31 March 2019

Komunikasi Produktif - 4

Masih tentang makan.
Sungguh, persoalan makan Naura bukan hal yang butuh kami komunikasi baik-kan satu dua hari saja.

Hari ini nau (masih) menolak makan pagi. Baik. Aku bisa mengontrol emosiku. Tapi lebih karena keadaan. Keadaan rumah ramai membuatku enggan memarahi naura. Aku coba bicara lirih padanya 'Mamah cuma bikin ini. Di rumah cuma ada ini. Naura harus makan ini karena cuma ada ini. Mama ndak bikin susu. Karena nau hrs makan. Kalo ndak nau akan laper. Dan mama akan tawari makan lagi masih nanti siang. Gimana? Mau makan pagi atau laper sampai jadwal makan siang?'

Nau cuma diem aja menatap aku, kemudian melengos lagi. Aku ajak nau makan sambil bermain. Masya Allah Tabrakallaah makanan di piring yang ke pegang perlahan habis. Dan aku mencoba menjalani janjiku utk tidak memberi susu. Bukan, ini bukan hukuman. Ini hanya sedikit bentuk ikhtiar solusi kami sebagai orangtua.

Siang? Masya Allaah sujud syukur kami panjatkan. Naura makan banyak habis dan dengan bahagia 😍 Terimakasih ya Allaah terimakasih Naura ☺️ Yes mama memang selalu berterimakasih ke Naura setiap sesi makan selesai jika dia makan dengan baik. Dan mama selalu kasih bonus naura jika sudah makan dengan baik hehe. Kerupuuuk favoriiit!

Komunikasi Produktif - 3

Hal paaaaaling membuatku emosi tingkat tinggi dalam urusan Nau adalah urusan makan. Rasanya semua cara-cara teori-teori yang tertulis di media parenting sudah aku coba, tapi nihil :(

Sungguh, puncak kesabaranku diuji setiap kali sesi makan. Rasanya setiap hari ingin sekip aja sesi makan, tapi ndak mungkin :( Baik, yang harus diskip ego tinggiku, bukan makan-nya nau.

Exhale inhale. Aku hanya perlu menurunkan ekspktasiku. Tidak berharap tinggi, tapi bersyukur dengan yang sedikit. Dengan itu, semoga Allah menambah yang -sedikit- itu.

Hari ini jadwal makan. Ingin marah, jelas. Tapi hari ini aku berhasil diam. Balik badan, diam, baru kemudian dicoba lagi. Mungkin belum makan. Aku sodorkan lagi lima menit kemudian. Begitu ku ulangi sampai penolakan ketiga kalinya. Dan sukses di kali keempat. Lihat, aku sungguh hanya butuh lebih sabar lagi sedikit.
Dan semoga kedepannya komunikasi kami jauh lebih baik lagi. Dan semoga pengontrolan emosiku tidak hanya berhasil dan berhenti di hari ini.

30 March 2019

Komunikasi Produktif - 2

Hari ini masih tahap percobaan. Aku mencoba menjadikan Naura sebagai sasaran belajarku. Ternyata, belajar berkomunikasi produktif dengan Naura tidak semulus kemarin dengan ayah nau. Sebagai ibu yang 24/7 membersamai Naura, sungguh sulit untuk menjadi ibu yang waras dan lemah lembut sepanjang hari.
Rasanya hanya satu yang aku ingin perbaiki komunikasiku dengan naura. Emosiku ketika marah. Aku hanya ingin berhenti marah-marah. Berhenti berteriak dengan inotasi yang 'kesetanan'. Berhenti menganggap dia manusia dewasa yang terperangkap dalam tubuh mungil. Karena sungguh, teman bicaraku adalah anak yang baru menghirup udara dunia belum ada dua tahun.
Ternyata, hari ini, aku masih gagal memperbaiki semuanya. Intonasi-intonasi tinggi masih keluar. Amarahku masih meledak-ledak jika kami hanya berdua di rumah. Sebagai manusia yang perfeksionis dalam kebersihan dan kerapihan, melihat keadaan rumah yang kacau balau sungguh aku tidak bisa menurunkan ekspektasiku. Rasanya aku masih belum bisa beranggapan -ada anak-anak gakpapa rumah berantakan-. Mudah bagi mereka di luaran sana, tapi susah bagi seorang yang perfeksionis sepertiku. Yang tidak bisa sedikit memaklumi keadaan rumah ini.
:(

