3 March 2020

Fitrah seksualitas - hari 10

Teknologi yang semakin berkembang bukan hal yang harus ditakuti atau dihindari, tetapi menjadi peluang jika bisa memanfaatkannya dengan bijak. Seperti facebook, twitter, instagram, youtube dan berbagai media sosial lainnya yang sanggup mengubah dunia hanya dalam satu kali klik.

Anak-anak yang hidup di era digital dan media sosial seperti saat ini jelas berbeda dengan anak-anak yang lahir, besar serta tumbuh tanpa teknologi. Sehingga orangtua pun harus cepat beradaptasi dan banyak belajar untuk mendidik anak-anak mereka. Kini, bukan hanya orang-orang kaya saja yang bisa memiliki dan mengaksesnya, mulai dari kalangan bawah, menengah hingga kalangan atas bebas mengaksesnya.

Berbagai kemudahan teknologi yang ada, menuntut orang-orang yang menggunakannya secara bijak. Tetapi anak-anak yang masih polos dalam berpikir dan sikapnya menjadi hal yang menakutkan jika tak ada yang bisa mengarahkan mereka. Maka peran orantua disini sangat penting, agar bisa mengarahkan dan mendidik anak-anaknya yang hidup di era digital dan media sosial.

Anak-anak hari ini dihadapkan dengan sejumlah permasalahan yang sangat serius, seperti pelecehan seksual pada anak-anak di bawah umur baik laki-laki maupun perempuan, kasus sodomi, dan pornografi. Ini sungguh meresahkan. Bisa dibilang bahwa anak-anak Indonesia sedang mengalami darurat seksual.

 

881 Kasus Pelecehan Seksual Setiap Harinya

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat pada tahun 2015 terdapat 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan, berarti sekitar 881 kasus setiap hari. Angka tersebut didapatkan dari pengadilan agama sejumlah 305.535 kasus dan lembaga mitra Komnas Perempuan sejumlah 16.217 kasus. Menurut pengamatan mereka, angka kekerasan terhadap perempuan meningkat 9% dari tahun sebelumnya.

Menurut Catatan Tahunan 2016 Komnas Perempuan, dari kasus kekerasan terhadap perempuan, kekerasan seksual berada di peringkat kedua, dengan jumlah kasus mencapai 2.399 kasus (72%), pencabulan mencapai 601 kasus (18% dan sementara pelecehan seksual mencapai 166 kasus (5%).

Dengan banyaknya kasus pelecehan seksual tersebut, tentu Orangtua harus melek dan waspada serta mempersiapkan segalanya agar anak-anak tidak lantass ikut-ikutan menjadi korban.

Tentu kita tidak lupa dengan kasus Yuyun (14 Th), siswa SMP di Bengkulu. Ia diperkosa secara bergilir oleh belasan remaja yang sedang mabuk minuman keras, lalu dibunuh. Pelakunya adalah remaja lelaki, kebanyakan masih remaja dan berstatus pelajar. Selang beberapa minggu kemudian, kembali muncul kasus pelecehan seksual lainnya yang dialami anak-anak perempuan berumur belasan tahun. Sungguh miris, karena korbannya adalah anak-anak berusia sekolah yang justru masa-masa sedang bermain dan belajar.

 

Pengaruh Digital dan Media Sosial pada Anak

Maraknya kasus pelecehan seksual tidak terlepas dari tanggung jawab anak itu sendiri, orangtua, masyarakat sekitar, pemerintah bahkan peranan media digital dan media sosial. Semuanya memilki peranan masing-masing. Selain karena ketidaktahuan si anak itu sendiri, anak yang lepas dari pengawasan orangtua ketika memainkan gadget dan media sosialnya menjadi salah satu penyebab yang lebih dominan. Mereka jadi sangat mudah mengakses apapun yang diinginkan, tanpa ada yang melarang dan mengawasi. Dengan berbagai kebebasan tersebut, anak-anak jadi hilang kendali bahkan bisa melakukan lebih jauh dari apa yang dibayangkan. Hal itu terbukti ketika banyak anak-anak yang juga seorang pelajar menjadi pelaku kejahatan seksual tersendiri.

Media televisi pun tak luput dari perhatian. Akibat sering memberitakan terus menerus tentang pelecehan seksual, alih-alih membuat masyarakat waspada, yang terjadi justru kebalikannya, masyarakat jadi lebih trauma dan ketakutan. Bahkan menjadi contoh sehingga banyak masyarakat yang jadi ikut-ikutan melakukan hal serupa.

Disinilah pemerintah seharusnya memberikan perhatian yang lebih serius. Selain memberikan hukuman yang layak, pemerintah juga harus memperhatikan sisi lainnya. Jika dengan adanya pemberitaan malah membuat masyarakat semakin resah dan berdampak negatif, maka harus segera diberi tindakan agar tidak lagi ada korban yang berjatuhan.

 

Orangtua Adalah Benteng Pertama

Uji Marshmallow

Siapa yang tak kenal dengan uji marshmallow? Menurut penelitian tersebut, ketika seorang anak berhasil menahan keinginannya lebih lama mengambil marshmallow, maka pilihan sikap ini turut mempengaruhi kehidupan mereka.

