3 March 2020

Fitrah seksualitas - hari 10

Teknologi yang semakin berkembang bukan hal yang harus ditakuti atau dihindari, tetapi menjadi peluang jika bisa memanfaatkannya dengan bijak. Seperti facebook, twitter, instagram, youtube dan berbagai media sosial lainnya yang sanggup mengubah dunia hanya dalam satu kali klik.

Anak-anak yang hidup di era digital dan media sosial seperti saat ini jelas berbeda dengan anak-anak yang lahir, besar serta tumbuh tanpa teknologi. Sehingga orangtua pun harus cepat beradaptasi dan banyak belajar untuk mendidik anak-anak mereka. Kini, bukan hanya orang-orang kaya saja yang bisa memiliki dan mengaksesnya, mulai dari kalangan bawah, menengah hingga kalangan atas bebas mengaksesnya.

Berbagai kemudahan teknologi yang ada, menuntut orang-orang yang menggunakannya secara bijak. Tetapi anak-anak yang masih polos dalam berpikir dan sikapnya menjadi hal yang menakutkan jika tak ada yang bisa mengarahkan mereka. Maka peran orantua disini sangat penting, agar bisa mengarahkan dan mendidik anak-anaknya yang hidup di era digital dan media sosial.

Anak-anak hari ini dihadapkan dengan sejumlah permasalahan yang sangat serius, seperti pelecehan seksual pada anak-anak di bawah umur baik laki-laki maupun perempuan, kasus sodomi, dan pornografi. Ini sungguh meresahkan. Bisa dibilang bahwa anak-anak Indonesia sedang mengalami darurat seksual.

 

881 Kasus Pelecehan Seksual Setiap Harinya

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat pada tahun 2015 terdapat 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan, berarti sekitar 881 kasus setiap hari. Angka tersebut didapatkan dari pengadilan agama sejumlah 305.535 kasus dan lembaga mitra Komnas Perempuan sejumlah 16.217 kasus. Menurut pengamatan mereka, angka kekerasan terhadap perempuan meningkat 9% dari tahun sebelumnya.

Menurut Catatan Tahunan 2016 Komnas Perempuan, dari kasus kekerasan terhadap perempuan, kekerasan seksual berada di peringkat kedua, dengan jumlah kasus mencapai 2.399 kasus (72%), pencabulan mencapai 601 kasus (18% dan sementara pelecehan seksual mencapai 166 kasus (5%).

Dengan banyaknya kasus pelecehan seksual tersebut, tentu Orangtua harus melek dan waspada serta mempersiapkan segalanya agar anak-anak tidak lantass ikut-ikutan menjadi korban.

Tentu kita tidak lupa dengan kasus Yuyun (14 Th), siswa SMP di Bengkulu. Ia diperkosa secara bergilir oleh belasan remaja yang sedang mabuk minuman keras, lalu dibunuh. Pelakunya adalah remaja lelaki, kebanyakan masih remaja dan berstatus pelajar. Selang beberapa minggu kemudian, kembali muncul kasus pelecehan seksual lainnya yang dialami anak-anak perempuan berumur belasan tahun. Sungguh miris, karena korbannya adalah anak-anak berusia sekolah yang justru masa-masa sedang bermain dan belajar.

 

Pengaruh Digital dan Media Sosial pada Anak

Maraknya kasus pelecehan seksual tidak terlepas dari tanggung jawab anak itu sendiri, orangtua, masyarakat sekitar, pemerintah bahkan peranan media digital dan media sosial. Semuanya memilki peranan masing-masing. Selain karena ketidaktahuan si anak itu sendiri, anak yang lepas dari pengawasan orangtua ketika memainkan gadget dan media sosialnya menjadi salah satu penyebab yang lebih dominan. Mereka jadi sangat mudah mengakses apapun yang diinginkan, tanpa ada yang melarang dan mengawasi. Dengan berbagai kebebasan tersebut, anak-anak jadi hilang kendali bahkan bisa melakukan lebih jauh dari apa yang dibayangkan. Hal itu terbukti ketika banyak anak-anak yang juga seorang pelajar menjadi pelaku kejahatan seksual tersendiri.

Media televisi pun tak luput dari perhatian. Akibat sering memberitakan terus menerus tentang pelecehan seksual, alih-alih membuat masyarakat waspada, yang terjadi justru kebalikannya, masyarakat jadi lebih trauma dan ketakutan. Bahkan menjadi contoh sehingga banyak masyarakat yang jadi ikut-ikutan melakukan hal serupa.

Disinilah pemerintah seharusnya memberikan perhatian yang lebih serius. Selain memberikan hukuman yang layak, pemerintah juga harus memperhatikan sisi lainnya. Jika dengan adanya pemberitaan malah membuat masyarakat semakin resah dan berdampak negatif, maka harus segera diberi tindakan agar tidak lagi ada korban yang berjatuhan.

 

Orangtua Adalah Benteng Pertama

Uji Marshmallow

Siapa yang tak kenal dengan uji marshmallow? Menurut penelitian tersebut, ketika seorang anak berhasil menahan keinginannya lebih lama mengambil marshmallow, maka pilihan sikap ini turut mempengaruhi kehidupan mereka.