28 March 2019

Komunikasi Produktif - 1

Antara naura dan ayah nau, aku akhirnya memilih ayah nau untuk tantangan kali ini. Aku pikir, semua berawal dari kami. Semua hiruk pikuk haru biru sedih syahdu riang gembira di rumah ini, tergantung pada kami. Aku dan suami. Jika hubungan kami baik, maka bahagialah rumah kami. Jika komunikasi kami produktif, maka nyamanlah rumah kami. Maka komunikasiku dengan suami dulu-lah yang harus aku perbaiki.

Mengharapkan respon suami untuk mengkritisi segala kekuranganku dalam komunikasi, ternyata tidak sedikit poin yang ku dapat. Emosian. Gak sabaran denger penjelasan sampai habis. Hobi memotong. Mengedepankan ego. Mengulang2 cerita. Dan beberapa lagi yang negatif. Dan aku? Tetap denial tentunya haha. Ya aku memang sekeras kepala itu. Dan suamiku, sama kerasnya. Sudah khatam rasanya kami hobi berbeda pendapat yang tak menemukan ujungnya.

Malam itu kami sepakat beberapa hal. Bahwa aku harus diam ketika suami bicara. Bahwa aku wajib belajar menjadi pendengar yang baik. Ya, pendengar. Bukan perespon. Karena ada kalanya suami 'hanya' ingin didengar. Cukup. Tanpa diladeni dengan bumbu-bumbu tanpa faedah setelahnya. Dengarkan saja sampai selesai. Poin terpenting adalah ketika aku marah. Aku harus menepati janjiku bahwa aku harus diam 1-5 detik. Baru kemudian bertindak. Harapannya detik-detik yang seharusnya menjadi bok atom ledakan amarah, bisa reda dan berganti menjadi hati dan otak yang dingin dan mengeluarkan energi yang paling tidak lebih baik.
Ini bagian tersulit. Diam ketika marah. Bukan hanya ke ayah naura, tapi juga untuk naura :(

19 March 2019

Berdamai dengan masa lalu

Memiliki anak shalihah yang spesial membuat hidup kami (saya dan suami) penuh dengan emosi meluap dalam 1.5 tahun terakhir. Emosi yang cukup baik disalurkan oleh suami, tapi tidak olehku. Tidak ada satu haripun rasanya emosiku tersalurkan dengan baik. Tidak ada satu haripun rasanya aku tidak menangis/marah. Tidak ada satu haripun rasanya aku jalani sebagai ibu dan istri yang tidak baik. Tidak ada satu haripun rasanya aku mengutuki diri sendiri, menghukum diri sendiri, dan jauh dari rasa syukur. Iri hasad dan syaitan2m-syaitan lain terus menggerogoti hatiku.


Mau sampai kapan???



Ya, kehamilan dan persalinanku tidak selancar yang aku banyak baca di dunia maya. Yang aku tau, hamil dan melahirkan itu mudah lancar dan poin-poin menyenangkan lainnya. Kehamilanku mulai ada yang tidak beres di trimester akhir yang atas izin Allah membawaku ke persalinan diatas meja operasi dengan kondisi pre eklampsia.