Hal tersebut sudah terlebih dahulu dibuktikan para ilmuwan disana. Mereka memiliki data kehidupan masa depan anak-anak yang pernah melakukan uji marsmallow tersebut. Anak yang dulunya berhasil menahan lebih lama, kehidupan dewasanya lebih bahagia dan memuaskan seperti pendidikan, karir dan pernikahannya. Anak-anak ini dinilai lebih teruji dengan masalah-masalah yang dihadapi karena kemampuannya mengendalikan diri pada kenikmatan yang harus mereka tunda untuk mendapatkan kenikmatan yang memiliki jangka panjang. Sebaliknya, anak-anak yang tidak berhasil dan mudah tergoda mengambil marshmallow, dinilai kehidupan dewasanya kurang begitu memuaskan karena terbiasa kalah dengan godaan-godaan sesaat membuat mereka lemah dan mudah menyerah dengan tantangan yang dihadapi.

 

Bekali Diri dengan Ilmu

Orangtua Indonesia perlu belajar dari penelitian ini. Bagaimana orangtua memberikan nilai-nilai mengendalikan diri dari hal-hal negatif yang bersifat merusak. Tentu tidak mudah memang, karena butuh proses agar anak paham serta sadar akan nilai pengendalian diri ini. Tetapi tentu bukan menjadi sulit, jika para orangtua secara sadar harus memberikan nilai-nilai yang bermanfaat untuk kehidupan anak-anaknya kelak.

Pendidikan yang berawal dari rumah selalu lebih efektif dibandingkan apapun. Dari rumahlah semua nilai diberikan. Orangtua harus dengan sadar mendidik anak-anaknya agar tidak dididik oleh jamannya. Orangtua perlu menanamkan nilai-nilai yang kelak berguna bagi masa depan anak.

Ketika orangtua menjadi pendidik pertama sebelum yang lainnya. Orangtua menjadi sekolah pertama bagi anak-anak. Dengan peranan ini, orangtua dituntut memiliki bekal nilai-nilai yang nantinya akan diwariskan kepada anak. Maka orangtua haruslah pandai, mereka harus belajar agar bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Selain peran pemerintah juga ikut memfasilitasi para orangtua dengan pendidikan yang mumpuni untuk menghadapi anak-anaknya, apapun keadaannya, orangtua harus mau membekali dirinya dengan ilmu agar anak-anaknya kelak menjadi orang yang membanggakan, berguna bagi bangsa, agama dan negaranya.

 

Awasi Anak-Anak Saat Bermedia Sosial

Peranan orangtua dalam mengawasi anak-anak saat bermedia sosial atau menggunakan gadgetnya sangatlah penting. Orangtua harus siap mendampingi anak-anaknya untuk mengarahkan cara bermedia social yang positif. Pengawasan ini juga menjadi bentuk tanggung jawab orangtua agar anak-anak tidak salah langkah atau bahkan mencari tahu hal-hal yang tidak layak dikonsumsi. Selain pengawasan yang ketat, orangtua juga bisa memasang pengamanan dalam media bersosial. Saat ini sudah banyak aplikasi khusus yang diperuntukkan orangtua dalam mengawasi anak-anaknya.

Hal terpenting dari penyelamatan moral anak-anak sebagai generasi penerus bangsa adalah kerjasama dari berbagai pihak, baik itu pemerintah, instansi, organisasi sosial masyarakat, orangtua, dan dari anak-anak itu sendiri. Anak-anak adalah para penerus calon pemimpin bangsa di masa mendatang. Tentu, pendidikan moral dan karakter yang ditanamkan sejak dini akan berdampak ketika mereka sudah dewasa dan memiliki kapabilitas serta kekuatan karakter kepemimpinan untuk memimpin bangsa Indonesia kelak. [syahid/voa-islam.com]

Fitrah seksualitas - hari 9

Peran lingkungan & perlindungan dari kejahatan seksual

Kebiasaan baik harus didisiplinkan ke anak:
1. Menjaga pandangan
2. Menjaga kemaluan sejak dini
3. Tertib ketika tidur
4. Tertib ketika mandi
5. Tidak boleh bicara/menerima barang dari orang asing
6. Ada bagian tertentu yang tidak boleh disentuh orang lain
7. Biasakan berterika atau kabur jika terancam

Peran keluarga:
1. Berikan pendidikan seks sejak dini
2. Ajarkan bahwa tubuhnya anak adalah barang berharga
3. Ajarkan anak untuk tidak mudah percaya orang asing
4. Latih anak hadapi bahaya di tempat umum
5. Harus menjadi sumber utama referensi anak mengenai seksualitas agar anak tidak mencari di sumber lain yang tdk dapat dipertanggungjawabkan
6. Bangun hubungan berkualitas antara orangtua-anak
7. Berikan contoh teladan pada anak

Peran masyarakat:
1. Peka dan tanggap jika melihat ada keresahan kejanggalan dalam fitrah seksualitas di sekitar.
2. Laporkan ke pejabat berwenang.
3. Tumbuhkan rasa empati kekeluargaan sesama dan hindari bullying

Peran pemerintah:
UU perlindungan hak anak -> hak hidup, hak berkembang, hak mendapat perlindungan

Fitrah seksualitas - Hari 8

Pesatnya perkembangan teknologi di era digital memberikan berbagai dampak baik secara positif maupun negatif khususnya pada anak. Dampak positifnya, anak dapat dengan mudah mengakses internet untuk mengetahui berbagai informasi melalui gawai. Namun, dampak negatif juga ditimbulkan dari bahaya internet yaitu kecanduan permainan (games), rentan menjadi korban kejahatan seksual di dunia maya, serta terpapar konten pornografi dan informasi yang berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak.

