29 April 2019

Mah, tolongin, please :)

Hari ketiga untuk beres-beres mainan.

Masih mencoba cara dealing with.

Masya Allah tabarakallah hari ini Nau jauh lebih kooperatif.

Mencoba dealing with dengan segala upaya supaya berhasil dengan cara yang baik untuk Nau.

"No, nau ndak boleh mainan puzzle itu, sebelum beresin mainan stiker ini."

Dan ini kami lakukan dengan kondisi puzzle kami letakkan di dalam lemari. Dia tau tapi dia tidak bisa ambil sendiri. Jadi dia butuh kami untuk mengambilnya, dan kami memberi syarat untuk itu.

Selama ini semua mainanannya di depan mata. Di rak tertata rapi  tapi tidak setelahnya. Bukan, bukan kami membenci perilakunya. Kami ingin belajar supaya nau bisa belajar mandiri. Untuk urusan beres-beres ini  memang cukup menyita waktu dan pikiran aku pribadi. Biar ibuk senang ga pake marah-marah, perlaham cara ini cukup ampuh. Dia butuh aku untuk menolongnya mengambil mainan yang lain. Aku butuh dia untuk merapikan mainan yang sebelumnya. Plis. :)

28 April 2019

Deal atau tidak

Hari kedua perihal membereskan mainan.

Masih di tantangan mengenai beres-beres. Hari ini tidak beda jauh. Ketika aku menyuruh membereskan mainannya, nau hanya ngeliatin aku diem aja. Aku ulang kembali perintahku, dan responnya masih sama. Aku tinggikan nadaku, dan dia respon dengan menggeleng.

Kemudian ku coba dealing with. Berharap ada perbedaan respon. Menawarkan opsi, bernegosiasi, lalu patuh dan tepat janji pada keputusan yang disepakati.

Hasilnya? Sama.

😭

Semoga hari ketiga bisa lebih baik 😭🙏


27 April 2019

Melatih Kemandirian Anak

Ini hari kedua tantangan bunsay, tapi hari pertama ku menulisknnya disini. Alhamdulillaah aku anggap kholas tantangan pertama kemandirian menyelesaikan kesulitan (puzzle) tanpa bantuan orangtua.

Aku lanjutkan di tantangan berikutnya. Dulu bagiku tantangan ini bukan hal yang sulit rasanya. Tapi sekarang seiring berjalannya usia, banyak sudah penolakan disana sini. Bukan tantangan untuk anak saja, tapi juga untuk orangtua. Membereskan mainannya sendiri. Iya nau harus mau membereskan mainannya sendiri.

Bagi seorang ibu yang menerapkan montessori di rumah, tentu harapan rak dan perkakas terpampang dengan perfek adalah impian haha. Dan satu risiko bagi ibu yang menerapkan montes seperti ku adalah tidak sedikit bahan/alat main yang banyak printilannya. Beras. Makaroni kering. Tepung. Pasir. Lilin. Bahkan kepingan puzzle. Pusing jangan pernah ditanya. Duh hahahaha!

Mengajak Nau bermain dan sampai membereskan mainannya bersama sudah kami terapkan sejak usia 1.5tahunan. Dan dulu Nau bisa dibilang kooperatif. Entah mungkin karena masih iya-iya saja. Belum mengerti menolak. Dan di usia 22 bukan seperti sekarang, diajak beresin, langsung dibalas dengan "nggak" dengan tegas 🤣 Antara mau marah dan sedih dan merasa gagal menjadi ibu yang tidak bisa mendidik anak dengan seidealis buku parenting haha.

Hari ini pun masih sama. Kami belum berhasil membuat nau mau membereskan mainan. Semoga besok ada kemajuan yang baik dari nau untuk dirinya sendiri. Dan semoga aku, ibunya, tidak keluar emosi-emosi buruk hanya karena rumah yang berantakan. Aamiin.

20 April 2019

Aliran Rasa - Komunikasi Produktif

Sayang sekali, rasanya sangat kurang belajar memperbaiki kualitas komunikasi dengan nau dan ayahnya selama 10 hari. Bukan sesuatu yang mudah untuk aku sebagai ibu dan istri yang sangat keras kepala dan emosian.
Sungguh banyak pembelajaran yang ku dapat seminggu lebih ini. Semoga ini semua bisa memperbaiki komunikasi ku untuk mereka. Canggung ketika we time bareng ayahnau, susah ketika harus menahan emosi di saat biasanya emosi sama Nau, dan lain sebagainya.
Ah, sungguh hal baik ini harus ku lanjutkan walaupun lepas 10hari tantangan ini.
In syaa Allah.

7 April 2019

Komunikasi Produktif - 10

Mengajak toddler bepergian ke luar kota selama 3 hari tanpa ayahnya memang hal yang zuuuper menantang. haha.

