18 July 2019

Game level 4 hari 2

Mengamati Gaya Belajar Anak

12 Juli 2019

Masih belum nemu celah gaya belajar nau secara spesifik teoritis. Karena kinestetik hanya aku lihat dari tingkah laku beliau yang kesana kemari ndak ada selesainya. Untuk soal belajar, belum spesifik -di hari ini-.

Nau loves singing. Dinyanyiin lebih tepatnya. Dia suka minta dinyanyikan sesuatu yang bikin hepi.

Di sisi lain, dia suka sekali belajar hijaiyah sambil lompat-lompat di atas kasur.

Di sisi lainnya lagi, dia menikmati puzzlenya dan fokus dengan tidak terpengaruh ruang sebelah yang lagi nyetel doraemon.

:")

Hari 2 : Gaya Belajar Anak : V ✔️ A ✔️ K ✔️

Game level 4 Hari 1

Mengamati Gaya Belajar Anak

Sungguh sulit sekali aku konsisten dalam menulis pengamatan di level ini 😭 Karena bulan ini adalah bulan untuk nau toilet training, yang pastinya menguras emosi jiwa raga ayah dan ibuk 😭😭😭 hwaaa semangat 💪💪

Hari 1 . 11 Juli 2019

Kami belum tau apa gaya belajar nau. Masih 2tahun euy hehe. Dan yang aku pernah pelajari dari dr.pinan bahwa aku tdk bisa menjudge anak aku kinestetik padahal anak aku masih 1 tahun 2 tahun krna di dunia kedokteran itu bisa ditetapkan ketika anak 4 tahun. Sama halnya dengan menjudge anak kidal, ndak bisa diputuskan ketika anak 1-2 tahun.

Ayah nau adalah pembelajar visual dan mama nau adalah pembelajar kinestetik. Nau? Belum tau, bener-bener belum nemu kunci belajar nya doi haha. Tapiii kalau tanpa memperhatikan poin-poin detil setiap tipe gaya belajar, rasanya pengen nyebut nau itu kinestetik buangeeeet saking aktifnyaaaa dan susah dipegang 😭😆😂

Lets see.

* Hari 1 : Gaya belajar anak : K ✔️

29 June 2019

Game level 3 Hari 10

Mengasah kecerdasan anak - intelektual.

Sudah lama rasanya kami tidak mengajak nau bermain sambil belajar dengan mainan-mainan edukasi. Hari ini kami mengajak nau bermain lego. Kami pernah mengenalkan lego bentuk balok pada umumnya ke nau tapi dia kurang tertarik. Kurang sensitif dengan lego. Tapi kami tahu betul bahwa lego banyak manfaatnya. Saat itu kami berharap kelak nau tertarik lego.

Hari ini kami mengenalkan kembali lego ke nau. Tapi dalam bentuk lain. Lego roket yang hits pada zamannya. Iya lego jadul memang haha.

Masyaa Allaah tabarakallaah. Responnya baiik. Nau tertarik. Entah karena memang sudah waktunya sesuai usia atau karena bentuknya unik atau yang lainnya.

Dan nau mulai memainkannya, mengasah motoriknya dengan menghubungkan keping lego satu dan lainnya. Mengasah sensorinya dengan melakukan sorting color. Masyaa Allaah 😍

27 June 2019

Game level 3 - Hari 9

Hari ini jadwal kami ke kota lain, Banyuwangi, mengunjungi keluarga besar mbah kung disana. Ayahnau pun kelahiran sana. Ini kali pertama nau ke Banyuwangi hihi alhamdulillaah.

Hari ini jadwal kami padat merayap. Berangkat bada Subuh ke stasiun naik kereta. Tiba disana kami langsung makan siang sego tempong khas Banyuwangi dan lanjut main ke rumah teman yang sudah kami anggap saudara. Disana ada anak seusia naura. Beda 1 tahun sepertinya. Lebih tua kakak itu.

Kembali, manajemen emosi nau (dan kami sebagai orangtua) diuji. Waswas sih apakah nau kembali mampu bersosialisasi dengan anak seusianya. Dan masyaa Allaah jauh lebih mudah dibanding dengan kakak sepupunya di rumah yangti. Padahal dengan anak ini, nau sama sekali belum pernah bertemu.

Nau langsung menuju ke ruang mainan sendirian. Justru kakak itu yang mengikuti nau. Lalu tanpa butuh waktu lama, mereka sudah main bersama. Masyaa Allah alhamdulillaah.

******

Sorenya, kami ke Rumah Apung melihat Baby Shark di penangkaran tengah laut. Lagi-lagi nau mengalami pengalaman pertama dalam hidupnya. Sore itu nau pertama kalinya naik kapal. Ayey!
Sooo, nambahlah kosa kata nau hari ini= kapal. Sembari kami ayah ibunya, bercerita mengenai perjalanan kapal dan apa-apa yang dilihat di sekeliling. Betapa Indonesia indah ini ciptaan Allah dan semoga Nau bisa lurus dalam tauhidnya kepada Allah aamiin :)

Masyaa Allaah tabarakallaah linguistik nau banyak perkembangan ketika mudik ini.

Game level 3 hari 5

Masih tema mudik sambil belajar hehheheh.

Mumpung di kampung halaman, sekalian bermain sambil belajar macem-macem yang bahkan mungkin ndak ditemuin ketika balik Jakarta nanti.

Hari ini nau nambah kosakata baru masyaa Allah alhamdulillaah. Becak.
Dan iya, hari ini juga Nau kali pertama naik becak. Shes sooooooo happyyyyy. Dan bilang "mama mau mama mau mama mau" gitu terus xixixi. Padahal ya cuma 400m paling naik becaknya. Dari depan gang ke toko baju deket rumah haha. Tapi alhamdulillaah sehepi itu.

Sudah sejak hari pertama disini, kami ingin mengenalkan nau pada becak tapi baru sempat hari ini hihi. Selamat bertualang dengan becak, nauuu!

Game level 3 - Hari 8

Puji syukur rumah mbahkung nau punya langgar yang cuma tinggal jalan kaki beberapa langkah aja dari rumah. Langgar atau mushola umum yang nggak begitu besar dan isinya mayoritas keluarga besarnya mbahkung sebagai jamaahnya. Betul-betul kids friendly.

Di rumah jakarta/cile, kami masih sangat takut bawa nau ke masjid karena ukurannya yang luas dan besar, lebih sulit untuk kami mengontrol posisi nau. Pernah, dia tau-tau ngikut kakak-kakak yang mau pulang udah siap mau ke jalan raya hiiii >.<

Salah satu yang kami tunggu di masa mudik ini adalah mengajak nau untuk shalat teraweh bersama, dan nantinya shalat ied bersama di masjid in syaa Allah.