“Survey Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), menunjukan bahwa sebanyak 65,34% anak usia 9 (sembilan) sampai 19 tahun telah memiliki gawai (smartphone). Sementara itu, berdasarkan data Cybercrime, Bareskrim POLRI pada 2017, terdapat 435.944 IP address yang mengunggah dan mengunduh konten pornografi anak. Data ini mengungkapkan bahwa tidak ada daerah yang bebas dari isu kejahatan terhadap anak baik pornografi dan prostitusi di ranah daring, maupun cybercrime,” ungkap Deputi Bidang Perlindungan Anak, Nahar.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerjasama dengan organisasi perlindungan anak, ‘Sejiwa’ melaksanakan Pelatihan Parenting di Era Digital di Kab. Bulungan, Kalimantan Utara. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi para orangtua, tenaga pendidik, serta masyarakat dengan mendampingi anak dalam menggunakan gawai dan melindungi anak dari dampak negatif dunia digital.

“Pelatihan ini merupakan model percontohan yang bertujuan untuk menyosialisasikan berbagai kebijakan pencegahan anak agar tidak terjerumus dalam bahaya internet. Kab. Bulungan, Kaltara kami pilih sebagai tuan rumah karena merupakan wilayah model percontohan yang telah menerapkan program parenting di era digital. Selain itu, Kab. Bulungan merupakan wilayah perbatasan serta daerah yang lokasinya agak terisolasi,” terang Nahar.

Nahar berharap melalui acara ini, semua pihak dapat ikut terlibat dalam upaya melindungi anak dari bahaya internet di era digital. Tidak hanya penguatan peran keluarga tapi juga penguatan peran masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan media massa juga sangat penting dalam upaya tersebut. Minimal di rumah masing-masing, agar menjadi teladan di masyarakat tentang cara mendidik anak di era digital.

Program parenting ini sangat penting untuk membuka wawasan para orangtua dan pendidik, agar mampu menjadi pendamping dan pelindung anak di era digital saat ini. Mereka diajak untuk membentuk diri menjadi suri tauladan bagi anak baik di dunia nyata maupun di ranah daring (online) dan menjadi netizen unggul.

“Orangtua diberi pemahaman bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan anak agar bisa dekat dan mampu membangun kedisiplinan, menanamkan nilai luhur serta kebiasaan baik pada anak. Serta bagaimana cara mempengaruhi anak agar bisa menjadi manusia yang cerdas, berkarakter, dan mandiri. Intinya agar membentuk anak agar menjadi generasi masa depan bermanfaat yang tidak terlarut dan teradiksi di ranah dunia maya

https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2217/pelatihan-parenting-di-era-digital-cegah-anak-terjerumus-bahaya-internet

Fitrah seksualitas - hari 7

Penyimpangan fitrah seksualitas, pencegahan, dan solusinya

Ceu desinta, ceu ismi, dan beberapa member lain banyak yang pernah mengalami pengalaman buruk pribadi langsung dalam hal pelecehan ini. Dari pengalaman ceu ismi dijelaskan bahwa ada kasus perubahaan gender di usia dewasa.

" Ternyata memang gak berkembang ceu, ada kelainan di kelamin, pas lahir di klaim perempuan, sampai 25 tahun gak muncul buah dada dan gak haid. Akhirnya dia beraniin periksa ke sexolog dan hasilnya 65% gen nya laki-laki. Beralih lah dia. Sayangnya keluarga gak aware dari awal kalau ada yg aneh dr anaknya. "

Ada satu jenis lagi penyimpangan fitrah seksualitas, namanya fetisisme (yaitu penyimpangan seksual yang melibatkan objek buatan atau bagian tubuh tertentu untuk meningkatkan gairah seksual). Foot fetish ini, orang bisa terangsang gairah seksualnya hanya dengan melihat kaki orang lain. Selain itu, ada juga yang pernah saya dengar tentang orang yang terangsang dengan foto anak,apalagi yg pakaian terbuka. Klo kita mah gemes ya lihat bocah gak pake baju, ternyata ada yg punya penyakit seperti ini. Serem kan klo anak2 jadi bahan fantasi (?)

Setelah baca2 tentang tema kali ini, jadi tersadarkan tentang perintah di al quran mengenai aurat, perintah menutup aurat,menjaga pandangan dan menjaga kemaluan. Untuk menjaga kita dari orang2 yang ada "penyakit" dalam diri mereka.

28 February 2020

Fitrah seksualitas - hari 6

Menjaga diri dari kejahatan seksual

Kejahatan seksual = Setiap tindakan baik ucapan maupun perbuatan yang dilakukan sesorang untuk menguasai atau memanipulasi orang lain serta membuatnya terlibat dalam aktivitas seksual yang tidak dikehendaki.

*15 Bentuk Kekerasan Seksual menurut Komnas Perempuan*

1. Perkosaan
2. Intimidasi seksual
3. Pelecehan seksual
4. Eksploitasi seksual
5. Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual
6. Prostitusi paksa
7. Perbudakan seksual
8. Pemaksaan perkawinan
9. Pemaksaan kehamilan
10. Pemaksaan aborsi
11. Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi
12. Penyiksaan seksual
13. Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual
14. Praktek tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan
15. Kontrol seksual

Berikut ini adalah *bentuk kekerasan seksual yang kerap ditemukan pada anak*, yaitu :
✅ Berciuman,
✅ Kontak oral genital
✅ Penetrasi seksual dengan jari,
✅ Pemaksaan hubungan seksual
✅ Mengerling tubuh anak
✅ Memaksa anak melihat pornografi
✅ Memaksa anak menjajakan diri

Bagaimana tanda-tanda anak yang mengalami kekerasan seksual?

