting nyobaa!~
  • Aku suka sekali membuat barang-barang handmade. DIY crafting gitu. Sejauh ini aku masih idealis dengan berpikiran -selama masih bisa bikin, kenapa beli- untuk barang-barang unyu seperti dekorasi rumah. Rencananya (dan semoga Allah mudahkan) kelak untuk mainan anak pun aku berencana bikin-bikin ketimbang beli-beli hehe aamiin.
  • Aku suka beberes rumah~~ Hehe aku super rewel dan marah-marah ga karuan kalo rumah berantakan dan kotor walaupun dikiit aja. Suami sampai membuat perjanjian "Kalo udah sampe rumah nanti jangan marah2 ya kalo berantakan" hahaha. Pun perihal binatang-binatang kayak pasukan semut di dalam rumah aja aku bisa rewel. Duh.
  • Aku suka mencatat. Apa-apa aku catat. Walaupun cuma sekedar belanja ke warung sayur. Entah ini potensi diri atau bukan, haha sepertinya lebih ke sadar diri karena termasuk pribadi pelupa.
  • Aku suka menulis dan membaca. Mengutip kalimat anonim yang pernah ku baca "Kalau kamu ingin mengenal dunia, membacalah. Kalau kamu ingin dunia mengenalmu, menulislah." :)
Setelah menulis potensi-potensi sederhana ini, terlintas pikiran "Ah iya bener juga ya. Ternyata aku begini dan suami begitu. Ya memang super beda tapi semoga memang bertujuan untuk saling melengkapi. Ini maksud Allah mempertemukan kami. Alhamdulillaah in syaa Allaah" :)


* Seputar lingkungan tempat tinggal *

Aku yang empat tahun diizinkan Allah mendapatkan banyak Ilmu Teknologi Pangan di kampusku dulu, sangat antusias untuk menjadi agen pangan yang baik. Hehe. Dan aku menjalankannya di keluarga dan lingkungan media sosialku. Kerap sekali perihal pangan (dan kesehatan) menjadi sasaran empuk penyebar hoax di media sosial. Aku, setiap menerima pesan masuk berbau hoax seputar pangan, sebisa mungkin memberikan klarifikasi dengan ilmu kuliahku. Entah itu mengenai kandungan berbahaya, isu non halal, dan lain sebagainya. Aku sadar dengan aku memilih menjadi Ibu Rumah Tangga (yang produktif), aku sudah tidak bisa lagi terjun di dunia industri pangan. Untuk itulah, aku berniat berjuang menjadi agen pangan untuk keluarga dan lingkunganku dengan ilmu yang pernah aku dapatkan.

Setelah menikah, aku dan suami menetap di suatu perumahan di Cileungsi, Bogor. Perumahan ini memiliki banyak warga 'senior' di dalamnya. Aku yang merupakan anak kemarin sore lumayan belum klik dengan mereka hehe terlebih perihal ber-adat kebiasaan berlingkungan disana. Semoga tidak lama lagi aku bisa 'masuk' dengan lingkungan ini. Perumahan ini termasuk perumahan yang sudah ramai, karena memang merupakan perumahan yang tergolong lama. Hampir semua warga disini memiliki usaha sendiri di rumahnya, terlebih lagi mereka yang memiliki rumah di pinggiran jalan. Walaupun jalan masuk perumahan dapat dibilang cukup jauh, tapi aku sangat mudah menemukan apapun di sekitar rumah kami. Dari berbagai jenis kuliner, toko sembako, toko pakaian, warung sayur, toko klontong, dan beberapa minimarket juga dengan mudah ditemukan. Aku termasuk yang sangat tergiur mengikuti jejak mereka untuk membuka usaha jual beli di rumah hehe. Sejauh ini bisnisku masih sebatas online, belum sampai tahap toko offline. Melihat ramainya peluang jual beli di perumahan ini, semoga kelak aku bisa membuka lapak offline untuk bisnisku.

Sebuah cita-cita lain yang sangat ingin aku wujudkan dari sebelum aku menikah: memiliki rumah singgah. Aku ingin bermanfaat untuk sekitarku, untuk lingkunganku, dengan membantu adik-adik prasejahtera bisa mendapatkan sosok seorang kakak, ibu, guru, dan sahabat bagi mereka. Paling tidak, aku yakin dengan ilmu dan pengalamanku pernah terjun di dalam komunitas Ilmu Berbagi, aku bisa merangkul mereka. Tapi sedih, seiring berjalannya waktu, aku merasa jauh dengan cita-citaku itu. Sejak menikah, seperti hilang waktuku untuk sosiopendidikan, untuk adik-adik itu. Manajemen waktuku yang sangat buruk adalah penyebab semuanya. Aku merasa menjadi istri paling -sok- sibuk sedunia sejak menikah. Ah, mau sampai kapan Git?! Bagaimanapun, hal buruk ini harus ku perbaiki demi terwujudnya impianku memeluk adik-adik yang membutuhkan pelukan.

0 comments:

Post a Comment