Hal tersebut sudah terlebih dahulu dibuktikan para ilmuwan disana. Mereka memiliki data kehidupan masa depan anak-anak yang pernah melakukan uji marsmallow tersebut. Anak yang dulunya berhasil menahan lebih lama, kehidupan dewasanya lebih bahagia dan memuaskan seperti pendidikan, karir dan pernikahannya. Anak-anak ini dinilai lebih teruji dengan masalah-masalah yang dihadapi karena kemampuannya mengendalikan diri pada kenikmatan yang harus mereka tunda untuk mendapatkan kenikmatan yang memiliki jangka panjang. Sebaliknya, anak-anak yang tidak berhasil dan mudah tergoda mengambil marshmallow, dinilai kehidupan dewasanya kurang begitu memuaskan karena terbiasa kalah dengan godaan-godaan sesaat membuat mereka lemah dan mudah menyerah dengan tantangan yang dihadapi.

 

Bekali Diri dengan Ilmu

Orangtua Indonesia perlu belajar dari penelitian ini. Bagaimana orangtua memberikan nilai-nilai mengendalikan diri dari hal-hal negatif yang bersifat merusak. Tentu tidak mudah memang, karena butuh proses agar anak paham serta sadar akan nilai pengendalian diri ini. Tetapi tentu bukan menjadi sulit, jika para orangtua secara sadar harus memberikan nilai-nilai yang bermanfaat untuk kehidupan anak-anaknya kelak.

Pendidikan yang berawal dari rumah selalu lebih efektif dibandingkan apapun. Dari rumahlah semua nilai diberikan. Orangtua harus dengan sadar mendidik anak-anaknya agar tidak dididik oleh jamannya. Orangtua perlu menanamkan nilai-nilai yang kelak berguna bagi masa depan anak.

Ketika orangtua menjadi pendidik pertama sebelum yang lainnya. Orangtua menjadi sekolah pertama bagi anak-anak. Dengan peranan ini, orangtua dituntut memiliki bekal nilai-nilai yang nantinya akan diwariskan kepada anak. Maka orangtua haruslah pandai, mereka harus belajar agar bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Selain peran pemerintah juga ikut memfasilitasi para orangtua dengan pendidikan yang mumpuni untuk menghadapi anak-anaknya, apapun keadaannya, orangtua harus mau membekali dirinya dengan ilmu agar anak-anaknya kelak menjadi orang yang membanggakan, berguna bagi bangsa, agama dan negaranya.

 

Awasi Anak-Anak Saat Bermedia Sosial

Peranan orangtua dalam mengawasi anak-anak saat bermedia sosial atau menggunakan gadgetnya sangatlah penting. Orangtua harus siap mendampingi anak-anaknya untuk mengarahkan cara bermedia social yang positif. Pengawasan ini juga menjadi bentuk tanggung jawab orangtua agar anak-anak tidak salah langkah atau bahkan mencari tahu hal-hal yang tidak layak dikonsumsi. Selain pengawasan yang ketat, orangtua juga bisa memasang pengamanan dalam media bersosial. Saat ini sudah banyak aplikasi khusus yang diperuntukkan orangtua dalam mengawasi anak-anaknya.

Hal terpenting dari penyelamatan moral anak-anak sebagai generasi penerus bangsa adalah kerjasama dari berbagai pihak, baik itu pemerintah, instansi, organisasi sosial masyarakat, orangtua, dan dari anak-anak itu sendiri. Anak-anak adalah para penerus calon pemimpin bangsa di masa mendatang. Tentu, pendidikan moral dan karakter yang ditanamkan sejak dini akan berdampak ketika mereka sudah dewasa dan memiliki kapabilitas serta kekuatan karakter kepemimpinan untuk memimpin bangsa Indonesia kelak. [syahid/voa-islam.com]

Fitrah seksualitas - hari 9

Peran lingkungan & perlindungan dari kejahatan seksual

Kebiasaan baik harus didisiplinkan ke anak:
1. Menjaga pandangan
2. Menjaga kemaluan sejak dini
3. Tertib ketika tidur
4. Tertib ketika mandi
5. Tidak boleh bicara/menerima barang dari orang asing
6. Ada bagian tertentu yang tidak boleh disentuh orang lain
7. Biasakan berterika atau kabur jika terancam

Peran keluarga:
1. Berikan pendidikan seks sejak dini
2. Ajarkan bahwa tubuhnya anak adalah barang berharga
3. Ajarkan anak untuk tidak mudah percaya orang asing
4. Latih anak hadapi bahaya di tempat umum
5. Harus menjadi sumber utama referensi anak mengenai seksualitas agar anak tidak mencari di sumber lain yang tdk dapat dipertanggungjawabkan
6. Bangun hubungan berkualitas antara orangtua-anak
7. Berikan contoh teladan pada anak

Peran masyarakat:
1. Peka dan tanggap jika melihat ada keresahan kejanggalan dalam fitrah seksualitas di sekitar.
2. Laporkan ke pejabat berwenang.
3. Tumbuhkan rasa empati kekeluargaan sesama dan hindari bullying

Peran pemerintah:
UU perlindungan hak anak -> hak hidup, hak berkembang, hak mendapat perlindungan

Fitrah seksualitas - Hari 8

Pesatnya perkembangan teknologi di era digital memberikan berbagai dampak baik secara positif maupun negatif khususnya pada anak. Dampak positifnya, anak dapat dengan mudah mengakses internet untuk mengetahui berbagai informasi melalui gawai. Namun, dampak negatif juga ditimbulkan dari bahaya internet yaitu kecanduan permainan (games), rentan menjadi korban kejahatan seksual di dunia maya, serta terpapar konten pornografi dan informasi yang berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak.