Biasanya terdapat luka fisik, ketidaknormalan di area genital dan perubahan dari segi emosional

Apa saja yang menyebabkan seseorang bisa dengan mudah menjadi korban atau pelaku kejahatan seksual?

Menurut KPAI, faktor utama penyebab kejahatan seksual adalah pengaruh digital. Kebanyakan pelaku kejahatan seksual terinspirasi oleh konten pornografi yang ada di media sosial. Dunia digital yang dinamis namun tidak diimbangi dengan literasi penggunaan digital sehingga paparan negatif tidak dapat dihindari. Anak-anak yang diberi kebebasan dalam mengakses berbagai konten dalam media sosial dan internet memberi ruang yang tidak terbatas akan akses terhadap situs-situs yang seharusnya tidak dijelajahi oleh mereka. Kominfo sudah banyak memblokir situs-situs pornografi namun pertumbuhan situs-situs tersebut sangat luar biasa. Oleh karena itu dibutuhkan peran dari lingkungan, orang tua, pengasuh, dan guru untuk mengedukasi anak agar mereka lebih bijaksana dalam menggunakan teknologi digital.

Dan tidak jarang pelaku kejahatan seksual datang dari kalangan terdekat korban, saudara, tetangga, guru, kepala sekolah yang punya kedekatan dan kemampuan untuk mengintimidasi korban.

Lalu apa yang harus orang tua lakukan guna menjaga diri anak dari kejahatan seksual?
Edukasi seks sejak dini.
Jangan malu jangan ragu jangan anggap tabu.

Selanjutnya beri keyakinan pada anak bahwa dia mampu menjaga diri.

Fitrah seksualitas - Hari 5

Pengaruh dunia digital pada fitrah seksualitas anak

Positifnya perkembangan IPTEK:
▪️Kemudahan akses informasi utk mencari informasi valid
▪️Melek dg perkembangan negara luar
▪️Mengikuti perkembangan zaman dr segi ekonomi, pendidikan, dll

▪️Tantangan perkembgn teknologi=
- Bijak dlm menggunakan
- Orgtua hrs melek teknologi guna beradaptasi & membersamai anak belajar, bukan menghindar
- Kemudahan dan kebebasan akses ke dunia digital utk anak dalam usia belajar
- Budaya luar yg tdk sejalan dengan karakter timur bangsa Indonesia

▪️Sumber digital yang mengkhawatirkan:
- Tontonan media televisi
- Media sosial
- Mesin pencari otomatis

▪️Masalah yg timbul dr pengaruh buruk digital= *darurat seksual* ❣️
- Paparan konten pornografi
- Pelecehan seksual / bullying dengan lisan maupun fisik
- Penyimpangan fitrah seksual
- Cybercrime di tanah daring= berita2 kriminalitas seksual dan prostitusi

Semua memiliki peran penting dlm menyelamatkan moral anak bangsa❣️

▪️Peran orgtua=
- Benteng pertahanan pertama anak: Tauhid n aqidah berawal dr rumah
- Berilmu. Orgtua wajib berilmu.
- Sekolah pertama anak. Anak meniru orgtua. Diharapkan orgtua memiliki bekal nilai budi pekerti baik yg diwariskan ke anak2
- Pengawasan orgtua ketika anak bergadget

▪️Peran pemerintah
- Pendidikan dan pendidik yang berkualitas
- Pembatasan dan pengontrolan sistemik dari dunia digital utk anak2 usia belajar
- Mencegah akses tontonan TV yang memiliki konten 17+, bullying, Dll
- Membatasi akses internet menuju ke konten2 seksual

▪️Peran lembaga sosial non profit=
- Mengadakan seminar / kelas  parenting utk orgtua
- Mengadakan kegiatan2 gratis utk anak-anak seperti pelatihan IT, design grafis, dll
- Mencegah akses tontonan yang memiliki konten 17+, bullying, Dll

▪️Peran media massa:
- Menyajikan tontonan berkualitas

27 February 2020

Fitrah seksualitas - hari 4

Pentingnya aqil baligh secara bersamaan

Anak -> Bosan ?

Anak bosan dengan aktivitas rumah. Orangtua hanya bertindak sebagai timer dibandingkan sebagai partner.
Hiburan bagi anak seperti makanan.
Jika tidak kenyang di rumah, maka akan jajan keluar.

Anak -> Sepi ?

Kesepian jiwa. Walau harta berlimpah.
Orangtua tidak punya waktu membersamai anak.

Anak -> Stress ?

Beban pikiran. Target tinggi dari orangtua karena orangtua terlalu menuntut.
Komunikasi antara orangtua-anak tidak terjalin secara dua arah.

Fatherhunger = Fatherless.

Anggapan bahwa peran ayah hanya dua. Memberi nafkah dan menikahkan. Sementara mendidik dan mengasuh anak didominasi oleh para ibu.

Poin-poin ini akan membawa dampak buruk.
- Maraknya pelacuran, terlebih pada anak di bawah umur.
- Baligh (tumbuh hasrat seksual) sebelum waktunya.
- Anak belum mampu berpikir matang di usia yang seharusnya
- Narkoba
- Kecanduan gadget
- Kasus seksual
- Minuman keras
- Tawuran

25 February 2020

Fitrah Seksualitas - Hari 3

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Membangkitkan Fitrah Seksualitas

Selain sebagai pemimpin, ayah wajib menjauhkan keluarganya dari Api Neraka.