Tahun lalu nau gembira banget di langgar depan rumah ini, tapi dia belum bisa jalan. Mungkin tahun ini dia justru ga berhenti jalan? Hahaha.

********

Alhamdulillaah kali pertama nau dan kakak-kakak diajak ke mushola untuk sholat teraweh. Nau sudah punya mukena sejak tahun lalu dan sudah kami kenalkan dengan mukena. Sholatpun sedikit banyak dia sudah tau bagaimana gerakannya.
Hari ini nau sholat di samping mama sambil ikutin gerakan sampai berdoa walaupun sangat jauh dari sempurna tapi in syaa Allah terus belajar yaaa.

Game level 3 hari 6 & 7

Seminggu sebelum mudik, kami sudah menyiapkan amunisi untuk nau. Amunisinya ya pospak, ya mainan, ya makanan, yang sekiranya susah ditemui atau mahal disana hehehe.

Nah soal mainan, sebagai ibuk-ibuk penjual mainan edukatif, ku juga gakmau waktunya nau sia-sia dalam mainan yang sekali pake rusak buang haha. Jadi kami siapin beberapa mainan edukatif untuk nau main di rumah yangti.

Salah satunya bahan main cocok warna. Nau hari ini main ini bareng kakak sepupunya. Soal main bareng mereka udah cocok alhamdulillaah. Namun soal kemampuan, awalnya sama-sama belum mampu walaupun kakaknau usianya 3.5th. Mungkin karena baru lihat, hal baru bagi mereka.

Sama-sama bingung ini ditaruh mana, kancing ini warnanya di sebelah mana, hehe. Yuk ah belajar lagi besok yaa nau dan kakak hasnaa!

*******

Kyaaaa masyaa Allah tabarakallah setelah kemarin seharian mainan beginian terus, hari ini kemajuan positif untuk nau dan kakaknya :)) Kakaknya sudah mulai menguasai panggung dengan mudahnya, sementara nau masih 40/100 skornya hehe. Yuk belajar lagi naauu 😍

25 June 2019

Game level 3 - Hari 4

Masih belajar untuk memanajemen emosi dengan sibling.

Baru ini kami lihat naura merebut dan mempertahankan apa yang dipunya. Kami tidak banyak intervensi. Kami merasa sudah sounding bagaimana nau harus bersikap kepada sibling di luar kondisi yang sdg berlangsung. Sekarang, jika sedang berhadapan dengan kondisi ini, kami tidak ikut campur. Kami tidak intervensi. Kami biarkan nau berkenalan dengan egonya. Berteman dengan emosinya. Berpikir dengan otaknya. Kemudian menemukan sendiri solusinya. Toh selama tidak ada kekerasan, kami rasa semua dalam tahap baik untuk perkembangan anak-anak.

Sejauh ini kami bisa mengambil simpulan sementara bahwa nau masih bisa mengontrol emosinya. Dia masih dalam posisi anak-anak yang super egois, tidak mau berbagi, berusaha mempertahankan apa yang dipunya, tapi jika tetap direbut, dia tidak menangis.

Proud, nak :')

22 June 2019

Game level 3 hari 3 - Sibling emotion

Sungguh sangat menguras emosi ya ternyataaaa membersamai anak balita yang sedang dalam ego yang setinggi-tingginya dan bermain sama saudara seusia. Duh. Rebutan, berantem, nangis, bener-bener gak ada berentinya :")

Hari ini kami diuji dan ditantang untuk tetap membersamai nau dalam belajar mengelola emosi. Bagaimana nau bisa bersosialisasi di dalam rumah sehari-hari dalam waktu cukup lama dengan saudara yang usianya setahun dua tahun lebih tua dari dia.

Awalnya ini tantangan untuk kami. Ya, bagaimana bapak dan ibuknya mengajarkan mendidik dan membentuk karakter dia ketika bersosialisasi dengan saudara seusia. Karena aku paham, dia adalah bagaimana kami membentuknya atas izin Allah.

Nau sejauh ini hanya sebatas tau ini naura dan itu kakak hasna. Dia juga tau ini mainan naura dan itu mainan kakak hasna. Yang dia belum tau adalah "mainan naura boleh dipinjam kakak hasna" dan "naura tidak boleh merebut memaksa pinjam mainannya kakak hasna" :(

besok belajar lagi ya nak :"")

Game level 3 hari 2

Hari-hari pertama nau di rumah mbahkung Jember bukanlah hal yang mudah untuk nau (juga ayah dan mama) karena nau lagi-lagi tetap hrs beradaptasi walaupun ini sudah kali ketiga nau pulang kampung.

Nggak mau sama siapa-siapa kecuali sama ayah dan mama, bakalan jadi drama setiap hari udah pasti wkwk. Tapi mudik kali ini alhamdulillahnya nau lagi nemploook terus sama ayahnya. Wkwk masya allah nau paham bgt mama mau goler2 delosor nikmatin mudik wkwkwk.

Mencoba sounding ke nau kalau ini lagi dimana, kalau orang-orang di rumah ini siapa aja, dan lain sebagainya. Alhamdulillah(-nya lagi) mudik kali ini tidak sesulit mudik yang lalu karena kakak sepupu nau sudah datang lebih dulu. Jadi nau ada temen main dan langsung hepi. Walaupun sama yangti mbahkong dan tante masih belum nempel.

Nau mengamati satu demi satu anggota keluarga di rumah ini sambil aku kenalkan sambil aku ceritakan sambil aku ajak nau untuk salim. Aku ajak nau berkeliling rumah berharap dia bisa menyatu dengan lingkungan baru ini. Aku ajarkan nau untuk mengenal istilah baru: yangti tante mbahkung yang selama ini di rumah Jakarta tidak ada.

Ya, kosa kata baru yang bisa dia ucapkan lagi masya Allah tabarakallah dan otaknya yang kembali merekam orang baru dan hatinya yang sedang merasakan kasih sayang dari orang yang dia anggap baru :)))

Game level 3 hari 1

Melatih kecerdasan anak.

Akhirnyaaaa masyaa Allah setelah harian bahkan mingguan gak kedentuh tugas iip ini tapi tetap merasa dikejar-kejar hutang. Alhamdulillaah hari ini berkesempatan pegang hp untuk belajar lagi.