“Survey Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), menunjukan bahwa sebanyak 65,34% anak usia 9 (sembilan) sampai 19 tahun telah memiliki gawai (smartphone). Sementara itu, berdasarkan data Cybercrime, Bareskrim POLRI pada 2017, terdapat 435.944 IP address yang mengunggah dan mengunduh konten pornografi anak. Data ini mengungkapkan bahwa tidak ada daerah yang bebas dari isu kejahatan terhadap anak baik pornografi dan prostitusi di ranah daring, maupun cybercrime,” ungkap Deputi Bidang Perlindungan Anak, Nahar.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerjasama dengan organisasi perlindungan anak, ‘Sejiwa’ melaksanakan Pelatihan Parenting di Era Digital di Kab. Bulungan, Kalimantan Utara. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi para orangtua, tenaga pendidik, serta masyarakat dengan mendampingi anak dalam menggunakan gawai dan melindungi anak dari dampak negatif dunia digital.

“Pelatihan ini merupakan model percontohan yang bertujuan untuk menyosialisasikan berbagai kebijakan pencegahan anak agar tidak terjerumus dalam bahaya internet. Kab. Bulungan, Kaltara kami pilih sebagai tuan rumah karena merupakan wilayah model percontohan yang telah menerapkan program parenting di era digital. Selain itu, Kab. Bulungan merupakan wilayah perbatasan serta daerah yang lokasinya agak terisolasi,” terang Nahar.

Nahar berharap melalui acara ini, semua pihak dapat ikut terlibat dalam upaya melindungi anak dari bahaya internet di era digital. Tidak hanya penguatan peran keluarga tapi juga penguatan peran masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan media massa juga sangat penting dalam upaya tersebut. Minimal di rumah masing-masing, agar menjadi teladan di masyarakat tentang cara mendidik anak di era digital.

Program parenting ini sangat penting untuk membuka wawasan para orangtua dan pendidik, agar mampu menjadi pendamping dan pelindung anak di era digital saat ini. Mereka diajak untuk membentuk diri menjadi suri tauladan bagi anak baik di dunia nyata maupun di ranah daring (online) dan menjadi netizen unggul.

“Orangtua diberi pemahaman bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan anak agar bisa dekat dan mampu membangun kedisiplinan, menanamkan nilai luhur serta kebiasaan baik pada anak. Serta bagaimana cara mempengaruhi anak agar bisa menjadi manusia yang cerdas, berkarakter, dan mandiri. Intinya agar membentuk anak agar menjadi generasi masa depan bermanfaat yang tidak terlarut dan teradiksi di ranah dunia maya

https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2217/pelatihan-parenting-di-era-digital-cegah-anak-terjerumus-bahaya-internet

Fitrah seksualitas - hari 7

Penyimpangan fitrah seksualitas, pencegahan, dan solusinya

Ceu desinta, ceu ismi, dan beberapa member lain banyak yang pernah mengalami pengalaman buruk pribadi langsung dalam hal pelecehan ini. Dari pengalaman ceu ismi dijelaskan bahwa ada kasus perubahaan gender di usia dewasa.

" Ternyata memang gak berkembang ceu, ada kelainan di kelamin, pas lahir di klaim perempuan, sampai 25 tahun gak muncul buah dada dan gak haid. Akhirnya dia beraniin periksa ke sexolog dan hasilnya 65% gen nya laki-laki. Beralih lah dia. Sayangnya keluarga gak aware dari awal kalau ada yg aneh dr anaknya. "

Ada satu jenis lagi penyimpangan fitrah seksualitas, namanya fetisisme (yaitu penyimpangan seksual yang melibatkan objek buatan atau bagian tubuh tertentu untuk meningkatkan gairah seksual). Foot fetish ini, orang bisa terangsang gairah seksualnya hanya dengan melihat kaki orang lain. Selain itu, ada juga yang pernah saya dengar tentang orang yang terangsang dengan foto anak,apalagi yg pakaian terbuka. Klo kita mah gemes ya lihat bocah gak pake baju, ternyata ada yg punya penyakit seperti ini. Serem kan klo anak2 jadi bahan fantasi (?)

Setelah baca2 tentang tema kali ini, jadi tersadarkan tentang perintah di al quran mengenai aurat, perintah menutup aurat,menjaga pandangan dan menjaga kemaluan. Untuk menjaga kita dari orang2 yang ada "penyakit" dalam diri mereka.