Bunda Elly Risman melakukan penelitian pada tahun 2008-2010, dengan studi 30 provinsi di Indonesia. Menyatakan bahwa Indonesia termasuk ke dalam tiga besar sebagai
NEGARA PALING YATIM di dunia.

Padahal dalam Al-Qu'ran dialog antara ayah dan anak paling banyak disebutkan, seperti Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail dan Luqman kepada Anaknya.

Ada ayah namun tiada.

Ber ayah tapi Yatim.

Fitrah Peran Ayah
1. Penanggung jawab pendidikan
2. Man of vision and mission
3. Sang ego dan individualitas
4. Perkembangan sistem berpikir
5. Supplier maskulinitas
6. Penegak perfeksionisme
7. Konsultan pendidikan
8. The person of "tega"

Fitrah Peran Bunda
1. Pelaksana harian pendidikan
2. Person of love and sincerity
3. Sang harmoni dan sinergi
4. Pemilik moralitas dan nurani
5. Supplier femininitas
6. Pembangunan hati dan rasa
7. Berbasis pengorbanan
8. Sang "pembasuh luka"

Faktor yang Mempengaruhi Peran Ayah
1. Latar belakang pendidikan ayah
2. Latar belakang ernis/budaya
3. Lamanya jam kerja
4. Kesadaran atas tanggung jawab
5. Kerjasama dan kesepakatan bersama
6. Ilmu parenting
7. Kebanggaan atas keberhasilan anak
8. Kurangnya keakraban
9. Kesehatan mental (depresi)

Peran Ayah pada Anak Laki-Laki
• Memberikan makna tanggung jawab dan role model positif dalam berkeluarga.
• Anak laki-laki butuh edukasi pada masa pubertasnya dari seorang Ayah.
• Pembentukan karakter maskulin pada anak laki-laki, terutama saat sudah berumur 7 tahun ke atas.

Peran Ayah pada Anak Perempuan
• Membantu anak mengenali sumber pengasuhan, keamanan,
perlindungan, penghormatan, sama dukungan yang konsisten.
• Membantu anak untuk dapat mengendalikan emosi, berkurangnya
masalah kesehatan mental, dan dapat mengutarakan perasaan dengan baik.
• Membantu anak perempuan untuk menjadi pribadi yang percaya diri dan mandiri.
• Memberikan contoh kepada anak perempuan mengenai cara berhubungan dan berkomunikasi dengan laki-laki

Manfaat Menghadirkan Ayah dalam Pengasuhan
• Memiliki kecerdasan emosional lebih bagus,
• Potensinya bisa lebih optimal,
• Lebih berani di luar hubungan ibu anak,
• Bertanggung jawab,
• Punya perspektif berbeda dalam memandang masalah,
• Anak-anak tumbuh menjadi lebih simpatik,
• Kalau ayahnya hangat, anak empatinya juga hangat,
• Hubungan sosialnya lebih baik,
• Percaya diri jadi tinggi.
• Akademis dan finansial jadi sukses.

Dampak Kurangnya Peran Ayah dalam Pengasuhan

Dampak pada Anak Perempuan
• Cenderung mudah jatuh cinta dan
mencari penerimaan dari laki-laki lain
• 7-8 kali lebih mungkin memiliki anak diluar pernikahan.
• Cenderung suka lelaki yang jauh lebih tua, dan
• Cenderung lebih mudah bercerai.Ternyata hal ini berlaku pada
anak perempuan dari latar belakang
sosial ekonomi apapun

Dampak pada Anak Laki-Laki
• Lebih beresiko terlibat pornografi,
narkoba, dan tindak kriminal
• Cenderung lebih cepat puber di usia
yang lebih muda
• Cenderung join a gang, dan
• Cenderung menemui kesulitan
mendapatkan atau
mempertahankan pekerjaan di
masa dewasa.

Sebuah studi dari Tesis Diah kaesi Makarim yang mengambil magister psikologi di Universitas Indonesia dengan tema "kebebasan melakukan hubungan seks dan hubungan dengan ayah" hasilnya ternyata anak-anak laki-laki yang kurang mendapatkan kehadiran ayah secara fisik, psikologi, spiritual akan membuat anak laki-laki menjadi nakal, agresif, mudah terpapar narkoba dan mudah melakukan seks bebas. Anak perempuan yang kurang mendapatkan kehadiran ayah secara fisik, psikologi dan spiritual akan mudah depresi dan mudah melakukan seks bebas.

Sungguh ayah sangat dibutuhkan kehadiran dalam pengasuhan di era digital.
Laki-laki : 75% maskulinitas + 25% feminitas
Perempuan : 75% feminitas + 25% maskulinitas

23 February 2020

Fitrah Seksualitas - Hari 2

Peran Orangtua dalam membangkitkan seksualitas

0-6th ✓ Ibu menyusui; Ayah Ibu berperan merawat kelekatan dan memeprkuat identitas diri

7-10th ✓ Anak laki didekatkan dengan ayah; anak perempuan dengan ibu. Guna membangkitkan kesadaran fitrah seksualitas

10-14th ✓ Anak laki-laki dekat dengan ibu; anak perempuan dengan ayahnya. Guna mewujudkan peran seksualitas secara bertanggung jawab

>15th ✓ Personal yang dewasa. Dididik untuk menjadi pribadi yang siap berumahtangga sesuai peran seksualitasnya.