Hari-hari di kampung benar-benar membuat kami bahagia seperti isi ulang energi. Jauh dari hiruk pikuk keramaian ibu kota bahkan tidak mengikuti berita politik yang sedang ramai diperbincangkan. Sementara ketika di Jakarta sungguh sehari-hari kami dijejeli dengan suguhan ini di televisi.

Bukan hanya untuk aku pribadi, tapi nau juga hepi sekali pulang ke kampung mbahkong nya :)) Disini nau bisa lihat angsa bebek peliharaan dan sawah. Sederhana memang tapi paling tidak disini aku bisa menunjuk dan memberitau bahkan mengajak nau terjun langsung ke sungai, sawah, dan kandang bebek yang selama ini hanya lewat cerita.

Di kegiatan main di alam hari 1 ini nau mengasah kecerdasan intelektual. Sisi linguistiknya. Alhamdulillah kosa katanya bertambah. Sungai. Padi. Angsa. Dan dia sudah hapal ketika lewat jembatan, dia langsung menunjuk ke luar bawah dan bilang air. Walaupun itu malam hari. Seolah dia hapal bahwa jembatan itu baawahnya sungai yang mengalir.

6 May 2019

Hasil tidak mengkhianati proses, Mah.

Hari 9 melarih kemandirian anak.

Dan merupakan hari kesekian urusan makan sendiri-naura.

Masyaa Allaah tabarakallaah. Hari ini kami ajak nau makan di luar. Cari suasana baru. Walaupun aku tetep pesimis akan berhasil. Justru kayaknya permasalahan akan semakin besar 🤣 Tapi ndak ada salahnya kita coba. Yuk.

Pesen makanan yang disuka. Minta alas makan yang baby friendly. Minta tisu. Dan minta maaf kalau setelah ini akan terjadi huru hara di restoran. Wkwkwkwk.

Cus pesen kentang. Pesen sup jagung. Kasih sendok. Dihambur-hambur. Baik. Sabar Gita. 5 menit. 10 menit. Sambil ayah dan mama juga makan di hadapan dia. Alhamdulillaah masyaa Allaah dia makan doong. Supnya dituang ke alas makan lalu dia ambilin masukin ke mulut. Sambil meminta dituangkan lagi. Begitu sampai habis. Dan kentang juga masih dilahapnya walaupun hanya habis separo kotak. Alhamdulillaah 😊😍 Semoga seterusnya ya naaak aamiin.

Seterusnya- makan sendiri lahap habis maksudnya- bukan seterusnya- makan di resto yhaaa  🤣

5 May 2019

Masih nau belajar makan sendiri

Masih usaha banget supaya nau (dan saya) makan sendiri tapi masih saja gagal. Tantangan naura makan sendiri ini bener-bener entah rasanya kapan akan sukses huhu pesimis :(

Memberikan semangkuk makanan dengan sedikit mie dengan harapan dia makan dengan bahagia bersama ayah mama yang juga makan di sebelahnya ternyata bukan ide yang langsung sukses haha.

baik, besok coba lagi :(

1 May 2019

Gakmau disuapin, Mah.

Hari ini di waktu sarapan aku pribadi belum mencoba melanjutkan usaha nau makan sendiri.
Kaget, di jam makan siang, kami jajan mi ayam dan sepertinya dia tertariik! Kami sengaja tidak memberikan dia minum susu dalam jumlah yang biasanya. Dengan harapan dia tertarik minta makan dan mau makan sendiri.
Kami coba suapin mi ayam dan dia minta sendok.
Aku langsung ambilkan mangkok dan sendok. Tarraaa, dia mau makan sendiri masyaa Allah tabarakallaah. Belum banyak, tapi kami menghargai proses bergeraknya Nau. in syaa Allaah alhamdulillaah.

Coba coba makan sendiri

Hari 6 ini aku mulai membiasakan nau untuk makan sendiri. Semoga bisa berhasil. Well hari pertama latihan makan ini beluk berbuahkan hasil. Masih disuapin itupun belum banyak. Habis sakit mungkin :(

29 April 2019

Mah, tolongin, please :)

Hari ketiga untuk beres-beres mainan.

Masih mencoba cara dealing with.

Masya Allah tabarakallah hari ini Nau jauh lebih kooperatif.

Mencoba dealing with dengan segala upaya supaya berhasil dengan cara yang baik untuk Nau.

"No, nau ndak boleh mainan puzzle itu, sebelum beresin mainan stiker ini."

Dan ini kami lakukan dengan kondisi puzzle kami letakkan di dalam lemari. Dia tau tapi dia tidak bisa ambil sendiri. Jadi dia butuh kami untuk mengambilnya, dan kami memberi syarat untuk itu.

Selama ini semua mainanannya di depan mata. Di rak tertata rapi  tapi tidak setelahnya. Bukan, bukan kami membenci perilakunya. Kami ingin belajar supaya nau bisa belajar mandiri. Untuk urusan beres-beres ini  memang cukup menyita waktu dan pikiran aku pribadi. Biar ibuk senang ga pake marah-marah, perlaham cara ini cukup ampuh. Dia butuh aku untuk menolongnya mengambil mainan yang lain. Aku butuh dia untuk merapikan mainan yang sebelumnya. Plis. :)

28 April 2019

Deal atau tidak

Hari kedua perihal membereskan mainan.

Masih di tantangan mengenai beres-beres. Hari ini tidak beda jauh. Ketika aku menyuruh membereskan mainannya, nau hanya ngeliatin aku diem aja. Aku ulang kembali perintahku, dan responnya masih sama. Aku tinggikan nadaku, dan dia respon dengan menggeleng.

Kemudian ku coba dealing with. Berharap ada perbedaan respon. Menawarkan opsi, bernegosiasi, lalu patuh dan tepat janji pada keputusan yang disepakati.

Hasilnya? Sama.

😭

Semoga hari ketiga bisa lebih baik 😭🙏


27 April 2019

Melatih Kemandirian Anak

Ini hari kedua tantangan bunsay, tapi hari pertama ku menulisknnya disini. Alhamdulillaah aku anggap kholas tantangan pertama kemandirian menyelesaikan kesulitan (puzzle) tanpa bantuan orangtua.

Aku lanjutkan di tantangan berikutnya. Dulu bagiku tantangan ini bukan hal yang sulit rasanya. Tapi sekarang seiring berjalannya usia, banyak sudah penolakan disana sini. Bukan tantangan untuk anak saja, tapi juga untuk orangtua. Membereskan mainannya sendiri. Iya nau harus mau membereskan mainannya sendiri.

