28 March 2019

Komunikasi Produktif - 1

Antara naura dan ayah nau, aku akhirnya memilih ayah nau untuk tantangan kali ini. Aku pikir, semua berawal dari kami. Semua hiruk pikuk haru biru sedih syahdu riang gembira di rumah ini, tergantung pada kami. Aku dan suami. Jika hubungan kami baik, maka bahagialah rumah kami. Jika komunikasi kami produktif, maka nyamanlah rumah kami. Maka komunikasiku dengan suami dulu-lah yang harus aku perbaiki.

Mengharapkan respon suami untuk mengkritisi segala kekuranganku dalam komunikasi, ternyata tidak sedikit poin yang ku dapat. Emosian. Gak sabaran denger penjelasan sampai habis. Hobi memotong. Mengedepankan ego. Mengulang2 cerita. Dan beberapa lagi yang negatif. Dan aku? Tetap denial tentunya haha. Ya aku memang sekeras kepala itu. Dan suamiku, sama kerasnya. Sudah khatam rasanya kami hobi berbeda pendapat yang tak menemukan ujungnya.

Malam itu kami sepakat beberapa hal. Bahwa aku harus diam ketika suami bicara. Bahwa aku wajib belajar menjadi pendengar yang baik. Ya, pendengar. Bukan perespon. Karena ada kalanya suami 'hanya' ingin didengar. Cukup. Tanpa diladeni dengan bumbu-bumbu tanpa faedah setelahnya. Dengarkan saja sampai selesai. Poin terpenting adalah ketika aku marah. Aku harus menepati janjiku bahwa aku harus diam 1-5 detik. Baru kemudian bertindak. Harapannya detik-detik yang seharusnya menjadi bok atom ledakan amarah, bisa reda dan berganti menjadi hati dan otak yang dingin dan mengeluarkan energi yang paling tidak lebih baik.
Ini bagian tersulit. Diam ketika marah. Bukan hanya ke ayah naura, tapi juga untuk naura :(

0 comments:

Post a Comment