19 March 2019

Berdamai dengan masa lalu

Memiliki anak shalihah yang spesial membuat hidup kami (saya dan suami) penuh dengan emosi meluap dalam 1.5 tahun terakhir. Emosi yang cukup baik disalurkan oleh suami, tapi tidak olehku. Tidak ada satu haripun rasanya emosiku tersalurkan dengan baik. Tidak ada satu haripun rasanya aku tidak menangis/marah. Tidak ada satu haripun rasanya aku jalani sebagai ibu dan istri yang tidak baik. Tidak ada satu haripun rasanya aku mengutuki diri sendiri, menghukum diri sendiri, dan jauh dari rasa syukur. Iri hasad dan syaitan2m-syaitan lain terus menggerogoti hatiku.


Mau sampai kapan???



Ya, kehamilan dan persalinanku tidak selancar yang aku banyak baca di dunia maya. Yang aku tau, hamil dan melahirkan itu mudah lancar dan poin-poin menyenangkan lainnya. Kehamilanku mulai ada yang tidak beres di trimester akhir yang atas izin Allah membawaku ke persalinan diatas meja operasi dengan kondisi pre eklampsia.

Kami pikir, semua selesai usia anak kami lahir ke dunia atas izin Allaah. Ternyata berbagai ujian hidup terus berdatangan melalui anak kami yang terlahir prematur. Aku tidak pernah berhenti menyesali hidup ini. Menyesal mengapa aku tidak bisa menjaga kehamilanku dengan sangat baik dan melahirkan sesempurna yang aku baca di dunia maya. Mengapa aku jahat pada bayiku sejak dia di dalam kandungan dengan tidak mengoptimalkan nutrisi2 yang masuk sampai akhirnya tumbuh kembangnya bisa baik seperti teman-teman seusianya.

Rasanya aku manusia paling hina. Karena aku jauh dari rasa syukur. Berkali-kali aku dengar tim medis mengatakan bahwa pre eklampsia tidak ada penyebab pribadinya. Benar-benar terjadi atas izin Allah tanpa ada sebab yang pasti. Dan ini wajar terjadi di setiap ibu hamil. Seharusnya kalimat-kalimat medis itu benar bukan? Tapi aku tetap menyangkal. Mereka hanya ingin membuatku tenang. Mereka hanya ingin membuatku berhenti menyalahkan diri sendiri. Ya kan?!





Sampai kami pada tahap,



Kami hanya pembantu. Yang sementara saja sebentar saja diizinkan mengurus anak kami.


Allah Pemilik anak kami. Allah Yang menciptakan anak ini lengkap dengan segala kekurangan kelebihan rezeki dan mautnya. Lalu, kami bisa apa?

Allah kapanpun bisa mengambil anak ini. Kapanpun Allah mau. Lalu, kami bisa apa?

Sampai kapan aku di tahap ini dan membiarkan hari-hari anak ini berada dalam lingkaran rumah yang menyeramkan, tidak seperti dunia anak lain yang bahagia diluar sana bersama ayah ibunya (?)


Aku cium kening anakku. Minta maaf lalu menangis sejadi-jadinya.




Sungguh, jika seorang muslim boleh berkata "andai saja aku menjaga kehamilanku dengan baik........." pasti sudah aku lakukan sejak dulu. Tapi kini aku tau, itu adalah pintu masuk syaitan dan Allah melarang muslim dekat dengan kalimat "andai saja dulu..." Qadarullah wa masya'a fal. Semua atas izin Allaah.



Sekarang, aku hanya ingin mengoptimalkan waktuku yang sebentaaaar ini untuk terus membersamai buah hati kami. Menjadikan dia bahagia dan bangga dengan aku sebagai mama nya. Aku tau, dengan segala kekurangan dan kepayahanku di masa lalu, aku tetap ibunya. Ibunya yang selalu akan tidak terima kalau ada yang menghinanya. Ibunya yang selalu akan dia cari pertama kali dia bangun membuka matanya.


Masyaa Allaah sungguh aku malu pada Allaah. Bukankah ini yang dulu aku minta bahkan sejak dari aku belum menikah? Bukankah kehadiran buah hati ini yang selalu aku tumpahkan air mataku di atas sajadah? Lalu apa aku sekarang tidak bisa mensyukurinya dan bahkan menyia-nyiakannya? Hanya karena satu dua kekurangannya. Tanpa aku pahami lebih jauh bahwa dia kunci syurgaku. Bahwa dia yang selama ini aku sia-siakan justru bisa menarik ku ke syurga Allah.

Maafin mama, nak.



Aku ingin hidup lebih baik. Hidup tanpa bayang-bayang rasa bersalah. Hidup dengan menerima segala takdir Allaah. Hidup tanpa menyesal apa yang dicatatNya untuk ku. Hidup tanpa menyalahkan keadaan, menyalahkan diri sendiri, bahkan menyalahkan buah hatiku yang sangat suci tidak tau apa-apa. Bagaimana mungkin aku menyia-nyiakannya sementara dia bisa saja meminta Allah sejak di arsy untuk dilahirkan dari rahim ibu lain, tp dia tdk lakukan bukan? Terimakasih memilih mama menjadi ibumu. Izinkan mama terus belajar membersamaimu, naura.