Bagi seorang ibu yang menerapkan montessori di rumah, tentu harapan rak dan perkakas terpampang dengan perfek adalah impian haha. Dan satu risiko bagi ibu yang menerapkan montes seperti ku adalah tidak sedikit bahan/alat main yang banyak printilannya. Beras. Makaroni kering. Tepung. Pasir. Lilin. Bahkan kepingan puzzle. Pusing jangan pernah ditanya. Duh hahahaha!

Mengajak Nau bermain dan sampai membereskan mainannya bersama sudah kami terapkan sejak usia 1.5tahunan. Dan dulu Nau bisa dibilang kooperatif. Entah mungkin karena masih iya-iya saja. Belum mengerti menolak. Dan di usia 22 bukan seperti sekarang, diajak beresin, langsung dibalas dengan "nggak" dengan tegas 🤣 Antara mau marah dan sedih dan merasa gagal menjadi ibu yang tidak bisa mendidik anak dengan seidealis buku parenting haha.

Hari ini pun masih sama. Kami belum berhasil membuat nau mau membereskan mainan. Semoga besok ada kemajuan yang baik dari nau untuk dirinya sendiri. Dan semoga aku, ibunya, tidak keluar emosi-emosi buruk hanya karena rumah yang berantakan. Aamiin.

20 April 2019

Aliran Rasa - Komunikasi Produktif

Sayang sekali, rasanya sangat kurang belajar memperbaiki kualitas komunikasi dengan nau dan ayahnya selama 10 hari. Bukan sesuatu yang mudah untuk aku sebagai ibu dan istri yang sangat keras kepala dan emosian.
Sungguh banyak pembelajaran yang ku dapat seminggu lebih ini. Semoga ini semua bisa memperbaiki komunikasi ku untuk mereka. Canggung ketika we time bareng ayahnau, susah ketika harus menahan emosi di saat biasanya emosi sama Nau, dan lain sebagainya.
Ah, sungguh hal baik ini harus ku lanjutkan walaupun lepas 10hari tantangan ini.
In syaa Allah.

7 April 2019

Komunikasi Produktif - 10

Mengajak toddler bepergian ke luar kota selama 3 hari tanpa ayahnya memang hal yang zuuuper menantang. haha.

Nangis di perjalanan karena bosan. Lari sana sini untuk explore tempat baru. Dan lain sebagainya. Lelah pasti. Tapi, sungguh kelelahan ini hanya sebentar saja Gita. Akan ada waktunya dia menolak ditemani. Dia tidak butuh lagi diliatin karena takut terjatuh. Dia meminta untuk pergi sendiri. Dan itu pasti tidak terasa waktunya 😢😢😢

Yang harus aku lakukan hanya menikmati semua proses ini. Sungguh Naura akan cepat besar dan kelak aku rindukan masa dia di saat ini. Hanya aku butuh lebih banyak belajar untuk berkomunikasi dua arah dengan dia. Tatap matanya ketika bicara menjadi catatan penting hasil observasiku hari ini. Poin yang hampir selalu aku abaikan ini ternyata punya pengaruh super besar di naura.

Dengan menatap matanya, naura lebih merasa diperhatikan, dimiliki, difokusi.

6 April 2019

Komunikasi Produktif - 9

Ridho suami, adalah ridho Allah.

Aku selalu berusaha mrngingat hal ini.

Sebagai seorang ibu rumah tangga yang fleksibel waktunya tapi tetep sok sibuk haha, setiap ada event yang menggiurkan, rasanya ingin meluncur kesana menjemput rizqi hehe.

Tapi semua harus dikomunikasikan, kami tau. Kalau suami tidak mengizinkan, aku harus tidak. Apapun alasanku untuk mendebatnya. Selama tidak bertentangan dengan syariat, aku selalu berusaha mematuhi.

Tidak sedikit kesempatanku mendebat kekeuh dengan alasan-alasan ngeyelku. Memang sulit sekali rasanya mengontrol ego. Ego wanita yang memang benar-benar bumerang jika mengizinkan Syaitan yang mengontrolnya.

Hari ini tanpa banyak bertanya dan mendebat, aku mencoba mematuhi penolakan suamiku akan izinku untuk menjemput rizqi di luar sana. Aku yakin ada hikmah Allaah di baliknya. Aku yakin mematuhi suamiku adalah lebih utama. Karena kunci syurgaku di suamiku, bukan di penjemputan rizqi-ku.

4 April 2019

Komunikasi Produktif - 8

Anak balita tantrum di depan umum?
Ibu baru mana yang bisa sangat biasaaa menghadapi ini? hehe.

Hari ini aku pergi setengah hari bareng nau. Iya cuma aku dan naura. Ayahnya belum pulang kerja. Tapi dengan izin dan ridho ayah tentunya.

Tantangan? Awalnya biasa saja bagiku. Karena aku pikir hampir sama saja dengan hari-hari sebelumnya ketika kami pergi berdua. Bukan kali pertama kami pergi berdua dan kami baik-baik saja.
Eternyata hari ini zuper 😂

Hari ini aku pergi menjemput rizqi, ajak nau. Karena di rumah tidak ada yang bisa dititipi. Di TKP, nau masih bisa terhandle dengan baik. Satu jam kemudian, hampir semua barang di sekitar dia jadiin mainan dan dia duduk di bawah untuk main. Mulailah aku deg-degan karena mencium bau-bau akan adanya drama kumbara 😂

Bener aja, dia enggan beranjak dari lantai, menolak digendong, dan marah diajak pergi 😂 Sekeliling mulai ngeliatin dengan tatapan 'anak siapa sih tuh'. Nangis pelan, nangis kenceng, duar lalu jerit-jerit keluaaar dari mulut mungilnya. Aku mencoba biasa tapi kok ya susah 🤣

Lagi-lagi coba terapin cara semalam. Bicara singkat detil alasan mengapa boleh dan tidak boleh. Mengapa mama melarang nau main di lantai di tempat umum. Mengapa nau gaboleh jerit2 di tempat umum. Mengapa nau harus nurut sama mama 😆

Dan masya Allah alhamdulillaah ternyata berhasil. Memang benar semuanya harus dibicarakan baik. Ajak nau bicara seperti dengan orang dewasa. Walaupun dianggap anak kecil tapi in syaa Allah sungguh dia pasti paham.

Coba tolong-tolong dibantu yang pernah pengalaman anak tantrum di depan umum 😆😂🙏

3 April 2019

Komunikasi Produktif - 7

Malam ini kesabaran diuji penuh. Setelah ayahnau berangkat kerja shift malam dan aku kembali berdua Nau lagi. Nau sudah tidur dengan baik sebenarnya. Maksudku, nau sleep training sejak usia 3m dan alhamdulillaah tidak pernah ada masalah seputar jam tidur dan rutinitas tidurnya.