Metode yang disarankan dalam membangkitkan fitrah sexualitas dari buku Fitrah Based Education melalui metode Attachment (Kelekatan) & Figure (Teladan)

Fitrah seksualitas - hari 1

Pendidikan Fitrah Seksualitas sejak dini

Fitrah= Potensi peradaban yang di dalamnya telah terinstall dengan baik potensi dari peran setiap manusia untuk menjalani misi hidupnya.

Fitrah seksualitas = Bagaimana seseorang bersikap, berfikir, bertindak sesuai dengan gendernya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Tidak keduanya dan tidak diantaranya.

Fitrah ini harus dikenalkan kepada anak sejak dini. Alasan:
- Ancaman nyata bahaya akhir zaman
- Tingginya kasus perceraian dan kriminalitas menyangkut gender
- Tingginya kasus seksual seperti hamil di luar nikah dan lain-lain
- Trend kaum LGBT
- Keharusan berilmu calon ayah dan calon ibu
- Pentingnya ilmu mahram dari sisi agama Islam
- Pentingnya info mengenai pubertas yang selama ini dianggap tabu

Tujuan dikenalkan ke anak fitrah seksualitas=
- Dapat melindungi diri dari bahaya kejahatan seksual
- Anak daat berfikir bertindak berperilaku sesuai dengan fitrah gendernya

Cara mengenalkan ke anak dengan tahapan=
1. Pralatih (0-2th, 2th-6th)
2. Pre aqil baligh (7-10th)
3. Pre aqil baligh akhir (10-14th)
4. Aqil baligh (15th keatas)

Solusi untuk orangtua=
- Seminar / kelas baik online maupun offline mengenai pentingnya kesadaran mengenal fitrah seksualitas
- Update berita dari media
- Kerjasama antara orangtua di rumah dan pihak sekolah dalam mendidik anak

6 February 2020

Mendongeng - hari 10

Menara haman.

Bagian terpenting dari maksud-maksud kami membacakan cerita ke nau adalah tauhid. Kami ingin memperbanyak khasanah islamnya dengan cara yang asik dan menarik. Dari buku misalnya. Kami bisa membawakan nasehat tersirat di dalamnya dan doa-doa kecil di belakangnya dari cerita-cerita ini.

Kisah menara haman.

Mengajarkan untuk meluruskan tauhid. Bahwa Allah satu yang patut disembah. Buku ini menceritakan tentang menara langit yang dibangun firaun pada zaman nabi musa. Haman disebut beberapa kali oleh Allaah di alquran. Menunjukkan betapa manusia tersombong itu sudah mencapai puncak kepongahannya. Menantang Musa dengan minta ditunjukkan mana Tuhan. Membangun menara setinggi-tingginya hinga mencapai menyentuh langit untuk mencari dan menantang Tuhannya nabi Musa.

Sementara Musa, tetap dalam ketauhidannya, bersabar dan terus melawan kesombongan dan kezoliman Firaun dengan bantuan Allaah.

4 February 2020

Mendongeng - hari 9

Kisah mengenai seekor anak beruang yang kehilangan ibunya mulai menarik untuk naura. Entah karena kisahnya atau bukunya yang terkesan interaktif karena disisipi banyak aktivitas untuk anak balita seusianya. Nau juga belajar mengenai kasih sayang sesama dan keikhlasan menolong mereka yang membutuhkan.

Hari itu satu keluarga berkeliling kebun binatang. Mereka melihat satu beruang menangis ketakutan sendirian. Beruang itu bernama Beru. Beru terpisah dari ibunya. Ia tidak tahu jalur pulang menuju kandang beruang.

Kisah yang nampak khayal bagi orang dewasa mengenai bagaimana bisa seekor beruang terpisah dari kelompoknya di kebun binatang. Tapi nyatanya cerita seperti ini menarik untuk nau. Mengembangkan imajinasinya untuk mengarang cerita perjalanan dari kandang ke kandang hingga akhirnya bisa bertemu ibu Beru.

Mendongeng - hari 8

Keajaiban Ikhlas

Buku ini menceritakan kisah harian yang hampir sering terjadi di nau. Jdi buku ini ngena banget di naura karena dia merasa kejadiannya dekat dengan hidupnya.

Seorang anak laki-laki yang sedih kehilangan salah satu baju kesayangannya dan menolak memakai baju yang lain. Nangis sampai sulit sekali dihentikan. Ibu sudah menyimpan stok sabar kok rasanya mau habis saja hehe. Sampai ibu mengajak kakak menuju tingkatan ilmu paling tinggi yaitu ilmu ikhlas. Ikhlas dengan qadarAllah. Ikhlas dengan segala kehilangan yang sudah digariskan Allaah. Ikhlas bahwa semua tidak terjadi begitu saja tapi terjadi atas izin Allaah. Memang sudah waktunya baju menghilang. Pelan-pelan ibu menceritakan kakak mengenai ilmu ikhlas ini sampai akhirnya kakak nampak memahami walau masih sangat bersedih.

Kehilangan baju kesayangan bukanlah hal sepele untuk seorang anak-anak seusianya. Dan sungguh kita orang dewasa hampir tidak habis akal harus memakluminya.