Nangis di perjalanan karena bosan. Lari sana sini untuk explore tempat baru. Dan lain sebagainya. Lelah pasti. Tapi, sungguh kelelahan ini hanya sebentar saja Gita. Akan ada waktunya dia menolak ditemani. Dia tidak butuh lagi diliatin karena takut terjatuh. Dia meminta untuk pergi sendiri. Dan itu pasti tidak terasa waktunya 😢😢😢

Yang harus aku lakukan hanya menikmati semua proses ini. Sungguh Naura akan cepat besar dan kelak aku rindukan masa dia di saat ini. Hanya aku butuh lebih banyak belajar untuk berkomunikasi dua arah dengan dia. Tatap matanya ketika bicara menjadi catatan penting hasil observasiku hari ini. Poin yang hampir selalu aku abaikan ini ternyata punya pengaruh super besar di naura.

Dengan menatap matanya, naura lebih merasa diperhatikan, dimiliki, difokusi.

6 April 2019

Komunikasi Produktif - 9

Ridho suami, adalah ridho Allah.

Aku selalu berusaha mrngingat hal ini.

Sebagai seorang ibu rumah tangga yang fleksibel waktunya tapi tetep sok sibuk haha, setiap ada event yang menggiurkan, rasanya ingin meluncur kesana menjemput rizqi hehe.

Tapi semua harus dikomunikasikan, kami tau. Kalau suami tidak mengizinkan, aku harus tidak. Apapun alasanku untuk mendebatnya. Selama tidak bertentangan dengan syariat, aku selalu berusaha mematuhi.

Tidak sedikit kesempatanku mendebat kekeuh dengan alasan-alasan ngeyelku. Memang sulit sekali rasanya mengontrol ego. Ego wanita yang memang benar-benar bumerang jika mengizinkan Syaitan yang mengontrolnya.

Hari ini tanpa banyak bertanya dan mendebat, aku mencoba mematuhi penolakan suamiku akan izinku untuk menjemput rizqi di luar sana. Aku yakin ada hikmah Allaah di baliknya. Aku yakin mematuhi suamiku adalah lebih utama. Karena kunci syurgaku di suamiku, bukan di penjemputan rizqi-ku.

4 April 2019

Komunikasi Produktif - 8

Anak balita tantrum di depan umum?
Ibu baru mana yang bisa sangat biasaaa menghadapi ini? hehe.

Hari ini aku pergi setengah hari bareng nau. Iya cuma aku dan naura. Ayahnya belum pulang kerja. Tapi dengan izin dan ridho ayah tentunya.

Tantangan? Awalnya biasa saja bagiku. Karena aku pikir hampir sama saja dengan hari-hari sebelumnya ketika kami pergi berdua. Bukan kali pertama kami pergi berdua dan kami baik-baik saja.
Eternyata hari ini zuper 😂

Hari ini aku pergi menjemput rizqi, ajak nau. Karena di rumah tidak ada yang bisa dititipi. Di TKP, nau masih bisa terhandle dengan baik. Satu jam kemudian, hampir semua barang di sekitar dia jadiin mainan dan dia duduk di bawah untuk main. Mulailah aku deg-degan karena mencium bau-bau akan adanya drama kumbara 😂

Bener aja, dia enggan beranjak dari lantai, menolak digendong, dan marah diajak pergi 😂 Sekeliling mulai ngeliatin dengan tatapan 'anak siapa sih tuh'. Nangis pelan, nangis kenceng, duar lalu jerit-jerit keluaaar dari mulut mungilnya. Aku mencoba biasa tapi kok ya susah 🤣

Lagi-lagi coba terapin cara semalam. Bicara singkat detil alasan mengapa boleh dan tidak boleh. Mengapa mama melarang nau main di lantai di tempat umum. Mengapa nau gaboleh jerit2 di tempat umum. Mengapa nau harus nurut sama mama 😆

Dan masya Allah alhamdulillaah ternyata berhasil. Memang benar semuanya harus dibicarakan baik. Ajak nau bicara seperti dengan orang dewasa. Walaupun dianggap anak kecil tapi in syaa Allah sungguh dia pasti paham.

Coba tolong-tolong dibantu yang pernah pengalaman anak tantrum di depan umum 😆😂🙏

3 April 2019

Komunikasi Produktif - 7

Malam ini kesabaran diuji penuh. Setelah ayahnau berangkat kerja shift malam dan aku kembali berdua Nau lagi. Nau sudah tidur dengan baik sebenarnya. Maksudku, nau sleep training sejak usia 3m dan alhamdulillaah tidak pernah ada masalah seputar jam tidur dan rutinitas tidurnya.