Tapi malam ini lain. Drama kumbara dimulai, haha. Tidak seperti malam-malam lain, dia malam itu ikut keluar saat ayahnya pamit berangkat kerja. Dengan mata yang setengah watt aku mengikuti dia sambil mulai mengeluh mengantuk. Ndak hanya sampai situ, nau saat itu ngajak liat kucing, ngajak ngasih makan kucing. :(

Keinginan tubuh ini istirahat karena seharian belum selonjoran mengalahkan kesabaranku. Amarahku memuncak. Aku marah. Nau nangis jejeritan. Dan itu berlangsung kurang lebih 15 menit. Aku makin marah karena dia akhiri tangis jeritannya dengan muntah. Untuk ibuk-ibuk -yang anaknya masih dalam tahap berusaha makan banyak lahap- sepertiku liat anak muntah rasanya runtuh dunia. Perjuangan nyuapi buyar sudah seakan tanpa hasil. Amarah makin menjadi dua kali lipat. Nau? Sama, makin nangis dua kali lipat.

Aku gendong nau yang terus memberontak minta turun minta keluar. Aku diam tidak berkata-kata, sambil mempertahankan dia di dalam pelukanku. Ketika tangisnya mulai mereda dan sesenggukannya mulai tidak terdengar, aku mulai 'ceramah'. Berusaha memberikan informasi singkat tapi jelas. Minta maaf ketika memang salah.

"Naura, mama minta maaf ya mama marah2. Naura harus tau kalau ini udah malem. Kalau malem itu semua harus tidur. Naura juga sama. Hrs istirahat, tidur. Supaya sehat. Naura hrs nurut sama mama. Gaboleh minta keluar rumah tengah malem gini. Kucingnya juga udah gak ada kok, sama, malem tidur dia."
Lalu dia nengok ke wajahku sambil bilang "Bobok."
"iya kucingnya bobok."
"Pus. Gada" sambil geleng2.
"Iya kucingnya gak ada kalo malem"
Lalu dia minta turun dari gendonganku sambil nunjuk ke kasur.
"Iya. Bobok yuk"
Dan 5 menit setelah aku letakkan tubuhnya di kasur, dia tidur.

Allahuakbar. Rasanya campur aduk jadi satu. Bener-bener jadi ibuk sungguh bukan hal yang mudah.
Maafin mama ya, nau 🙏😞

2 April 2019

Komunikasi Produktif - 6

Mencoba kembali memperbaiki diri untuk ayah nau.
Mencoba refleksi diri untuk bagian menunjukkan empati sepertinya tepat dipraktikkan pagi ini.
Qadarullah ayah nau lagi demam, capek nyetir sana sini sepertinya, pegel-pegel katanya.
Ya, jarak Cile-Bonjer emang nggak deket dan ada yang membuat ayah nau sementara waktu harus PP Cileungsi-Bonjer :(

Sungguh bukan hal mudah pasti. Lelah ngantuk jadi satu. Ditambah di rumah kena omel sana sini dari aku :(

Berhenti mengeluh. Secapek-capeknya aku, paling tidak, saat beliau pulang kerja, dia ada di kondisii pualiiing capeek. Anggap aja begitu hehe. Siapin makan, minum, lalu izinkan beliau istirahat. Sementara, jangan setor dulu ceritaku pagi itu. Dengan mengizinkan beliau istirahat tanpa gangguan pekerjaan2 domestik atau urusan nau sementara, pasti cukup membuatnya tenang dan tidur nyenyak hehe.

Sejam dua jam, waktunya bangunin.
"Kamu gak marah tadi aku langsung tidir pas pulang?" Aku senyum geleng-geleng.
"Tumben" 😂🤣😂🤣
"Tumbennya sekali2 aja ya aku mas" 🤣

Komunikasi Produktif - 5

"Beresin mainannya, masukkin ke keranjang" mau diucapin dua ribu kali juga gak bakal dilakuin deh sama Naura. Oke kudu intropeksi diri barangkali diri ini memang yang salah.
Cek cek daftar perbaikan bundasayang IIP lalu mata ini berhenti pada kalimat -Ganti perintah dengan pilihan-.

"Nau, pakai dulu kerudungnya kalau Nau mau ikut. Nau boleh ikut kalau pakai kerudung, atau Nau di rumah aja sama oma" dan dia langsung gercep ambil kerudung dan minta mama pakai-in. Masya Allaah bener ternyata. Bukan perintah yang harusnya kami lontarkan. Tapi pilihan. Mau ikut pakai kerudung atau di rumah aja gakusah ikut.

Cara ini kami coba di malam hari sebelum tidur. Dan biidznillaah langsung berhasil.

-Nau beresin dulu mainannya baru bisa dapet susu terus bobok kita; atau Nau pilih main sampe capek bobok disini ga dapet susu, mama mau bobok soalnya". Entah masih salah atau tidak penggunaan bahasa kami tapi paling tidak cara ini berhasil pelan-pelan membuat nau merapikan mainannya sebelum masuk kamar tidur.

31 March 2019

Komunikasi Produktif - 4

Masih tentang makan.
Sungguh, persoalan makan Naura bukan hal yang butuh kami komunikasi baik-kan satu dua hari saja.

Hari ini nau (masih) menolak makan pagi. Baik. Aku bisa mengontrol emosiku. Tapi lebih karena keadaan. Keadaan rumah ramai membuatku enggan memarahi naura. Aku coba bicara lirih padanya 'Mamah cuma bikin ini. Di rumah cuma ada ini. Naura harus makan ini karena cuma ada ini. Mama ndak bikin susu. Karena nau hrs makan. Kalo ndak nau akan laper. Dan mama akan tawari makan lagi masih nanti siang. Gimana? Mau makan pagi atau laper sampai jadwal makan siang?'

Nau cuma diem aja menatap aku, kemudian melengos lagi. Aku ajak nau makan sambil bermain. Masya Allah Tabrakallaah makanan di piring yang ke pegang perlahan habis. Dan aku mencoba menjalani janjiku utk tidak memberi susu. Bukan, ini bukan hukuman. Ini hanya sedikit bentuk ikhtiar solusi kami sebagai orangtua.

Siang? Masya Allaah sujud syukur kami panjatkan. Naura makan banyak habis dan dengan bahagia 😍 Terimakasih ya Allaah terimakasih Naura ☺️ Yes mama memang selalu berterimakasih ke Naura setiap sesi makan selesai jika dia makan dengan baik. Dan mama selalu kasih bonus naura jika sudah makan dengan baik hehe. Kerupuuuk favoriiit!

