27 April 2019

Melatih Kemandirian Anak

Ini hari kedua tantangan bunsay, tapi hari pertama ku menulisknnya disini. Alhamdulillaah aku anggap kholas tantangan pertama kemandirian menyelesaikan kesulitan (puzzle) tanpa bantuan orangtua.

Aku lanjutkan di tantangan berikutnya. Dulu bagiku tantangan ini bukan hal yang sulit rasanya. Tapi sekarang seiring berjalannya usia, banyak sudah penolakan disana sini. Bukan tantangan untuk anak saja, tapi juga untuk orangtua. Membereskan mainannya sendiri. Iya nau harus mau membereskan mainannya sendiri.

Bagi seorang ibu yang menerapkan montessori di rumah, tentu harapan rak dan perkakas terpampang dengan perfek adalah impian haha. Dan satu risiko bagi ibu yang menerapkan montes seperti ku adalah tidak sedikit bahan/alat main yang banyak printilannya. Beras. Makaroni kering. Tepung. Pasir. Lilin. Bahkan kepingan puzzle. Pusing jangan pernah ditanya. Duh hahahaha!

Mengajak Nau bermain dan sampai membereskan mainannya bersama sudah kami terapkan sejak usia 1.5tahunan. Dan dulu Nau bisa dibilang kooperatif. Entah mungkin karena masih iya-iya saja. Belum mengerti menolak. Dan di usia 22 bukan seperti sekarang, diajak beresin, langsung dibalas dengan "nggak" dengan tegas 🤣 Antara mau marah dan sedih dan merasa gagal menjadi ibu yang tidak bisa mendidik anak dengan seidealis buku parenting haha.

Hari ini pun masih sama. Kami belum berhasil membuat nau mau membereskan mainan. Semoga besok ada kemajuan yang baik dari nau untuk dirinya sendiri. Dan semoga aku, ibunya, tidak keluar emosi-emosi buruk hanya karena rumah yang berantakan. Aamiin.

0 comments:

Post a Comment