Nau belajar bahwa keikhlasan itu ada atas semua takdir Allaah. Berlapangdada menerima apa yang sudah digariskan Allaah. Ikhlas itu buahnya baik. Ada hadiah dari Allaah dari sebuah keikhlasan. Seperti dibuku ini yang mengisahkan si kakak di pekan berikutnya kedatangan pamannya yang selama ini merantau di negeri seberang. Anak-anak diberikannya oleh-oleh. Kakak membuka oleh-oleh bagiannya dan terkejut gembira bahwa hadiahnya hampir persis dengan bajunya yang hilang. Gambarnya sama persis. Hanya berbeda warna. Kakak senang sekali dan meyakini bahwa Allaah Maha Baik. Bahwa Allaah mengganti dengan yang lebih baik jika kita bisa memahami dan mempraktikkan ilmu ikhlas.

3 February 2020

Mendongeng - hari 7

Keajaiban bersyukur

Mengisahkan ke nau mengenai kisah Yazqi dan Umar yang berkunjung ke Panti Jompo. Nau tentu masih bertanya-tanya karena memang kami belum pernah mengenalkan beliau apa itu panti jompo. Nau hanya sekedar tau perawakan fisik kakek dan nenek seperti rambut beruban memutih misalnya.

Buku ini menceritakan di panti banyak nenek-nenek dengan tongkat. Yang kemudian nau sesekali mengingat suka melihat di lampu merah dekat rumahnya. Disana memang ada peminta-minta yang bertongkat.

Di panti, Yazqi bertemu seorang nenek yang sedang bersedih. Mereka menghampiri dan nenek pun menceritakan kisahnya.

Buku ini mengajarkan nau untuk menghormati dan menyayangi orangtua terutama sosok kakek dan neneknya yang alhamdulillaah keempatnya masih sehat walafiat. In syaa Allaah.

30 January 2020

Mendongeng - hari 6

Mendongeng dari apa yang ditonton.

Belakangan nau lagi suka nonton Omar Hana. Hampir setiap jam nau minta diceritakan kembali atau bahkan aku harus suka ria mendengarkan ia bercerita apa yang dilihatnya di serial Omar Hana.

Seputar kuman dan cuci tangan. Aku memang belum banyak mengenalkan nau tentang hubungan kuman dan cuci tangan. Sejauh ini baru sebatas mewajibkan dia cuci tangan sebelum dan setelah makan. Tanpa aku bercerita tentang kuman. Tanpa dia tanya pun kenapa-nya. Yang dia tahu hanya -Kalau nggak cuci tangan nanti lengket tangannya kotor-. Udah gitu. Sementara mengenai kuman, dia hanya tau itu ada di gigi yang tidak rajin disikat.

Serial Omar Hana yang lagi berulang kali dia putar adalah mengenai hubungan dari kebiasaan cuci tangan - kuman - sakit.

"Mah, kotor banyak kumaaaaan." Kata nau sambil berirama menyanyi mengikuti ayah Omar.

"Mah, kakak Hana sakit ya. Kakak Hana maem kue dari kakak Omar tp kakak Omar megang kucing. Gak cuci tangan. Jadi banyak kuman di tangan sama di perut ya. Kakak Hana jadi sakit ya. Nau takut sama kuman. Nau gak mau sakit kayak kakak Hana."

Masyaa Allaah.

Yuk cuci tangan naak :")

Mendongeng - hari 5

Buku BBW yang masih jadi favorit-

Salah satunya adalah buku 15ribuan tentang Keledai dan Nabi Uzair.

Buku tipis murah bergizi ini masih sering dibawa nau ke kamar untuk minta dibacakan sebelum tidur.

Kisah mengenai Nabi Uzair yang memiliki keledai dan sangat merawat keledainya dengan baik. Memberi makan dengan telaten. Nabi Uzair tidak ingin menjadi manusia yang dibekali akal tapi tidak digunakan untuk berpikir dan berikhtiar, tak berbeda dengan keledai-nya, pikirnya.

Semoga kami bisa meneladani Nabi Uzair dengan sikap gigihnya dan penuh kasih sayangnya.

Mendongeng - hari 4

Masih Woof kapten egois.

Kami mulai mencoba fokus satu-satunya buku cerita imajinatif yang dimiliki. Mengenai sekumpulan teman hewan yang bermain bola dalam satu tim yang sama.

Woof, serigala yang egois tidak pernah berpihak pada teman tim. Sayangnya, woof adalah kapten. Jika begini terus, posisi Woof bisa diganti oleh pelatih, kata temannya.

Nau mulai berbinar, membuka halaman demi halaman. Dari buku ini nau belajar bahwa menjadi pemimpin yang disukai tidaklah mudah. Bahwa menjadi pemimpin tidak boleh egois dan terus menyalahkan tim.

26 January 2020

Mendongeng - hari 3

Mencoba memulai berkisah mendongeng. Nau mengambil buku mengenai serigala. Satu-satunya buku cerita hewan yang kupunya. Ini juga pemberian dari salah satu kuis disponsori oleh selebgram hehe.

Woof, kapten tim yang egois.

"Mama serigala nya jahat ya?"
"Iya itu serigalanya egois, karena suka marah-marah suka seenaknya sama timnya. Padahal dia jadi kapten jadi ketua nya."
"Ketua apa mamah?"
"Ketua itu bapaknya mereka semua" Jawabku asal sekenanya.

Di fase ini, kegiatan mendongeng sungguh sulit apalagi jika harus bercerita full. Karena akan terselip baanyaaaaak pertanyaan-pertanyaan dadakan baru dari nau haha.

Mendongeng - hari 2

Masih belum bisa memulai mendongeng dalam arti sesungguhnya yang membawa anak ke dalam alam imajinasinya. Yang menuntut orangtua menjadi penuh kreatifitas menceritakan hal spontan.