Komunikasi Produktif - 3

Hal paaaaaling membuatku emosi tingkat tinggi dalam urusan Nau adalah urusan makan. Rasanya semua cara-cara teori-teori yang tertulis di media parenting sudah aku coba, tapi nihil :(

Sungguh, puncak kesabaranku diuji setiap kali sesi makan. Rasanya setiap hari ingin sekip aja sesi makan, tapi ndak mungkin :( Baik, yang harus diskip ego tinggiku, bukan makan-nya nau.

Exhale inhale. Aku hanya perlu menurunkan ekspktasiku. Tidak berharap tinggi, tapi bersyukur dengan yang sedikit. Dengan itu, semoga Allah menambah yang -sedikit- itu.

Hari ini jadwal makan. Ingin marah, jelas. Tapi hari ini aku berhasil diam. Balik badan, diam, baru kemudian dicoba lagi. Mungkin belum makan. Aku sodorkan lagi lima menit kemudian. Begitu ku ulangi sampai penolakan ketiga kalinya. Dan sukses di kali keempat. Lihat, aku sungguh hanya butuh lebih sabar lagi sedikit.
Dan semoga kedepannya komunikasi kami jauh lebih baik lagi. Dan semoga pengontrolan emosiku tidak hanya berhasil dan berhenti di hari ini.

30 March 2019

Komunikasi Produktif - 2

Hari ini masih tahap percobaan. Aku mencoba menjadikan Naura sebagai sasaran belajarku. Ternyata, belajar berkomunikasi produktif dengan Naura tidak semulus kemarin dengan ayah nau. Sebagai ibu yang 24/7 membersamai Naura, sungguh sulit untuk menjadi ibu yang waras dan lemah lembut sepanjang hari.
Rasanya hanya satu yang aku ingin perbaiki komunikasiku dengan naura. Emosiku ketika marah. Aku hanya ingin berhenti marah-marah. Berhenti berteriak dengan inotasi yang 'kesetanan'. Berhenti menganggap dia manusia dewasa yang terperangkap dalam tubuh mungil. Karena sungguh, teman bicaraku adalah anak yang baru menghirup udara dunia belum ada dua tahun.
Ternyata, hari ini, aku masih gagal memperbaiki semuanya. Intonasi-intonasi tinggi masih keluar. Amarahku masih meledak-ledak jika kami hanya berdua di rumah. Sebagai manusia yang perfeksionis dalam kebersihan dan kerapihan, melihat keadaan rumah yang kacau balau sungguh aku tidak bisa menurunkan ekspektasiku. Rasanya aku masih belum bisa beranggapan -ada anak-anak gakpapa rumah berantakan-. Mudah bagi mereka di luaran sana, tapi susah bagi seorang yang perfeksionis sepertiku. Yang tidak bisa sedikit memaklumi keadaan rumah ini.
:(

28 March 2019

Komunikasi Produktif - 1

Antara naura dan ayah nau, aku akhirnya memilih ayah nau untuk tantangan kali ini. Aku pikir, semua berawal dari kami. Semua hiruk pikuk haru biru sedih syahdu riang gembira di rumah ini, tergantung pada kami. Aku dan suami. Jika hubungan kami baik, maka bahagialah rumah kami. Jika komunikasi kami produktif, maka nyamanlah rumah kami. Maka komunikasiku dengan suami dulu-lah yang harus aku perbaiki.

Mengharapkan respon suami untuk mengkritisi segala kekuranganku dalam komunikasi, ternyata tidak sedikit poin yang ku dapat. Emosian. Gak sabaran denger penjelasan sampai habis. Hobi memotong. Mengedepankan ego. Mengulang2 cerita. Dan beberapa lagi yang negatif. Dan aku? Tetap denial tentunya haha. Ya aku memang sekeras kepala itu. Dan suamiku, sama kerasnya. Sudah khatam rasanya kami hobi berbeda pendapat yang tak menemukan ujungnya.

Malam itu kami sepakat beberapa hal. Bahwa aku harus diam ketika suami bicara. Bahwa aku wajib belajar menjadi pendengar yang baik. Ya, pendengar. Bukan perespon. Karena ada kalanya suami 'hanya' ingin didengar. Cukup. Tanpa diladeni dengan bumbu-bumbu tanpa faedah setelahnya. Dengarkan saja sampai selesai. Poin terpenting adalah ketika aku marah. Aku harus menepati janjiku bahwa aku harus diam 1-5 detik. Baru kemudian bertindak. Harapannya detik-detik yang seharusnya menjadi bok atom ledakan amarah, bisa reda dan berganti menjadi hati dan otak yang dingin dan mengeluarkan energi yang paling tidak lebih baik.
Ini bagian tersulit. Diam ketika marah. Bukan hanya ke ayah naura, tapi juga untuk naura :(

19 March 2019

Berdamai dengan masa lalu

Memiliki anak shalihah yang spesial membuat hidup kami (saya dan suami) penuh dengan emosi meluap dalam 1.5 tahun terakhir. Emosi yang cukup baik disalurkan oleh suami, tapi tidak olehku. Tidak ada satu haripun rasanya emosiku tersalurkan dengan baik. Tidak ada satu haripun rasanya aku tidak menangis/marah. Tidak ada satu haripun rasanya aku jalani sebagai ibu dan istri yang tidak baik. Tidak ada satu haripun rasanya aku mengutuki diri sendiri, menghukum diri sendiri, dan jauh dari rasa syukur. Iri hasad dan syaitan2m-syaitan lain terus menggerogoti hatiku.


Mau sampai kapan???



Ya, kehamilan dan persalinanku tidak selancar yang aku banyak baca di dunia maya. Yang aku tau, hamil dan melahirkan itu mudah lancar dan poin-poin menyenangkan lainnya. Kehamilanku mulai ada yang tidak beres di trimester akhir yang atas izin Allah membawaku ke persalinan diatas meja operasi dengan kondisi pre eklampsia.

Kami pikir, semua selesai usia anak kami lahir ke dunia atas izin Allaah. Ternyata berbagai ujian hidup terus berdatangan melalui anak kami yang terlahir prematur. Aku tidak pernah berhenti menyesali hidup ini. Menyesal mengapa aku tidak bisa menjaga kehamilanku dengan sangat baik dan melahirkan sesempurna yang aku baca di dunia maya. Mengapa aku jahat pada bayiku sejak dia di dalam kandungan dengan tidak mengoptimalkan nutrisi2 yang masuk sampai akhirnya tumbuh kembangnya bisa baik seperti teman-teman seusianya.