Kami pikir, semua selesai usia anak kami lahir ke dunia atas izin Allaah. Ternyata berbagai ujian hidup terus berdatangan melalui anak kami yang terlahir prematur. Aku tidak pernah berhenti menyesali hidup ini. Menyesal mengapa aku tidak bisa menjaga kehamilanku dengan sangat baik dan melahirkan sesempurna yang aku baca di dunia maya. Mengapa aku jahat pada bayiku sejak dia di dalam kandungan dengan tidak mengoptimalkan nutrisi2 yang masuk sampai akhirnya tumbuh kembangnya bisa baik seperti teman-teman seusianya.

Rasanya aku manusia paling hina. Karena aku jauh dari rasa syukur. Berkali-kali aku dengar tim medis mengatakan bahwa pre eklampsia tidak ada penyebab pribadinya. Benar-benar terjadi atas izin Allah tanpa ada sebab yang pasti. Dan ini wajar terjadi di setiap ibu hamil. Seharusnya kalimat-kalimat medis itu benar bukan? Tapi aku tetap menyangkal. Mereka hanya ingin membuatku tenang. Mereka hanya ingin membuatku berhenti menyalahkan diri sendiri. Ya kan?!





Sampai kami pada tahap,



Kami hanya pembantu. Yang sementara saja sebentar saja diizinkan mengurus anak kami.


Allah Pemilik anak kami. Allah Yang menciptakan anak ini lengkap dengan segala kekurangan kelebihan rezeki dan mautnya. Lalu, kami bisa apa?

Allah kapanpun bisa mengambil anak ini. Kapanpun Allah mau. Lalu, kami bisa apa?

Sampai kapan aku di tahap ini dan membiarkan hari-hari anak ini berada dalam lingkaran rumah yang menyeramkan, tidak seperti dunia anak lain yang bahagia diluar sana bersama ayah ibunya (?)


Aku cium kening anakku. Minta maaf lalu menangis sejadi-jadinya.




Sungguh, jika seorang muslim boleh berkata "andai saja aku menjaga kehamilanku dengan baik........." pasti sudah aku lakukan sejak dulu. Tapi kini aku tau, itu adalah pintu masuk syaitan dan Allah melarang muslim dekat dengan kalimat "andai saja dulu..." Qadarullah wa masya'a fal. Semua atas izin Allaah.



Sekarang, aku hanya ingin mengoptimalkan waktuku yang sebentaaaar ini untuk terus membersamai buah hati kami. Menjadikan dia bahagia dan bangga dengan aku sebagai mama nya. Aku tau, dengan segala kekurangan dan kepayahanku di masa lalu, aku tetap ibunya. Ibunya yang selalu akan tidak terima kalau ada yang menghinanya. Ibunya yang selalu akan dia cari pertama kali dia bangun membuka matanya.


Masyaa Allaah sungguh aku malu pada Allaah. Bukankah ini yang dulu aku minta bahkan sejak dari aku belum menikah? Bukankah kehadiran buah hati ini yang selalu aku tumpahkan air mataku di atas sajadah? Lalu apa aku sekarang tidak bisa mensyukurinya dan bahkan menyia-nyiakannya? Hanya karena satu dua kekurangannya. Tanpa aku pahami lebih jauh bahwa dia kunci syurgaku. Bahwa dia yang selama ini aku sia-siakan justru bisa menarik ku ke syurga Allah.

Maafin mama, nak.



Aku ingin hidup lebih baik. Hidup tanpa bayang-bayang rasa bersalah. Hidup dengan menerima segala takdir Allaah. Hidup tanpa menyesal apa yang dicatatNya untuk ku. Hidup tanpa menyalahkan keadaan, menyalahkan diri sendiri, bahkan menyalahkan buah hatiku yang sangat suci tidak tau apa-apa. Bagaimana mungkin aku menyia-nyiakannya sementara dia bisa saja meminta Allah sejak di arsy untuk dilahirkan dari rahim ibu lain, tp dia tdk lakukan bukan? Terimakasih memilih mama menjadi ibumu. Izinkan mama terus belajar membersamaimu, naura.


Love.
Mm.