Love.
Mm.

24 February 2019

Bersiap menuju Kelas Bunda Sayang

Lho, jadi kemarin-kemarin seminggu ini tuh ngerjain macem-macem tapi belum masuk kelas? Iya belum karena kami sedang dalam masa pra-bunsay. Persiapan ketika kelak masuk ke kelas bunsay yang sesungguhnya. IIP regional Bogor untuk sesi sekarang berharap mahasiswinya adalah mahasiswi-mahasiswi pilihan. Adalah mereka yang memang sudah siap betul dengan konsisten dan komitmennya untuk mengikuti perkuliahan. Bagaimana tidak kami dituntut dengan -kokom, sebutan untuk dua poin penting ini- ? Karena perkuliahan tidak sebentar, tidak sehari duahari, melainkan 12 bulan penuh. Tentu pasti bukan hal yang mudah. Untuk itu kami ditempa dengan 4 tugas sederhana tapi sangat penting demi mengupgrade ilmu kami sebagai istri dan ibu di rumah. 4 tugas yang wajib dikerjakan selama 1 pekan. Sekali lagi, terdengar mudah tapi sungguh, kami para ibu dan istri ini berusaha menjalankan tugas ini diantara seabrek tugas domestik dan publik yang menggunung dengan kokom yang kami miliki.

Untuk aku pribadi, aku mendapat ilmu baru seperti penggunaan google classroom. Ternyata cara ini sudah digunakan di matrikulasi batch2 akhir. Sementa
ra aku yang merupakan batch agak awal, masih menggunakan google form sederhana. Ilmu baru, teknologi baru, yang aku dapat di IIP. Kalau bukan dari IIP, ibuk-ibuk sepertiku yang sehari-hari hanya berkutat di suami anak dan dapur sungguh merasa bangga bisa memiliki tambahan ilmu sebagaimana ibuk-ibuk pintar kantoran di luar sana. Masyaa Allaah.

Selama satu pekan ini, segala bentuk pembekalan dari materi, tantangan, sharing dari Mbak Ninis yang masyaa Allaah menginspirasi hidupnya, sharing manajemen gadget, dan tentunya segala support dari TNC Ibuk Tika. Terimakasih kepada jajaran pengurus IP Bogor atas segala lelah waktu dan energi yang dikeluarkan hanya untuk meyakinkan kami bahwa kami bisa dan harus bisa melanjutkan ke kelas Bunda Sayang.

Apapun hasilnya, manut kersanipun Gusti Allaah. Semoga aku bisa bergabung bersama ibuk-ibuk profesional lain di Kelas Bunda Sayang batch 5 dan Allah mudahkan aku ketika memang Allah mengizikan aku menjadi mahasiswi di dalamnya. Aamiin.

21 February 2019

Mama, Ayah, dan Naura

Mengenai mendidik Naura ini sungguh bukan hal sepele bagiku dan bagi suamiku. Dan in syaa Allah ndak Naura aja tapi juga adik2nya kelak. Amanah seberat ini jelas tidak hanya kami bicarakan sehari duahari. Aku mengulik pemikiran (calon) suamiku dulu ketika beliau melamarku, dan banyak poinnya mengenai keluarga, terlebih mengenai anak. Pendidikan anak.

Bagaimana cara beliau menyikapi karakter anak, bagaimana cara beliau memimpinku untuk mendidik Nau, bagaimana mengenai sekolah Nau kelak. Ya, kami membicarakannya detil bahkan sebelum kami berada dalam akad nikah. Proses khitbah yang baginya mencekam karena aku memborbardir dengan pertanyaan-pertanyaan masa depan yang pasti tidak mudah untuk dijawab saat itu.

Pendidikan anak-ku ku mulai dengan memilihkan ia ayah yang in syaa Allah sholeh. Yang mampu menjadi kepala sekolah di sekolah kehidupan kami. Pendidikan agama selalu kami jadikan acuan nomor satu. Semoga kamipun bisa istiqamah dalam mendidik Naura dalam ketauhidan.

Pendidikan Naura tidak hanya sebatas Ayah dan Mama. Naura tidak hanya bergaul dengan kami saja, bukan? Naura memiliki Akung, Oma, Budhe, Om, Tante, Pakdhe, Budhe, Yangti, dan Mbahkung. Dua kepala saja rasanya sangat sulit bersatu. Ini menyatukan dua keluarga dengan banyak kepala? Banyak perbedaan pasti. Banyak kritikan pasti. Apalagi kami besar di lingkungan yang berbeda pendidikannya. Sudah pasti banyak cekcok di dalamnya. Tapi aku selalu berusaha belajar. Aku harus lebih pintar dibanding mereka dalam mendidik Naura. Belajar dari artikel ke artikel. Dari buku ke buku. Dari kulwap ke kulwap. Lalu kemudian aku setor ilmunya ke Ayah Naura dan kami diskusikan biasanya. Maka ketika ada satu dua pola asuhan kami yang mereka anggap aneh, kami bisa memberikan alasan yang bermutu.