Rasanya aku manusia paling hina. Karena aku jauh dari rasa syukur. Berkali-kali aku dengar tim medis mengatakan bahwa pre eklampsia tidak ada penyebab pribadinya. Benar-benar terjadi atas izin Allah tanpa ada sebab yang pasti. Dan ini wajar terjadi di setiap ibu hamil. Seharusnya kalimat-kalimat medis itu benar bukan? Tapi aku tetap menyangkal. Mereka hanya ingin membuatku tenang. Mereka hanya ingin membuatku berhenti menyalahkan diri sendiri. Ya kan?!





Sampai kami pada tahap,



Kami hanya pembantu. Yang sementara saja sebentar saja diizinkan mengurus anak kami.


Allah Pemilik anak kami. Allah Yang menciptakan anak ini lengkap dengan segala kekurangan kelebihan rezeki dan mautnya. Lalu, kami bisa apa?

Allah kapanpun bisa mengambil anak ini. Kapanpun Allah mau. Lalu, kami bisa apa?

Sampai kapan aku di tahap ini dan membiarkan hari-hari anak ini berada dalam lingkaran rumah yang menyeramkan, tidak seperti dunia anak lain yang bahagia diluar sana bersama ayah ibunya (?)


Aku cium kening anakku. Minta maaf lalu menangis sejadi-jadinya.




Sungguh, jika seorang muslim boleh berkata "andai saja aku menjaga kehamilanku dengan baik........." pasti sudah aku lakukan sejak dulu. Tapi kini aku tau, itu adalah pintu masuk syaitan dan Allah melarang muslim dekat dengan kalimat "andai saja dulu..." Qadarullah wa masya'a fal. Semua atas izin Allaah.



Sekarang, aku hanya ingin mengoptimalkan waktuku yang sebentaaaar ini untuk terus membersamai buah hati kami. Menjadikan dia bahagia dan bangga dengan aku sebagai mama nya. Aku tau, dengan segala kekurangan dan kepayahanku di masa lalu, aku tetap ibunya. Ibunya yang selalu akan tidak terima kalau ada yang menghinanya. Ibunya yang selalu akan dia cari pertama kali dia bangun membuka matanya.


Masyaa Allaah sungguh aku malu pada Allaah. Bukankah ini yang dulu aku minta bahkan sejak dari aku belum menikah? Bukankah kehadiran buah hati ini yang selalu aku tumpahkan air mataku di atas sajadah? Lalu apa aku sekarang tidak bisa mensyukurinya dan bahkan menyia-nyiakannya? Hanya karena satu dua kekurangannya. Tanpa aku pahami lebih jauh bahwa dia kunci syurgaku. Bahwa dia yang selama ini aku sia-siakan justru bisa menarik ku ke syurga Allah.

Maafin mama, nak.



Aku ingin hidup lebih baik. Hidup tanpa bayang-bayang rasa bersalah. Hidup dengan menerima segala takdir Allaah. Hidup tanpa menyesal apa yang dicatatNya untuk ku. Hidup tanpa menyalahkan keadaan, menyalahkan diri sendiri, bahkan menyalahkan buah hatiku yang sangat suci tidak tau apa-apa. Bagaimana mungkin aku menyia-nyiakannya sementara dia bisa saja meminta Allah sejak di arsy untuk dilahirkan dari rahim ibu lain, tp dia tdk lakukan bukan? Terimakasih memilih mama menjadi ibumu. Izinkan mama terus belajar membersamaimu, naura.


Love.
Mm.

24 February 2019

Bersiap menuju Kelas Bunda Sayang

Lho, jadi kemarin-kemarin seminggu ini tuh ngerjain macem-macem tapi belum masuk kelas? Iya belum karena kami sedang dalam masa pra-bunsay. Persiapan ketika kelak masuk ke kelas bunsay yang sesungguhnya. IIP regional Bogor untuk sesi sekarang berharap mahasiswinya adalah mahasiswi-mahasiswi pilihan. Adalah mereka yang memang sudah siap betul dengan konsisten dan komitmennya untuk mengikuti perkuliahan. Bagaimana tidak kami dituntut dengan -kokom, sebutan untuk dua poin penting ini- ? Karena perkuliahan tidak sebentar, tidak sehari duahari, melainkan 12 bulan penuh. Tentu pasti bukan hal yang mudah. Untuk itu kami ditempa dengan 4 tugas sederhana tapi sangat penting demi mengupgrade ilmu kami sebagai istri dan ibu di rumah. 4 tugas yang wajib dikerjakan selama 1 pekan. Sekali lagi, terdengar mudah tapi sungguh, kami para ibu dan istri ini berusaha menjalankan tugas ini diantara seabrek tugas domestik dan publik yang menggunung dengan kokom yang kami miliki.

Untuk aku pribadi, aku mendapat ilmu baru seperti penggunaan google classroom. Ternyata cara ini sudah digunakan di matrikulasi batch2 akhir. Sementa
ra aku yang merupakan batch agak awal, masih menggunakan google form sederhana. Ilmu baru, teknologi baru, yang aku dapat di IIP. Kalau bukan dari IIP, ibuk-ibuk sepertiku yang sehari-hari hanya berkutat di suami anak dan dapur sungguh merasa bangga bisa memiliki tambahan ilmu sebagaimana ibuk-ibuk pintar kantoran di luar sana. Masyaa Allaah.

Selama satu pekan ini, segala bentuk pembekalan dari materi, tantangan, sharing dari Mbak Ninis yang masyaa Allaah menginspirasi hidupnya, sharing manajemen gadget, dan tentunya segala support dari TNC Ibuk Tika. Terimakasih kepada jajaran pengurus IP Bogor atas segala lelah waktu dan energi yang dikeluarkan hanya untuk meyakinkan kami bahwa kami bisa dan harus bisa melanjutkan ke kelas Bunda Sayang.

Apapun hasilnya, manut kersanipun Gusti Allaah. Semoga aku bisa bergabung bersama ibuk-ibuk profesional lain di Kelas Bunda Sayang batch 5 dan Allah mudahkan aku ketika memang Allah mengizikan aku menjadi mahasiswi di dalamnya. Aamiin.

21 February 2019

Mama, Ayah, dan Naura

Mengenai mendidik Naura ini sungguh bukan hal sepele bagiku dan bagi suamiku. Dan in syaa Allah ndak Naura aja tapi juga adik2nya kelak. Amanah seberat ini jelas tidak hanya kami bicarakan sehari duahari. Aku mengulik pemikiran (calon) suamiku dulu ketika beliau melamarku, dan banyak poinnya mengenai keluarga, terlebih mengenai anak. Pendidikan anak.

