19 September 2019

Karena dia bukan orang dewasa

Sungguh anak di depan matamu itu adalah anak usia 2 tahun. Baru dua tahun dia beradaptasi di dunia yang sangat asing ini.

Bagaimana mungkin kamu berharap dia memahami keletihanmu (!)
Bagaimana mungkin kamu memaksa dia bekerja dengan rapih dan teratur (!)
Bagaimana bisa kamu mendikte dia ketika lambat dan membentaknya ketika salah (!)
Sementara. Di depanmu adalah makhluk kecil yang berusia baru genap dua tahun saja.

Buang egomu. Egomu yang begitu angkuh seolah Maha di depan anak kecil tidak berdaya jni. Egomu yang memaksamu meyakini bahwa di depanmu adalah makhluk kecil dengan pikiran dan tingkah laku layaknya orang dewasa.

Sungguh Tuhannya akan bertanya kepada mu bagaimana kamu memperlakukannya? Karena Tuhannya sangat menyayanginya dan dia milik Tuhannya. Kamu sungguh tidak sedikitpun ada hak atasnya, karena kamu hanya dipinjami. Sebentar.

Jadi, kamu atau dia yang kekanak-kanakan?

15 September 2019

Game level 6 hari 9

Bermain blok pasak geometri

Kurang lebih setengah tahun lalu nau sudah pernah main ini dan bisa dibilang mampu. Hari ini aku ajak nau bermain mainan kayu ini lagi, dan hasilnya dia kesulitan.

Niat hati mau mengajak nau berkenalan dengan berbagai bentuk geometri sekaligus mengenal warna, tapi ternyata manfaatnya lebih dari itu. Dari mainan kayu pasak geometri ini banyak banget yang bisa diserap konsepnya. Tidak hanya mengenal warna, tapi secara tidak langsung nau juga belajar sortir warna. Karena setiap balok geometri harus dimasukkan ke lubang berwarna seragam. Tidak hanya mengenal bentuk, tapi secara tidak langsung nau juga belajar sortir bentuk. Karena setiap balok geometri harus dimasukkan ke lubang dengan bentuk seragam.

13 September 2019

Game level 6 hari 8

Masih seputar puzzle

Hari ini baru berani kasih nau puzzle 16 pcs. Bari 4x4. Hasilnya? Pusiiing. Maknya aja mikir dulu sekian detik. Hehe.
Aku berani ngasih ini ndak serta merta menuntut nau ini itu. Ndak memaksa otaknya bekerjakeras. No no.
Ini karena aku melihat dia sangat tertarik sama puzzle. Dan dia sudah lulus puzzle 3x3. Dibongkar. Pasang. Bongkar. Pasang. Bongkar. Pasang. Padahal ya cuma punya 1 papan saja hehe.

Nau belum bisa di puzzle 4x4 ini. Sokay. Paling tidak dia mengenal konsep mudah dan sulit. Konsep banyak dan sedikit. Yang ini semua ada di dalam matematika logisnya.

12 September 2019

Game level 6 hari 7

Bermain puzzle ternyata buanyak manfaatnya.

Salah satunya mengasah matematika logis anak. Nau suka sekali bermain puzzle. Kami orangtuanya mengenalkan puzzle sejak nau usia 8bulan. Puzzle nya masih puzzle knob yang ada backgroundnya.

Dari bermain puzzle nau terlatih berkoordinasi mata dan tangan. Nau juga jadi berpikir bagaimana mencari posisi peletakan kepingan puzzle yang tepat supaya tepat dalam lubangnya.

Sekarang nau 26 bulan. Naik tingkat, mama mengenalkan puzzle tanpa background dan masih dengan background. Bedanya, yang dengan background nau mulai menyusul puzzle dengan kepingan yang berhubungan. 9 keping hingga 16 keping, tanpa knop. Masya Allah tabarakallah.
Yang tanpa background, nau masih berkutat di cognition puzzle 2 hingga 6 keping.

Selamat terus bermain, nau!

10 September 2019

Game level 6 hari 6

Nau hepi banget kalau masuk ke jadwal mamanya masak. Langsung ngekor ke dapur dan ngikutin apa yang dilakukan mama.

Ya dari ambil talenan. Dia langsung bergegas buka box mainan pretend play nya dan ambil talenannya. Ndak lupa pisau-pisauan. Sementara mama udah siap dengan pisau dan talenan beneran. Untuk bahannya, mama biasa kasih bahan beneran. Bawang merah, bawang putih, bawang bombay, kemiri, atau rimpang-rimpangan.

Hari ini mama kasih bawang merah dan bawang putih. Sembari mama infokan apa nama dan warna dari bahan yang di depan nau. Sesekali mama dekatkan bawang-bawang itu ke hidung nau supaya dia bisa mengenali aromanya. Dari yang awalnya hanya pretend play motong bawang, akhirnya berlanjut jadi ngupas kulit bawang manual dengan tangannya. Hehe. Logisnya dapet. Motoriknya kena. Alhamdulillaah.

Game level 6 hari 5

Memasak nasi

Sudah beberapa bulan ini nau selalu semangat setiap ia mendengar ayah atau ibunya membuka lemari dan wadah berisi beras. "mau mau!" Serunya sambil langsung lari nyamperin.

Kemudian dia membuka lemari, membuka wadah beras. Dan kami memberinya cup untuk menuang beras. Bersemangat ia melakukannya.

Dari memasak nasi ini dia bisa mengenal konsep jumlah banyak sedikit dengan menuangnya. Dia bisa mengenal sensori tekstur beras yang kecil dan berbentuk butiran. Dia bisa paham bahwa dengan menuang segini akan memberikan suara begini dan jika menuang lebih banyak maka suara yang diberikan ada perbedaan. Seraya sambil menghitung sederhana berapa cup beras yang dituang.