Sejauh ini, keluarga menerima cara kami mendidik Naura. Cara kami memberikan MPASI. Cara kami mengajarkan agama. Cara kami mengenalkan Sunnah. Semoga in syaa Allah Naura bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak sholehah seperti istri-istri Rasulullaah. Dan itu tidak akan terwujud jika Mama dan Ayah tidak terlebih dahulu mensholehkan diri. Kami berjanji, Naura :") In syaa Allaah kami pun belajar dari Naura.

19 February 2019

Apa kabar -ingin-ku kemarin?

Hari ini aku masih mencoba istiqamah dengan apa-apa yang aku ikhtiarkan kemarin. Hasilnya? Sedikit lebih baik. Puas? Tentu tidaaaak. Masih jauh dari puas
 Masih jauh dari hasil yang diharapkan. Sungguh lagi-lagi akuasih tenggelam di rutinitas istri dan ibu yang rasanya 'itu-itu' saja. 
Aku coba kalahkan egoku. Ya, ego rumahtanggaku. Toh percuma rumah bersih kalau anak tidak kenal Penciptanya. Baik. Setel speaker quran. Set juz amma. Biasanya aku takut naura kebangun setiap ada suara yang 'mengusik' tidurnya. Ah untuk yang ini aku yakin ini sama sekali tidak mengusik. Bahkan mungkin, ini yang selama ini ingin dia dengar? ya Allah maafin mama, nak :'(  Aku putar kecil volume dan aku dekatkan di tubuhnya, sejak dia tidur pagi, sampai jam makan siang. Baru sesebentar itu memang. Semoga besok dan seterusnya mama bisa lebih istiqamah kenalin Naura dengan ayat suci Allaah. Semoga raga ini bisa terus belajar dan menemani Naura dalam tahapannya bertauhid pada Allaah. Karena ini yang akan kamu lantunkan sepanjang hari sepanjang sholatmu sepanjang hayatmu, nak.



Love,
Mama yang berambisi mendekatkan Naura dengan Allaah. In syaa Allaah.



Ingin-ku hanya akan menjadi angan jika aku tidak bergerak

Bukan hal mudah bagiku untuk bisa istiqomah dalam menyatukan urusan mendidik anak dengan ketauhidan kepada Allah. Sungguh, teori itu terlalu mudah. Sudah berapa grup ku ikuti untuk sekedar mencharge energi keimanan, mencharge ilmu parenting islami. Aku cukup tau apa-apa yang harus ku lakukan. Bagaimana mengenalkan putriku pada agama kami. Bagaimana mendekatkan putriku pada penciptanya. Ya, semua nampak mudah.

Nyantanya, hari-hariku disibukkan dengan urusan domestik. Waktu-waktuku habis untuk urusan yang sebenarnya tidak akan ada habisnya. Mengurusi bisnis kecil-kecilan yang tak pernah membuatku cukup puas misalnya. Lalu? Kapan aku mulai mengenalkan Allah-ku ke Naura?

Rutinitasku seperti berputar itu saja tanpa ujung. Padahal, bukankah sejak bangun tidur, aku bisa mencontohkan Naura bagaimana doa bangun tidur yang disunnahkan Rasulullaah? Bukankah aku bisa mencontohkan Naura bahwa kanan selalu lebih dulu dibanding kiri? Se-sepele ini sebenarnya untuk urusan kegiatan sehari-hari kami. Tapi, istiqamah untukku sekali lagi bukan hal yang sepele.

Aku ingin fokus pada satu kegiatan yang terlalu sulit ku lakukan. Padahal, hampir semua ibu di luar sana melakukannya demi memiliki anak sholehah. Lalu, kenapa aku mau-maunya terkunci dalam rutinitas mengurusi Naura tanpa membawa Allah di dalamnya (?) Aku ingin mengenalkan Naura pada ayat2 Allah. Terlambat mungkin di usia Naura yang hampir menginjak 2 tahun ini. Aku ingin Naura terbiasa mendengar yang baik. Mendengar juz amma. Percuma sejak berbulan-bulan lalu beli speaker al quran kalau hanya untuk mendengarkan lagu tentang santri, bukan? Ini bukan tujuanmu saat memutuskan membeli speaker Al quran, Gita.

Aku hanya ingin putriku kenal Allah-ku. Aku ingin putriku terbiasa mendengar juz amma. Aku ingin putriku kelak hafal dengan ayat-ayat Allah. Tapi, ingin-ingin ini akan terus jadi angan-angan kalau aku tidak bergerak. Hari ini, aku bertekad istiqamah dengan inginku. Semoga Allah mudahkan.

#ipbogorbergerak #semangatbundasayang