Bagaimana cara beliau menyikapi karakter anak, bagaimana cara beliau memimpinku untuk mendidik Nau, bagaimana mengenai sekolah Nau kelak. Ya, kami membicarakannya detil bahkan sebelum kami berada dalam akad nikah. Proses khitbah yang baginya mencekam karena aku memborbardir dengan pertanyaan-pertanyaan masa depan yang pasti tidak mudah untuk dijawab saat itu.

Pendidikan anak-ku ku mulai dengan memilihkan ia ayah yang in syaa Allah sholeh. Yang mampu menjadi kepala sekolah di sekolah kehidupan kami. Pendidikan agama selalu kami jadikan acuan nomor satu. Semoga kamipun bisa istiqamah dalam mendidik Naura dalam ketauhidan.

Pendidikan Naura tidak hanya sebatas Ayah dan Mama. Naura tidak hanya bergaul dengan kami saja, bukan? Naura memiliki Akung, Oma, Budhe, Om, Tante, Pakdhe, Budhe, Yangti, dan Mbahkung. Dua kepala saja rasanya sangat sulit bersatu. Ini menyatukan dua keluarga dengan banyak kepala? Banyak perbedaan pasti. Banyak kritikan pasti. Apalagi kami besar di lingkungan yang berbeda pendidikannya. Sudah pasti banyak cekcok di dalamnya. Tapi aku selalu berusaha belajar. Aku harus lebih pintar dibanding mereka dalam mendidik Naura. Belajar dari artikel ke artikel. Dari buku ke buku. Dari kulwap ke kulwap. Lalu kemudian aku setor ilmunya ke Ayah Naura dan kami diskusikan biasanya. Maka ketika ada satu dua pola asuhan kami yang mereka anggap aneh, kami bisa memberikan alasan yang bermutu.

Sejauh ini, keluarga menerima cara kami mendidik Naura. Cara kami memberikan MPASI. Cara kami mengajarkan agama. Cara kami mengenalkan Sunnah. Semoga in syaa Allah Naura bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak sholehah seperti istri-istri Rasulullaah. Dan itu tidak akan terwujud jika Mama dan Ayah tidak terlebih dahulu mensholehkan diri. Kami berjanji, Naura :") In syaa Allaah kami pun belajar dari Naura.

19 February 2019

Apa kabar -ingin-ku kemarin?

Hari ini aku masih mencoba istiqamah dengan apa-apa yang aku ikhtiarkan kemarin. Hasilnya? Sedikit lebih baik. Puas? Tentu tidaaaak. Masih jauh dari puas
 Masih jauh dari hasil yang diharapkan. Sungguh lagi-lagi akuasih tenggelam di rutinitas istri dan ibu yang rasanya 'itu-itu' saja. 
Aku coba kalahkan egoku. Ya, ego rumahtanggaku. Toh percuma rumah bersih kalau anak tidak kenal Penciptanya. Baik. Setel speaker quran. Set juz amma. Biasanya aku takut naura kebangun setiap ada suara yang 'mengusik' tidurnya. Ah untuk yang ini aku yakin ini sama sekali tidak mengusik. Bahkan mungkin, ini yang selama ini ingin dia dengar? ya Allah maafin mama, nak :'(  Aku putar kecil volume dan aku dekatkan di tubuhnya, sejak dia tidur pagi, sampai jam makan siang. Baru sesebentar itu memang. Semoga besok dan seterusnya mama bisa lebih istiqamah kenalin Naura dengan ayat suci Allaah. Semoga raga ini bisa terus belajar dan menemani Naura dalam tahapannya bertauhid pada Allaah. Karena ini yang akan kamu lantunkan sepanjang hari sepanjang sholatmu sepanjang hayatmu, nak.



Love,
Mama yang berambisi mendekatkan Naura dengan Allaah. In syaa Allaah.



Ingin-ku hanya akan menjadi angan jika aku tidak bergerak

Bukan hal mudah bagiku untuk bisa istiqomah dalam menyatukan urusan mendidik anak dengan ketauhidan kepada Allah. Sungguh, teori itu terlalu mudah. Sudah berapa grup ku ikuti untuk sekedar mencharge energi keimanan, mencharge ilmu parenting islami. Aku cukup tau apa-apa yang harus ku lakukan. Bagaimana mengenalkan putriku pada agama kami. Bagaimana mendekatkan putriku pada penciptanya. Ya, semua nampak mudah.

Nyantanya, hari-hariku disibukkan dengan urusan domestik. Waktu-waktuku habis untuk urusan yang sebenarnya tidak akan ada habisnya. Mengurusi bisnis kecil-kecilan yang tak pernah membuatku cukup puas misalnya. Lalu? Kapan aku mulai mengenalkan Allah-ku ke Naura?

Rutinitasku seperti berputar itu saja tanpa ujung. Padahal, bukankah sejak bangun tidur, aku bisa mencontohkan Naura bagaimana doa bangun tidur yang disunnahkan Rasulullaah? Bukankah aku bisa mencontohkan Naura bahwa kanan selalu lebih dulu dibanding kiri? Se-sepele ini sebenarnya untuk urusan kegiatan sehari-hari kami. Tapi, istiqamah untukku sekali lagi bukan hal yang sepele.

Aku ingin fokus pada satu kegiatan yang terlalu sulit ku lakukan. Padahal, hampir semua ibu di luar sana melakukannya demi memiliki anak sholehah. Lalu, kenapa aku mau-maunya terkunci dalam rutinitas mengurusi Naura tanpa membawa Allah di dalamnya (?) Aku ingin mengenalkan Naura pada ayat2 Allah. Terlambat mungkin di usia Naura yang hampir menginjak 2 tahun ini. Aku ingin Naura terbiasa mendengar yang baik. Mendengar juz amma. Percuma sejak berbulan-bulan lalu beli speaker al quran kalau hanya untuk mendengarkan lagu tentang santri, bukan? Ini bukan tujuanmu saat memutuskan membeli speaker Al quran, Gita.

Aku hanya ingin putriku kenal Allah-ku. Aku ingin putriku terbiasa mendengar juz amma. Aku ingin putriku kelak hafal dengan ayat-ayat Allah. Tapi, ingin-ingin ini akan terus jadi angan-angan kalau aku tidak bergerak. Hari ini, aku bertekad istiqamah dengan inginku. Semoga Allah mudahkan.

#ipbogorbergerak #semangatbundasayang