Tapi malam ini lain. Drama kumbara dimulai, haha. Tidak seperti malam-malam lain, dia malam itu ikut keluar saat ayahnya pamit berangkat kerja. Dengan mata yang setengah watt aku mengikuti dia sambil mulai mengeluh mengantuk. Ndak hanya sampai situ, nau saat itu ngajak liat kucing, ngajak ngasih makan kucing. :(

Keinginan tubuh ini istirahat karena seharian belum selonjoran mengalahkan kesabaranku. Amarahku memuncak. Aku marah. Nau nangis jejeritan. Dan itu berlangsung kurang lebih 15 menit. Aku makin marah karena dia akhiri tangis jeritannya dengan muntah. Untuk ibuk-ibuk -yang anaknya masih dalam tahap berusaha makan banyak lahap- sepertiku liat anak muntah rasanya runtuh dunia. Perjuangan nyuapi buyar sudah seakan tanpa hasil. Amarah makin menjadi dua kali lipat. Nau? Sama, makin nangis dua kali lipat.

Aku gendong nau yang terus memberontak minta turun minta keluar. Aku diam tidak berkata-kata, sambil mempertahankan dia di dalam pelukanku. Ketika tangisnya mulai mereda dan sesenggukannya mulai tidak terdengar, aku mulai 'ceramah'. Berusaha memberikan informasi singkat tapi jelas. Minta maaf ketika memang salah.

"Naura, mama minta maaf ya mama marah2. Naura harus tau kalau ini udah malem. Kalau malem itu semua harus tidur. Naura juga sama. Hrs istirahat, tidur. Supaya sehat. Naura hrs nurut sama mama. Gaboleh minta keluar rumah tengah malem gini. Kucingnya juga udah gak ada kok, sama, malem tidur dia."
Lalu dia nengok ke wajahku sambil bilang "Bobok."
"iya kucingnya bobok."
"Pus. Gada" sambil geleng2.
"Iya kucingnya gak ada kalo malem"
Lalu dia minta turun dari gendonganku sambil nunjuk ke kasur.
"Iya. Bobok yuk"
Dan 5 menit setelah aku letakkan tubuhnya di kasur, dia tidur.

Allahuakbar. Rasanya campur aduk jadi satu. Bener-bener jadi ibuk sungguh bukan hal yang mudah.
Maafin mama ya, nau 🙏😞

2 April 2019

Komunikasi Produktif - 6

Mencoba kembali memperbaiki diri untuk ayah nau.
Mencoba refleksi diri untuk bagian menunjukkan empati sepertinya tepat dipraktikkan pagi ini.
Qadarullah ayah nau lagi demam, capek nyetir sana sini sepertinya, pegel-pegel katanya.
Ya, jarak Cile-Bonjer emang nggak deket dan ada yang membuat ayah nau sementara waktu harus PP Cileungsi-Bonjer :(

Sungguh bukan hal mudah pasti. Lelah ngantuk jadi satu. Ditambah di rumah kena omel sana sini dari aku :(

Berhenti mengeluh. Secapek-capeknya aku, paling tidak, saat beliau pulang kerja, dia ada di kondisii pualiiing capeek. Anggap aja begitu hehe. Siapin makan, minum, lalu izinkan beliau istirahat. Sementara, jangan setor dulu ceritaku pagi itu. Dengan mengizinkan beliau istirahat tanpa gangguan pekerjaan2 domestik atau urusan nau sementara, pasti cukup membuatnya tenang dan tidur nyenyak hehe.

Sejam dua jam, waktunya bangunin.
"Kamu gak marah tadi aku langsung tidir pas pulang?" Aku senyum geleng-geleng.
"Tumben" 😂🤣😂🤣
"Tumbennya sekali2 aja ya aku mas" 🤣

Komunikasi Produktif - 5

"Beresin mainannya, masukkin ke keranjang" mau diucapin dua ribu kali juga gak bakal dilakuin deh sama Naura. Oke kudu intropeksi diri barangkali diri ini memang yang salah.
Cek cek daftar perbaikan bundasayang IIP lalu mata ini berhenti pada kalimat -Ganti perintah dengan pilihan-.

"Nau, pakai dulu kerudungnya kalau Nau mau ikut. Nau boleh ikut kalau pakai kerudung, atau Nau di rumah aja sama oma" dan dia langsung gercep ambil kerudung dan minta mama pakai-in. Masya Allaah bener ternyata. Bukan perintah yang harusnya kami lontarkan. Tapi pilihan. Mau ikut pakai kerudung atau di rumah aja gakusah ikut.

Cara ini kami coba di malam hari sebelum tidur. Dan biidznillaah langsung berhasil.

-Nau beresin dulu mainannya baru bisa dapet susu terus bobok kita; atau Nau pilih main sampe capek bobok disini ga dapet susu, mama mau bobok soalnya". Entah masih salah atau tidak penggunaan bahasa kami tapi paling tidak cara ini berhasil pelan-pelan membuat nau merapikan mainannya sebelum masuk kamar tidur.