Kami masih 'sekedar' membaca buku yang memang ranah keluarga kami. Masih menjalananksn rutinitas kelon berdua sebelum bobo dengan membacakan nau satu dua buku yang dia pilih sendiri.

Buku Shalat Yuk menjadi pilihannya malam itu.
Buku baru, pemberian dari temannya. Namanya anak-anak, kalau baru, pasti dibawa-bawa terus maunya hihi.

Aku menceritakan mengenai karakter anak perempuan dan laki-laki dalam keluarga di buku tersebut. Membawa nau seakan berada di dalam alur cerita. Cerita yang real seperti ini memudahkan aku untuk membacakan cerita untuk nau. Cerita yang sama dengan keseharian kami.

23 January 2020

Mendongeng - hari 1. Semua berawal dari buku.

Aku termasuk orangtua yang tidak (atau belum?) mengenalkan naura tentang fabel dan cerita dongeng literally yang fana, terlalu imajinatif, tidak bisa masuk ke akal sehat dunia nyata, ya, sefantasi itu dongeng di mataku.

Bagiku yang idealis ini, masih banyak kisah-kisah inspiratif yang memang nyata dan patut aku kenalkan ke naura. Dan aku masih jauh ilmu dari itu. Setiap berkisah, bukan hanya nau yang mengambil ceritanya, tapi juga aku. Banyak ilmu baru terlebih mengenai kisah-kisah inspiratif seperti Nabi, keluarga, dan atau sahabatnya, yang aku baru tau bahkan dari buku anak ini.

Aku merasa sebagai orangtua, banyak PR ku untuk mengantarkan naura menjadi anak yang mengenal Islam dan selukbeluknya. Bukan hanya Islam yang tau luarnya saja, seperti ibunya. Aku sungguh tidak ingin nau menjadi seperti aku, yang jauh dari ilmu agama. Ikhtiar kami, ikhtiarku, dengan mengenalkan anak pada buku sejak dini. Puji syukur hidup di era ini, dimana buku anak tentang tauhid tentang kisah, banyak sekali. Bervariasi. Dan sangat menarik untuk anak bahkan sejak bayi. Alhamdulillaah semoga Allaah mudahkan.

9 January 2020

Think creative - hari 7

Nau itu super enerjik. Dia juga hobi banget berlama-lama di playground yang bertemakan gym anak dibandingkan yang odong-odong dan perosotan aja. Beeetah banget dan nangis-nangis diajak pulang. Dari naik-naik tangga, lanjut berjalan di jembatan tali simpul, lalu merayap, merangkak, memanjat dinding yang sudah dimodif dengan pijakan kaki dan tangan, baru kemudian meluncur di pasir. Sejenis itu.

Di rumah, kami bingung seperti apa memfasilitasi nau. Memanjat dia hanya bisa memanjat rak tv atau paling ekstrim, jendela. Sementara melatih otot tangan seperti bergelantungan kami tidak punya. Dan hari ini, nau menemukan cara dan area bermainnya sendiri.

Dia membuat terowongan kecil dari rak portable yang terbuat dari kertas dan stik besi. Dalam bentuk rangkaian kotak kecil, dia masuk. Dia buat ukuran sendiri yang muat dia rayapi di bawahnya.

Kemudian dia menuju ke jemuran indoor kami. Jemuran lipat pendek yang biasa untuk haduk itu lho. Dia geser handuk2nya lalu dia bersikap dan bertingkah seakan-akan tiang-tiang horizontal jemuran itu tinggi sekali dan sulit dia raih dengan bergelantungan. Ya, memang betul sedramatis itu wajahnya ketika beraksi.

Dia letakkan kedua tangannya sambil agak bergelantung, dia bertumpu, lalu dia pindahkan tangannya maju bergerak ke depan, lalu dia menghitung sambil diam di tempat.

Tu
Dua
Iga
Mpak

Hao byuuurrr. Lompat dia ke dalam kolam mandi bola favoritnya di rumah.

Hahaha masyaa Allaah bahkan ia menemukan sendiri cara dan arena bermain di rumah yang super minimalis ini :") Terimakasih anak pintar!

Think creative - hari 6

"Mah ini pura-pura apa?"

Setelah udah lama gak nyetok playdoh -karena mamak mumer cuma diawur2 aja dijadiin kuecil2 dan akhirnya kering- mamak memberanikan diri untuk nyediain playdoh lagi untuk nau. Harapannya, di usia nya sekarang paling tidak sudah tertarik dan paham playdoh untuk apa. Mumpung ada diskonan juga sih jadi nyetok hehe.

Ku sudah sounding dari kemarin kalau besok kita mau main lilin. Bisa dibentuk-bentuk dijadiin macem-macem sesuai imajinasi. Warnanya pun bisa sekaligus untuk area sensitif warna untuk nau yang masih belum hafal betul tentang warna.

Hari ini betul saja, nau nagih main playdoh. Bismillaah.

Awalnya dia cutik-cutik pakai sendok, tapi karena cukup dalam jadi lama-lama dia langsung ambil dari cup dengan jarinya.

Aku perhatikan sembari duduk di depannya.

Dia sudah mulai memilin-milin di telapaknya. Agak lama. Sampai kemudian dia bertanya "Mamah, ini pura-pura apa?" Kaget dengernya. Lalu aku sponta menjawab "hmm apa yaa, pura2nya cicak ya itu?" "Bukan, ini udang, bukan cicak" Lalu kami tertawa bersama :")